Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
157. Pingitan Urung


__ADS_3

Perkiraan Nada jika Soni akan mudah dibujuk ternyata salah besar. Rupanya Soni memang telah bertekad menyakiti Nada. Bahkan ia berniat 'merusak' Nada yang sebentar lagi akan dinikahi Ranvier itu.


Tanpa Nada sadari, makanan yang diberikan Soni telah dibubuhi sejenis obat peran**ang dan itu membuat Nada menjadi sosok wanita yang berbeda. Nada yang biasanya gesit itu pun jadi lamban bergerak.


Nada memang berhasil melumpuhkan Soni. Namun saat Nada hendak keluar dari rumah itu, Soni yang tersungkur di lantai pun berhasil menangkap pergelangan kakinya. Akibatnya keduanya sama-sama jatuh tersungkur dengan posisi saling meni*dih.


Obat perang**ng yang tercampur makanan pun nampaknya mulai bekerja hingga membuat tubuh Nada lemas tak bertenaga. Nafasnya pun memburu diiringi rasa panas yang membuatnya gerah.


" Ternyata Kamu cantik juga ya Nada. Harusnya Saya makan Kamu dan bukan si Ayu jal*ng itu...," kata Soni sambil tersenyum penuh makna.


" Lepaskan sia*an...!" maki Nada lantang saat merasakan tangan Soni mulai menyusup ke balik pakaiannya.


" Ga akan !. Saya harus bikin semua orang yang membuat Saya menderita juga ikut merasakan penderitaan Saya...!" kata Soni.


" Siapa maksudmu...?! " tanya Nada sambil menendang Soni dengan keras hingga pria itu terjengkang di lantai.


" Ayu udah bikin Saya kehilangan pekerjaan dan masa depan Saya. Wijaya juga sudah membuat Saya miskin karena kehilangan semuanya. Jadi layak rasanya membuat Kamu, satu-satunya penerus Wijaya menderita dan kehilangan masa depan seperti Saya...!" kata Soni lantang lalu mulai menghambur ke depan dan memeluk Nada yang sudah lemah tak berdaya itu.


Untuk pertama kalinya dalam hidupnya Nada merasa sangat putus asa. Saat itu ia tak bisa leluasa menggerakkan tubuhnya. Seluruh persendian di tubuhnya terasa melemah. Air mata mulai mengembang di kedua matanya saat Soni mulai menciuminya dengan brutal. Nada hanya bisa memejamkan mata sambil menggigit bibirnya karena tak sanggup membayangkan dirinya dilecehkan lebih jauh oleh Soni nanti.


Dalam keputus asaannya Nada berdoa, berharap keajaiban terjadi. Dan saat ia merasa tubuh Soni mulai menghimpitnya, ia melihat sebuah sinar keperakan melesat cepat diantara Soni dan dirinya hingga membuat pria itu terpental jauh. Soni menjerit saat tubuhnya melayang lalu terhempas keras menabrak dinding.


" Ya Allah, sinar apa itu tadi...," gumam Nada sambil berusaha bangkit dan merapikan pakaiannya yang tersibak.


Tiba-tiba terdengar suara daun pintu yang terhempas ke lantai dengan keras akbat tendangan Ranvier membuat Nada terkejut sekaligus senang.


" Nada...!" panggil Ranvier sambil menggapai Nada lalu memeluknya erat.


Nada tak kuasa menahan tangis. Ia mengatakan sesuatu yang tak Ranvier mengerti. Ranvier hanya mengangguk sambil berusaha menenangkan Nada.


Kemudian Ranvier menoleh kearah Soni yang saat itu tergeletak mengenaskan di atas lantai. Ranvier juga melihat sinar keperakan yang melayang tak jauh dari tubuh Soni. Saat itu Ranvier paham jika Damar lah yang telah menuntunnya ke tempat dimana Nada disekap.


" Terima kasih Pak Damar...," kata Ranvier.


" Sama-sama Ranvier. Sudah sepatutnya Aku membantumu menjaganya. Toh sebentar lagi Kalian akan menjadi keluarga dan artinya dia juga akan jadi bagian dari keluarga Kami...," sahut Damar bijak.


" Insya Allah jika memungkinkan, Aku akan mengenalkan dia ke keluarga Kyai Ranggana nanti. Sekali lagi terima kasih Pak Damar. Tolong sampaikan salamku untuk Kyai Ranggana dan keluarga...," kata Ranvier sambil tersenyum.

__ADS_1


Damar mengangguk sambil tersenyum lalu segera melesat pergi meninggalkan tempat itu.


" Kamu gapapa kan Sayang...?" tanya Ranvier ssmbil mengurai pelukannya.


" Aku..., badanku lemes dan ga bisa bergerak. Kayanya Aku dibius...," sahut Nada lirih.


" Kita bakal obati Kamu segera. Kamu sabar sebentar ya. Ngomong-ngomong, apa Kamu kenal dia...?" tanya Ranvier sambil melirik kearah Soni.


" Iya. Tolong jangan tanya lagi, sekarang bawa Aku pergi dari sini Sayang. Aku ga mau liat dia lagi...," pinta Nada lirih.


" Baik lah...," sahut Ranvier lalu dengan sigap menggendong Nada dan membawanya keluar dari rumah itu.


Di tempatnya Soni hanya bisa menatap kepergian Nada dan Ranvier dengan tatapan kosong. Rupanya Damar telah membuat tulang di seluruh tubuh Soni patah hingga pria itu sekarat. Dan sesaat setelah tubuh Ranvier lepas dari jangkauan matanya, Soni pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.


\=\=\=\=\=


Nada masih terbaring lemah di sebuah ruangan di Rumah Sakit. Di sampingnya Ranvier nampak menemaninya dengan setia. Sesekali Ranvier mengulurkan tangannya untuk mengusap kening Nada yang berkerut seolah gadis itu sedang bermimpi buruk.


" Tenang Sayang, Aku ada di sini. Aku ga akan biarin siapa pun mengganggu dan menyakitimu...," bisik Ranvier sambil mengecup kening Nada dengan lembut.


Nada tersentak lalu membuka matanya. Ia menghela nafas lega saat mendapati Ranvier di sisinya.


" Mmm...," sahut Nada sambil mengangguk.


Ranvier membantu Nada minum lalu membantu memperbaiki posisi duduk Nada.


" Apa masih ada yang sakit...?" tanya Ranvier.


" Ga ada, cuma lemes aja...," sahut Nada sambil tersenyum.


" Alhamdulillah. Itu artinya obat yang diberikan dokter memang baik dan cocok untuk Kamu...," kata Ranvier sambil merapikan anak rambut Nada.


" Ini..., mmm..., maksudku. Hari apa sekarang, berapa lama Aku tidur...?" tanya Nada.


" Sekarang hari Kamis. Kamu pingsan selama dua hari dua malam...," sahut Ranvier.


" Selama itu ?, dan selama itu juga Kamu nemenin Aku di sini...?" tanya Nada tak percaya.

__ADS_1


" Iya. Kenapa, kok bingung gitu...?" tanya Ranvier tak mengerti.


" Lusa Kita menikah. Apa masih boleh ketemuan. Padahal selama ini Kita harus menjalani proses pingitan. Kalo Kamu di sini selama dua hari ini, artinya Kita melanggar adat pingitan dong...," kata Nada sambil menundukkan wajahnya.


" Ini darurat Sayang. Aturan pingitan dibuat supaya calon pengantin ga ketemu dan berantem ngeributin hal yang ga penting. Untuk Kita beda. Gimana mau berantem atau ribut, kan Kamunya diculik terus pingsan dua hari dua malam...," sahut Ranvier sambil tersenyum lembut.


Nada pun ikut tersenyum lalu memberanikan diri memyentuh telapak tangan Ranvier.


" Kalo Aku minta Kamu tetap di sini sampe menjelang pernikahan Kita boleh ga...?" tanya Nada.


" Kasih Aku satu alasan kenapa Kamu minta Aku nemenin Kamu di sini...," kata Ranvier sambil menatap kedua mata Nada dengan lembut.


" Aku merasa jauh lebih aman dan nyaman saat bersamamu. Aku ga khawatir apa pun dan ga takut sama siapa pun saat ada Kamu...," sahut Nada mantap hingga membuat Ranvier tersenyum.


" Baik lah. Aku bakal di sini nemenin Kamu...," kata Ranvier sambil mendaratkan kecupan di kening sang kekasih.


" Makasih Sayang...," sahut Nada sambil menyandarkan tubuhnya di pelukan Ranvier.


" Sama-sama. Sekarang Kamu istirahat ya supaya tenagamu cepat pulih...," kata Ranvier yang diangguki Nada.


Sesaat setelah Nada berbaring, pintu ruangan pun terbuka. Kakek Randu,Wijaya dan Krisna nampak menghambur masuk lalu menyapa Nada. Gadis itu hanya tersenyum karena Ranvier lah yang tampil mewakilinya menjawab semua pertanyaan Kakek Randu dan Wijaya.


" Kalo begini jadi ga sabar buat nikahin Kalian. Bukan apa-apa, biar Saya tenang karena Nada aman, ada Ranvier yang jagain 24 jam...," kata Wijaya gusar.


" Aku setuju. Kenapa ga Kita nikahkan mereka sekarang aja...," sahut kakek Randu.


" Sebentar, maksud Kakek Aku sama Nada nikah siri gitu...?" tanya Ranvier.


" Betul...!" sahut Kakek Randu dan Wijaya bersamaan.


" Ga perlu Kek, Yah. Untuk apa. Kan dua hari lagi Kami menikah secara resmi...," kata Ranvier cepat.


" Tapi waktu dua hari bisa terjadi apa aja lho Vier. Apalagi sebenernya ini masih masa pingitan. Ayah ga mau Nada hamil sebelum ijab kabul...," sindir Wijaya.


" Astaghfirullah aladziim..., Aku ga mungkin ngelakuin itu Yah. Nada masih sakit dan Aku ga bakal tega maksa Nada melakukan itu...!" kata Ranvier gusar.


" Tapi setan kan bekerja dengan banyak cara Vier...," sahut Wijaya tak mau kalah.

__ADS_1


Perdebatan Ranvier dan Wijaya mau tak mau membuat kakek Randu dan Krisna tertawa. Sedangkan Nada hanya bisa terdiam dengan wajah merona karena malu mendengar ucapan ayahnya.


\=\=\=\=\=


__ADS_2