Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
58. Teman Lama


__ADS_3

Ranvier pun mendatangi kantor Polisi. Tak disangka di sana ia bertemu dengan teman semasa SMP dulu yaitu David.


Ternyata David membuktikan ucapannya dulu. Ia benar-benar sedang belajar untuk menjadi seorang polisi.


Saat Ranvier menginjakkan kaki di halaman kantor polisi, sebuah suara memanggil namanya dengan lantang. Ranvier terkejut sekaligus bingung. Karena ia ingat tak mengenal seorang pun di kantor polisi itu.


" Ranvieeerrr...!" panggil David lantang.


Ranvier pun menoleh untuk melihat sumber suara. Saat itu Ranvier makin terkejut melihat sosok David tengah melambaikan tangan sambil melongokkan kepalanya di salah satu jendela kantor polisi.


" David ?. Lo David kan, mau apa Lo di situ...?!" tanya Ranvier.


" Alhamdulillah..., Lo masih inget Gue Vier. Sebentar ya, Gue ke situ deh...," sahut David cepat.


Ranvier mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Ada rasa bahagia sekaligus haru mengetahui David juga ada di Australia. Itu artinya Ranvier punya satu teman yang bisa diajaknya bicara bahasa Indonesia dengan bebas.


Tak lama kemudian David pun keluar dari kantor polisi. Ranvier nampak mengerutkan keningnya saat melihat cara David menyapa semua polisi yang berpapasan dengannya. Terlihat akrab dan dekat, seolah David memang telah lama mengenal mereka.


" Apa kabar Vier...?" tanya David sambil merentangkan kedua tangannya.


" Alhamdulillah baik Vid. Lo sendiri, gimana kabar Lo...?" tanya Ranvier sambil menyambut pelukan David.


Ranvier dan David saling memeluk sejenak lalu keduanya mengurai pelukan sesaat kemudian.


" Alhamdulillah Gue sehat dan tambah ganteng Vier. Lo liat kan gimana Gue sekarang...?" tanya David sambil menaik turunkan alisnya.


" Ck, masih aja sama. Narsis Lo tuh ga ilang-ilang Vid...," kata Ranvier sambil berdecak sebal.


David pun tertawa keras usai mendengar ucapan Ranvier.


" Oh iya. Lo ngapain di sini Vier...?" tanya David setelah tawanya reda.


" Mau bikin laporan lah, masa mau main angklung...," sahut Ranvier ketus hingga membuat David kembali tertawa.


" Duuuhh..., empat taon ga ketemu kenapa Lo jadi tambah lucu dan gemesin gini sih Vieeerr...," kata David sambil mencubit pipi Ranvier dengan gemas.


Tentu saja ulah David membuat Ranvier meradang.


" Lepasin tangan Lo Vid. Gue normal ya. Ngapain Lo cubit-cubit genit begitu sih ?. Lo bukan homreng kan...?!" kata Ranvier lantang sambil menatap galak kearah David.


" Astaghfirullah aladziim..., nyebut Vier. Gue juga normal kali. Ngapain pake teriak segala sih...!" sahut David sambil menoyor kepala Ranvier hingga membuat Ranvier terhuyung ke samping.


Bukannya marah, Ranvier justru tertawa. Dan itu membuat David mendelik kesal.

__ADS_1


" Dasar g*la. Bukannya mikir malah ketawa. Stress Lo ya...?!" tanya David tak kalah lantang hingga membuat Ranvier kembali tertawa.


" Sorry Vid. Abis Lo tuh lucu banget. Tampang Lo kalo marah tuh ngingetin Gue sama tampang Lo semasa Kita SMP dulu...," kata Ranvier di sela tawanya.


" Emang tampang marah Gue waktu SMP dulu kaya gimana Vier...?" tanya David penasaran.


" Ya kaya gini. Kaya ayam lagi ngeremin telornya. Beg* plus culun...!" sahut Ranvier sambil tertawa.


David membulatkan matanya lalu bersiap mengayunkan tinjunya kearah Ranvier. Kali ini David dibuat terkejut dengan reaksi yang Ranvier tunjukkan. Jika dulu Ranvier hanya bisa menghindar, kini Ranvier bahkan berhasil menangkis dan membalikkan serangan.


David pun hampir terjengkang jatuh karena tak siap menghadapi serangan balik Ranvier. Beruntung Ranvier menarik pergelangan tangan David hingga David urung jatuh.


" Woooww... amazing !. Hebat Lo Vier. Ternyata sekarang Lo bisa balas serangan Gue. Padahal dulu Lo cuma bisa lari untuk menghindar...," puji David sambil tersenyum.


" Alhamdulillah Gue juga belajar bela diri Vid. Ternyata hasilnya lumayan juga ya. Buktinya Gue bisa balikin serangan Lo tadi...," sahut Ranvier merendah.


" Salut deh sama Lo. Kebiasaan Lo yang suka merendah itu ga berubah juga...," kata David sambil menepuk punggung Ranvier dengan lembut.


" Udah jangan muji-muji Gue terus. Panas kuping Gue dengernya. Sekarang Gue mau ngelaporin kasus penculikan, Lo bisa tunjukin dimana tempatnya...?" tanya Ranvier.


" Oh tentu. Ayo ikut Gue Vier...," ajak David.


Ranvier pun mengangguk lalu melangkah mengikuti David. Setelah melihat David di jendela tadi, Ranvier yakin jika David benar-benar mengenal seluk beluk kantor polisi itu.


\=\=\=\=\=


Namun saat langkahnya mencapai gerbang kantor polisi, ia dihadang David yang mengendarai motor.


" Gue anterin Lo pulang Vier...," kata David.


" Lo nawarin tumpangan atau lagi ngasih perintah nih ?. Kok nada suara Lo kaya orang yang lagi nyuruh-nyuruh gitu. Inget ya Vid, Gue ini Ranvier. Bos yang terkenal punya uang banyak dan sering nraktir anak-anak satu sekolahan dulu...," kata Ranvier jumawa.


" Ish bacot Lo Vier. Udah hari gini masih aja bangga sama kekayaan yang bukan milik Lo. Malu Vier !. Gue tau kalo semua uang yang Lo pake buat nraktir dulu itu kan uang Kakek Lo. Ngaku ga Lo...!" kata David sambil membulatkan matanya.


" Iya emang punya Kakek Gue. Tapi kan Lo ikut ngerasain juga...," sahut Ranvier tak mau kalah.


" Itu kan kepepet...," kata David.


" Kepepet kok nambah...," sahut Ranvier sambil mencibir.


Ucapan Ranvier mau tak mau membuat David tertawa. Kemudian Ranvier duduk membonceng di belakang David. Sesaat kemudian keduanya nampak meninggalkan kantor polisi.


" Kita makan yuk Vier, lapar nih...," ajak David.

__ADS_1


" Ok. Mau makan dimana...?" tanya Ranvier.


" Makan fried chicken aja ya biar cepet..., " sahut David sambil membelokkan motornya kearah gerai ayam goreng terkenal itu.


Ranvier dan David duduk berhadapan sambil menikmati makan malam. Keduanya nampak bicara banyak hal sambil tertawa-tawa.


" Jadi Lo beneran jadi Polisi Vid...?" tanya Ranvier sambil mengelap mulutnya dengan tissu.


" Hampir Vier...," sahut David cepat.


" Maksud Lo...?" tanya Ranvier tak mengerti.


" Sekarang Gue lagi kerja paruh waktu di kantor polisi itu Vier. Tugas Gue cuma OB di sana dan bukan anggota Polisi...," sahut David.


" Gue masih ga paham Vid. Terserah kalo Lo mau ngatain Gue idiot. Tapi Gue emang ga tau apa maksud Lo...," kata Ranvier.


" Jadi gini Vier. Gue ke Australia karena diajak sama kerabat Ayah Gue yang kebetulan adalah anggota kepolisian yang berkantor di kantor polisi itu. Namanya Om Bram. Nah Om Bram ini tau betul apa cita-cita terbesar Gue, yaitu jadi Polisi. Cita-cita yang ga disetujui Ayah Gue, entah kenapa. Jadi Om Bram ngajak Gue ke sini dan merekomendasikan Gue kerja di kantor itu. Tujuannya ya untuk memperlihatkan gimana kinerja para polisi sehari-hari...," kata David panjang lebar.


" Oh gitu. Terus gimana ?. Setelah Lo tau beratnya tugas seorang Polisi, Lo mundur dong...," kata Ranvier.


" Lo salah Vier !. Tekad Gue untuk jadi Polisi makin kuat. Setelah ini Gue bakal ikut pendidikan biar bisa jadi anggota Polisi beneran...," sahut David hingga membuat Ranvier tersenyum.


" Good luck ya...," kata Ranvier sambil menepuk bahu David.


" Makasih Vier. Asal Lo tau ya, makin ke sini Gue makin penasaran sama cara Polisi menyelesaikan tugas mereka termasuk menindak lanjuti laporan Lo tadi...," sahut David cepat.


" Emangnya Lo sering dengerin para polisi itu ngobrol ngebahas suatu kasus...?" tanya Ranvier.


" Sering banget...," sahut David.


" Lo ga dimarahin...?" tanya Ranvier.


" Ga lah. Kan Om Bram termasuk pejabat polisi yang cukup disegani di sana. Lagi pula selama ini atitude Gue juga baik kok. Jadi selama Gue cuma duduk dan mendengar, Gue sama sekali ga mengganggu pekerjaan mereka...," sahut David sambil tersenyum.


" Mmm..., apa Lo bisa bantuin Gue mengawasi perkembangan laporan Gue tadi Vid...?" tanya Ranvier.


" Bisa. Tapi ada syaratnya..., " sahut David.


" Syarat apaan...?" tanya Ranvier.


" Ceritain semuanya dengan jelas supaya Gue bisa tau apa yang ada di dalam kepala Lo itu...," sahut David.


" Deal. Gue setuju...," kata Ranvier hingga membuat David tersenyum puas.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2