
Melihat Ranvier terus menatap Kareen membuat Akmal dan Erwin tersenyum. Bahkan Akmal menyenggol lengan Ranvier dengan lengannya.
" Cantik kan Vier. Buruan deketin, tembak kalo perlu. Ntar keduluan yang Laen nyesel Lo...," kata Akmal sambil berbisik.
" Ngomong apaan sih Lo Mal, ga jelas...," gerutu Ranvier.
" Ngomongin si Kareen lah. Siapa lagi emangnya. Kan Lo lagi terkesima sama pesona cewek itu...," sahut Akmal cuek.
Ucapan Akmal membuat teman-teman Kareen tersenyum. Mereka bangga jika salah satu dari mereka bisa membuat Ranvier tertarik.
" Berisik !. Bisa diem ga sih Lo...," kata Ranvier sambil menendang kaki Akmal tepat di bekas luka di lututnya yang belum mengering itu.
" Anjiiiirrr..., sakit Vieerr...!" kata Akmal sambil meringis.
" Rasain. Makanya jangan rese...," sahut Ranvier sambil tertawa.
Tingkah Ranvier dan Akmal mau tak mau membuat Evi dan dua temannya tertawa.
Tak lama kemudian Kareen dan Chika kembali. Namun wajah Kareen terlihat pucat dan itu membuat semua orang khawatir.
" Lo gapapa Reen...?" tanya Ranvier.
Pertanyaan Ranvier membuat Kareen tersenyum. Dalam hati ia bersorak gembira karena mendapat perhatian Ranvier.
" Gapapa Vier...," sahut Kareen.
" Gapapa apaan sih Reen. Kondisi jari tangan Lo tuh memburuk tau. Sampe biru kaya abis digigit binatang beracun gitu...," sela Chika kesal.
" Masa sih. Coba liat Reen...," kata April penasaran lalu menarik tangan Kareen.
Semua terkejut melihat kondisi jari Kareen yang bengkak kebiruan itu. Dan atas saran Chika tadi, Kareen tak membalut jarinya lagi karena khawatir bertambah parah jika dibalut.
" Kayanya perlu dibawa ke Rumah Sakit deh. Lukanya kok mengkhawatirkan ya. Mungkin bener kata Chika kalo jari Lo digigit binatang berbisa Reen...," kata Erwin.
" Betul. Jangan nganggap enteng racun binatang apalagi bisa ular. Kalo udah mengalir ke jantung bahaya lho, bisa bikin orang mati...," kata Ranvier menambahkan.
" Iiihh... kok Lo pada ngomong gitu sih. Gue jadi takut nih...," sahut Kareen panik.
" Makanya lebih baik Kita ke Rumah Sakit sekarang buat meriksain luka Lo itu Reen. Semuanya harus ikut biar Kareen ga merasa ditinggalin. Gimana guys, setuju ga...?" tanya Ranvier sambil menatap sekilas kearah teman-temannya.
" Setuju...!" sahut semua orang.
__ADS_1
Akhirnya dengan berat hati Kareen mengikuti saran Ranvier. Dalam hati Kareen ingin tertawa saat menyadari ia diantar oleh tujuh orang ke Rumah Sakit hanya untuk memeriksakan luka di jari tangannya.
\=\=\=\=\=
Setelah hari itu Ranvier terus memikirkan sosok ghaib berwujud kepala wanita tanpa tubuh yang menyantap jari tangan Kareen.
Karena tak menemukan petunjuk, mau tak mau Ranvier pun menceritakan apa yang dialami Kareen dan Maudy kepada guru spiritualnya saat mereka bertemu.
Sore itu Daeng Payau mengajak Ranvier bertemu dengan ustadz Rahman di sebuah Rumah makan. Menu utama rumah makan yang berupa makanan tradisional sangat digemari sang ustadz.
Saat Ranvier dan Daeng Payau tiba, mereka melihat ustadz Rahman nampak sedang asyik menyantap makanan kegemarannya berupa pecak ikan gurame, tempe goreng dan kerupuk.
" Assalamualaikum...! " sapa Daeng Payau lantang hingga sedikit mengejutkan ustadz Rahman.
.
" Wa alaikumsalam. Akhirnya Kalian datang juga. Sorry Saya duluan makan. Abis ga nahan liat lauk berjajar manis di depan mata. Daripada ngiler mendingan langsung hajar aja...," sahut ustadz Rahman hingga membuat Ranvier dan Daeng Payau tertawa.
Kemudian mereka duduk berhadapan sambil berbincang santai. Tak lama kemudian seorang pelayan datang mengantarkan pesanan Ranvier dan Daeng Payau.
Sambil menyantap hidangan, mereka bicara lebih serius.
" Apa ada hal penting sampe Kamu ngajak Kita ketemuan sekarang Daeng...?" tanya ustadz Rahman setelah mencuci tangan.
" Kok Aku Paman...," protes Ranvier tak mengerti.
" Iya Kamu. Abisin dulu makanmu, abis itu cerita ya...," kata Daeng Payau.
Ranvier mengangguk sambil menerka apa maksud ucapan Daeng Payau.
" Jangan-jangan Paman Daeng tau soal kejadian yang menimpa Kareen dan Maudy. Wah, g*la banget. Ga nyangka Paman Daeng sehebat itu. Padahal belum diceritain tapi bisa tau apa yang bakal Gue omongin...," batin Ranvier kagum.
Ranvier nampak menggelengkan kepala sambil tersenyum mengingat kemampuan sang guru spiritual.
Setelah menyelesaikan makannya dan mencuci tangan di wastafel, Ranvier pun memulai ceritanya.
" Kejadiannya kapan Vier, terus gimana keadaan Kareen sekarang...?" tanya ustadz Rahman saat Ranvier mengakhiri ceritanya.
" Aku ngeliat makhluk itu pas ketemuan di kafe tiga hari yang lalu Ustadz. Abis itu Kita ke Rumah Sakit. Di sana tangan Kareen diobatin sama disuntik gitu. Dokter bilang sih lukanya emang akibat digigit binatang tapi ga tau binatang apa. Dan sekarang Aku ga tau gimana kondisi Kareen apalagi Maudy karena Aku emang ga hubungin mereka...," sahut Ranvier.
" Gitu ya. Gimana menurutmu Daeng...?" tanya ustadz Rahman sambil menoleh kearah sahabatnya.
__ADS_1
" Simple aja. Kepala perempuan yang ga ada badannya itu adalah jin suruhan seseorang. Keliatannya jin itu disuruh mencelakai Kareen dan Maudy aja. Mungkin ada sesuatu yang Kareen dan Maudy lakukan atau ucapkan sampe bikin jin suruhan itu marah...," sahut Daeng Payau santai.
" Jin itu suruhan siapa Paman...?" tanya Ranvier penasaran.
" Seseorang yang menyukai Kamu Ranvier...," sahut Daeng Payau cepat.
" Hah, kok bisa. Cewek atau cowok Paman...?" tanya Ranvier.
" Yang pasti cewek lah Vier, masa cowok. Kalo cowok artinya dia atau Kamu ga normal dong...," sahut Daeng Payau sambil tersenyum.
" Apaan sih Paman. Aku normal kok. Aku juga suka sama cewek..., " kata Ranvier kesal.
" Oh ya. Terus kenapa sampe sekarang Kamu masih jomblo aja...?" tanya Daeng Payau.
" Kan Aku udah bilang kalo saat ini Aku mau serius belajar buat membayar kegagalanku di SMP dulu Paman. Makanya Aku sengaja ga mau kenal dekat sama cewek apalagi pacaran...," sahut Ranvier.
" Oh iya. Maaf ya Vier, Paman lupa...," kata Daeng Payau sambil menepuk bahu Ranvier dengan lembut.
" Gapapa Paman...," sahut Ranvier sambil tersenyum.
" Terus gimana nih Daeng, apa yang bisa Kita lakukan untuk membantu Kareen dan Maudy...?" tanya ustadz Rahman.
" Cuma satu Ustadz. Untuk sementara Ranvier harus menjauhi mereka dan semua perempuan yang mencoba mendekatinya. Selanjutnya Kita bisa kawal makhluk itu supaya pergi jauh. Dan itu tugas Kamu Ustadz...," sahut Daeng Payau.
" Insya Allah siap. Gimana Ranvier, apa Kamu setuju menjauhi Kareen dan Maudy juga perempuan lain untuk sementara waktu...?" tanya ustadz Rahman.
" Demi kebaikan mereka Aku setuju Ustadz. Tapi gimana caranya ?. Aku ga mau dikatain sombong cuma gara-gara menjauhi mereka...," sahut Ranvier bingung.
" Caranya tanya sama Paman Daengmu itu Ranvier. Dia ahli dalam urusan mengecoh wanita...," sindir ustadz Rahman sambil melirik kearah Daeng Payau.
" Jangan ngomong gitu Ustadz. Ntar Ranvier pikir Aku play boy yang suka mempermainkan perasaan wanita. Padahal kan Aku emang lagi nunggu pasangan sejatiku datang untuk segera Aku nikahi...," sahut Daeng Payau dengan wajah bersemu merah.
Ustadz Rahman pun tertawa keras. Di tempatnya Ranvier hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah absurd kedua gurunya itu. Kemudian Daeng Payau menatap Ranvier dan bicara sungguh-sungguh.
" Kamu niatkan aja dalam hatimu untuk menjauhi semua perempuan Ranvier. Katakan kalo Kamu ga tertarik sama mereka dan hanya ingin berteman. Jangan lupa minta sesuatu tak kasat mata itu untuk berhenti mengganggu teman-teman perempuanmu. Sisanya biar Aku dan Ustadz Rahman yang akan mengurusnya...," kata Daeng Payau.
" Baik. Apa Aku lakukan itu sekarang Paman...?" tanya Ranvier.
" Lebih cepat lebih baik Nak...," sahut Daeng Payau.
Ranvier mengangguk lalu mulai berdzikir. Beberapa saat kemudian ia nampak memejamkan mata dan mulai mengatakan kalimat yang diajarkan Daeng Payau tadi.
__ADS_1
Bersamaan dengan usainya kalimat yang Ranvier ucapkan dalam hati, sesuatu pun terjadi pada Kareen dan Maudy di tempat lain.
bersambung