Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
54. Siapa Albert ?


__ADS_3

Tiba di kamar Ranvier segera mencari kartu undangan tersebut, tapi nihil. Beberapa saat mencari, akhirnya Ranvier menyerah. Ia nampak duduk di atas tempat tidur sambil berusaha mengingat-ingat dimana ia meletakkan kartu undangan yang menurut nama yang tertulis di sana adalah Akmal sebagai pengundang.


Ranvier menoleh kearah meja, lalu mengamati meja dengan seksama. Ia kembali mendekati meja dan mencoba melongok ke bawah meja. Ranvier tersenyum saat melihat kartu undangan abu-abu yang dicarinya ada di dekat kaki meja, terselip di antara dinding dan kaki meja.


" Alhamdulillah..., ketemu juga akhirnya..., " gumam Ranvier sambil mengulurkan tangannya.


Ranvier berhasil meraih kartu undangan itu dan menepis debu yang menempel di sana. Kemudian Ranvier melangkah ke tempat tidur sambil membuka kartu undangan itu. Dalam hati Ranvier berniat menghubungi Akmal dan mengajukan komplain mengapa tak mengundang Kakek Randu dalam pernikahannya itu.


Namun kedua mata Ranvier membelalak saat tak menemukan nama Akmal dan Amelia di sana. Ia justru menemukan nama lain di sana yaitu Albert dan Anastasya. Dan yang mengejutkan adalah tahun dimana pernikahan itu diadakan adalah lima tahun yang lalu.


" Ya Allah, apaan sih ini...," gumam Ranvier sambil terduduk lemas di atas kursi.


Tak ingin membuang waktu, Ranvier pun segera menghubungi Daeng Payau. Beruntung kali ini tak ada kendala apa pun hingga Ranvier bisa langsung bicara dengan Daeng Payau melalui video call.


" Assalamualaikum Paman...," sapa Ranvier.


" Wa alaikumsalam Ranvier. Akhirnya..., kenapa sulit banget menghubungi Kamu Ranvier...?" tanya Daeng Payau.


" Iya maaf Paman...," sahut Ranvier.


" Ada apa, kenapa wajah Kamu pucat gitu...?" tanya Daeng Payau.


Dengan hati-hati Ranvier pun menceritakan apa yang baru saja dialaminya. Tentang kartu undangan yang berganti nama dari Akmal dan Amelia menjadi Albert dan Anastasya. Juga tahun dimana pernikahan itu digelar. Bahkan Ranvier juga memperlihatkan kartu undangan berwarna abu-abu yang dipegangnya.


" Terus apalagi...?" tanya Daeng Payau.


" Apalagi gimana maksud Paman...?" tanya Ranvier tak mengerti.


" Bukannya Kamu juga mengalami kejadian mistis baru-baru ini...?" tanya Daeng Payau.


Mendengar ucapan sang guru spiritual membuat Ranvier teringat akan kedatangan Akmal di rumah itu beberapa hari yang lalu. Ia menepuk dahinya sebelum menceritakan kedatangan Akmal.

__ADS_1


" Astaghfirullah aladziim. Aku kok bisa lupa. Iya Paman, beberapa hari yang lalu Aku juga ngalamin kejadian aneh. Akmal datang ke sini pas malam hari. Antara sadar dan ga sadar Aku sempet nanya kenapa dia datang tapi ga ngasih kabar dulu. Akmal ga jawab tapi cuma senyum aja...," kata Ranvier.


" Apa lagi yang dia bilang...?" tanya Daeng Payau.


" Mmm..., dia malah minta Aku buat ngingetin Erwin. Katanya saking sibuk sama kerjaannya, Erwin sampe ga peduli sama Ibunya...," sahut Ranvier.


" Dan Kamu percaya...?" tanya Daeng Payau.


" Iya. Erwin kan emang kaya gitu Paman. Kalo udah sibuk sama sesuatu dia pasti lupa segalanya termasuk makan...," sahut Ranvier cepat.


" Oh gitu. Terus Kamu sempet liat wajahnya ga...?" tanya Daeng Payau.


" Ga terlalu jelas sih Paman. Soalnya kan saat itu lampu di ruang tamu mati, jadi ruangan itu gelap banget...," sahut Ranvier.


" Terus gimana Kamu bisa yakin kalo itu Akmal...?" tanya Daeng Payau.


" Mmm..., Aku juga ga tau Paman. Yang Aku heran sekarang, saat itu Aku juga ga inget sama sekali sama kartu undangan yang dia kirim tempo hari. Harusnya saat ketemu kan Aku konfirmasi lagi tentang undangan itu, tapi anehnya Aku ga ngelakuin itu...," sahut Ranvier sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


" Kalo gitu Kamu memang sedang diganggu sesuatu Vier. Keliatannya sesuatu itu membutuhkan bantuanmu...," kata Daeng Payau.


" Albert...," sahut Daeng Payau.


" Albert. Namanya mirip nama pengantin laki-laki yang ada di kartu undangan ini Paman...," kata Ranvier sambil melambaikan kartu undangan berwarna abu-abu itu di depan wajahnya.


" Itu memang dia Vier. Dia datang bertepatan dengan saat Kamu sedang memikirkan pernikahan Akmal. Dia ga bisa menampakkan diri dalam wujud Akmal karena dia belum pernah bertemu Akmal sebelumnya. Jadi dia mengambil wujud aslinya untuk menampakkan diri...," sahut Daeng Payau.


" Aku masih ga paham Paman. Kenapa harus menampakkan diri dalam wujud aslinya dan mengirim kartu undangan segala...," kata Ranvier sambil menggelengkan kepala.


" Coba Kamu ingat-ingat Vier. Beberapa hari sebelumnya Kamu ada bicara soal pernikahan ga sama dua teman serumahmu itu...?" tanya Daeng Payau.


" Mmm..., Iya sih Paman. Aku sama Decker dan Joshua emang ngebahas teman-teman Kami waktu SMA dulu. Waktu Aku cerita tentang Akmal yang kebelet nikah muda, Decker sama Joshua ketawa geli banget. Terus tiba-tiba ada suara gaduh di dapur. Kami bertiga ke sana untuk ngeliat, dan ternyata Kami liat ada piring warna putih jatuh ke lantai. Udah hancur dan ga berbentuk. Tapi Kami ingat kalo Kami udah cuci piring sebelumnya. Jadi Kami ga tau siapa yang ngejatuhin piring itu. Sempet mikir hantu, tapi Kami abaikan aja...," sahut Ranvier.

__ADS_1


" Itu dia penyebabnya. Dia merasa terpanggil saat Kalian membicarakan pernikahan. Mungkin dia juga menikah muda. Dan dia ingin menceritakan sesuatu sama Kamu. Kalo gitu Kamu bisa mulai cari info dari tetangga tentang siapa sebenernya Albert itu Vier...," kata Daeng Payau.


" Ok Paman. Insya Allah Aku bakal cari informasi tentang Albert dan Anastasya ini...," sahut Ranvier.


" Bagus. Kamu bisa hubungi Saya kalo masih ga paham. Saya tunggu kabar selanjutnya ya Vier...," kata Daeng Payau di akhir kalimatnya.


Ranvier mengangguk lalu mengucap salam. Setelahnya Ranvier keluar kamar untuk mencari Nyonya Maureen, wanita pengurus rumah yang Ranvier tempati itu.


Wanita bule berambut blonde itu nampak terkejut saat Ranvier menyebut nama Albert dan Anastasya.


" Darimana Kamu tau nama itu. Apa Kamu kenal sama mereka Vier...?" tanya Nyonya Maureen sambil mengerutkan keningnya.


" Oh ga. Saya cuma nemu kartu undangan warna abu-abu di kamar yang Saya tempati. Di sana tertulis nama Albert dan Anastasya, juga tahun pernikahan mereka. Kalo ga salah sih itu lima tahun yang lalu..., " sahut Ranvier dengan santai.


Nyonya Maureen nampak meletakkan pisau yang ia gunakan untuk mengiris cabai. Kemudian Nyonya Maureen menghela nafas panjang dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


" Albert dan Anastasya. Mereka adalah anak dan menantu Saya. Mereka meninggal dunia di hari pernikahan mereka yang digelar di sebuah gereja entah dimana. Terjadi kebakaran di gereja tempat digelarnya acara. Polisi bilang jasad mereka sulit dikenali karena hangus terbakar...," kata Nyonya Maureen lirih lalu menangis.


" Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun...," kata Ranvier dalam hati.


Perlahan Ranvier menyentuh bahu Nyonya Maureen untuk sekedar memberi suport.


" Maaf jika membuatmu sedih Nyonya. Apa maksud Nyonya entah dimana. Apa Nyonya ga hadir pada acara pernikahan mereka...?" tanya Ranvier.


" Saya ga hadir di pernikahan mereka karena Saya ga merestui pernikahan mereka Vier...," sahut Nyonya Maureen dengan suara tercekat.


" Ok, Saya paham itu. Tapi Saya merasa jika kematian mereka ga sesederhana yang terlihat Nyonya. Pasti ada sesuatu yang memicu terjadinya api. Apalagi Saya yakin jika pernikahan dilakukan dengan persiapan matang karena digelar di dalam gereja...," kata Ranvier hati-hati.


Ucapan Ranvier membuat Nyonya Maureen tersentak kaget. Perlahan ia mendongakkan kepalanya untuk menatap Ranvier.


" Hanya Kamu yang punya pemikiran seperti itu Vier. Hanya Kamu dan Saya. Semua orang menganggap Saya g*la karena Saya terus mencari tau apa sebab kematian Albert dan Anastasya. Saya berhenti mencari tau saat masuk tahun kelima kematian mereka. Jika Kamu bisa, tolong bantu Saya Vier. Tolong bantu Saya mengungkap misteri Kematian Abert dan Anastasya...," pinta Nyonya Maureen penuh harap.

__ADS_1


Ranvier mengangguk lalu terdiam. Ranvier tahu jika setelah ini dia akan kembali sibuk. Yah, sibuk membantu Nyonya Maureen mengungkap kematian misterius Albert dan Anastasya.


bersambung


__ADS_2