
Nada menoleh mencari sumber suara namun tak seorang pun dijumpai selain dia dan pencuri itu di sana.
" Siapa sih yang manggil...," gerutu Nada lalu kembali menggerakkan tangannya untuk menarik penutup wajah pencuri itu.
" Jangan Nada !. Lepaskan dia...!" kata sebuah suara dengan lantang hingga membuat Nada geram.
" Siapa di sana ?!. Jangan cuma berani ngomong tanpa wujud. Keluar sekarang...!" kata Nada kesal.
Setelah Nada mengucapkan itu sebuah sinar keperakan nampak melesat cepat lalu berhenti di sudut ruangan.
" Ini Aku Nada. Aku yang bicara padamu dan memintamu melepaskan dia...," kata sinar keperakan yang merupakan jelmaan Damar itu dengan tegas.
" Kamu ?. Darimana Kamu tau namaku dan siapa Kamu sebenarnya...? " tanya Nada penasaran.
" Lepaskan dia dulu, baru Aku akan menjawab pertanyaanmu...," kata Damar.
" Aku ga bisa melepaskan orang yang udah berniat jahat padaku. Bagaimana kalo setelah Aku melepasnya dia justru berbalik melukai Aku...?" tanya Nada kesal.
" Itu tak akan terjadi. Dia bukan ingin melukaimu, dia hanya ingin memperkenalkan diri...," sahut Damar.
" Memperkenalkan diri kok pake belati. Itu ga masuk akal. Terserah Kau mau bicara atau ga, pokoknya Aku bakal serahkan orang ini ke Polisi...," kata Nada sambil melanjutkan gerakan tangannya yang tertunda tadi.
Pencuri yang sudah tak berdaya karena dipiting oleh Nada pun hanya bisa pasrah saat Nada menarik penutup wajahnya. Namun setelah melihat wajah asli sang pencuri, Nada pun terkejut bahkan langsung bangkit dan menjauh.
Wajah pencuri yang ternyata seorang pria itu memang terlihat tak biasa. Pria itu memiliki wajah yang mirip dengan seekor hewan. Dengan gigi besar tak beraturan memenuhi mulutnya, hidung mirip hidung babi serta wajah ditumbuhi bulu lebat.
" Siapa dia sebenernya. Kenapa wajahnya kaya gitu...?!" tanya Nada sambil meringis ngeri.
" Aku sudah mengingatkanmu agar ga membuka penutup wajahnya, tapi Kamu malah nekad. Sekarang tanggung sendiri akibatnya...," kata Damar kesal.
Nada pun menatap Damar dan pencuri itu bergantian dengan tatapan curiga. Sadar jika Nada bisa melakukan banyak hal, Damar pun mengalah. Ia menghela nafas panjang lalu melayang mendekat kearah Nada.
" Jangan dekat !. Kalo ada yang mau diomongin, bilang aja dari sana. Telingaku masih normal dan bisa mendengar suaramu kok...!" kata Nada sambil mengembangkan telapak tangannya ke depan.
Damar menghentikan aksinya dan tersenyum. Ia kagum dengan sikap waspada Nada.
__ADS_1
" Baik lah. Bangun lah Barong. Kamu bisa pergi sekarang...!" kata Damar.
" Eh, ga bisa !. Ga ada satu pun dari Kalian yang bisa pergi dari sini sebelum Aku ijinin. Setelah Kalian masuk tanpa permisi, jangan harap Kalian bisa pergi begitu aja...!" kata Nada tegas sambil merentangkan kedua tangannya.
Pencuri yang dipanggil Barong itu nampak menggeram marah sambil menatap Nada dengan tatapan kesal.
" Kenapa melihatku kaya gitu ?. Kesal, marah ?. Harusnya Aku yang marah karena Kamu udah menyelinap masuk dan berniat melukai Aku...!" kata Nada galak hingga membuat Barong terkejut lalu menundukkan kepalanya.
" Sudah cukup !. Dengar Nada, bisa Kita bicara sebentar. Ini penting...," kata Damar untuk memutus tatapan Nada pada sosok Barong.
" Kalo Kamu mau bicara hal penting, kenapa daritadi ga ada hal penting yang keluar dari mulutmu...," sahut Nada ketus namun membuat Damar tersenyum.
" Dengar Nada. Sekarang Ranvier ada di dimensi Kami dan sedang membantu Tuan Kami. Aku tau bakal ada saja orang yang berniat jahat padamu mengingat status sosial Ranvier dan Kamu. Makanya Tuan Kami mengutus Barong untuk menjagamu. Terserah Kamu mau percaya atau tidak, mau terima atau tidak. Yang pasti, selama Ranvier ada di dimensi Kami, maka Barong akan mengawal dan menjagamu...!" kata Damar cepat hingga mengejutkan Nada.
Nada nampak mengerjapkan mata setelah mendengar ucapan Damar. Ia tak menyangka akan mendengar kabar tentang Ranvier setelah lima bulan sang suami menghilang. Rasa rindu dan khawatir bercampur menjadi satu hingga membuat tubuhnya sedikit limbung.
Nada pun terduduk di kursi sambil mengusap wajahnya. Setelah berhasil menguasai diri, Nada pun menatap Damar dan bertanya.
" Kapan Suamiku kembali ?, bagaimana keadaannya sekarang...?" tanya Nada dengan suara bergetar.
" Aku belum tau kapan Ranvier kembali. Tapi kondisinya saat ini baik-baik saja. Dan setelah urusannya selesai, dia akan kembali padamu...," sahut Damar.
" Maafkan Aku karena ga bisa menjawab pertanyaanmu ini...," sahut Damar sambil menggelengkan kepalanya.
Nada menghela nafas panjang kemudian menatap Barong.
" Jadi dia yang akan menggantikan tugas Suamiku untuk menjagaku selama Suamiku ada di dimensi Kalian...?" tanya Nada lirih.
" Betul. Namanya Barong. Kamu bisa panggil dia kapan pun Kamu butuhkan. Dia akan langsung datang karena dia ada dekat denganmu...," sahut Damar hingga membuat Nada terkejut.
" Maksudmu dia akan mengawasi Aku selama 24 jam...?!" tanya Nada tak suka.
" Bukan mengawasimu dalam makna itu. Kamu ga usah khawatir, Kamu masih bisa melakukan kegiatan pribadimu dengan santai. Barong ga akan masuk ke ruang pribadimu seperti kamar tidur dan kamar mandi...," sahut Damar cepat.
" Alhamdulillah..., Aku kira dia akan mengikuti Aku seperti bayangan...," kata Nada sambil mencibir.
__ADS_1
" Meski pun wajahnya tak enak diliat, tapi Barong punya tata krama. Apalagi terhadap Kamu yang akan menjadi Tuannya...," sahut Damar hingga membuat Nada tersenyum.
" Mmm... Maaf kalo lancang. Apa itu wajah Barong yang asli...?" tanya Nada hati-hati.
" Iya. Kenapa ?, apa Kamu takut...?" tanya Damar.
" Ga !. Justru Aku kasian sama Barong. Apa dia ga sakit hati saat tau orang teriak histeris karena melihat wajahnya...," sahut Nada cepat namun membuat Damar dan Barong tersenyum.
" Barong tak akan terlihat karena hanya Kamu dan orang yang dia kehendaki yang bisa melihatnya...," kata Damar.
" Oh ya. Lalu, apa dia mengerti ucapanku ?. Atau dia bisu ?. Karena daritadi dia hanya menggeram seperti beruang dan ga sepotong pun kalimat yang Kudengar...," kata Nada sambil melirik kearah Barong.
Kali ini Damar tak kuasa menahan tawa hingga Nada terkejut. Barong yang menjadi objek pembicaraan pun nampak melengos kesal mendengar ucapan Nada.
" Aku ga nyangka jika Ranvier punya Istri yang jenaka seperti ini...," kata Damar di sela tawanya.
" Aku serius kok...!" sahut Nada cepat.
" Iya iya. Aku tau. Kamu tenang aja. Barong bisa bicara tapi dia ga akan bicara kalo ga penting banget. Dia mengerti ucapanmu jadi Kamu ga perlu khawatir...," kata Damar setelah tawanya mereda.
" Lalu, kenapa Aku ga bisa melihatmu. Apa Kamu ga ingin Aku mengenalimu...?" tanya Nada.
" Maaf, itu juga pertanyaan yang ga bisa Aku jawab...," sahut Damar.
" Haaahh..., baik lah. Aku mengerti. Jadi kapan Barong akan mulai bertugas...?" tanya Nada.
" Bertugas...?" tanya Damar tak mengerti.
" Iya bertugas. Mengawal dan menjagaku adalah tugasnya kan...?" tanya Nada sambil menatap Damar lekat.
" Oh itu. Sejak dia menyerangmu tadi, dia sudah menjalankan tugasnya..., " sahut Damar.
" Apa...?!. Kalo dia aja kalah saat menerima seranganku, gimana dia bisa menjaga Aku dari serangan penjahat nanti...?!" kata Nada gusar.
" Dia ga kalah, dia mengalah darimu karena Kamu adalah Tuannya...," sahut Damar cepat.
__ADS_1
Nada pun terdiam lalu menatap Barong yang perlahan lenyap dari hadapannya. Saat dia kembali menoleh kearah Damar untuk bertanya, Damar pun telah raib entah sejak kapan.
\=\=\=\=\=