Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
24. Pamali


__ADS_3

Menyadari kesalahan yang tak sengaja dilakukan Ranvier, Tomi pun bergegas mengetuk pintu kamar sambil memanggil nama Ranvier berulang kali.


" Tok... tok... tok..."


" Vier...!, Ranvier...!" panggil Tomi tak sabar.


" Iya sebentar Bang...!" sahut Ranvier dari dalam kamar.


" Ranvier jangan dimarahin ya Tom. Kasih tau baik-baik aja...," pinta ibu Tomi sambil mencekal tangan anak lelakinya itu.


" Iya Bu...," sahut Tomi cepat .


Pintu kamar pun terbuka dan memperlihatkan wajah Ranvier. Tomi dan kedua orangtuanya pun menyambut Ranvier dengan senyum.


" Ada apa Bang, kenapa semuanya berdiri di depan pintu...?" tanya Ranvier sambil melirik kearah kedua orangtua Tomi.


Bukan menjawab pertanyaan Ranvier, Tomi justru mengabaikan pertanyaan remaja itu dan balik bertanya.


" Lo lagi ngapain...?" tanya Tomi.


" Lagi beresin baju...," sahut Ranvier cepat.


" Tapi Gue denger Lo lagi siul-siul tadi...," kata Tomi.


" Oh itu. Gue kan emang biasa siul-siul kalo lagi happy Bang. Nah, hari ini Gue emang happy karena Kita udah berhasil membantu temen Abang si Tissa itu pergi ke tempat seharusnya...," sahut Ranvier sambil kembali bersiul.


Tiba-tiba Tomi maju dan menutup mulut Ranvier dengan telapak tangannya hingga remaja itu terkejut dan kesulitan bernafas.


" Mmmpphh..., lepasin Bang...," kata Ranvier sambil menepis tangan Tomi dari mulutnya.


" Iya Gue lepasin. Tapi janji jangan siul-siul lagi ya Vier...," pinta Tomi yang diangguki Ranvier.


Tomi bergegas melepaskan bekapan tangannya hingga Ranvier bisa kembali bernafas dengan normal.


" Ya Allah, Lo mau bikin Gue mati ya Bang. Sadis amat sih...," gerutu Ranvier.


Ucapan Ranvier justru membuat Tomi dan kedua orangtuanya tertawa.


" Ga usah lebay deh, Gue ga nyekik Lo kan...," kata Tomi sambil melengos.


" Tapi tadi Lo nutup mulut Gue kenceng banget Bang...!" kata Ranvier tak mau kalah.


" Iya maaf. Tapi itu kan salah Lo sendiri...," sahut Tomi.


" Kok salah Gue...?" tanya Ranvier tak mengerti.


" Iya. Di desa ini ga boleh siul-siul di dalam rumah Vier, pamali...!" kata Tomi tegas.

__ADS_1


" Oh gitu, emang kenapa...?" tanya Ranvier penasaran.


" Kan udah dibilang pamali. Ngerti pamali ga sih Lo...?!" tanya Tomi mulai kesal.


" Ga...," sahut Ranvier cepat hingga membuat emosi Tomi memuncak.


" Lo tuh ya...!" kata Tomi sambil melotot dan menjulurkan tangannya untuk menarik tangan Ranvier.


Ranvier berhasil berkelit sambil tertawa lalu lari ke belakang rumah. Tomi pun lari mengejar Ranvier hingga terjadi lah aksi kejar-kejaran di belakang rumah. Kedua orangtua Tomi nampak menggelengkan kepala melihat aksi Tomi dan Ranvier.


" Ampuuunn..., capek Bang...," kata Ranvier sambil duduk di kursi.


" Siapa suruh lari-lari..., " sahut Tomi ketus.


" Kan tadi Lo duluan yang mau mukul Gue...," kata Ranvier.


" Siapa yang mau mukul Lo. Gue kesel karena Lo ngomong terus. Padahal Gue kan ngasih taunya serius...," sahut Tomi.


" Eh iya. Jadi kenapa siul-siul di dalam rumah dibilang pamali Bang...?" tanya Ranvier.


" Karena siul-siul itu sama aja Lo manggil ular biar datang ke sini...," sahut Tomi sambil meraih teko berisi air lalu menuangnya ke dalam gelas.


" Manggil ular, kok bisa...?" tanya Ranvier tak mengerti.


Tomi tak menjawab karena masih meneguk air dari gelas. Ayah Tomi datang lalu menjawab pertanyaan Ranvier.


" Oohh... gitu. Ularnya besar atau kecil Pak...?" tanya Ranvier.


" Kadang besar kadang kecil lah...," sela Tomi.


" Masalahnya bukan pada ukurannya Vier. Tapi kalo ular yang masuk itu berbisa, pasti berbahaya untuk penghuni rumah. Iya kan ?. Bayangin kalo ular itu masuk ke rumah tanpa diketahui dan beraksi saat semua orang lagi tidur...," kata ayah Tomi.


Ranvier nampak bergidik ngeri. Ia pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


" Saya minta maaf karena udah bikin kekacauan ya Pak Bu...," kata Ranvier dengan tulus.


" Iya Nak, gapapa. Kami juga maklum karena Kamu kan tamu di sini. Terima kasih ya Kamu udah mau ngerti adat penduduk di kampung ini...," kata ayah Tomi sambil tersenyum.


" Sama-sama Pak. Jadi masih berapa banyak pamali yang ada di kampung ini Pak...?" tanya Ranvier hingga membuag kedua orangtua Tomi tertawa.


" Ga ada lagi, cuma itu aja kok...," sahut ayah Tomi di sela tawanya.


" Oh syukur lah. Terus gimana Bang, jadi kan Kita jalan ke Gili Trawangan...?" tanya Ranvier sambil menoleh kearah Tomi.


" Jadi dong. Abang juga ngajak temen-temen Abang yang paham daerah sana biar tambah seru. Gapapa kan Vier...?" tanya Tomi.


" Gapapa Bang. Lebih banyak orang kan lebih seru...," sahut Ranvier antusias.

__ADS_1


" Siapa yang Kamu ajak Tom...?" tanya ayah Tomi.


" Bayu sama Erik Pak...," sahut Tomi.


" Oh mereka. Bapak setuju, mereka anak yang baik dan bertanggung jawab. Insya Allah mereka juga akan bantu menjaga Ranvier nanti...," kata ayah Tomi.


" Iya Pak...," sahut Tomi.


" Tapi Aku bukan anak kecil lagi Pak. Aku ga perlu dijagain kok...," protes Ranvier.


" Bukan dijagain kaya anak kecil Vier. Tapi mengawasi Kamu dari jauh supaya ga tersesat atau celaka. Kamu kan bukan orang sini, pasti perlu orang asli sini untuk penunjuk jalan sekaligus memberi tahu tempat mana aja yang bagus untuk dikunjungi oleh anak seusia Kamu...," kata ayah Tomi menjelaskan.


" Oh gitu. Kalo itu tujuannya Aku sih setuju aja. Makasih ya Pak Bu...," kata Ranvier dengan tulus.


" Sama-sama...," sahut kedua orangtua Tomi bersamaan.


" Ya udah siap-siap sana. Jangan sampe kesiangan, ga enak...," kata ibu Tomi mengingatkan.


" Siap Bu...!" sahut Tomi dan Ranvier bersamaan sambil bersikap hormat ala tentara.


Aksi Tomi dan Ranvier membuat ibu Tomi tertawa.


Kemudian Ranvier dan Tomi bergegas masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Tak lama kemudian keduanya keluar dari kamar sambil membawa tas berisi pakaian ganti.


\=\=\=\=\=


Ranvier dan rombongan tiba di Gili Trawangan saat tengah hari. Mereka memutuskan mampir ke masjid Baiturrahman untuk menunaikan sholat Dzuhur lebih dulu.


Usai sholat Dzuhur, rombongan yang terdiri dari empat orang itu nampak duduk di teras masjid.


" Jadi enaknya kemana nih Rik...?" tanya Bayu.


" Kita makan siang aja dulu, terus penangkaran kura-kura. Abis itu baru snorkeling atau surfing. Kan udah ga terlalu panas tuh, jadi enak. Lebih seru juga...," sahut Erik.


Ranvier, Bayu dan Tomi nampak mengangguk setuju.


" Kita bisa berkuda juga kan Rik ?. Gue penasaran pengen ngerasain sensasinya berkuda di pinggir pantai. Maklum lah kalo norak. Kan biasanya Kita berkuda di ladang dan jalan kampung...," kata Bayu sambil nyengir.


" Bisa, kenapa ga...," sahut Erik cepat.


" Sebentar deh Bang. Wahana yang mau Kita coba banyak banget. Emang cukup waktunya dari siang sampe sore...? " tanya Ranvier.


" Ga cukup Vier. Kita nginep aja di sini ntar ya. Jadi Lo bisa sekalian liat pemandangan di sini saat malam hari. Gimana Vier...?" tanya Erik.


" Wah seru dong. Gue mau Bang...!" sahut Ranvier antusias.


Tomi, Bayu dan Erik pun tersenyum melihat ekspresi Ranvier.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2