
Kedua orangtua Ami menjerit histeris saat polisi menyampaikan berita duka tentang kematian putri mereka. Jeritan histeris orangtua Ami dianggap sandiwara karena dilakukan secara bersama-sama hingga membuat para polisi mencibir kesal.
Beberapa tahun yang lalu kakak laki-laki Ami juga meninggal saat remaja. Kakak Ami meninggal setelah mengalami penyiksaan dari kedua orangtuanya.
Warga yang curiga dengan kematian kakak Ami sempat melaporkan ke pihak kepolisian. Tapi karena warga tak memiliki cukup bukti, akhirnya kedua orangtua Ami dibebaskan.
Dan kematian Ami kali ini memaksa polisi membuka kembali file laporan tentang tindak kekerasan yang dilakukan bapak Ami.
Dalam waktu singkat bapak Ami ditetapkan sebagai tersangka utama penyebab kematian Ami dan kakaknya. Selain itu bapak Ami juga jadi tersangka utama kasus pemerk*saan terhadap Ami dan pembunuhan bayi hasil perk*saan itu. Dan setelah ditotal, ancaman hukuman yang harus diterima bapak Ami hampir mencapai tiga puluh tahun.
Ibu Ami juga ikut jadi tersangka karena membiarkan kekerasan terjadi di depan matanya tanpa berusaha membela kedua anaknya itu, apalagi melaporkan tindakan suaminya ke pihak berwajib.
Akhirnya drama keluarga itu berakhir sudah. Ami meninggal dunia karena infeksi jalan lahir. Sedangkan kedua orangtuanya menginap di hotel prodeo untuk jangka waktu lama.
Pemakaman Ami berjalan khidmat. Isak tangis mewarnai pemakaman gadis belia itu. Gadis yang sepanjang hidupnya harus menerima caci maki dari orangtuanya. Gadis yang kebebasan dan masa depannya terenggut sejak masa kanak-kanak. Karena setelah diinterogasi polisi diketahui jika bapak Ami telah melecehkan Ami sejak gadis itu berusia sebelas tahun.
" Semoga Kamu bahagia di sana ya Ami. Maafkan Kami karena ga peka sama keadaanmu...," kata Puspa sambil terisak.
" Andai sejak awal warga bersatu menangkap Bapaknya Ami. Mungkin sekarang Kakak Ami masih hidup dan bakal membela Ami...," kata warga lainnya penuh sesal.
" Semoga ini jadi pelajaran untuk Kita semua. Jika melihat sesuatu yang tak lazim segera laporkan ke pengurus lingkungan agar bisa segera ditindak. Ke depannya Kita harus saling mengawasi. Lakukan dengan santun supaya ga terkesan kepo sama urusan orang lain...," kata ketua RT.
" Siap Pak...!" sahut warga bersamaan.
Setelah pemakaman usai, warga pun membubarkan diri satu per satu.
\=\=\=\=\=
Ranvier nampak duduk di kursi sambil mengamati foto kebersamaannya dengan kedua sahabatnya yang ia abadikan dengan kamera ponselnya.
Terlihat jelas wajah bahagia Akmal saat ia resmi menyunting gadis pujaannya, Amelia. Tampak Erwin yang selalu nimbrung dan berusaha ada di dekat Amelia hingga membuat Akmal kesal. Sedangkan Ranvier selalu berusaha jadi penengah diantara Akmal dan Erwin.
Ranvier ingat bagaimana akhirnya ia dan Erwin kembali ke pesta pernikahan Akmal setelah selesai mengurus Ami kemarin.
" Darimana aja sih Lo berdua ?. Ngilang gitu aja, ga pamit dulu sama Gue...," kata Akmal kesal.
" Kenapa masih nyariin Kita juga sih Mal ?. Kan udah banyak orang di sini. Emang masih kurang rame...?" tanya Erwin.
__ADS_1
" Bukan masalah kurang rame Win. Gue ngerasa ada yang kurang aja kalo ga ngeliat Lo berdua di pesta ini...," sahut Akmal jujur hingga membuat Ranvier dan Erwin tersenyum bahagia.
" Kita abis bantuin orang Mal. Makanya baru balik nih...," kata Ranvier.
" Bantuin orang, siapa...?" tanya Akmal.
" Ami...," sahut Ranvier dan Erwin bersamaan.
" Kalian kenal Ami juga...?" tanya Amelia tiba-tiba.
" Ga kenal, baru juga ngeliat tadi...," sahut Erwin cepat.
" Ami tuh siapa Sayang...?" tanya Akmal.
" Ami tuh adik kelas Aku waktu di SMP dulu. Anaknya lumayan manis, tapi sayang kuper banget. Soalnya Bapaknya yang galak itu ngelarang Ami bergaul sama teman sebayanya, ga tau kenapa..., " sahut Amelia.
" Tapi Bapaknya yang galak itu baru aja ditangkep Polisi Mel...," kata Ranvier hingga membuat Akmal dan Amelia terkejut.
" Hah..., masa sih ?. Emang kenapa Vier...?!" tanya Amelia.
" Iya tau...," sahut Amelia cepat.
" Nah, ternyata Bapaknya Ami adalah Ayah dari bayi yang dikandung Ami. Dengan kata lain Bapak Ami telah memperk*sa Ami sampe hamil dan melahirkan. Bayinya sih dipastikan meninggal tapi ga tau dibuang atau dikubur dimana. Sekarang Polisi masih menyelidiki kasus ini...," kata Ranvier.
" Astaghfirullah aladziim..., kasian banget Ami...," kata Amelia dengan mata berkaca-kaca.
" Terus Aminya dimana sekarang...?" tanya Akmal.
" Tadi warga berhasil menculik Ami dari rumahnya yang terkunci. Lumayan sulit ngebujuk Ami karena dia takut sama ancaman Bapaknya. Cuma Ranvier yang berhasil ngebujuk Ami. Makanya setelah dilepaskan dari sekapan orangtuanya Ami dibawa ke Rumah Sakit. Tapi ya gitu, Ami nempeeelll... terus sama Ranvier...," sahut Erwin sambil tertawa.
Akmal dan Amelia pun tertawa membayangkan bagaimana Ranvier diikuti Ami kemana-mana.
" Kita jenguk Ami besok ya Sayang...," pinta Amelia tiba-tiba sambil menggelayut manja di lengan Akmal.
" Ok...," sahut Akmal sambil tersenyum.
" Ami ga bisa dijenguk lagi. Kalian terlambat...," kata Ranvier.
__ADS_1
" Kok terlambat...?" tanya Amelia tak mengerti.
" Iya Mel. Ami udah meninggal sejam yang lalu...," sahut Ranvier.
" Apaaa...?, kok bisa ?. Kan baru dibawa ke Rumah Sakit. Artinya Ami udah ditangani dokter dong...," kata Amelia tak percaya.
" Iya, tapi terlambat Mel. Luka Ami udah infeksi parah. Dan itu salah satu sebab yang bikin nyawanya ga tertolong. Selain itu Ami juga udah putus asa dan ga ingin hidup lagi karena takut sama orangtuanya...," sahut Ranvier.
Ucapan Ranvier membuat Amelia menangis. Akmal pun meraih sang istri ke dalam pelukannya untuk menenangkannya.
" Udah cukup. Jangan cerita lagi Vier, Win. Kasian nih Istri Gue jadi nangis kaya gini. Ntar orang pikir Amelia ga bahagia nikah sama Gue, padahal dia nangis gara-gara dapat kabar temennya meninggal...," kata Akmal.
" Ok deh, kalo gitu Gue sama Erwin keluar aja ya...," kata Ranvier diangguki Akmal.
Setelahnya Ranvier dan Erwin memilih duduk di kursi tamu bersama para tamu undangan. Tapi tak bertahan lama. Karena sesaat kemudian keduanya memilih keluar dan nongkrong di warung kopi.
Ranvier menghela nafas panjang usai mengingat kejadian di hari pernikahan Akmal dan Amelia itu.
Kini Ranvier harus bersiap kembali ke Australia untuk melanjutkan pendidikannya. Ranvier bangkit dari duduknya lalu melangkah menemui kakek Randu di ruang kerjanya.
\=\=\=\=\=
Di dalam penjara bapak Ami mendapatkan penyiksaan dari sesama tahanan. Jika selama ini dia kerap memukuli anak istrinya, hal sebaliknya justru terjadi sekarang. Tiada hari terlewat tanpa adanya pukulan.
Bapak Ami tak sanggup melawan. Selain dikeroyok, bapak Ami juga sudah lumayan berumur hingga tenaganya tak cukup tangguh menandingi keganasan tahanan lain. Ia hanya bisa pasrah menerima nasib.
Di dalam sel tahanan bapak Ami juga menjadi kacung bagi para tahanan. Ia harus melakukan banyak hal seperti memijat, membersihkan sel tahanan dan lain-lain. Bahkan tak jarang bapak Ami harus merelakan dirinya jadi pelepas hasrat se**al menyimpang para tahanan pria.
Bapak Ami hanya bisa menangis saat dirinya digunakan dengan tak layak. Ia teringat bagaimana buasnya ia menggagahi Ami dulu. Ia tak peduli tangis dan jerit kesakitan Ami saat ia berkali-kali melampiaskan hasratnya.
Nasib ibu Ami pun tak lebih baik. Ia menjadi sasaran pelampiasan kemarahan para napi wanita. Ia sering dicaci maki dan dipukuli. Ia sering terlihat menangis di sudut ruangan. Meski pun begitu tak seorang pun merasa iba. Itu membuatnya teringat dengan apa yang ia lakukan saat melihat Ami menangis dulu.
Dulu ia juga tak peduli saat Ami mengadu sambil menangis. Mengatakan jika dirinya telah diperk*sa oleh bapaknya. Ibu Ami memilih diam karena tak bisa berbuat apa-apa. Hingga Ami hamil dan kehamilannya tak bisa disembunyikan lagi. Saat itu ia sadar telah terlambat bertindak.
Kini kedua orangtua Ami menuai karma yang mereka sebar. Dan mereka harus menerima kenyataan, siap atau tidak, menghabiskan sisa hidup mereka di penjara akibat perbuatan jahat mereka pada anak-anak mereka.
\=\=\=\=\=
__ADS_1