Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
50. Ranvier Pergi


__ADS_3

Setelah sarapan Daeng Payau pun pamit karena harus menemui salah seorang temannya.


" Kok pulang sih Om. Padahal masih banyak yang mau Saya tanyain...," kata Erwin.


" Emangnya Lo mau nanya apaan Win...?" sela Akmal.


" Ya banyak lah. Yang pasti masalah mistis yang bakal Gue tanyain...," sahut Erwin.


" Yakin Lo mau ngobrolin soal mistis sama Om Daeng. Bukannya Lo itu penakut ya...," sindir Akmal.


" Justru karena Gue penakut, makanya Gue harus banyak konsultasi gimana caranya mengatasi rasa takut. Jujur ini mengganggu banget. Gue khawatir malah ngerepotin cewek Gue nanti, kan malu Gue. Harusnya Gue yang melindungi dia, eh masa jadi terbalik dia yang melindungi Gue...," sahut Erwin.


" Bilang aja Lo yang takut ditinggalin sama cewek Lo karena dia ga mau punya pacar penakut kaya Lo...," kata Ranvier sambil mencibir.


" Ck, Lo Vier, suka bener kalo ngomong...," sahut Erwin sambil nyengir disambut tawa semua orang.


" Lagian konsultasi sama Paman Daeng tuh ga gratis ya. Lo harus bayar...!" kata Ranvier.


" Bayar ?, kok gitu sih Vier. Kan Gue temen Lo, masa masih harus bayar juga...," protes Erwin.


" Hei Bung, hari gini ga ada yang gratis ya. Biar pun Lo temen Gue, konsultasi juga ada itungannya. Pipis di toilet umum aja bayar dua ribu. Masa konsultasi yang mengeluarkan energi, pikiran dan waktu ga ada imbalannya. Mikir woooii..!" kata Ranvier sambil mendorong Erwin hingga Erwin mendelik kesal.


" Ya Lo bayarin lah Vier. Kan Lo temen Gue, terus duit Lo juga lebih banyak dari Gue...," kata Erwin mencoba membujuk Ranvier.


" Iiihhh... ogah...!" sahut Ranvier sambil menepis tangan Erwin.


" Ayo lah Vier, please...," rengek Erwin lagi dengan wajah memelas.


" Apaan sih Lo, jijay Gue...!" kata Ranvier sambil menjauh dan bergeser ke samping Tomi.


Erwin nampak cemberut karena tahu jika sudah ada di samping Tomi artinya ia tak bisa menyentuh Ranvier. Tingkah Ranvier dan Erwin pun mau tak mau membuat tiga orang lainnya kembali tertawa.


Tomi memutuskan mengantar Daeng Payau menemui temannya itu. Sedangkan Ranvier, Akmal dan Erwin memilih masuk ke dalam kamar untuk istirahat.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Setelah Ranvier berhasil mengusir makhluk berlendir dengan bubuk garam, Ranvier memutuskan untuk belajar mengenali benda-benda yang bisa membantunya mengusir makhluk halus.


" Kenapa tiba-tiba penasaran sama benda apa yang ga disukai makhluk halus Vier...?" tanya Daeng Payau saat Ranvier bertanya padanya.


" Mmm..., Aku merasa Aku ga cukup mampu mengusir mereka tanpa media apa pun Paman. Ga kaya Ustadz Rahman atau Paman Daeng yang bisa menghadapi mereka dengan tangan telan*ang...," sahut Ranvier cepat.


" Semua kemampuan itu Kami peroleh dengan belajar Vier. Waktu yang Kami butuhkan juga ga sebentar, itu lama banget. Dan sampe sekarang Saya pribadi juga masih harus belajar mengasah kemampuan...," kata Daeng Payau merendah.


Ranvier tersenyum mendengar ucapan Daeng Payau. Ia tahu jika sang guru tak ingin terlihat hebat dengan mengatakan dirinya masih harus belajar.


" Jadi boleh kan Aku tau apa aja yang ga disukai sama makhluk halus Paman...?" tanya Ranvier.


" Boleh. Kamu bisa jadikan garam sebagai senjatamu jika Kamu mau...," sahut Daeng Payau.


" Garam...?" tanya Ranvier tak percaya.


" Iya garam. Kamu kan udah tau kalo garam bisa mengusir makhluk halus. Seperti yang Kamu lakukan tempo hari saat mengusir makhluk berlendir di restoran hotel...," kata Daeng Payau mengingatkan.


" Oh itu. Kalo itu sih Aku refleks aja Paman. Entah kenapa saat ngeliat bayangan hitam itu mendekat, Aku malah kepikiran garam yang ada di meja. Makanya Aku ambil aja. Dan ga disangka kalo makhluk itu ketakutan sama bubuk garam. Aku emang ga dengar apa-apa saat itu. Tapi Aku yakin makhluk itu pasti menjerit kesakitan saat bubuk garam mengenai tubuhnya...," sahut Ranvier sambil tersenyum.


" Kamu betul. Makhluk berlendir itu menjerit kesakitan. Dan saking kerasnya jeritan makhluk itu, bahkan bisa bikin gendang telinga Saya sakit...," kata Daeng Payau.


" Masa sih Paman. Jadi makhluk itu benar-benar kesakitan kena bubuk garam...?" tanya Ranvier antusias.


" Iya. Dan sadar ga Kamu kalo suara hatimu yang menuntunmu melakukan itu Vier...?" tanya Daeng Payau sambil menatap Ranvier lekat.


" Su... suara hati...?" tanya Ranvier gugup karena merasa tatapan Daeng Payau sedikit berbeda saat itu.


" Iya. Jadi kesannya Kamu melakukan semuanya dengan refleks. Ke depannya Kamu hanya tinggal mengikuti kata hatimu itu Vier. Sama seperti saat Kamu menyentuh dahinya Erwin. Pasti Kamu ga tahu kalo saat Kamu menyentuh dahinya, sakit yang diderita Erwin jauh berkurang. Selain itu sentuhan Kamu juga memberi efek menenangkan..., " sahut Daeng Payau.


" Tapi Erwin ga bilang apa-apa Paman. Dia malah nolak waktu Aku mau sentuh lagi untuk kedua kalinya...," kata Ranvier.


" Itu hanya upayanya mengalihkan perhatian Vier. Dalam hati Erwin dan Akmal, sebenarnya sulit mempercayai dan menerima jika teman yang selama ini ada bersama mereka ternyata memiliki kemampuan lebih. Mereka bangga sekaligus takut. Makanya sikap Erwin dan Akmal kaya gitu. Tapi beruntung mereka ga lari meninggalkan Kamu setelahnya Vier...," kata Daeng Payau.


" Mereka tau ga bakal bisa lari jauh dari Aku Paman. Kan Aku udah tau rumah mereka dan kenal baik sama orangtua mereka. Jadi kalo mereka macam-macam, Aku tinggal aduin aja sama orangtua mereka masing-masing. Dan mereka pasti bakal diomelin abis-abisan nanti..., " sahut Ranvier sambil nyengir dan disambut tawa Daeng Payau.

__ADS_1


Kemudian Daeng Payau masuk ke dalam kamarnya dan keluar dengan membawa cawan kayu terbuat dari kayu pohon kelapa. Kemudian ia meletakkan cawan kayu di atas meja di hadapan Ranvier.


" Apa ini Paman...?" tanya Ranvier.


" Garam...," sahut Daeng Payau cepat.


" Untuk apa...?" tanya Ranvier.


" Untuk bekal Kamu selama Kamu jauh dari Saya dan Ustadz Rahman...," sahut Daeng Payau.


" Maksud Paman, Aku harus bawa garam ajaib ini kemana-mana...? " tanya Ranvier.


Daeng Payau tertawa mendengar Ranvier menyebut garam di cawan sebagai garam ajaib.


" Ini bukan garam ajaib Vier. Cuma garam biasa yang udah diruqyah. Kamu ga perlu bawa garam ini kemana-mana, kan Kamu bukan chef yang mau unjuk gigi ketrampilan memasak. Hanya disaat tertentu Kamu bisa gunakan garam ini untuk menyingkirkan makhluk tak kasat mata yang mencoba mengganggumu. Itu pun sedikit dan hanya yang mengganggu ya Vier. Jika mereka datang tapi tak mengganggu, abaikan aja...," sahut Daeng Payau.


" Kalo garam ini habis gimana Paman...?" tanya Ranvier.


" Saya harap sampe Kamu menyelesaikan kuliahmu, garam ini ga akan habis. Itu artinya Saya berharap selama Kamu kuliah nanti, Kamu ga harus bersinggungan dengan makhluk halus apa pun bentuknya. Kalau pun terpaksa bersinggungan sama mereka, harusnya ga banyak. Paling satu atau dua wajar lah...," kata Daeng Payau.


Ranvier mengangguk sambil tersenyum.


" Makasih Paman. Insya Allah Aku bakal inget pesen Paman. Sekarang Aku pamit. Tolong sampaikan salamku untuk Ustadz Rahman. Beliau masih di luar kota saat Aku mampir ke rumahnya tadi...," kata Ranvier dengan mata berkaca-kaca.


" Pergi lah Vier. Hati-hati dan jangan lupa berdzikir. Jangan sompral di tempat baru nanti. Sedikit merendah ga akan bikin Kamu jadi rendahan lho Vier...," kata Daeng Payau bijak.


" Siap Paman. Aku pulang ya, Assalamualaikum..., " pamit Ranvier setelah mencium punggung tangan Daeng Payau.


" Wa alaikumsalam..., " sahut Daeng Payau.


Daeng Payau mengantar Ranvier hingga ke pintu pagar rumahnya. Ia terpaksa melepas kepergian Ranvier karena muridnya itu juga harus melanjutkan pendidikan di kota lain.


Daeng Payau nampak menghela nafas panjang. Setelah empat tahun membimbing Ranvier, membuat rasa sayang di hati Daeng Payau pada Ranvier pun tumbuh dengan subur.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2