
Mutia nampak termangu di tempat usai menghubungi Ranvier tadi. Ia tak menyangka jika Ranvier mengetahui dirinya menggunakan bedak ajaib yang berkekuatan mistis untuk memoles wajahnya.
Mutia ingat bagaimana ia mendapatkan bedak itu dulu.
Mutia pernah mengeluh pada sepupunya tentang keinginannya tampil menarik.
" Ga perlu cantik tapi menyenangkan aja diliat...," kata Mutia waktu itu.
" Kenapa cuma pengen enak diliat aja. Padahal ada satu ramuan yang bisa bikin Lo ga cuma enak diliat tapi juga menyenangkan dalam berbagai hal...," kata sepupu Mutia yang bernama Iren itu sambil mengedipkan matanya.
" Maksud Lo...?" tanya Mutia tak mengerti.
" Lo tau kan Mut kalo Gue ini jadi karyawan biasa udah lama banget. Gue berusaha mati-matian biar bisa naik jabatan dan punya gaji yang besar. Ga tau kenapa usaha Gue selalu gagal. Tapi sejak Gue pake bedak ini, tiba-tiba karir Gue melesat cepat. Gue yang cuma karyawan biasa diangkat jadi sekretaris Bos. Semua cowok yang semula ngeremehin Gue mendadak jadi bersikap manis sama Gue. Dan terakhir, Gue berhasil jadi simpanan Bos Gue. Dan untuk yang terakhir Gue mohon jangan kasih tau siapa-siapa ya Mut. Gue ga mau jadi rame aja...," kata Iren setengah berbisik.
" Segitu besar efeknya tuh bedak, pasti bukan bedak biasa kan Ren...?" tanya Mutia.
" Iya. Gue dapat ini dengan harga mahal. Harga bedaknya sih standart ya. Tapi ritualnya yang mahal Mut. Dan Gue pake bedak yang udah dimantrain dengan hati-hati. Ga perlu banyak, sedikit aja. Cara makenya gampang kok, cuma dipoles tipis di wajah yang udah selesai dimake up...," kata Iren bangga.
" Apa ga ada efek sampingnya Ren...?" tanya Mutia sambil mengamati bedak ajaib milik Iren.
" Ga ada. Ga pake tumbal, ga pake sajen. Sekali bayar di muka, urusan Lo sama yang mantrain bedak itu selesai...," sahut Iren.
Ucapan Iren membuat Mutia tertarik. Mutia pun berniat mengikuti jejak Iren. Namun saat Mutia datang untuk meminta bantuan Iren mengantar membeli bedak yang dimaksud, ternyata Iren sedang sakit.
Saat itu Mutia terkejut dan langsung membawanya ke Rumah Sakit. Ternyata Iren bukan sakit melainkan hamil. Usia kehamilannya masuk ke lima bulan. Sayangnya Iren selalu berusaha menutupi kehamilannya dengan maksud agar tak jadi bahan gosip rekan sekantornya.
" Apa Bos Lo udah tau tentang kehamilan ini Ren...?" tanya Mutia.
" Udah...," sahut Iren.
" Terus, dia ga mau tanggung jawab...?" tebak Mutia.
" Iya. Tapi Gue ga bisa nyalahin dia Mut. Kan Gue yang mau jadi simpenannya. Sebenernya perjanjian awal, selama jadi simpenannya Gue ga boleh hamil. Tapi ga tau kenapa kok Gue justru hamil. Padahal Gue udah hati-hati saat melakukan itu...," sahut Iren.
" Mungkin itu karma karena Lo udah nikung Suami orang...," kata Mutia ketus hingga membuat Iren tersenyum kecut.
__ADS_1
" Mutia...," panggil Iren.
" Iya...," sahut Mutia sambil menatap Iren.
" Kalo ntar terjadi sesuatu sama Gue...," kata Iren.
" Jangan ngomong gitu Ren. Lo kan ga sakit berat...," sahut Mutia cepat.
" Iya. Tapi dengerin Gue Mut. Kalo terjadi sesuatu sama Gue, tolong Lo amanin bedak Gue ya. Kalo Lo mau pake juga boleh. Tenang aja, ga bakal ada efek apa-apa kok sama Lo...," pesan Iren.
Dan ternyata itu adalah pesan terakhir Iren. Karena dua hari setelahnya Iren meninggal dunia. Iren meninggal dengan membawa serta bayi di dalam rahimnya.
" Apa jangan-jangan sundel bolong itu jelmaan Iren. Kan kata Ranvier makhluk yang Gue anggap Nyai itu wujudnya sundel bolong. Dan katanya orang hamil yang meninggal dunia bakal jadi hantu gentayangan. Bisa jadi Iren melahirkan di kuburan terus gentayangan...," gumam Mutia gusar.
Setelahnya Mutia menatap langit-langit kamarnya. Kamar baru yang ia tempati kini terletak tak jauh dari kontrakan lamanya. Mutia memutuskan pindah karena malu telah menjadi bahan gunjingan tetangga di sekitarnya. Apalagi para tetangga sempat melihat kondisi rumah kontrakannya yang kotor dan terawat.
Entah mengapa sejak menggunakan bedak warisan Iren, Mutia jadi pemalas. Ia tak suka merapikan rumah, menyapu rumah bahkan membiarkan sampah bekas makanan teronggok begitu saja di lantai. Mutia juga membiarkan cucian piring menumpuk di wastafel.
Tiba-tiba Mutia teringat Ranvier. Ia berniat meminta bantuan Ranvier. Dengan ragu ia mendial nomor ponsel Ranvier. Dan saat Ranvier merespon panggilannya ia pun tersenyum.
" Assalamualaikum Mutia...," sapa Ranvier dengan ramah seperti biasa.
" Apa Kamu butuh sesuatu Mutia...?" tanya Ranvier to the point.
" Iya...," sahut Mutia cepat.
Setelahnya Mutia mulai menceritakan apa yang ia alami termasuk tentang bedak ajaib warisan Iren. Mutia juga menceritakan kecemasannya atas nasib almarhumah Iren.
" Insya Allah Saya siap bantu Kamu Mutia...," kata Ranvier sesaat setelah Mutia selesai dengan ceritanya.
" Makasih Ranvier...!" sahut Mutia antusias.
" Sama-sama...," kata Ranvier di akhir kalimatnya.
Di kamarnya Ranvier nampak mengusak rambutnya dengan kasar. Ia terpaksa berbohong pada Mutia karena ia tak ingin Mutia sedih. Sundel bolong yang merupakan jelmaan Iren telah lenyap terbakar saat ia membantu mengusir makhluk penghuni bedak ajaib itu tadi.
__ADS_1
Ternyata selama ini Iren berbohong. Bedak ajaib yang ia gunakan kemudian ia wariskan pada Mutia juga menuntut tumbal.
Tumbal yang dimaksud adalah darah dari orang yang paling Iren sayangi. Iren memilih Bos sekaligus suami sirinya agar khasiat bedak bisa terus ia rasakan.
Saat Iren hamil, makhluk kegelapan penghuni bedak ajaib itu juga menginginkan bayinya. Karenanya saat mengetahui dirinya hamil, Iren sempat mencari orang lain untuk ia jadikan tumbal. Dan orang itu adalah Mutia.
Tapi karena Mutia juga pernah terlibat dengan hal mistis dulu, maka penghuni bedak tak menyukai darahnya. Maka mereka kembali mengincar bayi Iren.
Rupanya naluri keibuan dalam diri Iren pun tumbuh seiring waktu. Dan Iren yang mulai menyayangi bayinya tak rela jika bayinya menjadi tumbal. Ia kembali mencari orang lain untuk ia jadikan tumbal.
Tapi untung tak bisa diraih, malang tak bisa ditolak. Iren terpeleset dan jatuh saat ia hendak buang air kecil di kamar mandi. Walau Mutia berhasil membawanya ke Rumah Sakit, toh Iren akhirnya meninggal dunia bersama bayi dalam rahimnya itu.
" Iren pergi ke tempat Tuannya dan akan tetap di sana hingga kiamat nanti Mutia. Aku ga mungkin bilang ini sama Kamu karena khawatir Kamu kecewa. Tapi gapapa. Hanya mendoakan saja ga akan jadi masalah. Semoga setelah ini Kamu bertobat Mutia...," batin Ranvier penuh harap.
\=\=\=\=\=
Ranvier baru saja selesai memenuhi undangan makan malam dari rekan bisnis kakeknya. Ia hadir untuk mewakili kakek Randu yang sedang melakukan check up rutin keluar negeri.
Ranvier melajukan mobilnya perlahan meninggalkan restoran. Jalan raya mulai lengang karena saat itu jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ranvier nampak menguap beberapa kali karena merasa diserang kantuk. Dan untuk menetralisir rasa kantuknya, Ranvier pun memutar lagu religi.
Saat sedang asyik bersenandung, tiba-tiba Ranvier dikejutkan dengan kehadiran seorang gadis yang berdiri menghadang laju mobilnya.
Ranvier pun menginjak pedal rem kuat-kuat lalu menatap ke jalan raya di depannya. Ranvier mengerutkan keningnya saat melihat gumpalan asap berwarna putih di depan mobilnya berubah wujud menjadi seorang gadis cantik. Sangat cantik hingga membuat Ranvier terpesona.
" Masya Allah cantik banget. Dia manusia atau hantu...," gumam Ranvier tanpa sadar.
Dan Ranvier harus menahan nafas saat melihat gadis itu berjalan kearahnya. Lalu dengan mudahnya gadis itu membuka pintu mobil tepat dimana Ranvier berada.
Setelah berhasil membuka pintu mobil, gadis itu membungkukkan tubuhnya lalu menyapa Ranvier.
" Apa kabar Ranvier...?" sapa gadis itu.
" Kamu...," ucapan Ranvier terputus.
" Sudah waktunya Kamu menepati janjimu Ranvier...," kata gadis itu.
__ADS_1
Untuk sesaat Ranvier membeku di tempat karena sadar waktunya menepati janji telah tiba.
bersambung