
Kedua orangtua Tissa nampak duduk di hadapan Ranvier dan ibu Tomi. Bapak Tissa tampak salah tingkah karena sadar telah melakukan sesuatu yang tak masuk akal.
" Jadi begini Nak. Tolong bilang sama Pak Daeng kalo Kami setuju untuk melepaskan Tissa. Mudah-mudahan Pak Daeng sudi membantu Kami menyelesaikan prosesnya karena Kami kan ga ngerti gimana caranya. Bukan begitu Pak...?" tanya ibu Tissa.
" Iya Bu...," sahut bapak Tissa dengan enggan.
" Sebentar ya Bu. Saya coba hubungi beliau dulu...," kata Ranvier.
" Silakan Nak...," sahut ibu Tissa.
Setelah beberapa saat mencoba, akhirnya Ranvier berhasil menghubungi Daeng Payau melalui sambungan video call lagi.
" Ya, gimana Vier...?" tanya Daeng Payau.
" Insya Allah kedua orangtua Kak Tissa mau melepaskan Kak Tissa Paman. Tapi mereka ga tau caranya dan minta bantuan Paman...," sahut Ranvier hingga membuat Daeng Payau tersenyum.
" Soal itu ga usah khawatir. Insya Allah Saya siap membantu...," kata Daeng Payau.
" Alhamdulillah...," gumam ibu Tissa sambil tersenyum lebar.
" Tolong tanyakan apa dan kapan mau dilakukan Nak...?" tanya bapak Tissa setengah berbisik.
Sebelum Ranvier menyampaikan pesan bapak Tissa, Daeng Payau telah lebih dulu menjawab.
" Kita lakukan secepatnya Pak. Sekarang juga bisa...," sahut Daeng Payau cepat.
" Oh ya. Gimana caranya Pak...?" tanya bapak Tissa.
" Kalo memungkinkan, sebelumnya cuci dulu kulit kepala Tissa itu dengan air dan sabun. Tapi kalo khawatir merusak atau menghancurkannya, lebih baik ga usah. Bungkus aja kulit kepala Tissa itu dengan kain putih atau kain bersih. Setelah itu Kita pergi ke makam Tissa. Jangan lupa bawa kulit kepala Tissa juga ya Pak...," sahut Daeng Payau.
" Baik Pak. Tunggu sebentar ya. Saya mau mastiin kalo kulit kepala Tissa bisa dicuci dengan air atau ga...," kata bapak Tissa sambil mengeluarkan bagian tubuh Tissa itu dari dalam peti.
Setelah menatap sejenak potongan kulit kepala Tissa, bapak Tissa nampak bergegas pergi ke dapur untuk mencuci kulit kepala Tissa.
" Kalo gitu Kami pulang dulu ya Bu. Urusan ke makam Tissa biar Bapaknya Tomi yang mengantar nanti...," pamit ibu Tomi.
" Iya Bu. Makasih ya, maaf udah ngerepotin...," kata ibu Tissa.
" Jangan bilang gitu Bu. Saya melakukannya ikhlas kok. Lagian Saya juga kasian sama almarhumah Tissa. Ga nyangka dia masih gentayangan karena nunggu potongan kulit kepalanya untuk dikubur juga...," kata ibu Tomi.
" Iya Bu. Untung ada Nak Ranvier dan gurunya yang ngasih tau. Kalo ga, Saya dan keluarga Saya berdosa dong. Andai ini ga terungkap, mungkin Saya bakal bawa dosa ini sampe Saya mati nanti...," sahut ibu Tissa sambil tersenyum kecut.
Ibu Tomi dan Ranvier pun saling menatap kemudian tersenyum. Setelahnya keduanya bergegas pulang untuk menjemput Tomi dan bapaknya.
Sementara itu Ibu Tissa menyusul suaminya ke dapur dan melihat jika sang suami hanya memercikkan air ke potongan kulit kepala Tissa.
__ADS_1
" Apa ga bisa dicuci Pak...?" tanya ibu Tissa.
" Ga bisa Bu. Bapak khawatir kulitnya hancur karena ini udah rapuh banget. Dipercikin air aja biar syaratnya terpenuhi. Kan dalam Islam jenasah yang mau dimakamkan harus dimandikan dulu...," sahut bapak Tissa sedih.
" Iya Pak...," sahut ibu Tissa dengan mata berkaca-kaca.
" Maafin Bapak ya Bu. Bapak udah bikin keluarga Kita berantakan...," kata bapak Tissa sambil menoleh kearah istrinya.
" Keluarga Kita ga berantakan Pak. Cuma hampir hancur aja...," sahut ibu Tissa setengah bergurau.
" Ck, sama aja dong Bu...," kata bapak Tissa sambil berdecak sebal namun membuat sang istri tersenyum.
" Sekarang Kita fokus aja sama Tissa dulu ya Pak. Urusan itu Kita bahas nanti...," kata ibu Tissa yang diangguki sang suami.
Sepasang suami istri itu melanjutkan aksi mereka mengurus potongan kulit kepala Tissa. Mereka tak menyadari arwah Tissa hadir dan tersenyum melihat apa yang keduanya lakukan.
\=\=\=\=\=
Satu jam kemudian Ranvier, Tomi dan ayahnya nampak kembali ke rumah Tissa. Di sana mereka disambut dengan ramah oleh kedua orangtua Tissa.
" Gimana Pak, udah siap...?" tanya bapak Tomi.
" Iya Pak...," sahut bapak Tissa.
Kemudian kelima orang itu berjalan kaki menuju pemakaman desa yang terletak tak jauh dari rumah orangtua Tissa.
Saat tiba di pemakaman desa, suasana nampak sepi. Pemakaman yang ditumbuhi pohon beringin besar itu nampak sejuk namun sedikit menyeramkan.
Kedua orangtua Tissa nampak bergegas menghampiri makam Tissa seolah tak sabar untuk segera bersua dengan sang anak. Tomi dan ayahnya nampak terharu dan hanya diam sambil mengekori mereka. Sedangkan Ranvier berupaya melakukan sambungan video call lagi dengan Daeng Payau.
" Kita udah di makam Kak Tissa, Paman...," kata Ranvier saat wajah Daeng Payau terlihat di layar ponsel.
" Iya Vier. Sekarang tolong dekatkan ponsel ini ke bagian nisan ya. Biar Paman yang memimpin prosesi penanaman potongan kulit kepala Tissa...," pinta Daeng Payau.
" Baik Paman...," sahut Ranvier lalu mengarahkan layar ponselnya ke nisan Tissa.
" Apa Kita perlu membongkar makam Tissa untuk nguburin potongan kulit kepalanya itu Paman...?" tanya Tomi tiba-tiba.
" Ga perlu Tom. Cukup buat lobang kecil aja. Ga usah terlalu dalam yang penting cukup untuk meletakkan potongan kulit kepala Tissa itu...," sahut Daeng Payau.
" Baik Paman...," kata Tomi sambil mengangguk.
Tomi pun selesai mengubur potongan kulit kepala Tissa. Kemudian Daeng Payau memimpin doa dan yang lain mengaminkan.
Doa yang dibaca terdengar aneh di telinga semua orang. Namun mereka percaya jika doa yang dibacakan Daeng Payau akan membantu Tissa pergi ke tempat yang seharusnya dengan tenang.
__ADS_1
" Subhanna robbika robbil izzati amma yasifuun, wasalamun alal mursalin. Walhamdulillahi robbil'alamiin...," kata Daeng Payau di akhir doanya.
" Aamiin aamiin yaa Robbal'alamiin..., " sahut semua orang bersamaan.
" Apa udah selesai Paman...?" tanya Ranvier.
" Iya Vier...," sahut Daeng Payau cepat.
" Apa setelah ini Kak Tissa ga akan menampakkan diri dan mengganggu orang lagi...?" tanya Ranvier.
" Insya Allah. Kenapa, Kamu ga percaya...?" tanya Daeng Payau.
" Bukan begitu Paman. Soalnya Aku masih ngeliat hantu Kak Tissa di dekat pohon beringin itu...," sahut Ranvier sambil berbisik.
Daeng Payau tersenyum maklum. Ia memang melihat penampakan Tissa di tempat yang dimaksud Ranvier.
" Dia hanya ingin mengucapkan sesuatu. Coba dengarkan baik-baik. Mungkin ada pesan yang ingin dia sampaikan...," kata Daeng Payau.
Ranvier mengangguk lalu memberanikan diri menatap arwah Tissa yang kini tampil dengan kondisi jauh lebih baik.
Ranvier nampak menyimak apa yang diucapkan arwah Tissa sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali. Hal itu tentu saja membuat Tomi terheran-heran.
" Ada apaan Vier...?" tanya Tomi.
" Kata Paman Daeng, Kak Tissa bilang terima kasih dan janji ga akan mengganggu lagi. Kak Tissa bilang titip salam untuk Bapak, Ibu juga Bang Badrun. Kak Tissa ga marah Bang Badrun menikahi wanita lain. Dia justru bahagia melihat Bang Badrun bahagia...," sahut Ranvier.
Ucapan Ranvier membuat kedua orangtua Tissa terharu dan kembali menitikkan air mata.
Ranvier pun menoleh dan tersenyum saat Tissa mengucapkan selamat tinggal padanya. Setelah itu wujud Tissa berubah menjadi gumpalan cahaya terang benderang yang melesat cepat ke langit. Ranvier pun menatap kepergian Tissa sambil mengucap hamdalah dalam hati.
\=\=\=\=\=
Ranvier nampak bahagia karena berhasil membantu Tissa. Tanpa sadar Ranvier bernyanyi kecil bahkan bersiul-siul di dalam kamar. Suara siulan Ranvier terdengar nyaring hingga membuat kedua orangtua Tomi khawatir.
Tomi yang baru saja kembali dari luar rumah pun terkejut melihat kedua orangtuanya berdiri di depan kamar.
" Lho, ada apa Pak Bu...?" tanya Tomi.
" Itu Ranvier...," sahut ibu Tomi.
" Emangnya Ranvier kenapa Bu...?" tanya Tomi.
Ibu Tomi belum sempat menjawab saat suara siulan Ranvier kembali terdengar menggema di rumah itu. Tomi pun membulatkan mata sambil menatap nanar kearah kedua orangtuanya.
bersambung
__ADS_1