
Ranvier, ustadz Rahman dan Daeng Payau nampak menarik nafas lalu membuka mata bersamaan. Untuk sejenak ketiganya saling menatap. Setelahnya mereka mengucap hamdalah sambil mengusap wajah masing-masing.
" Senangnya melihat Kamu pulang dengan selamat Vier. Saya dan Ustadz Rahman hampir menyerang ke dalam tadi...," sapa Daeng Payau sambil menepuk pundak Ranvier.
" Apa Aku terlalu lama pergi Paman...?" tanya Ranvier.
" Sebenernya sih masih wajar. Cuma kejadian yang membuatmu tertahan di sana yang bikin Kami khawatir...," sahut Daeng Payau.
" Jadi Paman dan Ustadz tau apa yang terjadi sama Aku...?" tanya Ranvier tak percaya.
" Tentu saja...," sahut Daeng Payau cepat.
" Lalu bagaimana Kamu bisa lepas dari sana Vier...?" tanya ustadz Rahman.
Ranvier pun menceritakan apa yang ia alami termasuk tentang perasaan yang dia miliki untuk Arcana.
" Kamu mencintai gadis itu, lalu apa gadis itu juga mencintai Kamu...?" tanya ustadz Rahman.
" Iya Ustadz. Ternyata setelah ngobrol beberapa saat Kami sadar jika Kami sama-sama tertarik dan saling mencintai. Tapi sayang cinta Kami terhalang restu dan kondisi. Kami sadar cinta Kami tak bisa disatukan karena Kami berbeda di hampir semua hal...," sahut Ranvier lirih.
" Sabar ya Vier. Semoga setelah ini Kamu bisa bertemu dengan cinta sejatimu...," hibur ustadz Rahman.
" Aamiin. Makasih doanya Ustadz...," kata Ranvier sambil tersenyum getir.
" Sama-sama. Tapi sebaiknya jangan ceritakan ini sama Kakekmu Vier. Kasian beliau kalau tau Cucu kebanggaannya justru jatuh hati sama wanita yang berbeda dimensi sama Kita...," kata ustadz Rahman.
" Iya Ustadz. Saya juga ga sampe hati ngeliat Kakek kecewa nanti...," sahut Ranvier.
" Bagus. Sekarang Kita pulihkan tenaga sebentar, setelah itu Kita keluar menemui Kakekmu...," kata ustadz Rahman.
" Siap Ustadz...," sahut Ranvier.
Ranvier pun memulihkan kondisinya dibantu Daeng Payau. Setelahnya ia bergegas menemui Kakek Randu di ruang kerjanya.
Melihat Ranvier datang menemuinya membuat Kakek Randu terharu.
" Aku pikir Kamu akan pergi lama seperti yang sudah-sudah. Ternyata ga sampe sehari Kamu sudah kembali Nak...," kata Kakek Randu.
__ADS_1
" Alhamdulillah urusanku sudah selesai Kek. Makanya Aku bisa pulang lebih cepat dari yang Aku perkirakan...," sahut Ranvier sambil tersenyum.
" Alhamdulillah. Setelah ini Kamu bisa hidup normal seperti orang lain. Iya kan Vier...?" tanya Kakek Randu.
" Insya Allah Iya Kek...," sahut Ranvier hingga membuat Kakek Randu tersenyum bahagia.
" Aku berharap Kamu bisa menemukan seorang pendamping yang sholehah agar bisa membuatmu bahagia...," kata Kakek Randu penuh harap.
Ranvier tertegun sejenak mendengar harapan sang Kakek. Ranvier menduga Kakek Randu tahu jika dirinya sedang galau karena baru saja kehilangan cintanya.
" Tumben Kakek ngomongin soal pendamping hidup segala. Jangan-jangan...," ucapan Ranvier terputus karena Kakek Randu memotong cepat.
" Jangan berprasangka buruk dulu sama Kakek. Bukan kah jika Kamu menikah, otomatis Kamu sibuk bahagia sampe lupa dengan seseorang dari dimensi lain itu. Dengan begitu Kamu ga perlu balik ke sana lagi karena apa yang Kamu cari sudah Kamu temui dan ada di depan mata. Itu harapan utama Kakek. Jujur Kakek khawatir Kamu ga balik lagi kalo Kamu pergi bolak balik ke sana Vier...," kata Kakek Randu cemas.
Ranvier pun tersenyum mendengar ucapan sang Kakek. Dalam hati ia bersyukur. Ternyata ikatan darah dan batin diantara dia dan sang kakek begitu kuat. Meski pun ia tak menceritakan kisah cintanya yang kandas dengan Arcana di dimensi lain, toh sang Kakek tahu dengan sendirinya hanya dengan melihat air mukanya saja.
" Iya Aku paham Kek. Tapi prosesnya kan ga semudah itu Kek. Aku harus ketemu sama cewek yang tepat dulu, jatuh cinta sama dia baru memikirkan cara untuk menikahinya...," sahut Ranvier.
" Ck, kelamaan. Kalo kaya gitu kapan Kakek punya buyut Vier...?!" kata Kakek Randu sambil mencibir hingga membuat Ranvier tertawa keras.
\=\=\=\=\=
Setahun kemudian.
Ranvier masih bekerja di perusahaan sang Kakek. Rupanya kesibukannya mengurus bisnis sang Kakek mampu meredam rasa sakitnya putus cinta. Hanya di saat luang dan sendiri di kamar maka Ranvier akan kembali mengingat Arcana. Selama satu tahun sejak cintanya kandas Ranvier masih sering memikirkan dan merindukan Arcana.
Perlahan namun pasti akhirnya Ranvier mulai bisa menerima jika ia dan Arcana tak bisa bersama. Sayangnya perasaan Ranvier tak sejalan dengan tindakannya.
Akibat rasa cintanya yang besar pada Arcana membuat Ranvier sulit menerima kehadiran wanita lain dalam hidupnya. Itu karena tanpa sadar Ranvier selalu membandingkan wanita-wanita itu dengan Arcana. Tentu saja hal itu membuat Kakek Randu, Erwin dan semua orang terdekat Ranvier bingung seperti saat ini.
Erwin baru saja mempertemukan Ranvier dengan anak rekan bisnis Kakek Randu. Erwin melakukan itu atas permintaan Kakek Randu yang khawatir melihat sikap dingin Ranvier terhadap lawan jenis.
" Lo mau cari yang model gimana sih Vier...?" tanya Erwin setelah gagal lagi menjembatani Ranvier dengan seorang wanita.
" Model apa maksud Lo...?" tanya Ranvier pura-pura tak mengerti.
" Model cewek lah, emangnya model tas...," sahut Erwin kesal.
__ADS_1
" Emangnya cewek itu ada berapa jenis Win sampe Lo nanya ke Gue kaya gitu...?" tanya Ranvier.
" Bukan gitu Vier. Cewek tadi kan cantik, kulitnya putih, anaknya orang kaya juga. Tapi Lo bersikap seolah dia itu cuma lalat pengganggu. Wajar dong kalo dia marah terus kabur...," sahut Erwin gemas.
" Tapi badannya bau Win...," kata Ranvier cepat.
" Haahh... bau ?. Bau apaan sih Vier. Kayanya hidung Lo yang bermasalah deh. Cewek itu udah super wangi dan paling wangi diantara cewek-cewek yang pernah Gue kenalin ke Lo...!" kata Erwin lantang.
" Tapi Gue mencium bau ga enak dari dia tadi Win, dan itu bikin Gue mual...," sahut Ranvier tak mau kalah.
" Ya Allah, Ranvieeerrr.... Lo cuma mengada-ada aja kan ?. Jangan bilang kalo sebenernya Lo ini penyuka sesama jenis. Dan jangan-jangan selama ini Lo memperlakukan Gue dengan baik bukan cuma karena Gue sahabat, tapi juga Lo anggap kekasih...?!" kata Erwin gusar.
Ucapan Erwin membuat Ranvier tersentak kaget. Refleks ia memukul Erwin sambil memaki.
" Eh kuny*k...!. Gue nih cowok normal ya. Mana mungkin Gue suka sama cowok. Lagian andai Gue g*y, Gue juga ga mau sama Lo...!" kata Ranvier galak.
" Kenapa ga mau...?" tanya Erwin.
" Karena Lo ga menarik sama sekali. Udah bantet, sok ganteng, ke*tut Lo juga bau...!" sahut Ranvier ketus hingga membuat Erwin tertawa.
" Jelas aja bau. Namanya juga ke*tut...," kata Erwin di sela tawanya.
" Udah deh Win, please ga usah terus-menerus nyomblangin Gue sama cewek-cewek ga jelas...," pinta Ranvier..
" Cewek ga jelas gimana maksud Lo ?. Mereka tuh cewek jelas lho Vier. Jelas asal usulnya, jelas cantiknya, jelas pinternya...," ucapan Erwin terputus karena Ranvier memotong cepat.
" Jelas juga matrenya !. Udah pokoknya ga usah kaya gini lagi. Dan bilang sama Kakek, kalo masih pake cara ini, Gue ga bakal mau married seumur hidup Gue...!" kata Ranvier setengah mengancam.
" Iya iya. Eh, tapi Lo tau darimana kalo Gue disuruh sama Kakek Vier...?" tanya Erwin.
" Ya jelas tau lah. Bukan ngeremehin, tapi Gue tau betul circle pergaulan Lo. Ga mungkin Lo kenal cewek-cewek kelas atas kalo bukan karena Kakek yang ngenalin...," sahut Ranvier sambil mencibir.
Lagi-lagi Erwin tertawa mendengar ucapan sahabat sekaligus atasannya itu.
" Gue emang ga pernah bisa menang ngelawan Lo Vier...," kata Erwin di sela tawanya.
\=\=\=\=\=
__ADS_1