Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
144. Tanda Lahir


__ADS_3

Di jalan yang sepi sebuah motor berpenumpang dua orang tampak berhenti. Dua orang yang ternyata adalah Soni dan Ayu itu nampak bertengkar hebat.


" Kenapa berhenti di sini. Kamu ga niat buang Aku di sini kan Son...?!" tanya Ayu.


" Syukur kalo Kamu udah tau. Aku emang mau buang Kamu di sini karena Kamu cuma beban untukku...," sahut Soni cepat.


" Apa maksudmu ?. Sekarang Kamu bilang Aku beban, tapi sebelumnya Kamu begitu memujaku. Apa Kamu lupa itu Son...," tanya Ayu tak percaya.


" Kamu salah. Aku bukan memujamu Ayu, tapi Aku memuja uangmu. Ups, salah !. Uang Pak Wijaya lebih tepatnya. Karena tanpa dia ternyata Kamu bukan apa-apa...," sahut Soni ketus.


" Tapi uang itu ga akan sampe di tanganmu tanpa Aku Son...!" kata Ayu marah.


" Ya itu karena Aku telah melakukan pekerjaanku dengan baik. Dan Kamu punya kewajiban membayar jasaku. Bukan begitu Ayu...?!" kata Soni sambil tersenyum sinis.


" Kau...," ucapan Ayu terputus saat Soni memotong cepat.


" Harusnya saat ini Kau juga memberiku uang untuk berobat Ayu. Liat luka cakar yang Kau buat, ini pasti sulit sembuh...," kata Soni sambil meraba wajahnya yang terluka itu.


" Kenapa Kamu mikirin luka kecil itu Soni. Sekarang harusnya Kamu pikirkan dimana Kita akan tinggal...!" kata Ayu tak sabar.


" Kita ?, ga salah ya. Aku sih udah punya tempat tinggal. Walau ga semewah rumah Pak Wijaya, tapi rumah itu sangat layak ditempati. Aku ga bakal bawa Kamu ke sana karena rumah itu Aku persiapkan untuk Istriku kelak. Dan Istriku harus perempuan baik-baik, bukan seperti Kamu yang murah*n, suka selingkuh, matre dan ga bisa memuaskan pasangan. Hiiiyy...," kata Soni sambil melirik sinis kearah Ayu.


" Tapi Kamu dulu menikma**nya Soni...!" sahut Ayu tak terima teris menerus disudutkan.


" Aku berbohong supaya Kamu memberiku uang Ayu !. Seperti yang Aku bilang di depan Pak Wijaya tadi, Kamu tuh ga bisa menyenangkan Aku di ranjang. Makanya Aku bingung kenapa Pak Wijaya tertarik sama Kamu dan rela meninggalkan istri sebaik Bu Aina. Kamu itu cuma benalu yang dibungkus wajah cantik tapi akhlak buruk. Menyesal Aku udah mengikuti permainan kotormu Ayu...!" kata Soni lantang.


Ucapan Soni sungguh membuat Ayu kembali terluka. Tapi kali ini Ayu mencoba bersabar karena ia tak ingin ditinggalkan sendiri di jalan itu tanpa uang sepeser pun. Wijaya mengambil semuanya dan tak memberinya sedikit pun uang tadi. Ayu pun terpaksa menumpang di motor Soni tanpa kedua tas besarnya karena motor tak cukup untuk mengangkut semuanya.

__ADS_1


Ayu juga terpaksa menitipkan tas berisi pakaiannya di warung dekat rumah Wijaya dan berjanji akan mengambilnya besok.


" Siapa bilang sekarang Aku bukan siapa-siapa. Aku punya uang kok. Dan Aku berencana mengambilnya besok pagi di Bank...," kata Ayu dengan angkuhnya.


" Uang ?. Hei perempuan g*la, jangan Kau pikir Aku bodoh ya. Setelah didepak Pak Wijaya seperti sampah, apa lagi yang Kamu punya. Ga ada !. Dan Aku yakin uang yang Kamu banggakan itu mungkin sekarang sudah kembali ke pemiliknya yaitu Pak Wijaya...," kata Soni kesal.


" Aku juga ga bodoh Soni. Aku menyimpan uang tanpa sepengetahuan Wijaya dan di tempat yang aman...," sahut Ayu membela diri.


" Cih, Aku yakin Kau hanya membual. Sudah lah, Aku capek dan mau istirahat. Kita berpisah di sini dan cari jalan masing-masing. Aku ga mau terlibat urusan lagi denganmu...," kata Soni sambil menstarter motornya.


" Kamu mau kemana Son, Aku ikut...! " kata Ayu sambil berusaha duduk di belakang Soni.


Namun sebelum Ayu berhasil mendaratkan bok*ngnya, Soni telah melajukan motornya dengan kecepatan tinggi dan meninggalkan Ayu yang menjerit memanggil namanya.


Setelah lelah menjerit Ayu pun terdiam. Ia terduduk di trotoar sambil menatap nanar ke sekelilingnya. Saat itu Ayu melihat sosok hitam tengah berdiri menatapnya dari balik pepohonan yang tampak gelap. Dan Ayu panik saat mengenali sosok itu.


Ayu pun bergegas bangkit dari duduknya lalu berjalan cepat menyusuri trotoar. Sesekali Ayu menoleh ke belakang untuk memastikan sosok hitam itu tak mengikutinya. Tapi ternyata Ayu salah. Sosok itu terus mengikuti sambil tertawa dan itu membuat Ayu makin ketakutan. Ia pun mulai berlari sambil mengatakan sesuatu.


Karena tak memperhatikan jalan di depannya, Ayu pun tersandung lalu jatuh tersungkur di atas trotoar.


Dan saat itu lah Ayu merasakan punggungnya ditind*h oleh sesuatu dan Ayu tahu jika yang menind*hnya adalah makhluk hitam berduri yang berasal dari kegelapan itu.


Ayu pun menjerit histeris. Ia berusaha berontak namun apa lah daya, kekuatan makhluk itu terlalu besar untuk Ayu.


Dalam sekali hentakan tubuh Ayu pun telah berada dalam dekapan makhluk itu. Lalu dengan kasar makhluk itu menghempas tubuh Ayu ke balik deretan pohon yang berdiri di sepanjang pinggiran trotoar.


Ayu menjerit sekali lagi saat makhluk hitam berduri itu merobek pakaiannya. Dan suara Ayu pun hilang di kegelapan saat makhluk hitam berduri itu menyetu**hinya lagi dengan brutal.

__ADS_1


Sesaat kemudian hanya terdengar deru nafas memburu dari sosok makhluk hitam berduri yang tengah bergerak liar di atas tubuh Ayu. Sedangkan Ayu hanya diam tanpa ekspresi dengan wajah yang pucat pasi. Kedua matanya nampak menatap langit dengan tatapan kosong. Ternyata Ayu tewas saat sedang memuaskan hasrat makhluk hitam berduri yang berasal dari kegelapan itu.


\=\=\=\=\=


Seminggu setelah pertemuan yang gagal antara Wijaya dan Nada, Nada pun pamit kepada kakek Randu untuk kembali ke kost-an. Kakek Randu tak punya alasan untuk menolak apalagi Nada sudah kembali pulih.


" Main lah ke sini, ga usah sungkan. Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu..., " kata kakek Randu sambil tersenyum.


" Iya Kek, makasih. Tolong sampaikan juga salamku untuk Pak Ranvier. Maaf jika Aku masih ga bisa mengingat apa pun tentang dia...," kata Nada tak enak hati.


" Insya Allah Aku sampaikan nanti...," sahut Kakek Randu sambil mengangguk.


Nada pun tersenyum lalu mencium punggung tangan Kakek Randu dengan takzim. Setelah berpamitan pada semua orang, Nada pun pergi meninggalkan rumah kakek Randu dengan menggunakan Taxi.


Nada tampak menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sambil menatap keluar jendela. Namun gadis itu tampak sedikit kesal karena perjalannya menuju rumah kost terhambat.


" Tumben macet, ada apaan sih Pak...?" tanya Nada.


" Ada banyak Polisi di depan Mbak. Katanya sih lagi evakuasi mayat ga dikenal...," sahut supir Taxi.


" Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun. Mayatnya cewek atau cowok Pak...?" tanya Nada.


" Cewek Mbak, ga pake busana juga. Kayanya sih korban pemerk*saan...," sahut supir Taxi sambil melajukan mobil perlahan.


Nada pun mengamati trotoar dimana jenasah tak dikenal itu dibaringkan. Dalam hati Nada membaca surah Al Fatihah yang dikirim khusus untuk jenasah tak dikenal itu.


Namun saat Nada mengucap 'aamiin', saat bersamaan ia menoleh kearah jenasah dan terkejut melihat tanda lahir di lengan jenasah. Nada terpaku menatap jenasah tanpa busana yang ditutupi koran itu. Ia yakin jika jenasah itu adalah jenasah Ayu, adik sang mama yang telah menghancurkan hidupnya.

__ADS_1


Ingatan Nada kembali berputar pada saat mereka masih tinggal bersama. Ia kerap melihat tanda lahir itu saat Ayu tengah menyiapkan sarapan pagi di meja makan. Nada tak menyangka jika akan melihat tanda lahir itu lagi setelah sekian lama dan dalam kondisi pemilik tanda lahir telah meninggal dunia.


bersambung


__ADS_2