Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
165. Nama Untuk Bayi Arcana


__ADS_3

Setelah beberapa saat menikmati pemandangan dari ketinggian, Nada pun menoleh kearah Barong.


" Apa dia mati...?" tanya Nada penasaran.


" Hrrrhhh...," sahut Barong sambil mengangguk.


" Kasian...," gumam Nada hingga membuat Barong menoleh lalu melompat cepat ke hadapan Nada.


Nada tersenyum melihat wajah Barong yang menyiratkan tanda tanya.


" Kenapa ?. Apa Aku ga boleh kasian sama mantan temanku itu...?" tanya Nada.


" Hrrrhhh...," sahut Barong sambil menggelengkan kepalanya hingga membuat Nada tertawa.


Setelah tawanya mereda Nada pun mulai menceritakan hubungannya dengan Kalong. Nada tak peduli Barong mengerti atau tidak dengan ucapannya.


" Aku ketemu Kalong di jalan waktu Aku kabur dari rumah. Dia dan dua temannya malak Aku tapi sayangnya gagal. Setelah tau Aku punya kemampuan bela diri, Kalong justru ngajak Aku bergabung. Saat itu Aku ga punya pilihan karena Aku butuh teman dan tempat tinggal...," kata Nada mengawali ceritanya.


Barong hanya diam mendengarkan cerita Nada. Ia nampak menatap Nada sambil mengamati perubahan ekspresi wajah tuannya.


" Tapi Aku sama Kalong ternyata beda prinsip. Kalo Aku lebih suka malak orang berduit dan sombong, tapi Kalong malah suka malak kaum lemah dan miskin. Karena itu Aku pergi dan itu bikin dia marah. Apalagi Kami kerap bertemu saat Aku menyelamatkan orang-orang yang dia palak. Kalong dendam dan berusaha menjebak Aku. Dia bahkan tega menjual Aku pada seorang laki-laki. Waktu itu Aku berhasil kabur. Aku langsung menghajar Kalong sampe dia terkapar dan hampir mati. Tapi rupanya Kalong ga kapok juga. Sekarang dia malah datang dan mencoba memeras Aku. Ditawarin kerjaan biar ga jadi preman lagi, ga mau. Akhirnya justru tragis kan. Dia mati sebelum sempet bertobat...," kata Nada sambil mendengus kesal.


Barong mengulurkan tangannya yang dihiasi kuku panjang hitam itu lalu menepuk pundak Nada dengan lembut. Meski pun tepukan itu terasa sedikit aneh dan membuat tak nyaman, namun Nada tetap tersenyum. Ia tahu jika Barong sedang berusaha menghiburnya.


" Iya, makasih Barong...," kata Nada dengan tulus.


" Ki... ta harus perrr... gi sekarrr... rang...," kata Barong terbata-bata.


" Tapi Aku masih betah di sini. Bisa kan kalo Kita di sini sebentar lagi...," pinta Nada penuh harap.


" Hrrrhhh...," sahut Barong sambil menggelengkan kepala.


" Ayo lah Barong. Aku... Aku merindukan Suamiku...," kata Nada lirih dan nyaris tak terdengar.


Barong tersentak kaget lalu menatap Nada sejenak. Setelahnya ia mengangguk lalu bergeser menjauh untuk memberi Nada kesempatan mengurai rasa rindunya pada sang suami.

__ADS_1


Dari jarak lima belas meter Barong terus mengawasi Nada. Ia tersenyum melihat Nada bicara seorang diri sambil menatap matahari terbenam.


\=\=\=\=\=


Arcana pulih dengan cepat. Itu karena motivasi yang diberikan semua orang termasuk Ranvier.


Saat ini Ganesh masih belum bisa bergerak bebas karena kedua kakinya lumpuh. Hanya sementara dan itu membuat Ganesh tak terlalu khawatir. Bahkan walau setelah ini Ganesh divonis tak bisa lagi memiliki keturunan akibat dari penyiksaan yang ia terima saat ditawan tempo hari, Arcana tak peduli. Baginya memiliki Ganesh dan ketiga anak mereka saat ini lebih dari cukup. Keduanya bertekad untuk membesarkan ketiga buah cinta mereka bersama-sama.


Dan kini Ranvier tengah duduk bersama Kyai Ranggana sambil mengamati kebahagiaan Arcana dan keluarga kecilnya itu.


" Aku pamit sekarang Kyai...," kata Ranvier membuka suara.


" Iya Nak, Aku tau. Aku mau mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas semua bantuan yang Kamu berikan. Maaf jika telah membuat pesta pernikahanmu terganggu. Tolong sampaikan terima kasihku juga untuk Istrimu ya...," kata Kyai Ranggana dengan tulus.


" Insya Allah Kyai...," sahut Ranvier sambil tersenyum.


" Dan terima lah ini. Ada sedikit hadiah pernikahan juga di sana khusus untuk Istrimu...," kata Nyai Ranggana sambil menyerahkan kotak kayu berukir sebesar telapak tangan orang dewasa.


" Apa ini Nyai...?" tanya Ranvier.


" Bukan apa-apa. Hanya kenang-kenangan dan ungkapan terima kasih. Jangan dibuka di sini Nak, itu akan membuatku malu nanti...," sahut Nyai Ranggana sambil tersenyum.


" Apa Kamu pergi sekarang Ranvier...?" tanya Ganesh sambil mendekat kearah Ranvier dibantu dua orang pengawal.


" Iya Ganesh. Melihat kebersamaan Kalian membuatku rindu pada Istriku dan ingin segera memeluknya...," sahut Ranvier.


" Hanya memeluknya...?" gurau Ganesh.


" Tentu saja ada hal lain yang harus Kami lakukan nanti...," sahut Ranvier cepat hingga membuat semua orang tertawa.


Arcana maju sambil menggendong satu bayinya, sedangkan dua bayi lainnya di letakkan di tempat tidur bayi di samping Kyai Ranggana duduk.


" Kalo Nada marah Kamu jangan ikutan marah ya Vier. Wajar kalo dia marah karena Kamu pergi di saat malam pengantin Kalian. Maafkan Kami telah membuatmu berada di posisi yang sulit. Andai Aku bisa, Aku sendiri yang akan datang untuk minta maaf padanya...," kata Arcana dengan mata berkaca-kaca.


" Iya Arcana, Aku tau...," sahut Ranvier sambil tersenyum.

__ADS_1


" Sampaikan salamku untuknya ya. Mungkin Kita bisa jadi saudara yang sesungguhnya suatu hari nanti...," pinta Arcana sambil tersenyum penuh makna hingga membuat Ranvier membulatkan matanya.


" Kamu ga sedang memesan calon menantu kan Arcana...," kata Ranvier.


" Calon menantu apa Ranvier ?, kenapa Aku ga ngerti apa yang Kalian bicarakan..., " sela Ganesh sedikit kesal.


Ucapan Ganesh membuat semua orang kembali tertawa. Arcana pun memeluk suaminya dan menjelaskan semuanya.


" Kita punya dua anak laki-laki dan satu anak perempuan kan Sayang. Jadi ga ada salahnya kalo menjodohkan salah satu diantara mereka dengan anak Ranvier kelak. Aku pikir seru juga kalo Kita besanan sama Ranvier dan Istrinya...," kata Arcana sambil melirik Ranvier.


" Wah, ide bagus Sayang. Aku setuju...!" sahut Ganesh antusias.


" Hei hei... tunggu. Kenapa main setuju aja. Aku belum minta pendapat Istriku tentang ini. Lagian belum tentu Anak-anak Kita mau dijodohkan..., " kata Ranvier kesal namun membuat semua orang tertawa.


" Sebelum Kamu pergi, bisa kah Kamu memberi nama pada ketiga Anakku Ranvier...? " tanya Arcana tiba-tiba.


" Eh, kenapa Aku ?. Ganesh kan Ayahnya. Apa kata orang kalo Anak Kalian justru dinamai olehku dan bukan oleh Ganesh atau Kyai Ranggana...," sahut Ranvier tak enak hati.


" Kamu ga usah khawatir Ranvier, Aku ga keberatan kok. Kami sudah sepakat menggunakan nama pemberianmu untuk ketiga Anak Kami ini sebagai pengingat bahwa Kamu telah berjasa dalam hidup Kami. Bukan begitu Ayah...," kata Ganesh sambil menatap Kyai Ranggana.


" Iya Nak, Ayah setuju...," sahut Kyai Ranggana yang diangguki istrinya.


Setelah berpikir sejenak, Ranvier pun mendapatkan tiga nama untuk ketiga bayi Arcana dan Ganesh.


" Yang ini Gara dan Saga. Dan yang ini Artha. Apa Kalian setuju...?" tanya Ranvier sambil meraih jemari bayi perempuan dalam gendongan Arcana.


" Nama yang bagus. Tentu saja Kami setuju. Iya kan Sayang...?" tanya Arcana antusias.


" Iya Sayang. Gara, Saga, Artha. Hmmm..., nama yang indah dan unik. Terima kasih Ranvier...," kata Ganesh sambil tertawa bahagia lalu memeluk Ranvier erat.


" Sama-sama. Sekarang Aku harus pergi. Selamat tinggal semuanya...," kata Ranvier.


" Selamat jalan...," sahut semua orang bersamaan.


Ranvier tersenyum sambil melambaikan tangan. Kali ini ia tak perlu pergi ke gerbang dimensi. Ia bisa melakukannya di sini, di taman istana Kyai Ranggana.

__ADS_1


Ranvier pun memejamkan mata sambil tersenyum. Sedetik kemudian ia telah tiba di tempat yang selalu ia rindukan yaitu rumah Kakek Randu.


\=\=\=\=\=


__ADS_2