Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
74. Tentang Ami


__ADS_3

Tiba-tiba dua orang pria yang merupakan kerabat orangtua Amelia datang mendekati wanita itu lalu membawanya pergi.


Wanita itu nampak meronta sambil menjerit. Ia juga meracau dan itu membuat dua pria yang mencekalnya panik.


Ranvier dan Erwin pun bergegas menghampiri lalu meminta mereka melepaskan wanita itu.


" Maaf Pak, kenapa harus diusir. Dia kan ga mengganggu di sini...?" tanya Ranvier.


" Ga mengganggu sih, tapi bikin kotor pemandangan Mas...," sahut salah satu pria.


" Maksudnya gimana ya Pak. Saya liat daritadi dia duduk aja di sini. Ga ganggu orang lewat atau teriak-teriak ga jelas. Justru anak-anak itu yang mengganggu dan terus ngelemparin dia pake batu. Harusnya mereka yang Bapak usir bukan wanita ini...," kata Ranvier kesal.


" Tapi kalo wanita ini duduk di sini bikin tamu ga nyaman Mas...," sahut salah seorang pria dengan wajah bingung.


Tiba-tiba salah seorang pria bicara hingga membuat Ranvier terdiam.


" Maaf, Mas kan bukan orang sini. Jadi tolong jangan ikut campur. Kami yang orang asli sini, biar Kami yang nanganin wanita ini. Bukan apa-apa Mas. Kami diserahi tanggung jawab menjaga keamanan dan kenyamanan selama pesta pernikahan Mbak Amelia berlangsung. Karena wanita ini masuk dalam wilayah yang menjadi tanggung jawab Kami, jadi sudah kewajiban Kami menyingkirkannya. Mas ga usah khawatir, Kami juga tau adab kok. Kami cuma mau nganterin wanita ini pulang ke keluarganya dan minta dia diawasi agar ga berkeliaran untuk sementara waktu...," kata pria itu.


Kemudian pria itu memanggil beberapa remaja pria dan memintanya untuk mengantar wanita itu pulang ke rumah.


" Oh, jadi wanita ini punya keluarga di sekitar sini Pak...?" tanya Ranvier saat wanita itu dibawa pergi.


" Iya Mas. Orangtuanya masih lengkap semua kok...," sahut pria yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Kalas.


" Apa wanita itu ga waras sejak kecil Pak...?" tanya Ranvier.


" Oh ga kok. Wanita itu namanya Ami. Dia keliatan ga waras beberapa bulan belakangan aja. Seinget Saya sih sejak ketauan hamil ya. Mungkin dia malu terus jadi stress karena hamil di luar nikah...," sahut Kalas.


" Hamil di luar nikah sama Pacarnya Pak...?" tanya Erwin.


" Nah itu yang ga jelas Mas. Ami itu orangnya tertutup banget. Selama ini warga ga tau dia pacaran sama siapa. Ami itu kan lumayan manis. Makanya banyak pemuda sini yang naksir sama dia. Tapi ga ada yang berani ngedeket karena takut sama Bapaknya Ami yang galak itu...," sahut Kalas.


" Apa alasan Bapak Ami ga ngijinin Ami pacaran Pak...?" tanya Ranvier.

__ADS_1


" Ga tau Mas. Padahal ada juga yang berniat melamar Ami dulu, tapi ditolak mentah-mentah sama Bapaknya. Kurang jelas alasannya. Yang Kami tau Ami itu terlalu disayang sama Bapaknya sampe ga boleh kemana-mana. Kerja aja diantar jemput Bapaknya kok...," sahut Kalas.


" Terus gimana bisa hamil. Kan Bapaknya ngawasin dia 24 jam...?" tanya Erwin bingung.


" Nah itu yang masih tanda tanya Mas. Kayanya di tempat kerjanya Ami punya pacar deh. Mereka berhubungan diem-diem dan akhirnya Ami hamil. Mungkin mereka berharap dengan hamilnya Ami hubungan mereka bakal direstui. Tapi ternyata mereka salah. Ami tetap hamil tanpa suami hingga akhirnya melahirkan entah dimana...," sahut Kalas sambil menggedikkan bahunya.


" Kok melahirkan entah dimana. Emangnya Anaknya Ami kemana Pak...?" tanya Erwin.


" Ga tau Mas. Ami emang sempet beberapa hari ga keliatan di jalanan. Tiga hari ga keliatan, eh pas nongol lagi ya bajunya udah penuh darah kering. Mana bau lagi. Tapi anehnya perutnya udah kempes. Pas ditanya warga kemana anaknya, Ami cuma geleng-geleng kepala. Ditanya melahirkan kapan dan dimana, Ami malah nangis. Makanya sampe sekarang Ami ya begitu, kadang nangis kadang ketawa nyariin anaknya yang udah lahir tapi ga tau dimana...," sahut Kalas.


Ucapan Kalas membuat Ranvier dan Erwin saling menatap. Setelah Kalas pergi, Erwin dan Ranvier memutuskan mendatangi rumah orangtua Ami.


Tak sulit mencari rumah orangtua Ami. Semua warga mengenal dengan baik keluarga Ami.


Saat sedang mengamati rumah Ami dari kejauhan, sosok anak kecil yang tadi Ranvier temui kembali terlihat. Ia bahkan menghampiri Ranvier dengan wajah sedih.


" Darimana Kamu...?" tanya Ranvier.


" Jadi wanita tadi Ibumu...?" tanya Ranvier.


" Iya...," sahut sosok anak kecil itu.


" Lalu dimana Ayahmu...?" tanya Ranvier.


" Aku tak tau. Aku hanya melihat Ibuku diseret masuk ke dalam kamar lalu dikunci di sana...," sahut sosok anak kecil itu.


" Siapa yang melakukannya...?" tanya Ranvier.


" Seorang laki-laki tua bertubuh jangkung...," sahut sosok anak kecil itu sambil berlalu.


Ranvier melepas kepergian sosok anak kecil itu dengan tatapan iba. Saat hendak melangkah meninggalkan tempat itu, Ranvier melihat pria bertubuh jangkung keluar dari rumah Ami. Pria yang diyakini sebagai ayah Ami itu nampak mengunci pintu lalu pergi entah kemana.


Melihat ayah Ami pergi, beberapa wanita yang merupakan tetangga Ami nampak mengendap-endap di samping rumah. Mereka mengetuk jendela. Lalu saat jendela terbuka, mereka segera memberi beberapa bungkus makanan dan minuman kepada Ami.

__ADS_1


Setelahnya para wanita itu bergegas pergi karena khawatir ketahuan oleh ayah Ami yang terkenal galak itu.


" Kenapa harus ngasih makan Ami secara sembunyi-sembunyi gitu Bu...?" tanya Ranvier saat salah seorang wanita yang memberi Ami makanan berpapasan dengannya.


Wanita itu terkejut lalu menatap Ranvier sejenak. Sedetik kemudian wanita itu tersenyum saat mengenali Ranvier sebagai anggota rombongan pengantin pria.


" Mas Ranvier kan, Mas liat apa yang Saya lakukan...?" tanya wanita itu.


" Iya...," sahut Ranvier.


" Tolong jangan kasih tau Bapaknya Ami ya Mas. Kasian Ami. Dia sering banget dikurung di kamar tapi ga dikasih makan. Waktu dia hamil juga begitu. Warga yang ngasih makan diam-diam karena ga tega sama Ami. Kalo Bapaknya tau, Ami pasti disiksa sampe ga bisa bersuara Mas...," sahut wanita itu.


" Iya Bu. Saya ga kenal juga kok sama Bapaknya Ami. Kalo emang itu alasan warga, Saya pasti dukung Bu...," kata Ranvier hingga membuat wanita itu menghela nafas lega.


" Kenapa ga lapor pengurus lingkungan setempat Bu. Atau lapor Polisi kalo perlu...," kata Erwin.


" Udah Mas. Tapi kalah galak sama Bapaknya Ami...," sahut wanita itu.


" Maaf kalo Saya lancang. Saya denger dari Pak Kalas katanya Ami itu pernah hamil ya Bu. Terus bayinya kemana Bu...?" tanya Ranvier.


" Itu masih misteri Mas. Sama misterinya kaya siapa Ayah si jabang bayi...," sahut wanita itu.


" Emangnya Ami ga bisa diajak ngomong Bu. Tanyain siapa laki-laki yang bikin dia hamil. Bilang kalo warga bakal bantuin Ami ketemu sama pacarnya itu. Kali aja kalo ditemuin sama laki-laki itu dia bisa sembuh dan bahagia...," saran Ranvier.


" Belum pernah nyoba sih Mas. Abisnya Bapaknya galak banget. Ngeliat Ami ngobrol sama warga pasti langsung marah. Aminya ditarik pulang terus ngomel-ngomel ga jelas. Tapi saran Mas bisa dicoba kapan-kapan..., " kata wanita itu.


" Kenapa ga dicoba sekarang aja Bu. Kan Bapaknya Ami lagi pergi. Terus Saya liat Ami juga bisa diajak ngobrol lewat jendela tadi...," kata Ranvier.


" Oh iya ya. Kalo gitu Saya bilang warga sebentar ya Mas...," sahut wanita itu antusias.


Ranvier mengangguk lalu melihat bagaimana wanita itu mengajak tetangganya untuk membantu Ami. Sebagian yang lain bergerak cepat menghubungi pengurus lingkungan setempat.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2