Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
163. Memanggil


__ADS_3

Setelah sejenak membisu, Ranvier pun akhirnya buka suara.


" Meski pun Aku menyayangi Anak-anakmu, tapi mereka pasti akan lebih bahagia jika kasih sayang itu mereka dapatkan dari Ayah kandungnya sendiri. Kau pasti tau bagaimana Arcana. Dia juga ga akan mungkin memaafkanmu kalo dia mendengarmu bicara seperti itu tadi. Satu yang harus Kau tau, Arcana memutuskan menunda kelahiran Anak Kalian hingga Kau kembali. Jadi ayo Kita bersama-sama keluar dari tempat ini demi bayi yang tak berdosa itu...!" kata Ranvier memberi semangat.


Ucapan Ranvier mengejutkan Ganesh sekaligus membakar semangatnya. Ia tersenyum lalu mengangguk.


" Iya Ranvier. Ayo Kita pulang. Aku mau bertemu Istri dan bayiku...," kata Ganesh lirih.


" Bagus, sekarang bersiap lah. Mungkin akan terasa sedikit sakit saat Aku melepas simpul ikatan ini. Tapi setelahnya Kamu bebas dan Kita bisa kabur dari tempat ini...," kata Ranvier sambil menyentuh besi pengait yang ada di bawah kaki Ganesh.


" Lakukan Ranvier. Aku akan berusaha bertahan...," sahut Ganesh sambil meringis.


Ranvier menoleh saat Damar datang mendekat.


" Bagaimana di luar sana Pak...?" tanya Ranvier.


" Aman. Semua penjaga sibuk menghibur diri di luar benteng. Tapi waktu Kita ga banyak, bisa kah Kamu melepaskan simpul itu sekarang...?" tanya Danar sambil menatap iba kearah Ganesh.


" Insya Allah bisa...," sahut Ranvier mantap.


Seperti biasa, saat Ranvier mengucapkan nama agung itu maka tanah tempat mereka berpijak bergetar. Dan itu menguntungkan Ranvier. Saat tanah bergetar, tiang besi bergeser hingga menampakkan pengait kecil yang tersembunyi di bawah kaki Ganesh.


Dengan hati-hati Ranvier menarik pengait berupa kawat besi itu perlahan. Dan saat itu lah kapak besar yang sedianya akan jatuh memenggal leher Ganesh berhenti bergerak. Ranvier terus mengamati kawat kecil itu yang rupanya berakhir pada sekumpulan belati yang siap lepas menghantam pinggang Ganesh jika kawat kecil bergetar.


Dengan hati-hati Ranvier memotong kawat kecil itu hingga ikatan belati terurai lepas dan belati berjatuhan ke tanah.


Bersamaan dengan terlepasnya ikatan belati, ikatan pada tubuh dan leher Ganesh pun terlepas hingga membuatnya melayang jatuh. Dengan sigap Damar berhasil menangkap tubuh lemah Ganesh lalu meletakkannya di atas bahu.


Ganesh nampak memejamkan mata sambil meringis saat merasa persendian tubuhnya seolah bergeser dari tempatnya. Setelah sekian lama dipasung dan terus menerima siksaan, wajar jika Ganesh merasa tubuhnya remuk.


" Alhamdulillah..., berhasil. Cepat Kita keluar dari sini...!" ajak Ranvier.


" Iya Mas...!" sahut Damar sambil membopong tubuh Ganesh di bahunya.

__ADS_1


Tepat saat keduanya berhasil meninggalkan tempat itu, ruangan itu ambruk dan menimbulkan suara berdebum yang memekakkan telinga.


Ranvier dan Damar panik karena mengira jika aksi mereka diketahui musuh. Namun keduanya tersenyum saat melihat barisan pengawal rahasia yang dikirim Kyai Ranggana tampak siaga di luar.


" Sebaiknya Anda pergi sekarang. Serahkan sisanya pada Kami...," kata salah seorang pengawal rahasia kepada Ranvier.


" Baik lah, hati-hati..., " sahut Ranvier yang diangguki sang pengawal.


Kemudian Ranvier dan Damar melesat cepat meninggalkan tempat itu. Dari kejauhan Ranvier bisa mendengar pertempuran sengit yang terjadi. Ia hanya bisa berharap jika setelah ini semuanya akan kembali normal.


\=\=\=\=\=


Semua orang nampak mengerumuni tubuh Ganesh yang terbujur di atas tempat tidur. Rasa cemas bercampur rasa iba nampak terlihat jelas di wajah mereka. Apalagi di samping Ganesh terlihat Arcana yang duduk sambil menangis. Kondisinya sangat memprihatinkan karena ia harus menahan kontraksi akibat bayi dalam rahimnya terus memberontak.


" Sudah lah Nak. Jangan terus menahan mereka di dalam sana. Kasian mereka. Kamu juga pasti lelah terus menahan mereka...," kata Nyai Ranggana dengan lembut.


" Ga bisa Bu. Aku hanya mau melahirkan mereka jika Suamiku siuman...," sahut Arcana sambil meringis menahan sakit.


" Jangan egois Arcana !. Tindakanmu justru menentang takdir dan bisa membunuh mereka...!" kata Kyai Ranggana kesal.


Ucapan Arcana membuat semua orang terdiam bingung. Satu sisi mereka mengerti bagaimana perasaan Arcana, namun di sisi lainnya mereka juga khawatir dengan keselamatan ketiga bayi di dalam rahim Arcana.


" Kenapa Kamu ga mencoba membalik keadaan Arcana...!" tegur Ranvier tiba-tiba hingga membuat semua orang yang ada di ruangan itu menoleh kearahnya.


" Apa maksudmu...?" tanya Arcana sambil menatap Ranvier lekat.


" Lahirkan anak-anak itu. Mungkin suara tangisan mereka akan bisa memanggil Ganesh dan membawanya kembali...," sahut Ranvier cepat.


" Ranvier betul !. Kamu lahirkan mereka dan biarkan mereka yang akan memanggil Ayahnya. Bagaimana Arcana...?" tanya Kyai Ranggana dengan wajah berbinar.


Setelah terdiam sejenak Arcana pun mengangguk setuju. Dan semua orang yang tak berkepentingan pun keluar dari ruangan itu karena Arcana memaksa melahirkan di sana tepat di samping suaminya yang sekarat.


Tak lama kemudian semua orang bisa mendengar suara Arcana mengejan keras disusul suara tangis bayi. Rupanya ketiga bayi itu sudah tak sabar ingin melihat dunia dan mereka lahir dengan mudah.

__ADS_1


Saat bayi ketiga terlahir, saat itu kondisi Arcana sudah sangat lemah. Ia mengejan sekali lagi sambil menjerit memanggil suaminya.


" Bangun Ganessshhh...!. Anak Kita membutuhkanmu...!" jerit Arcana sebelum jatuh pingsan.


Ajaib. Detik dimana Arcana jatuh pingsan, detik yang sama Ganesh membuka mata. Semua orang terkejut dan terharu melihat apa yang terjadi.


Ganesh menoleh kearah dua bayinya yang saat itu sedang menangis keras. Mereka diletakkan tepat di samping kiri dan kanannya. Saat bayi ketiga didekatkan ke wajahnya, Ganesh pun tersentak. Seolah baru tersadar jika ketiga bayi itu adalah anaknya, Ganesh pun tersenyum bahagia.


" A... nak... ku...," panggil Ganesh dengan suara lirih.


" Iya Ganesh, mereka Anakmu...!" kata Kyai Ranggana sambil tersenyum.


" Di... ma... na Is... triku...?" tanya Ganesh sambil berusaha mencari ke segala arah.


Saat tatapannya membentur tubuh Arcana yang bersimbah darah, Ganesh pun tak kuasa menahan tangis. Ia menjerit karena mengira Arcana telah meninggal dunia akibat melahirkan ketiga bayinya. Apalagi saat itu Nyai Ranggana nampak menepuk pipi Arcana sambil memanggil namanya.


Kyai Ranggana pun maju dan berusaha menenangkan Ganesh.


" Tenang lah Ganesh, Arcana gapapa. Dia hanya kelelahan karena baru saja melahirkan. Jadi, biarkan dia istirahat sebentar ya...," kata Kyai Ranggana hingga membuat Ganesh terkejut lalu menghentikan tangisnya.


" Ja... di Ar... cana masih hidup A... yah...?" tanya Ganesh terbata-bata.


" Tentu saja. Kau tau kan gimana Arcana. Anakku adalah wanita tangguh dan kuat. Dia ga akan membiarkan siapa pun menggantikan tugasnya menjadi Ibu...," sahut Kyai Ranggana cepat.


" Iya Ayah. Aku juga ga akan membiarkan siapa pun menggantikan posisiku sebagai Ayah mereka...," kata Ganesh lirih sambil menatap ketiga bayinya bergantian.


Kyai Ranggana tersenyum karena tahu apa maksud dari ucapan Ganesh.


Di luar ruangan Ranvier tampak mengucap hamdalah sambil mengusap wajahnya. Ia bersyukur karena Arcana bisa melahirkan ketiga bayinya dengan selamat. Ranvier yakin Arcana akan pulih dengan cepat nanti.


" Setelah semuanya selesai, Aku bisa pulang. Tunggu Aku sebentar lagi ya Sayang...," gumam Ranvier sambil tersenyum.


Seolah mendengar ucapan Ranvier, Nada nampak menganggukkan kepala di dalam tidurnya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2