
Ranvier merasa bahagia saat bisa menghabiskan waktu seharian bersama Tomi dan dua temannya. Rasa lelah yang ia rasakan seolah memudar begitu saja seiring canda tawa yang terlontar dari Tomi, Bayu dan Erik.
Melihat kebahagiaan di wajah Ranvier membuat Tomi tersenyum puas.
" Kenapa senyum-senyum sendiri, sakit Lo...?" tanya Erik.
" Siapa bilang Gue sakit. Gue nih lagi seneng ngeliat Ranvier ketawa terus daritadi. Keliatannya dia happy banget. Iya ga sih...?" tanya Tomi sambil menoleh kearah Erik.
" Iya. Kata Lo dia anak orang kaya. Tapi kenapa dia kaya ga pernah libur kemana-mana gitu sih Tom...?" tanya Erik.
" Jangan salah Rik. Liburannya Ranvier mah bukan di luar kota atau dalam negeri kaya Kita. Ranvier tuh liburannya keluar negeri, paling deket ya ke Singapura...," sahut Tomi cepat.
" Oh ya. Terus kenapa kata Lo dia keliatan happy banget hari ini...?" tanya Erik tak mengerti.
" Mungkin karena baru kali ini dia liburan bareng sama orang yang ngerti maunya dia. Biasanya kan Ranvier liburan ditemenin Kakeknya. Yah, tau sendiri lah kalo orangtua nemenin bocah main. Pasti banyak ga bolehnya. Jadi Ranvier jarang bisa mengeksplor apa pun di tempat liburan. Beda pas liburan sama Kita...," sahut Tomi.
" Oh gitu...," kata Erik.
" Betul Bang. Gue emang baru kali ini ngerasa benar-benar liburan. Bisa nyobain semua wahana tanpa harus denger ocehan khawatir Kakek...," kata Ranvier tiba-tiba.
Tomi dan Erik pun menoleh lalu tersenyum. Ranvier nampak kembali sambil membawa sesuatu di tangannya. Di belakangnya Bayu nampak membantu membawa barang yang serupa.
" Apaan tuh...?" tanya Erik.
" Kaos Bang. Ada beberapa warna dan model. Gue mau Kita pake ini selama di sini. Sengaja samaan, biar pas di foto keliatan kalo Kita lagi ada di Gili Trawangan. Kan seru tuh Bang...," sahut Ranvier.
Jawaban Ranvier membuat Tomi dan Erik membulatkan mata. Sedangkan Bayu nampak tersenyum bangga.
" Ayo lah Bro, ini udah dibeli sama Ranvier. Lagian barang yang udah dibeli kan ga mungkin dibalikin. Ga ada salahnya juga Kita nyenengin bocah...," kata Bayu sambil melempar kaos di tangannya kearah Tomi dan Erik.
" Gue bukan bocah Bang...!" protes Ranvier sambil cemberut hingga membuat Tomi, Bayu dan Erik tertawa keras.
" Iya iya bukan bocah. Terus yang ngajakin semua pake kaos samaan kaya anak kecil siapa ya...," gurau Tomi sambil mencibir.
Gantian Ranvier yang tertawa. Tapi ia senang karena ternyata Tomi, Bayu dan Erik tak keberatan sama sekali dengan idenya itu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Keesokan harinya Ranvier dan rombongan telah tiba kembali di rumah orangtua Tomi. Setelah memastikan Ranvier baik-baik saja, Erik dan Bayu pun pamit pulang ke rumah masing-masing.
" Wah, seneng banget ya yang abis jalan-jalan...," sapa ibu Tomi dengan ramah.
" Iya dong Bu...," sahut Ranvier.
" Ya udah masuk sana. Mandi, ganti baju terus makan. Jangan lupa sholat Ashar yaa...," pesan ibu Tomi sambil berlalu.
" Iya. Lho, Ibu mau kemana ?, kok jalan ke sana...?" tanya Ranvier.
" Mau ngambil uang bayaran waktu jadi buruh panen di ladang kemarin Vier...," sahut ibu Tomi sambil berlalu.
" Jadi buruh di ladang...?" tanya Ranvier tak percaya.
" Di sini mah kaya gitu udah biasa Vier. Yang punya ladang pasti kewalahan kalo sayurannya ga cepet dipanen. Mubazir juga karena keburu busuk. Makanya mereka ngajak tetangga buat bantuin. Upahnya dibayar setelah panen selesai atau setelah sayuran laku di pasar. Ibu adalah salah satu tetangga yang ikut ngebantuin...," sahut Tomi.
" Oh gitu. Ya udah deh, Aku duluan yang mandi Bang...," kata Ranvier.
" Ok. Kalo udah selesai bilang ya. Abang di depan rumah nyari angin...," kata Tomi.
Lima belas menit kemudian Ranvier selesai mandi dan berganti pakaian. Ranvier pun keluar dari kamar lalu melangkah menemui Tomi di teras depan rumah.
Saat itu ekor mata Ranvier tak sengaja melihat gulungan berwarna hitam bermotif kuning di atas kursi. Awalnya Ranvier tak terlalu memperdulikannya karena mengira itu adalah kain panjang milik ibu Tomi yang digunakan untuk mengangkut sayuran kemarin.
Namun saat langkah Ranvier hampir mencapai pintu, Ranvier terusik karena melihat gulungan kain hitam itu bergerak disertai suara mendesis.
Ranvier pun berhenti melangkah lalu menajamkan penglihatannya kearah gulungan kain hitam bermotif kuning itu. Dan Ranvier pun terkejut saat menyadari gulungan hitam itu bukan kain tapi ular !.
" Ulaaaarrr...!" kata Ranvier lantang sambil lari keluar rumah.
Suara lantang Ranvier membuat Tomi dan ayahnya yang sedang berbincang di teras rumah terkejut.
" Dimana ada ular Vier...?!" tanya ayah Tomi.
__ADS_1
" Di dalam Pak, di atas kursi. Warnanya hitam lagi melingkar gitu. Hiiiyy...," sahut Ranvier sambil bergidik.
Tomi dan ayahnya pun bergegas masuk ke dalam rumah dan melihat seekor ular tengah bergerak turun menuju lantai.
" Masya Allah, ularnya gede banget Pak...!" kata Tomi lantang.
" Sssttt..., ga usah ribut Tom. Coba Kamu cari kayu dan karung di belakang rumah terus bawa ke sini...," kata ayah Tomi.
" Iya Pak...!" sahut Tomi cepat lalu bergegas pergi ke belakang rumah untuk mengambil dua benda yang diminta sang ayah.
Sementara itu Ranvier hanya berdiri di teras rumah sambil menatap nanar ke dalam rumah. Saat itu ibu Tomi pun tiba dan bingung melihat Ranvier berdiri mematung di teras rumah.
" Ngapain berdiri di sini Vier, Tomi mana ? Kamu udah makan belum...?" tanya ibu Tomi sambil bersiap masuk ke dalam rumah.
Bukannya menjawab pertanyaan ibu Tomi, Ranvier justru menarik tangan wanita itu dan membawanya menjauh dari ambang pintu.
" Jangan masuk dulu Bu...," kata Ranvier sambil mencekal tangan ibu Tomi.
" Lho, emangnya kenapa Vier...?" tanya ibu Tomi tak mengerti.
" Ada ular Bu, gede banget...," sahut Ranvier.
" Ular ?, dimana...?!" tanya ibu Tomi panik.
" Di dalam rumah Bu. Tuh lagi diakalin sama Bapak dan Bang Tomi...," sahut Ranvier.
" Lepasin Vier, Ibu mau liat...," kata ibu Tomi sambil menepis cekalan tangan Ranvier.
Ranvier tak bisa berbuat apa-apa karena wanita itu memaksa. Namun saat ibu Tomi tiba di ambang pintu rumah, wanita itu justru menjerit sekencang-kencangnya.
" Waaaa...! ulaaarrr...!" jerit ibu Tomi dengan lantangnya hingga membuat semua orang terkejut.
Tomi dan ayahnya pun terkejut mendengar jeritan sang ibu. Bahkan saking terkejutnya, keduanya tak sengaja melepaskan karung berisi ular besar yang sudah tertangkap tangan tadi. Alhasil ular yang semula tertangkap pun kembali lepas.
Rupanya tak hanya Tomi dan ayahnya yang terkejut, hewan melata itu juga terkejut mendengar jeritan ibu Tomi. Ular itu pun nampak bergerak lalu mengangkat kepalanya seolah siap menyerang siapa saja yang mencoba mengusiknya.
__ADS_1
Di luar rumah beberapa tetangga berdatangan mendengar jeritan ibu Tomi tadi. Ranvier pun dibuat bingung karena tak mengerti bahasa yang mereka gunakan saat bertanya padanya.
\=\=\=\=\=