Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
106. Berbeda...?


__ADS_3

Saat tiba di rumah, Ranvier bergegas melangkah menuju kamar pribadinya. Beruntung sang kakek sedang tak ada di rumah, hingga Ranvier tak perlu melaporkan hasil pertemuan bisnisnya yang berselimut makan malam tadi.


" Apa mau makan malam lagi Mas ?. Kalo mau biar Mbok panasin dulu lauknya...," sapa mbok Rah saat berpapasan dengan Ranvier di ruang tamu.


" Ga usah Mbok, Aku kan habis makan malam sama rekan bisnisnya Kakek. Sekarang Aku mau tidur, tolong jangan ganggu Aku ya Mbok...," pinta Ranvier.


" Baik Mas...," sahut Mbok Rah sambil tersenyum.


Ranvier masuk ke dalam kamar. Tiba di kamar ia langsung menuju kamar mandi untuk mengisi air di bathtub dengan air hangat dan sabun. Setelahnya Ranvier keluar untuk membuka pakaian, manyiapkan pakaian ganti, lalu masuk ke kamar mandi lagi. Dengan hati-hati Ranvier berendam di bath tub, sesuatu yang hampir tak pernah ia lakukan apalagi saat malam hari.


Ranvier memejamkan mata sambil menikmati aroma bunga yang menguar dari air yang dipakainya berendam.


Saat itu bayangan Arcana kembali melintas dan itu refleks membuat Ranvier membuka matanya.


" Arcana...," gumam Ranvier sambil tersenyum.


Ada gelenyar aneh yang Ranvier rasakan saat menyebut nama Arcana. Dan Ranvier tak mengerti perasaan apa yang tengah ia rasakan.


Setelah puas berendam, Ranvier pun membilas tubuhnya di bawah aliran shower. Lagi-lagi ia teringat sosok Arcana dan itu membuat Ranvier menggelengkan kepala. Ia mempercepat aksinya lalu meraih bathrobe dan mengenakannya.


Kemudian Ranvier keluar dari kamar mandi dalam kondisi fresh. Setelah mengenakan pakaian, Ranvier pun meraih handuk untuk mengeringkan rambutnya.


Tak sengaja ekor mata Ranvier melirik ke cermin. Di sana ia melihat sosok Arcana tengah berdiri menatapnya dengan tatapan sedih. Tentu saja Ranvier terkejut dan langsung menatap cermin. Ia bahkan mendekati cermin untuk mengamati lebih jelas pantulan yang dilihatnya mirip Arcana tadi.


" Ga mungkin itu dia. Setelah bertahun-tahun kenapa baru sekarang dia menghantui Aku...," batin Ranvier sambil kembali mengusak rambutnya dengan handuk.


Tiba-tiba ponsel Ranvier berdering. Ia melihat nama Amanda di layar ponselnya dan itu membuatnya berdecak sebal.


" Cewek ini agresif banget sih...," batin Ranvier sambil membiarkan ponselnya berdering beberapa saat.


Namun karena khawatir ada sesuatu pada gadis itu, Ranvier pun memutuskan menerima panggilan Amanda.


" Ranvier...!" panggil Amanda dari seberang telephon.


" Ada apa Amanda...?" tanya Ranvier.


" Tolong Aku Ranvier. Aku dikejar orang ga dikenal. Kayanya mereka berniat mencelakai Aku deh...!" sahut Amanda hingga membuat Ranvier mengerutkan keningnya.


" Emangnya Kamu dimana ?. Bukannya Kamu ada di rumah, kok bisa-bisanya ada orang ngejar Kamu di rumahmu sendiri...?" tanya Ranvier tak mengerti.


" Mmm..., Aku ada di Club Y, lagi merayakan ulang tahun sama teman-temanku..," sahut Amanda tak enak hati.

__ADS_1


" Kalo ada teman di sana, kenapa minta tolong Saya. Emangnya mereka ga bisa bantu...?" tanya Ranvier.


" Mereka mab*k dan ga mungkin dimintain tolong. Ayo lah Ranvier, bisa kan bantuin Aku. Aku takut nih...," kata Amanda hampir menangis.


" Ok, tunggu di sana sebentar...," sahut Ranvier di akhir kalimatnya.


Kemudian Ranvier keluar dari kamar untuk mencari Tomi. Saat itu Tomi tengah duduk sambil berbincang dengan security di teras rumah.


" Bang Tomi...!" panggil Ranvier hingga membuat Tomi menoleh.


" Iya Vier. Ada apa...?" tanya Tomi sambil mendekati Ranvier.


" Bisa tolong ke club Y sekarang ?, temen Gue ada di sana dan lagi diganggu preman katanya...," sahut Ranvier.


" Bisa. Siapa temen Lo, cewek...?" tanya Tomi.


" Iya cewek, namanya Amanda. Tolong pastiin dia aman sampe rumah ya Bang, soalnya dia masih ada kontrak sama perusahaan Kakek untuk model iklan. Gue kirim fotonya ke ponsel Lo biar Lo ga bingung...," kata Ranvier sambil mengirimkan foto Amanda yang ada di majalah bulanan kantor ke ponsel Tomi.


Tomi menatap sejenak foto Amanda lalu mengangguk.


" Ok. Gue ke sana sekarang...!" sahut Tomi sambil menstarter motornya.


" Siap...!" sahut Tomi sambil melambaikan tangannya.


Ranvier pun menghela nafas lega karena berhasil menghandle satu masalah yang akan membuatnya terikat dengan Amanda. Setelahnya Ranvier kembali ke kamar untuk istirahat.


Tepat jam dua dini hari ponselnya kembali berdering. Ranvier yang tengah terlelap itu pun terkejut namun ia tersenyum saat nama 'Bang Tomi' tertera di layar ponselnya.


" Iya, gimana Bang...?" tanya Ranvier.


" Beres Vier. Amanda udah sampe rumah dengan selamat...," sahut Tomi melapor.


" Alhamdulillah, makasih Bang. Ngomong-ngomong Lo nemuin dia lagi ngapain Bang...?" tanya Ranvier.


" Lagi mab*k Vier !. Kayanya dia dijual sama temennya yang ngajakin dia ke sana. Untung Gue cepet datang tadi, kalo ga mungkin dia udah dipake sama cowok-cowok itu tadi...," sahut Tomi cepat.


" Cowok-cowok, maksud Lo temennya Amanda tuh cowok semua...?" tanya Ranvier.


" Pas Gue sampe di sana itu yang Gue liat Vier. Ga tau deh sebelumnya ada temen cewek atau ga. Pokoknya Amanda udah hampir bug*l tadi. Lagi dipegangin sama dua cowok dan tiga lainnya cuma ketawa aja sambil ngeliatin. Ada satu orang juga yang ngerekam...," sahut Tomi.


" Astaghfirullah aladziim. Masa sih Bang, terus gimana Bang, Lo bisa beresin mereka kan...?!" tanya Ranvier tak percaya.

__ADS_1


" Iya Vier. Mereka semua abis Gue hajar. Terus Gue seret Amanda pulang. Sekarang Gue arah balik nih ke rumah...," sahut Tomi.


" Lo ga nemenin dia sampe siuman Bang, kan Lo bilang tadi Amanda mab*k...?" tanya Ranvier.


" Pas Gue sampe rumahnya ada cewek yang buka pintu. Kalo ga salah namanya Mutia. Gue serahin sama Mutia aja karena Gue ga mungkin di sana sampe pagi kan Vier...," sahut Tomi cepat.


" Ok Bang, makasih ya...," kata Ranvier.


" Sama-sama..., " sahut Tomi.


" Ntar bonusnya Gue kirim langaung ke rekening Lo ya...," kata Ranvier.


" Alhamdulillah, makasih Vier...!" sahut Tomi di akhir kalimatnya.


Kemudian Tomi memacu motornya dengan kecepatan tinggi sambil tersenyum lebar membayangkan bonus yang akan ia terima.


\=\=\=\=\=


Setelah pertemuan dengan Arcana, hidup Ranvier seolah dibuat 'jungkir balik' bak roller coaster.


Ranvier yang semula tenang, penyabar, dan murah senyum alias ramah itu menjadi sosok yang berbeda.


Ranvier jadi sosok yang mudah panik, selalu mengedepankan emosi dan tak lagi ramah. Ia yang biasa menyapa karyawannya lebih dulu kini justru memperlihatkan wajah tak ramah hingga membuat hampir semua karyawan di kantornya segan, kecuali Erwin.


Erwin yang saat itu berjalan tepat di sampingnya nampak menggelengkan kepala melihat sikap sahabat sekaligus atasannya itu.


" Lo kenapa sih Vier...?" tanya Erwin saat mereka tiba di ruangan Ranvier.


" Gue ?, emangnya Gue ngapain...?" tanya Ranvier tak mengerti.


" Sikap Lo itu aneh Vier. Hampir semua karyawan takut ngeliat muka Lo yang ditekuk kaya gitu...!" sahut Erwin.


" Bagus dong, biar mereka bisa sedikit respect sama Gue...," sahut Ranvier santai.


" Astaghfirullah aladziim..., kenapa Lo berubah jadi g*la hormat gini sih Vier...," kata Erwin sambil menepuk dahi.


Ranvier hanya menggedikkan bahunya mendengar ucapan Erwin. Dalam hati Ranvier juga merasa ada sesuatu yang berbeda pada dirinya.


Setelah berpikir sejenak Ranvier memutuskan akan berkonsultasi dengan ustadz Rahman dan Daeng Payau secepatnya.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2