Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
34. Pengagum Rahasia


__ADS_3

Setelah mengetahui 'situasi' antara Yara dan Akmal, semua teman sekelas Ranvier pun menghentikan aksi mereka memojokkan Yara. Perlahan namun pasti mereka mulai mendekati Yara dan mencoba berteman dengan gadis itu.


Nampaknya Yara pun menyambut baik perubahan sikap teman-temannya itu. Dan Yara yang pendiam dan aneh itu pun perlahan berubah menjadi sosok gadis yang menyenangkan di mata teman-temannya.


Ranvier yang memang tak memiliki masalah apa pun dengan Yara juga ikut menyambut perubahan semua temannya. Suasana kelas jadi lebih enak dan nyaman karena diisi dengan candaan positif.


Tanpa Ranvier sadari sesungguhnya Yara memiliki perasaan khusus untuknya. Diam-diam Yara kerap mengamati Ranvier. Seperti layaknya remaja yang jatuh cinta, Yara akan tersipu malu saat Ranvier berada di dekatnya atau mencandainya.


Akmal yang memang pernah menyukai Yara pun paham dengan sikap berbeda yang diperlihatkan Yara. Meski kecewa karena Yara menolak perasaannya, namun Akmal berusaha melupakan semuanya. Kini ia berusaha menjadi teman yang baik untuk Yara.


Karena gemas melihat Ranvier yang tak menyadari perasaan Yara padanya, Akmal pun maju mewakili Yara. Ia mengatakan semuanya kepada Ranvier.


" Masa sih, ga usah ngada-ngada deh Lo...," kata Ranvier.


" Gue serius Vier. Emangnya Lo ga ngerasa kalo sikap Yara ke Lo tuh beda banget...," kata Akmal.


" Perasaan ga ada bedanya. Sikap Yara ya sama aja sama yang lain...," sahut Ranvier cepat.


" Beda Vier. Cara dia menatap Lo tuh kaya penuh perasaan gitu...," kata Akmal dengan nada iri.


Tentu saja ucapan Akmal membuat Ranvier tertawa geli. Tiba-tiba Ranvier ingat jika Akmal adalah pengagum Yara. Ia pun berhenti tertawa lalu mulai bertanya.


" Eh iya, kalo boleh tau kenapa Lo bisa nembak Yara dulu ?. Jangan bilang Lo lagi tarohan sama temen Lo...," kata Ranvier.


" Tarohan apaan sih maksud Lo...?" tanya Akmal tak mengerti.


" Tarohan kaya anak kelas sebelah. Siapa yang bisa nembak si Silvi dan jadiin pacar selama sebulan, dia menang dan dapat uang lima ratus ribu...," sahut Ranvier.


" Ya Allah, emang ada yang kaya gitu. Beneran Vier...?!" tanya Akmal tak percaya.


" Beneran. Tapi Lo jangan kasih tau siapa-siapa ya. Ini rahasia...," kata Ranvier.

__ADS_1


" Ck, kalo emang rahasia, kok Lo bisa tau. Artinya ini bukan rahasia dong Vier...," kata Akmal sambil berdecak sebal hingga membuat Ranvier tertawa.


" Iya iya. Jadi gimana, Lo sama ga kaya anak sebelah...?" tanya Ranvier tak sabar.


" Ya ga lah g*la...!" sahut Akmal lantang.


" Oh syukur lah. Terus apa alasannya Lo nembak dia...?" tanya Ranvier penasaran.


" Ga ada alasan...," sahut Akmal cepat.


" Masa sih. Gue ga percaya. Ayo lah Mal, masa Lo ga mau ngasih tau Gue alasannya...," kata Ranvier.


Akmal nampak menghela nafas panjang seolah akan mengatakan sesuatu yang penting. Ranvier pun tertawa melihat sikap teman sebangkunya itu.


" Tapi Lo janji jangan bilang siapa-siapa ya...," pinta Akmal setengah berbisik.


" Ok...," sahut Ranvier cepat.


" Waktu itu Gue ga sengaja liat Yara ganti baju di perpustakaan...," kata Akmal sambil berbisik.


" Sssttt..., Gue kan udah bilang jangan berisik. Kok malah teriak sih Lo...," kata Akmal kesal.


" Iya sorry. Abis Gue ga nyangka kalo ternyata Lo mes*m juga. Punya hobby kok aneh, suka ngintipin cewek ganti baju. Hiiiyy...," sahut Ranvier sambil nyengir.


" Bukan suka ngintipin monyong !. Gue ga sengaja ngeliat...!" kata Akmal kesal.


" Iya iya, ish marah-marah mulu sih Lo. Ntar cepet tua baru rasa Lo...," sahut Ranvier sambil memonyongkan bibirnya.


" Jadi cerita ga nih...?!" tanya Akmal sambil bangkit dari duduknya.


" Jadi dong. Ayo lanjutin cerita Lo...," pinta Ranvier.

__ADS_1


" Ok. Jadi gini, waktu masa Ospek itu Gue datang kepagian di sekolah. Gue keliling sekolah nyariin teman Kita, kali aja ada yang udah datang. Soalnya Gue mau ajakin sarapan bareng di kantin sskolah. Nah saat itu Gue ngeliat cewek cakep banget lagi jalan sendirian di koridor kelas. Gue panggil dong, tapi dia ga nyaut. Gue ikutin aja deh. Eh ga taunya dia masuk ke perpustakaan. Pas Gue mau buka pintu perpustakaan, ga sengaja Gue ngeliat dia lagi ganti baju. Dan tau ga Lo, Gue ngeliat cewek cakep itu ganti baju dan penampilan jadi Yara. Sampe sini paham ga sih Lo...," kata Akmal gusar.


" Maksud Lo, Yara itu aslinya cakep gitu...?" tanya Ranvier.


" Iya. Cantik banget malah. Itu yang bikin Gue suka sama dia. Cantik tapi ga berusaha menonjolkan diri, ga kaya cewek lainnya termasuk si Silvi itu...," sahut Akmal.


" Tapi kalo menurut Gue si Yara itu emang cakep kok. Tanpa dia repot-repot nutupin semuanya dengan penampilan cupunya itu dia tetap terlihat cantik. Iya ga sih...?" kata Ranvier.


" Iya. Tapi kalo Lo tau si Yara itu cantik, kenapa Lo ga merespon sinyal yang dia kirimin...?" tanya Akmal penasaran.


" Lagi ga pengen aja...," sahut Ranvier asal.


" Itu artinya Lo suka sama dia juga...?" tanya Akmal sambil menatap Ranvier dengan tatapan tak suka.


" Bukan gitu Mal. Gue mau fokus belajar dulu. Gue udah janji bikin Kakek bangga. Kalo Gue ngerespon Yara, itu sama aja Gue ngasih harapan palsu. Padahal Gue ga bakal bisa jadi orang yang bakal ada di sampingnya setiap saat dia butuh. Dan pasti itu bakal bikin ribut. Iya ga ?. Daripada begitu, mendingan Kita temenan aja biar aman...," sahut Ranvier.


" Setuju Vier !. Gue setuju banget sama apa yang ada di otak Lo...!" kata Akmal cepat.


" Ck, bilang aja Lo ga rela kalo Yara jadian sama Gue. Lo cemburu kan ?, ngaku Lo...!" kata Ranvier sambil melotot hingga membuat Akmal tertawa keras.


" Iya lah. Jadi adil kan. Di kelas ini ga ada satu pun cowok yang jadian sama Yara. Semuanya teman dan teman...," sahut Akmal di sela tawanya.


Ranvier pun mengangguk mengiyakan ucapan Akmal.


Tanpa Ranvier dan Akmal sadari, sesungguhnya Yara mendengar percakapan mereka. Yara nampak kecewa saat mengetahui Ranvier memilih menjadi teman saja daripada memiliki hubungan khusus dengannya.


" Gapapa. Cepat atau lambat toh dia akan jadi milikku juga...," gumam Yara sambil tersenyum penuh makna.


Kemudian Yara bangkit dari duduknya lalu melangkah keluar kelas. Sebelum pergi Yara masih sempat melirik kearah Ranvier dan Akmal.


Mulut Yara nampak berkomat kamit menggumamkan sesuatu semacam mantra. Setelahnya ia meniup telapak tangannya lalu membuat gerakan mengepalkan tangan seolah baru saja menangkap sesuatu. Kemudian diam-diam Yara melemparkan sesuatu dalam genggamannya itu kearah Ranvier.

__ADS_1


Ajaib. Ranvier nampak menoleh karena merasa ada hembusan angin sejuk yang menerpanya dari sebelah kiri. Ranvier nampak mengerutkan kening sambil mengamati dirinya sendiri. Kemudian Ranvier mendongakkan wajahnya dan tak sengaja melihat punggung Yara yang menjauh menuju pintu kelas mereka.


\=\=\=\=\=


__ADS_2