
Di waktu yang telah ditentukan, Ranvier pun bersiap pergi melintas dimensi. Saat itu ia sedang 'berpamitan' pada Kakek Randu. Erwin yang akhirnya tahu apa yang sedang dihadapi Ranvier pun hanya bisa terdiam pasrah.
" Cepat lah pulang. Kakek menunggu Kamu di sini...," kata Kakek Randu dengan suara parau.
" Iya. Jangan kemana-mana ya Kek. Tolong tunggu Aku pulang...," sahut Ranvier sambil memeluk sang Kakek erat.
Untuk sejenak kakek Randu dan Ranvier saling berpelukan. Setelah mengurai pelukannya Ranvier beralih menatap Erwin.
" Gue titip Kakek Gue ya Win...," kata Ranvier.
" Iya Vier. Insya Allah Gue bakal jagain Kakek. Tapi janji cepet pulang ya Vier...," kata Erwin.
" Insya Allah Gue pulang secepatnya Win...," sahut Ranvier.
Kedua sahabat itu pun saling memeluk sejenak. Setelahnya Ranvier mengikuti ustadz Rahman dan Daeng Payau melangkah ke ruangan yang disiapkan sang Kakek.
Saat pintu tertutup, Kakek Randu pun jatuh terduduk di sofa. Krisna dan Erwin terkejut lalu bergegas menghampiri.
" Aku gapapa kok. Cuma kecapean karena berdiri terlalu lama...," kata Kakek Randu.
Krisna dan Erwin pun menghela nafas lega mendengar ucapan Kakek Randu.
Sementara itu di dalam ruangan nampak Ranvier, ustadz Rahman dan Daeng Payau duduk berhadapan. Sebelumnya mereka telah membicarakan segala hal yang harus mereka lakukan nanti. Dan saat ini mereka tengah berproses menyebrang ke dimensi lain.
Ranvier memejamkan mata sambil melantunkan dzikir dalam hati. Ustadz Rahman terus membimbingnya berdzikir sedangkan Daeng Payau membantu mencari jalan untuk masuk ke dimensi lain.
" Kita sampe Vier...," kata Daeng Payau saat melihat danau tempat dimana Arcana cilik bermain dengan buaya dulu.
" Iya Paman...," sahut Ranvier dengan jantung yang berdetak cepat.
" Kami akan awasi Kamu dari jauh Vier. Pergi lah ke sana. Jika terjadi sesuatu yang tak Kamu inginkan, kembali lah. Kami menunggumu di sini...," pesan Daeng Payau.
" Iya Paman...," sahut Ranvier.
" Jika tak bisa melafazkan dzikir dengan lidahmu, lakukan dalam hati ya Vier...," pesan ustadz Rahman.
" Baik Ustadz. Aku pergi sekarang. Assalamualaikum..., " pamit Ranvier.
" Wa alaikumsalam..., " sahut ustadz Rahman dan Daeng Payau bersamaan.
Kemudian Ranvier melangkah meninggalkan kedua guru spiritualnya itu. Untuk tiba di tujuan Ranvier harus menyebrangi danau. Tapi Ranvier memilih jalan memutar agar bisa tiba di sebrang danau.
Saat melangkah Ranvier tak lagi menoleh ke belakang, karena seperti itu lah kesepakatannya.
Ranvier pun terus melangkah hingga tiba di tepi jalan raya. Saat itu Ranvier berpapasan dengan para penduduk. Melihat Ranvier mereka nampak tersenyum ramah seolah telah saling mengenal.
__ADS_1
Ranvier pun menganggukkan kepalanya dengan takzim untuk membalas senyum mereka.
Tak lama kemudian terlihat mobil yang melaju dari arah berlawanan. Dan saat mobil berada tepat di samping Ranvier, mobil itu berhenti. Dari dalam mobil turun lah seorang pria yang wajah dan perawakannya tak berubah, sama seperti yang pernah Ranvier temui beberapa tahun lalu.
" Mas Ranvier...!" panggil Damar sambil tersenyum.
" Pak Damar...?" tanya Ranvier ragu.
" Iya Mas. Apa kabar...?" tanya Damar sambil menjabat tangan Ranvier.
" Alhamdulillah baik...," sahut Ranvier.
Sesaat setelah Ranvier mengucap hamdalah, angin panas berhembus dan itu membuat Damar tersentak lalu menggedikkan bahunya sambil meringis.
Menyadari kesalahannya, Ranvier pun tersenyum kecut. Damar yang mengerti ekspresi wajah Ranvier pun hanya mengangguk.
" Kalo gitu Kita pulang sekarang ya. Mas udah ditunggu oleh Kyai Ranggana dan keluarga besarnya...," ajak Damar sambil membuka pintu mobil untuk Ranvier.
" Iya Pak...," sahut Ranvier lalu masuk ke dalam mobil.
Setelahnya Damar masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju Rumah Kyai Ranggana.
Sepanjang perjalanan Ranvier hanya membisu sambil menatap keluar jendela. Ia nampak terpukau dengan keindahan kota yang terlihat jauh lebih maju dari beberapa tahun lalu. Namun Ranvier sedikit mengerutkan keningnya karena melihat banyak umbul-umbul terpasang di tepi jalan raya menuju kediaman Kyai Ranggana.
Dari kejauhan rumah Kyai Ranggana nampak terlihat, juga telah dihias dengan indah. Ranvier tak menyangka jika ia datang di saat yang tak tepat.
" Gapapa Mas. Emang mau ada hajatan besar di rumah Kyai Ranggana...," sahut Damar sambil tersenyum.
" Oh gitu, hajatan besar apa ?, lamaran atau justru pernikahan...?" tanya Ranvier.
" Dua-duanya Mas...," sahut Damar.
" Siapa yang dilamar dan menikah...?" tanya Ranvier gusar.
" Mbak Arcana...," sahut Damar sedih.
" Lho Pak Damar kok sedih. Bukannya seneng ya ngeliat Arcana akhirnya menikah...?" tanya Ranvier tak mengerti.
" Kalo menikahnya sama orang yang tepat pasti Saya bahagia Mas. Sayangnya justru Mbak Arcana menikah dengan laki-laki yang tak diinginkan semua orang...," sahut Damar.
" Tak diinginkan semua orang gimana maksudnya Pak...?" tanya Ranvier penasaran.
" Maaf Mas. Bukan wewenang Saya menjelaskan semuanya. Kita udah sampe, silakan Mas Ranvier turun dulu..., " kata Damar.
Dengan enggan Ranvier turun dari mobil. Saat kakinya menjejak tanah, terdengar suara derap langkah dari dalam rumah. Terdengar bising hingga membuat Ranvier menoleh.
__ADS_1
Di teras rumah terlihat Kyai Ranggana dan istrinya serta beberapa orang lainnya yang diyakini sebagai keluarga, tampak berdiri sambil menatap kearah Ranvier.
" Ranvier...!" panggil Kyai Ranggana lantang.
" Apa kabar Kyai Ranggana. Maaf jika Saya datang di waktu yang kurang tepat...," sapa Ranvier sambil menundukkan kepalanya dengan takzim.
Kyai Ranggana tersenyum lalu bergegas menghampiri Ranvier. Bahkan Kyai Ranggana memeluk Ranvier dengan erat hingga membuat Ranvier bingung.
" Kamu datang di waktu yang tepat Nak. Masuk lah. Kami sudah lama menunggumu...," kata Kyai Ranggana sambil merangkul bahu Ranvier lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
Ranvier pun mengikuti langkah Kyai Ranggana. Ia juga menyapa Nyai Ranggana dengan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
" Selamat datang kembali Ranvier...," sapa Nyai Ranggana sambil mengusap kepala Ranvier dengan lembut.
" Makasih Nyai...," sahut Ranvier sambil tersenyum.
Ranvier pun dibawa masuk ke sebuah ruangan yang telah dihias cantik. Seolah tak membiarkan Ranvier terlalu lama terpesona dengan dekorasi ruangan itu, Kyai Ranggana pun langsung bicara serius.
" Hari ini Arcana akan menikah. Tapi ga ada seorang pun di keluarga Kami setuju termasuk Arcana...," kata Kyai Ranggana hingga mengejutkan Ranvier.
" Kalo ga mau menikah kenapa menerima lamaran pria itu...?" tanya Ranvier tak mengerti.
" Ini untuk membayar hutang...," sahut Kyai Ranggana.
" Hutang apa...?" tanya Ranvier penasaran.
Bagi Ranvier mustahil rasanya Kyai Ranggana memiliki hutang yang tak sanggup ia lunasi. Jika Kyai Ranggana tak sanggup membayar hutang dan hanya bisa dibayar dengan menikahkan Arcana, itu artinya hutang yang ditanggung sangat besar.
Seolah mengerti apa yang ada di benak Ranvier, Kyai Ranggana pun menjelaskan.
" Pria itu bernama Kala. Arcana tak sengaja membunuh calon istrinya. Kala yang marah meminta Arcana menggantikan posisi calon istrinya itu dan menikah dengannya...," kata Kyai Ranggana sedih.
" Kenapa bisa Ranggana membunuh calon istri Kala...?!" tanya Ranvier tak percaya.
" Arcana tak sengaja melukai calon istri Kala saat sedang berlatih melempar belati di papan sasaran. Sebelum wanita itu mati, dia sempat minta tolong sama Arcana. Tapi Arcana yang panik justru ketakutan. Dan Kala yang datang langsung membawa calon istrinya pergi begitu saja...," kata Nyai Ranggana.
" Kenapa wanita itu minta tolong ?. Pasti ada sesuatu yang terjadi. Jangan-jangan wanita itu justru lari dari kejaran Kala yang berniat jahat padanya. Dan saat lari justru terkena belati Arcana. Lalu bagaimana bisa Kala menuntut Arcana untuk menikahinya...?" tanya Ranvier.
" Kala datang dengan segerombolan orang dan bilang kalo wanita itu mati. Dia marah dan menuntut Arcana untuk bertanggung jawab. Kami sudah mencoba segala cara agar Kala menghentikan niatnya tapi gagal. Kala terlanjur mengumumkan pada semua orang bahwa dia akan menikah dengan Arcana. Kami ga bisa menolak karena Arcana Kami memang bersalah...," kata Kyai Ranggana.
" Saya merasa ada sesuatu yang janggal. Bisa Saya bertemu Arcana...?" tanya Ranvier penuh harap.
" Bisa. Tunggu di sini, Arcana akan keluar sebentar lagi...," sahut Kyai Ranggana.
Ranvier pun mengangguk. Sesaat kemudian Ranvier menoleh saat melihat Arcana berjalan pelan sambil menundukkan kepala.
__ADS_1
bersambung