
Nada pun berusaha bangkit dari posisi tidurnya. Terlihat payah hingga membuat Ranvier bergegas bangun lalu melangkah lebar menuju tempat tidur. Setelahnya Ranvier membantu Nada bangun sambil menopang sebagian tubuh gadis itu.
Kesigapan Ranvier membuat Kakek Randu bangga. Ia dan Krisna pun saling menatap sambil tersenyum.
" Apa sakit lagi...?" tanya Ranvier hati-hati.
" Iya...," sahut Nada lirih.
" Mungkin pengaruh obat biusnya udah ilang jadi terasa sakit. Apa masih kuat nahan sakitnya...?" tanya Ranvier.
" Masih...," sahut Nada singkat.
" Bagus. Mau duduk atau berbaring lagi...?" tanya Ranvier.
" Duduk aja...," sahut Nada lalu Ranvier pun membantu meletakkan bantal di punggung Nada hingga gadis itu merasa nyaman.
" Makasih. Oh iya, siapa mereka, kenapa ada di sini malam-malam begini. Ini masih jam tiga dini hari lho. Apa mereka...," ucapan Nada terputus saat Kakek Randu memotong cepat.
" Maaf Nak. Panggil Aku Kakek Randu, Aku Kakeknya Ranvier...," kata Kakek Randu ramah sambil mendekat kearah tempat tidur.
" Ranvier...?" tanya Nada bingung.
" Iya Ranvier. Apa Kamu belum mengenalkan namamu sama gadis ini Nak...?" tanya Kakek Randu sambil menoleh kearah Ranvier.
" Belum Kek...," sahut Ranvier sambil nyengir hingga membuat Kakek Randu dan Krisna menepuk dahi masing-masing.
Tingkah ketiga pria di hadapannya membuat Nada mengerutkan keningnya karena bertambah bingung. Kemudian Kakek Randu pun bicara untuk menjelaskan.
" Begini Nak. Ranvier itu nama laki-laki yang menemani Kamu hampir dua belas jam ini. Dia Cucuku. Nah yang di sana Krisna, asisten pribadiku. Aku datang karena khawatir mendengar Cucuku masuk Rumah Sakit akibat berkelahi di jalan. Aku senang saat melihatnya baik-baik saja tapi bingung liat Kamu yang terluka. Apa sekarang Kamu mengerti...? " tanya Kakek Randu sambil menatap Nada dengan tatapan lembut.
" Iya Kek. Kenalkan namaku Nada. Tapi maaf Kakek, Aku ga bisa menyalami Kakek karena tanganku terluka..., " kata Nada sambil memperlihatkan lengan kanannya yang dibalut perban.
" Gapapa. Kakek mengerti kok. Kalo boleh tau, ini luka karena apa Nada...?" tanya Kakek Randu.
" Mmm...," Nada nampak kebingungan saat hendak menjawab pertanyaan Kakek Randu.
__ADS_1
" Dibacok preman Kek...," sela Ranvier hingga membuat Kakek Randu dan Krisna terkejut bukan kepalang.
" Dibacok preman ?, kok bisa...?!" tanya Kakek Randu tak mengerti.
Kemudian Ranvier menceritakan apa yang ia dan Nada alami tadi. Kakek Randu dan Krisna nampak mendengarkan dengan seksama sambil sesekali melirik kearah Nada.
" Katamu mereka debt colector. Tapi Kakek merasa ada yang aneh. Keliatannya Nada bohong sama Kamu. Iya kan Nada...?" tanya Kakek Randu sambil menoleh kearah Nada hingga membuat gadis itu gugup.
" A... Aku ga bohong Kek. Me... mereka emang debt colector yang salah sasaran atau sengaja mengincar Aku...," sahut Nada sambil membuang pandangannya kearah lain.
" Berapa hutangmu...?" tanya Kakek Randu sambil menatap Nada lekat
" Aku... ga banyak. Kakek ga usah repot-repot, Aku masih bisa bayar semuanya nanti...," sahut Nada gugup.
Jawaban Nada membuat Kakek Randu tersenyum. Ia maju lalu menyentuh dan membelai kepala Nada dengan lembut.
" Istirahat lah. Kamu pasti lelah. Biar Kakek, Ranvier dan Pak Krisna tunggu di luar...," kata Kakek Randu lembut.
Entah mengapa ucapan Kakek Randu membuat Nada ingin menangis. Nada mengerjapkan matanya, ia berusaha agar air mata tak jatuh menitik di wajahnya.
" Baik Kek...," sahut Nada lalu kembali berbaring dibantu Ranvier.
" Aku di luar. Kalo perlu apa-apa Kamu panggil Aku aja. Ga usah sungkan...," pinta Ranvier setelah menyelimuti tubuh Nada.
" Iya...," sahut Nada dengan suara parau.
Setelahnya Ranvier pun keluar dari ruangan meninggalkan Nada seorang diri. Kedua mata Nada nampak berkaca-kaca melihat punggung Ranvier yang menjauh darinya.
" Kenapa mereka bertindak seolah mereka adalah keluargaku. Dan anehnya Aku merasa nyaman. Sedangkan keluargaku sendiri justru sibuk dengan urusan mereka sendiri dan ga ada saat Aku memerlukan mereka...," gumam Nada sambil menitikkan air mata.
Nada pun bergegas menghapus air matanya. Ia berjanji dalam hati tak akan lagi menangisi keluarganya setelah ini.
\=\=\=\=\=
Di luar kamar terlihat Kakek Randu, Ranvier dan Krisna duduk berhadapan. Mereka sedang membicarakan Nada.
__ADS_1
" Jadi apa ada yang mau Kamu ceritakan Ranvier...?" tanya Kakek Randu sambil menatap Ranvier lekat.
Ranvier nampak menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan sang Kakek. Setelahnya mengalir lah cerita dari mulut Ranvier.
" Namanya Nada Kiara Wijaya. Mungkin Kakek pernah mendengar nama Wijaya diantara para pebisnis yang Kakek kenal...," kata Ranvier.
" Wijaya. Hmmm..., lanjutkan...," pinta Kakek Randu sambil mengangguk.
" Yang Aku tangkap, Nada itu kabur dari rumah setelah bertengkar dengan Ayahnya. Rupanya Pak Wijaya ingin menikah lagi dan Nada ga setuju. Kita tau kemarin Pak Wijaya menggelar pesta pernikahan yang mewah. Nah, saat Ayahnya menggelar pernikahan, Nada justru lagi dikejar preman Kek. Aku yakin preman itu ada hubungannya sama Istri baru Pak Wijaya. Karenanya saat Nada tau Ayahnya tetap menikah tanpa restu darinya, dan dengan wanita itu, dia marah dan menangis...," kata Ranvier.
" Mmm..., begitu rupanya. Kakek sempat mampir ke pesta pernikahannya Pak Wijaya kemarin sore. Kakek juga ngeliat istri barunya Wijaya. Sosoknya sih familier ya, mungkin udah lama ada di dalam lingkungan keluarga Wijaya...," kata kakek Randu mencoba mengingat.
" Apa Kakek ngeliat ada yang aneh sama wanita itu...?" tanya Ranvier.
" Kenapa Kamu tanya itu...?" tanya kakek Randu tak mengerti.
" Feelingku bilang Ibu tiri Nada terlibat dengan pengeroyokan Nada kemarin Kek. Bayangin kalo Aku ga ada di sana dan membantu Nada, dia pasti mati karena ga ada yang berani nolongin dia Kek...," sahut Ranvier gusar.
" Ya Allah. Tapi sayangnya Kakek cuma sebentar di sana, jadi ga sempet ngamatin istri baru Wijaya dengan detail. Kalo karena ga mandang Pak Zaman, rasanya Kakek juga enggan datang ke sana...," kata Kakek Randu.
" Lho kenapa Kek...?" tanya Ranvier penasaran.
" Ini kurang layak diomongin, tapi penting untuk Kamu ketahui...," sahut Kakek Randu.
" Oh ya, ada apa Kek...?" tanya Ranvier penasaran.
" Pak Wijaya itu bukan pebisnis yang baik. Kakek harap Kamu berhati-hati saat bekerja sama dengannya nanti...," sahut kakek Randu.
Ucapan Kakek Randu membuat Ranvier mengerutkan keningnya tak percaya. Melihat barang branded yang melekat di tubuh Nada membuat Ranvier yakin jika Wijaya adalah pebisnis yang baik. Nampaknya ada satu hal yang membuatnya berubah menjadi pebisnis yang tak disukai orang termasuk kakeknya.
Seolah bisa membaca pikiran Ranvier, kakek Randu pun menjelaskan.
" Kamu betul Nak. Awalnya Pak Wijaya memang pebisnis yang baik dan bertanggung jawab. Namun sejak Istrinya meninggal dunia lima tahun yang lalu, perangai Pak Wijaya berubah. Dia jadi suka main kotor dan kurang santun dalam berbisnis. Tak jarang dia mengecewakan rekan bisnisnya hanya untuk meraih keuntungan pribadi. Dan ini sangat berbeda dengan Wijaya yang Kakek kenal dulu. Yah, walau Kakek ga kenal dekat, tapi Kakek bisa melihat etikanya dalam menjalankan bisnis bisa diacungi jempol. Sebab dunia bisnis akan harmonis jika diisi oleh pihak yang mengerti bisnis dan beretika seperti Wijaya...," kata kakek Randu.
" Jadi begitu. Insya Allah Aku akan hati-hati nanti. Makasih infonya Kek...," kata Ranvier yang diangguki kakek Randu.
__ADS_1
Saat adzan Subuh berkumandang, ketiga pria itu pun pergi ke masjid untuk menunaikan sholat Subuh berjamaah. Setelahnya mereka berpisah. Kakek Randu dan Krisna pulang ke rumah, sedwngkan Ranvier kembali ke Rumah Sakit untuk menemani Nada.
\=\=\=\=\=