
Untuk sesaat tatapan Ranvier terkunci pada sosok Arcana. Sang mantan kekasih yang kepergiannya telah membuat hidup Ranvier jungkir balik bak roller coaster.
Perasaan Ranvier campur aduk saat melihat Arcana. Usahanya melupakan Arcana selama ini seolah sia-sia. Apalagi saat itu Ranvier melihat Arcana tampil lebih cantik, dewasa dan anggun hingga membuat debaran jantungnya berpacu kian cepat.
" Apa kabar Ranvier...," sapa Arcana dengan suara lembut.
Sapaan Arcana menyadarkan Ranvier dari keterpukauannya. Ranvier berdehem lalu mengangguk.
" Aku baik Arcana. Kamu juga keliatan baik-baik saja. Apa Aku benar...?" tanya Ranvier sambil menatap Arcana.
" Begitu lah...," sahut Arcana sambil tersenyum.
Entah mengapa jawaban dan senyum Arcana menimbulkan rasa nyeri di hati Ranvier. Ia sedikit kecewa mendapati kenyataan Arcana bahagia tanpa dirinya. Namun sedetik kemudian Ranvier beristighfar dalam hati karena ingat jika ia dan Arcana memang tak ditakdirkan bersama. Andai ia menyesali kebahagiaan Arcana, bukan kah artinya ia menentang takdir ?.
" Gadis itu baik-baik saja. Sebentar lagi juga siuman. Dia...," Arcana sengaja menggantung ucapannya karena berharap Ranvier menjelaskan sesuatu.
" Namanya Nada dan saat ini Kami sedang dekat. Aku memang berharap lebih pada hubungan ini karena Aku merasa nyaman dengannya. Tapi Aku belum tau apa dia juga punya harapan yang sama dengan harapanku...," kata Ranvier sambil melirik kearah Nada yang masih berbaring tak sadarkan diri.
" Ternyata begitu...," gumam Arcana lirih dan diangguki Ranvier.
" Jadi bisa Kamu jelaskan apa maksud dari semua ini Arcana...?" tanya Ranvier.
Arcana nampak mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Ranvier.
" Biar Saya jelaskan. Boleh kan Arcana...?" sela Damar tiba-tiba.
" Silakan Pak Damar...," sahut Arcana sambil mengangguk.
" Makasih. Begini Mas Ranvier, jika yang Kamu maksud adalah sinar keperakan yang selalu datang di saat Kamu terdesak, toh akhirnya Kamu tau juga kalo itu adalah Saya. Dan Saya keluar dari dimensi ini untuk membantu Mas Ranvier juga atas perintah Kyai dan Nyai Ranggana...," kata Damar.
" Oh ya. Tapi kenapa Kyai dan Nyai Ranggana mengutus Pak Damar untuk membantu Saya...?" tanya Ranvier tak mengerti.
" Itu sebagai ungkapan terima kasih karena Kamu telah menyelamatkan Arcana dari terkaman buaya di danau dulu Mas...," sahut Damar cepat hingga membuat Ranvier tersenyum.
" Tapi Pak Damar udah beberapa kali membantu Saya, sedangkan Saya hanya sekali menolong Arcana...," kata Ranvier tak enak hati.
" Ikatan batin Mas Ranvier dengan dimensi Kami lah jawabannya. Bukan sekedar menghargai hubungan yang pernah terjalin diantara Kalian, tapi perasaan ingin menjaga dan melindungi Mas Ranvier juga timbul dalam diri Saya. Begitu saja dan tanpa rencana. Saya ga bisa mengendalikan perasaan Saya tiap kali Mas Ranvier ada dalam bahaya. Makanya Saya selalu datang di saat tak terduga...," sahut Damar sambil tersenyum hingga membuat Ranvier terharu.
__ADS_1
" Terima kasih banyak. Saya ga akan bisa melupakan kebaikan Pak Damar, Kyai dan Nyai Ranggana, juga Kamu Arcana. Terima kasih...," kata Ranvier dengan tulus.
" Sama-sama..., " sahut Arcana dan Damar sambil tersenyum lebar.
" Jadi kapan Aku bisa membawa Nada pulang Arcana...?" tanya Ranvier.
" Sebentar lagi. Tapi...," ucapan Arcana terputus seolah dia enggan melanjutkan.
" Tapi kenapa Arcana. Ada apa ?, apa ada hal buruk yang terjadi...?" tanya Ranvier tak sabar.
" Maafkan Aku Ranvier. Aku telah menghilangkan sebagian ingatan gadis itu karena Aku ga mau dia tau tentang Kami...," sahut Arcana gusar.
Ranvier tersentak kaget. Ia menatap Arcana dengan tatapan tak percaya.
" Kamu menghilangkan sebagian ingatan Nada. Ingatan yang mana Arcana...?" tanya Ranvier.
" Aku membuang ingatannya tentang bagaimana dia bisa masuk ke dimensi ini, tentang pertempuran Kamu dan makhluk itu, juga tentang wujud dan apa yang dilakukan makhluk itu padanya...," sahut Arcana.
" Apa ingatannya sebelum hari ini juga akan terpengaruh dan hilang...?" tanya Ranvier.
Ranvier nampak menghela nafas panjang mendengar jawaban Arcana.
" Jika Kamu sudah membuang sebagian ingatannya, terus Aku harus bilang apa Arcana...," kata Ranvier pasrah.
" Maafkan Aku Ranvier...," kata Arcana sekali lagi.
" Gapapa. Justru Aku berterima kasih Kamu membuang sebagian ingatannya itu. Bagiku keselamatan Nada lebih penting dari sekedar ingatannya yang hilang itu...," sahut Ranvier bijak.
Entah mengapa jawaban Ranvier membuat dada Arcana sesak. Sama seperti yang Ranvier rasakan tadi, Arcana pun merasa tak nyaman melihat Ranvier mengedepankan keselamatan Nada dibanding perasaannya sendiri.
" Jadi Kamu siap andai Nada tak mengenalimu, termasuk tak mengingat semua kebaikan yang pernah Kamu lakukan untuknya...?" tanya Arcana dengan suara tercekat.
" Iya...," sahut Ranvier mantap.
" Baik lah. Kamu bisa membawanya sekarang Ranvier. Pak Damar, tolong bantu Ranvier membawa gadis itu keluar dari sini...," pinta Arcana.
" Siap Arcana..., " sahut Damar cepat.
__ADS_1
Kemudian Arcana melambaikan tangan ke atas kepala hingga tirai terbuka dan memperlihatkan Nada yang setengah siuman.
Damar menggendong Nada dan berjalan keluar lebih dulu meninggalkan Ranvier dan Arcana.
" Kalo gitu Aku pamit. Sekali lagi terima kasih Arcana. Sampaikan salam hormatku untuk Suamimu dan kedua orangtuamu...," kata Ranvier sambil menundukkan kepalanya dengan takzim.
" Dengan senang hati. Mereka pasti bahagia menerima salammu ini Ranvier...," sahut Arcana dengan wajah berbinar.
Ranvier pun tersenyum sambil mengedipkan mata. Sesaat kemudian Ranvier mendapati dirinya ada di kamar tamu bersama Ustadz Rahman, Daeng Payau dan Nada.
" Assalamualaikum, selamat datang kembali Ranvier...," sapa ustadz Rahman sambil menepuk pundak Ranvier.
" Wa alaikumsalam..., Alhamdulillah. Apa Ustadz dan Paman baik-baik saja...?" tanya Ranvier sambil mengamati kedua guru spiritualnya itu bergantian.
" Alhamdulillah Aku dan Paman Daengmu baik-baik saja Ranvier...," sahut Ustadz Rahman sambil tersenyum lebar.
Ranvier pun ikut tersenyum lalu menghambur memeluk ustadz Rahman dan Daeng Payau. Sesaat kemudian ia mengurai pelukannya lalu bangkit berdiri.
" Kamu mau kemana Vier...?" tanya Daeng Payau.
" Mau keluar Paman. Aku perlu udara segar karena merasa sesak di sini...," sahut Ranvier.
" Apa Kamu ga mau menunggu dan melihat Nada siuman...?" tanya Daeng Payau.
" Ga perlu Paman. Insya Allah Aku yakin Nada baik-baik saja...," sahut Ranvier sambil tersenyum.
Ucapan Ranvier membuat Daeng Payau dan Ustadz Rahman terkejut. Mereka nampak saling menatap bingung. Namun mereka tak berusaha mencegah Ranvier keluar karena yakin jika Ranvier memang butuh udara segar setelah perjalanannya yang berat ke dimensi lain. Selain itu Ustadz Rahman dan Daeng Payau juga memutuskan menunggu dan memastikan Nada kembali dengan selamat.
Lima menit setelah Ranvier keluar kamar Nada nampak menggerakkan jemarinya. Gadis itu pun menggelengkan kepala sambil berusaha membuka mata.
" Alhamdulillah, akhirnya dia siuman Ustadz...," kata Daeng Payau antusias.
" Iya Daeng. Kita keluar sekarang dan biarkan perawat itu menemani gadis ini...," kata ustadz Rahman yang diangguki Daeng Payau.
Perawat bernama Yuli pun masuk menggantikan tugas Ustadz Rahman dan Daeng Payau. Yuli juga membasuh tubuh Nada dengan air hangat lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian baru supaya Nada merasa nyaman.
\=\=\=\=\=
__ADS_1