
Di dalam kamar mandi Nada masih nampak mengatur debaran jantungnya mengingat apa yang telah Ranvier lakukan tadi. Meski pun dia berusaha meyakinkan diri jika Ranvier tak akan menuntut haknya malam ini, namun Nada ingin memberikan kesan yang baik di malam pertama pernikahan mereka.
" Dia ga bakal minta itu kan malam ini. Aku tau dia pengertian dan ga akan membuatku sakit di saat Aku belum siap. Mungkin dia lebih milih nahan hasrat daripada memaksakan kehendaknya nanti. Maafin Aku ya Sayang. Aku janji, setelah Aku sembuh dan benar-benar fit, Aku yang akan menawarkan diri sama Kamu nanti...," gumam Nada sambil tersenyum.
Brakkk !!
Suara berderak terdengar dari luar kamar hingga mengejutkan Nada. Ia mulai dilanda kekhawatiran karena teringat dengan peristiwa penculikan yang dilakukan Soni.
" Sayang, suara apa itu...?!" tanya Nada lantang.
Tak ada sahutan dan itu membuat Nada panik.
" Sayang...!" panggil Nada sekali lagi namun tetap tak ada sahutan.
Khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk dengan Ranvier, Nada pun mempercepat mandinya. Nada bergegas keluar dari bath tub lalu membasuh dirinya di bawah guyuran air shower. Setelahnya Nada meraih bathrob yang tergantung di lemari lalu bergegas keluar dari kamar mandi.
" Sayang...!" panggil Nada sekali lagi.
Dan saat Nada keluar dari kamar mandi ia terkejut karena ruangan dalam keadaan gelap. Padahal ia ingat betul jika sebelumnya lampu di kamar menyala terang. Beruntung ada pantulan cahaya dari balkon yang bisa membantu penglihatan Nada.
Nada menoleh kearah jendela kamar yang terbuka lebar hingga membuat gorden jendela berkibar. Ia tahu di balik jendela ada balkon tapi ia yakin Ranvier tak akan membiarkan jendela terbuka lebar-lebar di malam hari seperti ini.
Yakin telah terjadi sesuatu, Nada pun bersikap siaga. Nada nampak merapatkan bathrob yang ia kenakan. Untuk berjaga-jaga Nada meraih patung tembaga setinggi 50 cm dari lemari di sampingnya lalu melangkah perlahan kearah jendela sambil mengamati sekelilingnya.
" Bang Ranvier...!" panggil Nada lantang sambil menggenggam erat patung.
Nada pun tiba di pinggir jendela. Ia menghela nafas panjang lalu melemparkan patung tembaga di tangannya ke lantai begitu saja. Wajahnya yang menegang perlahan mengendur.
Nada nampak menatap keluar jendela dengan perasaan berkecamuk. Ada air mata menggenang di kedua matanya saat itu. Meski pun bibirnya tersenyum, namun jelas ada sorot terluka di kedua matanya.
Nada masih berdiri di sana hingga beberapa saat sambil menunggu Ranvier kembali. Setelah yakin Ranvier tak akan kembali dalam waktu dekat, Nada pun menutup jendela.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Keesokan harinya Nada menemui Kakek Randu dan Wijaya. Mereka bertemu di restoran yang ada di hotel tempat Nada dan Ranvier menginap.
Melihat Nada datang seorang diri membuat Kakek Randu dan Wijaya terkejut. Kecemasan tampak membayang di wajah keduanya. Namun saat melihat Nada tersenyum lebar sambil menyapa mereka, keduanya pun ikut tersenyum lega.
" Assalamualaikum Ayah, Kakek...!" sapa Nada sambil melangkah cepat lalu menghambur memeluk keduanya bergantian.
" Wa alaikumsalam...," sahut Kakek Randu dan Wijaya bersamaan.
" Kok sendiri, Ranvier mana...?" tanya Kakek Randu tak sabar.
" Lagi pergi Kek...," sahut Nada sambil menarik kursi.
" Pergi ?, kemana...?" tanya Kakek Randu kesal.
" Apa Kakek dan Ayah udah pesan makanan ?. Aku lapar, Kita pesan makanan dulu ya...," kata Nada mencoba mengalihkan pembicaraan sambil membaca buku menu di hadapannya.
Ucapan Nada membuat Kakek Randu dan Wijaya saling menatap kemudian mengangguk. Ketiganya pun mulai sibuk melihat buku menu. Saat seorang pelayan restoran datang mendekat, Nada pun memesan banyak makanan hingga membuat Kakek Randu dan Wijaya terkejut.
" Banyak banget sih Nak. Apa Kamu sanggup makan semuanya sendiri...?" tanya Wijaya.
" Ok. Terus dimana Suamimu itu...?" tanya Wijaya sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.
" Ayah, Aku kan udah bilang tadi kalo Bang Ranvier lagi pergi...," sahut Nada.
" Iya, Ayah denger. Tapi pergi kemana Sayang ?. Ini kan masih pagi banget...," kata Wijaya mencoba sabar.
Nada hanya menggedikkan bahunya dengan acuh lalu mulai membuka ponselnya. Kakek Randu yang melihat sikap Nada pun terkejut dan menduga jika telah terjadi sesuatu dengan Ranvier. Ia berharap jika dugaannya salah. Namun saat Kakek Randu ingin bertanya lebih jauh, Krisna datang dan membisikkan sesuatu di telinganya.
" Ck, apa lagi ini...," gerutu Kakek Randu sambil mengetukkan tongkatnya di lantai.
" Ada apa Pak...?" tanya Wijaya.
" Ada kerusuhan di perusahaan cabang. Rupanya ada orang yang berani bikin gara-gara dengan menggelapkan gaji karyawan...," sahut Kakek Randu.
__ADS_1
" Kenapa Bapak yang harus turun tangan ?. Kan bisa suruh Krisna atau yang lain untuk menanganinya...," kata Wijaya sambil mengerutkan keningnya.
" Ini bukan kali pertama Wijaya. Aku memang ga pernah tampil ke depan layar dan itu bikin beberapa orang menganggap jika perusahaan itu hanya perusahaan kecil yang ga ada artinya untukku. Itu memang benar, tapi Aku ga tega sama nasib para karyawan yang dicurangi itu. Makanya Aku memutuskan bertindak sekarang setelah lelah memberi mereka kesempatan. Aku mohon maaf Wijaya, Aku ga bisa menemani Kalian sarapan sekarang karena harus pergi...," kata Kakek Randu sambil berusaha bangkit dari duduknya.
" Oh gapapa Pak. Kami mengerti kok. Semoga masalahnya cepat teratasi...," sahut Wijaya cepat.
" Aamiin, makasih Wijaya...," kata Kakek Randu sambil tersenyum.
Kemudian Kakek Randu dan Krisna bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Namun langkah mereka terhenti saat Nada memanggil.
" Kakek tunggu...!" panggil Nada sambil berlari kecil kearah Kakek Randu.
" Ada apa Nak...?" tanya Kakek Randu.
" Bawa ini. Kakek bisa makan ini di mobil nanti. Aku bawain lebih dari dua porsi dan itu cukup untuk Kakek dan Pak Kris nanti...," sahut Nada sambil menyerahkan box berisi makanan dan minuman kepada Krisna.
Kakek Randu tersenyum lalu mengusap kepala Nada dengan lembut.
" Makasih Nak. Harusnya Kamu ga usah repot-repot. Kakek bisa mampir untuk beli makanan nanti...," kata Kakek Randu.
" Ga bisa Kek. Aku mau Kakek makan tepat waktu supaya Kakek juga bisa minum obat tepat waktu. Ini penting karena Kakek juga orang penting di hidupku sekarang...," sahut Nada sambil memeluk Kakek Randu erat.
Ucapan Nada membuat Kakek Randu terharu. Ia balas memeluk Nada lalu mengecup kepalanya dengan sayang. Krisna yang menyaksikan semuanya pun ikut tersenyum melihat kasih sayang tulus Nada pada tuannya.
" Baik lah. Rupanya sekarang Ranvier punya sekutu yang bakal terus menerrorku yaa...," gurau Kakek Ranvier hingga membuat Nada dan Krisna tertawa.
" Bukan nerror Kek. Aku kan cuma ngingetin Kakek supaya minum obat tepat waktu...," sahut Nada.
" Tapi buat Bapak ngingetin minum obat itu sama dengan terror Mbak...," sela Krisna hingga membuat Nada kembali tertawa.
" Gapapa, Kakek ga keberatan sama apa yang Kamu lakukan ini. Sekarang ijinkan Kakek pergi dulu ya...," kata Kakek Randu sambil menepuk jemari Nada yang masih melingkari lengannya.
" Oh iya. Ok, hati-hati ya Kek. Pak Kris, tolong jaga Kakek...," pesan Nada sambil mengurai cekalan tangannya.
__ADS_1
Kakek Randu dan Krisna mengangguk lalu kembali melangkah. Setelahnya Nada pun kembali bergabung dengan Wijaya yang nampak masih menunggunya untuk sarapan.
\=\=\=\=\=