
Erwin pun duduk di hadapan Daeng Payau. Kemudian sesuai perintah Daeng Payau ia memejamkan mata.
" Kali ini jangan ada yang bicara apalagi tertawa. Kalo ga mau membantu berdzikir lebih baik diam...!" kata Daeng Payau tegas.
Ranvier, Akmal dan Tomi memilih berdzikir dalam hati karena merasa tersindir dengan ucapan Daeng Payau.
Daeng Payau menyentuh kepala Erwin lalu mengusapnya beberapa kali. Setelahnya usapan Daeng Payau turun ke punggung lalu bergeser ke perut dan berakhir di kedua telapak kaki Erwin.
Perasaan Erwin berangsur membaik. Rasa takut yang tadi sempat membayangi seolah sirna begitu saja. Ia membuka matanya lalu tersenyum.
" Makasih Om. Saya ga tau gimana nasib Saya dan masa depan Saya kalo Om ga nolongin Saya...," kata Erwin sungguh-sungguh.
" Sama-sama. Mulai sekarang ada baiknya Kamu dan semuanya berhati-hati kalo bicara. Walau Kalian hanya bercanda, tapi bisa saja ucapan melukai perasaan orang lain atau makhluk lain. Jangan lupa, di sekitar Kita ada kehidupan lain yang ga terjamah dengan mata biasa. Di saat salah satu dari mereka tersinggung, lalu marah dan melampiaskan kemarahannya. Maka sulit rasanya lepas dari kejaran mereka. Yah, seperti yang Kamu alami tadi...," kata Daeng Payau menasehati.
" Iya Om...," sahut Erwin dan Akmal bersamaan.
" Iya Paman...," sahut Tomi dan Ranvier di sisi yang lain.
" Oh iya, kenalin dulu ini temanku Paman. Yang di depan Paman namanya Erwin dan yang di sana namanya Akmal. Nah guys kenalin ya, ini Paman Daeng. Beliau ini Guru Gue...," kata Ranvier dengan bangga.
Akmal dan Erwin pun bergegas mencium punggung tangan Daeng Payau yang menyambutnya dengan tersenyum.
" Jadi boleh kan kalo Saya panggil Om...?" tanya Erwin sambil menatap penuh harap kearah Daeng Payau.
" Boleh dong. Apalagi Kamu bilang panggilan itu bikin Saya keren, jadi Saya ga keberatan sama sekali...," gurau Daeng Payau hingga membuat semua orang tertawa.
" Jadi gimana ceritanya sih Win. Jujur sampe detik ini Gue masih bingung sama apa yang terjadi...," kata Akmal.
" Bingung tapi kok ikut ketawa tadi...," sela Tomi sambil mencibir.
__ADS_1
" Abisnya Abang juga lucu. Orang lagi tegang ketakutan, eh pake ngomongin ayam geprek segala. Ya ketawa dong Gue...," sahut Akmal disambut tawa empat orang lainnya.
" Udahan dong ketawanya. Gimana Win, Lo belom jawab pertanyaan Gue tadi...," kata Akmal tak sabar.
" Oh iya. Awalnya Gue tidur lah, lagi enak tidur kok kaya ada yang ngeraba kaki Gue. Refleks Gue bangun terus nengok kearah kaki. Ga ada apa-apa di sana. Gue merem lagi dan ngerasa ada yang ngeraba lagi. Sorry nih Bang Tomi. Gue sempet ngira itu Lo. Soalnya ngerabanya sampe ke sini segala...," kata Erwin sambil melirik ke bagian bawah tubuhnya.
" Gapapa, tapi kan ternyata bukan Gue. Lanjutin deh cerita Lo...," sahut Tomi santai sambil tersenyum.
" Ok. Pas mau merem lagi, kok Gue ngeliat ada sepotong tangan ngeraba betis Gue. Tangan doang ga ada badannya !. Gue kaget setengah mati tadi. Kejadiannya cepet banget. Tau-tau tangan itu udah naik ke paha terus masuk ke dalam cela*a dan tongkat ajaib Gue dipencet sekencang-kencangnya. Ya Allah sakitnya ga bisa diceritain guys...," kata Erwin sambil menutupi wajahnya dengan satu telapak tangannya.
Untuk sesaat suasana di dslam kamar menjadi hening. Semua orang terdiam karena bisa membayangkan rasa sakit yang dialami Erwin tadi.
" Jadi tangan itu beneran tangan hantu Om...?" tanya Akmal setelah terdiam beberapa saat.
" Yah begitu lah. Hantunya hantu homreng lagi, seru kan...?" tanya Daeng Payau.
" Ga lah Om, mana ada serunya sih. Ngebayangin wujud aslinya saat jadi manusia aja jijik apalagi udah jadi hantu kaya gitu. Hiiyyy...," sahut Akmal sambil bergidik hingga membuat Daeng Payau tertawa.
" Iya Vier...," sahut Daeng Payau cepat.
" Sebentar. Hantu yang di toilet mana Vier ?. Kok Lo ga bilang kalo ada hantu di toilet...?" tanya Erwin.
" Ntar kalo Gue ceritain Lo berdua takut, terus minta pulang. Daripada repot mendingan Gue diem aja. Makanya Gue langsung cerita sama Paman Daeng aja tadi. Tapi tenang aja. Hantunya cuma ada di toilet dekat kolam renang itu kok, dia ga ngejar sampe ke sini. Iya kan Paman...," kata Ranvier.
" Betul Vier...," sahut Daeng Payau sàmbil tersenyum.
" Kok bisa hotel sebagus ini ada hantu sih Om...?" tanya Akmal penasaran.
" Hantu itu bukan berasal dari sini Mal. Keliatannya hantu itu ngikutin Kalian sejak di jalan tadi. Kalo Paman liat sih, hotel ini aman dan bersih dari hantu pengganggu. Kalo hantu yang cuma menampakkan diri dengan bayangan aja sih wajar ya. Namanya juga tempat yang ga dihuni setiap hari. Wajar kalo ada penampakan sesekali...," sahut Daeng Payau.
__ADS_1
Ucapan Daeng Payau membuat Ranvier menghela nafas lega. Itu artinya hotel milik sang kakek masih layak dan sangat layak untuk menerima tamu. Jadi Ranvier tak perlu khawatir jika hotel itu tak akan didatangi konsumen lagi nanti.
" Hantu homrengnya kenapa ngikutin sampe ke sini Paman...?" tanya Tomi tiba-tiba.
" Namanya juga homreng, pasti suka sama cowok Tom. Kamu liat sendiri gimana penampilan ketiga ABG ini kan. Jadi wajar kalo hantu homreng itu tertarik sama mereka...," sahut Daeng Payau sambil tersenyum penuh makna.
Tomi pun mengamati Ranvier, Akmal dan Erwin bergantian kemudian mengangguk sambil tersenyum.
" Iya Paman, Saya paham maksud Paman...," kata Tomi.
" Emang ada yang salah sama penampilan Kami Bang...?" tanya Erwin.
" Ga ada. Yang salah ya mental cowok yang ngeliat Kalian dengan tatapan penuh naf*u itu. Karena punya kelainan makanya disebut salah...," sahut Tomi.
" Kalo dia hantu, artinya dia pernah hidup. Terus apa penyebab kematiannya Paman...?" tanya Ranvier.
" Dia meninggal karena dibunuh sama pacarnya. Sebelum dibunuh mereka sempat melakukan persetu*uhan dulu. Mereka ribut karena pacarnya merasa cowok ini udah ga kaya dulu lagi. Pacarnya nuduh dia selingkuh sama cowok lain karena merasa servisnya ga memuaskan seperti biasanya. Karena kesal, dia dibunuh dengan cara dililit pake kabel carger handphone. Setelahnya dia digantung di kamar mandi di kamar kostnya seolah-olah dia meninggal karena gantung diri...," kata Daeng Payau.
" Kasian banget ya...," gumam Erwin.
" Kasian sih, tapi itu resiko dari hubungan terlarang yang dia lakukan. Sejak awal dia tau kalo berhubungan sama pria akan ga menguntungkan. Karena dia ada di posisi yang lemah...," kata Tomi.
" Betul Tom. Dia menyalahi kodrat karena suka dengan pria, padahal masih banyak wanita yang bersedia jadi pacarnya. Saat mayatnya ditemukan tiga hari kemudian, beberapa wanita yang mengaguminya pun menangis histeris. Mereka baru tau kalo dia adalah penyuka sesama jenis karena Polisi yang mengatakannya...," kata Daeng Payau.
" Apa pacar yang membunuhnya tertangkap Om...?" tanya Akmal.
" Sudah. Pacarnya dijatuhi hukuman penjara belasan tahun. Sampe saat ini arwahnya memang masih berkeliaran jadi arwah penasaran yang mengganggu pria yang kebetulan lewat. Itu karena belum ada yang mendoakan kepergiannya secara khusus. Jadi sebaiknya Kita bantu doakan dia sekarang ya...," kata Daeng Payau yang diangguki Ranvier cs.
Setelah mendoakan arwah hantu penyuka sesama jenis itu, Daeng Payau juga menetralisir Akmal dan Erwin dari pengaruh makanan yang telah mereka makan di restoran sebelumnya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=