
Di hari-hari berikutnya, Ranvier masih terus berjumpa dengan Amanda dan Mutia karena urusan pekerjaan.
Dan Erwin selalu melaporkan perkembangan pekerjaan yang dilakukan Amanda.
" Amanda itu emang model berbakat Vier. Dia bisa menuruti arahan Azam dengan mudah. Gue kaget ngeliat perubahan wajahnya saat difoto tadi...," kata Erwin.
" Kaget kenapa...?" tanya Ranvier tak mengerti.
" Hari ini Gue ngeliat si Amanda kaya kurang fit gitu, tapi waktu di depan kamera tampang lemes dan sakitnya itu langsung ilang. Dia mendadak berubah jadi sosok yang lain. Hebat kan...?" tanya Erwin.
" Itu namanya dia profesional Win. Dia udah dibayar mahal, makanya harus memberikan yang terbaik. Bukannya itu wajar ya...," sahut Ranvier.
" Iya sih Gue tau itu. Tapi Gue beneran salut sama dia Vier. Ngeliat profesionalitasnya, Gue setuju sama keputusan Lo untuk jadiin dia brand ambassador perusahaan Lo ini...," kata Erwin.
" Ehm, jangan berlebihan memuji. Ntar jatuh cinta terus patah hati repot deh...," kata Ranvier mengingatkan.
" Kok bisa-bisanya Lo berpikir kalo Gue jatuh cinta sama Amanda bakal patah hati. Emang kenapa Vier...?" tanya Erwin.
" Amanda itu model Win...," sahut Ranvier cepat.
" Terus kenapa kalo dia model. Apa menurut Lo karena dia model, cantik, terus ga sepadan sama Gue...?" tanya Erwin dengan mimik wajah tak suka.
" Bukan profesinya yang jadi masalah, tapi pribadinya. Amanda itu bukan type cewek setia. Dia suka main api. Dan Gue ga mau Lo terlibat dalam hubungan yang menyakitkan nantinya. Tapi itu sih terserah Lo ya Win. Gue ngomong kaya gini sebagai sahabat bukan atasan. Jadi Lo pikir aja sendiri baik buruknya. Atau kalo Lo ga percaya Lo bisa selidiki sendiri nanti...," kata Ranvier tegas.
Erwin pun terdiam. Bukan karena ia takut tapi karena ia menghargai Ranvier, sebagai atasan sekaligus sahabatnya.
" Ok, soal Amanda Gue urus nanti. Gimana sama Mutia...?" tanya Erwin.
" Ada apa sama Mutia...?" tanya Ranvier tak mengerti.
" Gimana sama kepribadian Mutia. Kalo Lo bisa dengan gamblang mengetahui sifat dan karakter Amanda, terus gimana sama Mutia. Bukannya di jauh terlihat lebih aneh dibanding cewek normal lainnya...?" tanya Erwin.
Ranvier mengangkat kepalanya dan terdiam sejenak.
" Apa Lo dapat sesuatu selama dekat sama Amanda dan Mutia...? " tanya Ranvier.
" Mmm..., Gue merasa dia menghindari Gue Vier...," sahut Erwin.
__ADS_1
" Oh ya, kenapa...?" tanya Ranvier.
" Kalo soal kenapanya, Gue ga tau ya. Tapi ngeliat sikapnya yang selalu menolak melakukan kontak mata, Gue yakin dia menyembunyikan sesuatu...," sahut Erwin.
" Masuk akal. Terus...?" tanya Ranvier tak sabar.
" Gue ngerasa gerak-geriknya mirip seseorang yang Kita kenal Vier...," sahut Erwin ragu.
" Seseorang yang Kita kenal...?" ulang Ranvier sambil mengerutkan keningnya.
" Iya. Seseorang dari masa lalu Kita Vier. Dia... mirip sama Yara...," sahut Erwin hingga membuat Ranvier terkejut.
" Yara temen sekelas Kita dulu...?!" tanya Ranvier tak percaya.
" Iya. Walau Gue ga yakin karena nama mereka berbeda. Tapi...," ucapan Erwin terputus karena Ranvier memotong cepat.
" Gue percaya Win !. Lo bener, dia itu Yara. Mutiara Amerta. Dia sengaja pake nama depannya untuk mengelabui Kita. Karena mungkin nama Yara itu punya cerita kelam untuknya. Makanya supaya bisa keluar dari masa kelam itu dia mengganti nama panggilan. Hanya nama panggilan...!" kata Ranvier antusias.
" Kalo itu Yara, kenapa dia pura-pura ga kenal sama Kita dan bertingkah absurd kaya gitu. Gue tau Kita dulu emang jahat banget karena selalu ngebully dia, tapi itu kan dulu...," sahut Erwin.
" Gue ga ikutan ya !. Cuma Lo dan yang lain yang ngebully Yara...!" kata Ranvier mengingatkan.
" Bukan salahnya dia bersikap kaya gitu Win. Dia pasti sakit hati banget sama sikap Lo dan temen-temen dulu makanya lebih memilih jadi orang lain dan pura-pura ga kenal sama Kita...," kata Ranvier.
" Kalo sikapnya itu diperuntukkan ke Gue sih masuk akal Vier. Tapi kenapa Lo juga kena imbasnya...?" tanya Erwin tak mengerti.
" Mungkin dia pikir Gue bakal mendukung Lo karena Lo kan sahabat Gue...," sahut Ranvier.
" Jadi Kita harus gimana Vier...?" tanya Erwin.
" Ya ikutin aja alur yang dia buat. Kalo dia merasa lebih nyaman jadi Mutia, ya Kita ga usah maksa dia buat jadi Yara. Simple kok..," sahut Ranvier.
" Termasuk ga usah bilang sama dia kalo Kita sebenernya tau siapa dia dan Kita pernah saling mengenal. Gitu maksud Lo...?" tanya Erwin.
" Betul...," sahut Ranvier cepat.
" Ok deh. Gue setuju sama cara Lo. Yang penting kerja sama Kita sama mereka berjalan lancar...," kata Erwin hingga membuat Ranvier tersenyum.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Beberapa malam kemudian setelah pembicaraan panjang mengenai Amanda dan Mutia, Ranvier pun bermimpi aneh. Mimpi aneh itu seperti film yang saling berkaitan satu dengan lainnya.
Di mimpi pertama Ranvier melihat seorang gadis dengan wujud yang samar. Bagaimana rupa gadis itu dan apa yang dikenakannya tak terlihat jelas. Gadis itu hanya menatap Ranvier dari kejauhan, tak mau mendekatinya apalagi bicara padanya.
Di hari berikutnya Ranvier kembali bermimpi melihat sosok gadis yang sama. Tapi kali ini gadis itu tampak berdiri membelakanginya.
Saat Ranvier berusaha melihat wajahnya gadis itu selalu menjauh hingga membuat Ranvier bertambah penasaran.
" Mau kemana Kamu. Tunjukkan wajah aslimu. Heeii..., tunggu...!" panggil Ranvier lantang.
Namun sayang wanita itu terus melangkah pergi tanpa sekali pun menoleh.
Ranvier pun terbangun dengan wajah gusar. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri seolah sedang mencari sesuatu.
" Mimpi aneh atau justru wanita itu yang aneh. Jangan-jangan ini ada kaitannya sama si Mutia managernya Amanda itu. Kenapa tiap kali Aku ngomongin dia sama Erwin, mimpi aneh itu datang...?" gumam Ranvier sambil mengusak rambutnya.
Ranvier masih menyimpan rapat dua mimpi anehnya itu. Ia belum ingin menceritakan mimpinya kepada Erwin walau saat itu Erwin telah lebih dulu menceritakan keanehan yang ia alami.
" Gue kaya diikutin orang Vier. Ga tau cewek atau cowok. Cuma ga nyaman aja rasanya...," kata Erwin saat menemaninya meeting dengan klien.
" Masa sih. Perasaan Lo aja kali...," sahut Ranvier.
" Kalo cuma perasaan terus kenapa Gue dua kali mergokin sosok yang sama Vier...?" tanya Erwin gusar.
" Maksud Lo, Lo udah ngeliat orang yang ngikutin Lo itu...?" tanya Ranvier.
" Iya...," sahut Erwin cepat.
" Ciri-cirinya gimana...?" tanya Ranvier penasaran.
" Ga tau Vier. Orang itu ngumpet di balik pohon gede atau tembok rumah orang. Tapi pas Gue samperin, orang itu langsung kabur...," sahut Erwin.
Ranvier terdiam karena tak tahu harus bicara apa. Ia dan Erwin hanya bisa berharap semoga terror yang menimpa Erwin segera berlalu.
Di hari ke tiga wanita itu kembali datang menemui Ranvier dalam mimpi. Tapi kali ini tak hanya sosoknya yang lebih jelas tapi juga wajahnya. Dan betapa terkejutnya Ranvier saat melihat wajah asli wanita itu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=