Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
128. Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Setelah mobil meninggalkan area Rumah Sakit, Nada pun bisa bernafas lega. Ia menyibak selimut lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya.


" Alhamdulillah... lega banget rasanya...," kata Nada hingga membuat Ranvier tersenyum.


" Hampir aja Kita ketauan Nad. Waktu selimut Kamu keinjek sama preman itu Aku udah khawatir. Yah, walau pun sejak awal Aku bersiap dengan kemungkinan terburuk termasuk bertarung di sana, tapi itu ga baik untuk Kamu. Beruntung perawat tadi bisa cepet ngalihin perhatian preman itu, jadi Kita ga harus buang tenaga dan lukamu ga terbuka lagi...," kata Ranvier.


" Iya. Aku juga kagum banget sama akting Suster itu tadi, marahnya tuh natural banget. Bisa sandiwara kaya gitu pasti butuh keahlian khusus lho, iya ga sih...?" kata Nada sambil menoleh kearah Ranvier.


" Menjaga, merawat pasien dan tak membiarkan pasien terluka oleh sebab lain itu kan emang kerjaan dia...," sahut Ranvier santai.


" Iya sih. Ngomong-ngomong apa Kamu kenal perawat itu. Kok Aku liat Kalian akrab banget tadi...?" tanya Nada.


" Ga akrab lah, kan baru kali ini ketemu. Cuma kebetulan dia paham apa yang harus dikerjain...," sahut Ranvier sambil membuang tatapannya keluar jendela mobil.


" Kebetulan kok janji transfer uang segala...," gumam Nada sambil mencibir namun terdengar jelas di telinga Ranvier.


Ucapan Nada membuat Ranvier terlonjak kaget. Entah mengapa ia menangkap ada kecemburuan dalam suara gadis di sampingnya dan itu membuatnya tersenyum bahagia. Ranvier menatap Nada lekat sedangkan gadis itu nampak melengos sebal.


Totok yang duduk di balik kemudi pun nampak tersenyum simpul mendengar ucapan Nada yang tanpa disadari telah menunjukkan rasa cemburu. Dalam hati Totok ikut bahagia karena melihat kedekatan Ranvier dan Nada. Ia berharap hubungan keduanya bisa lanjut ke tahap yang lebih serius nanti.


Perjalanan berjalan lancar meski pun saat itu sedang jam sibuk. Nada nampak menikmati pemandangan dari balik jendela mobil.


Namun sesaat kemudian Nada nampak bingung saat mobil melaju ke tempat yang asing yang tak ia kenali sebelumnya. Khawatir Ranvier akan mengerjainya, Nada pun bertanya.


" Kayanya ini bukan jalan menuju rumahku. Emangnya Kita mau kemana...?" tanya Nada.


" Emang bukan ke rumah Kamu. Lagian kapan Kamu pernah ngasih tau alamat rumahmu. Dimintain identitas diri aja susahnya minta ampun apalagi ngasih tau dimana Kamu tinggal...," sahut Ranvier sambil melengos.


" Iya iya maaf. Abis Aku kan harus hati-hati. Apalagi sama orang yang baru dikenal macam Kamu. Aku kan ga tau Kamu ada di posisi yang mana, kawan atau lawan...," kata Nada tak enak hati hingga membuat Ranvier mengangguk paham.

__ADS_1


" Masuk akal sih. Udah ga usah khawatir, Aku ga bakal nyulik Kamu kok. Sebentar lagi Kita sampe...," sahut Ranvier.


" Sampe mana...?" tanya Nada tak sabar.


" Sampe rumah lah. Liat itu Kakek...!" sahut Ranvier antusias.


Nada ikut menatap kearah yang ditunjuk Ranvier dan terkejut melihat kakek Randu, Krisna dan beberapa orang lainnya berdiri menyambut kedatangan mereka di halaman sebuah rumah yang megah.


Mobil berhenti tepat di hadapan mereka lalu Ranvier pun membuka pintu mobil. Ranvier turun dari sisi yang lain lalu memutar menuju pintu mobil dimana Nada berada dan membukanya.


" Ayo turun...," kata Ranvier sambil mengulurkan tangannya.


" Ini...," ucapan Nada terputus saat kakek Randu menerobos maju lalu menjawab pertanyaan Nada.


" Insya Allah Kamu aman di sini Nak. Ayo masuk...," ajak Kakek Randu sambil mengulurkan tangannya.


Nada pun tersenyum lalu meraih tangan kakek Randu dan mengabaikan tangan Ranvier. Hal itu tentu saja membuat semua orang tertawa. Ranvier hanya menggelengkan kepala saat Nada lebih memilih tangan sang kakek daripada tangannya.


" Jangan salah Ranvier. Aku memang peyot, tapi Nada tau siapa yang lebih bertaring...," sahut Kakek Randu sambil tersenyum penuh kemenangan.


" Eh, maksud Kakek apaan nih. Jangan bilang Kakek meragukan kekuatan Aku ya...?!" kata Ranvier gusar.


" Buktikan !. Jangan cuma ngomong doang...!" kata Kakek Randu sambil memukul punggung Ranvier dengan tongkatnya.


" Aduuhh... apaan sih Kakek...!" protes Ranvier sambil mendelik kesal.


" Cih, baru dipukul tongkat aja udah ngeluh. Gimana mau melindungi Nada ?. Ayo Kita masuk Nada. Tinggalkan laki-laki lemah ini di sini...," ajak kakek Randu sambil menepuk lembut jemari Nada yang memegang lengannya.


" Iya Kek...," sahut Nada sambil tersenyum.

__ADS_1


Ucapan Kakek Randu dan jawaban Nada membuat Ranvier menggeram marah namun membuat semua orang kembali tertawa.


Kemudian satu per satu mereka membubarkan diri untuk melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Di depan sana terlihat Krisna terus setia menemani kakek Randu sambil memandu jalan menuju ke bagian dalam rumah.


" Kita langsung ke ruang makan aja ya Nad. Kakek lapar dan belum sarapan. Ini udah waktunya Kakek makan dan minum obat...," kata kakek Randu.


" Iya Kek...," sahut Nada sambil tersenyum.


Kemudian mereka masuk ke ruang makan. Di sana Mbok Rah nampak berdiri menyambut. Setelah Nada membantu kakek Randu duduk, Nada pun menghampiri Mbok Rah.


" Hallo Bu, selamat pagi. Kenalin Saya Nada. Tapi maaf Kita ga bisa salaman karena tangan Saya masih sakit...," sapa Nada dengan ramah sambil tersenyum.


" Iya Non gapapa. Panggil Saya Mbok Rah aja jangan Ibu. Saya koki terhandal di tanah air yang sudah lama ikut sama Tuan Randu...," kata mbok Rah bangga.


" Ga usah lebay Mbok. Kamu cuma koki rumahan. Kalo dibandingin koki di luar sana kemampuanmu tuh ga ada apa-apanya...," sela kakek Randu hingga membuat Nada menoleh.


" Betul. Tapi cuma masakan koki rumahan ini yang bisa memuaskan lidah dan mengenyangkan perut Tuan Randu. Iya kan Tuan Randu...?!" kata mbok Rah sambil menatap kesal kearah kakek Randu.


" Biasa aja tuh...," sahut kakek Randu cepat.


" Masa sih ?. Terus kenapa setiap habis pulang dari luar yang katanya menghadiri undangan makan bisnis, tapi sampe rumah Tuan masih minta Saya masakin sesuatu ?. Itu kan artinya masakan koki terkenal di luar sana emang ga cocok sama lidah Tuan...!" kata mbok Rah sewot.


" Eehh..., kenapa malah ribut sih. Liat tuh Nada jadi bingung. Sini Nad, duduk dan makan. Setelah itu minum obat. Abaikan aja dua orang itu karena mereka emang biasa kaya gitu...," kata Ranvier sambil menggamit tangan Nada dan membawanya duduk di kursi.


" Iya...," sahut Nada singkat sambil tersenyum.


Ucapan Ranvier menyadarkan kakek Randu dan mbok Rah hingga membuat keduanya menutup mulut.


Sesaat kemudian Krisna pun nampak sibuk membantu mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk kakek Randu, sedangkan mbok Rah membantu menuang air ke semua gelas. Setelahnya Krisna duduk dan makan bersama di meja yang sama sedangkan mbok Rah memilih menyingkir ke dapur.

__ADS_1


Di tempat duduknya Nada nampak mengamati semua orang sambil tersenyum diam-diam. Ia tak menyangka bisa melihat kejadian langka seorang majikan bertengkar dengan juru masak. Dan yang mengejutkan sang majikan tampak tak berkutik karena ucapan sang juru masak.


\=\=\=\=\=


__ADS_2