Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
80. Mau Pulang Pak ?


__ADS_3

Erwin segera meminta para karyawan menepi agar TKP tak rusak karena ulah para karyawan yang ingin membantu Aini. Saat itu Erwin tahu jika Aini telah meninggal dunia. Apalagi darah nampak mengalir entah dari luka yang mana.


Melihat kondisi tubuh Aini mustahil rasanya gadis itu bisa bertahan. Apalagi saat itu tubuh Aini dalam kondisi terlipat. Erwin dan semua karyawan hanya bisa bergidik ngeri membayangkan tulang Aini patah karena terlipat dalam posisi tak lazim seperti itu.


" Perhatian semuanya !. Pekerjaan Kita hentikan sekarang juga dan semua dimohon keluar. Mohon agar berhati-hati dan tetap tertib. Terima kasih...!" kata Erwin lantang sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada.


Para karyawan pun segera meletakkan pekerjaan mereka masing-masing di atas meja lalu perlahan keluar dengan tertib. Sementara Erwin dan security pabrik nampak mengawasi pergerakan karyawan termasuk mengamankan lokasi tempat jasad Aini berada.


" Aini, namanya Aini Pak...," kata security sambil membawa name tag milik Aini yang terletak tak jauh dari tubuhnya.


" Iya Saya tau. Dia salah satu karyawan baru di divisi ini...," sahut Erwin gusar.


" Karyawan baru, paling muda dan paling cantik. Bukan begitu Pak Erwin...?" tanya sang security sambil tersenyum penuh makna.


" Apa maksud Kamu ?. Kenapa Kamu ngomong kaya gitu...?" tanya Erwin tak suka.


" Maaf Pak. Saya cuma bercanda aja kok...," sahut sang security tak enak hati.


" Orang meninggal karena kecelakaan kerja adalah masalah serius. Kok bisa-bisanya Kamu tertawa seperti itu. Apa Kamu pikir ini lucu ?. Bayangkan jika ini terjadi sama keluarga Kamu. Pasti Kamu juga ga mau kalo kematian saudaramu dijadikan bahan candaan...!" kata Erwin marah.


" Maaf Pak, Saya salah...," sahut sang security sambil menundukkan kepala.


" Udah ga usah banyak ngomong. Saya muak liat Kamu, lebih baik Kamu di luar aja sana...!" usir Erwin kesal.


" Baik Pak...," sahut sang security yang kemudian diketahui bernama Aldi itu sambil menepi lalu melangkah keluar pabrik dengan cepat.


" Ck, dasar security aneh. Kalo ga punya rasa empaty lebih baik diam daripada ngomong hal ga guna kaya tadi...," gerutu Erwin sambil berdecak sebal.


Di samping Erwin tampak security lain tengah berdiri sambil mengamati jenasah Aini dengan seksama.


Satu jam kemudian beberapa polisi nampak memasuki kawasan pabrik. Setelah melakukan beberapa pengamatan dan pengecekan, jenasah Aini pun dievakuasi ke Rumah Sakit menggunakan Ambulans.


Erwin selaku kepala divisi tempat Aini bekerja pun terpaksa tertahan untuk beberapa waktu karena harus menjawab beberapa pertanyaan dari penyidik.

__ADS_1


" Terima kasih atas kerja samanya Pak Erwin. Untuk sementara ini cukup. Tapi Kami harap Anda ga keberatan saat Kami meminta keterangan tambahan nanti...," kata seorang polisi sambil menjabat tangan Erwin dengan erat.


" Sama-sama Pak, insya Allah Saya ga keberatan kok...," sahut Erwin sambil tersenyum.


" Kalo gitu Kami pamit. Selamat malam...," kata sang polisi diikuti semua rekannya.


" Selamat malam...," sahut Erwin.


Setelahnya para polisi dan petugas Rumah Sakit pun meninggalkan area pabrik. Kemudian Erwin melangkah gontai menuju kantor setelah beberapa karyawan pamit undur diri.


" Saya temani ya Pak biar ga iseng...," kata security bernama Galih dengan ramah.


" Abis ini Saya juga mau pulang kok. Saya ke dalam cuma mau ngambil tas aja. Tapi terima kasih udah mau nemenin Saya...," sahut Erwin.


" Sama-sama Pak. Kalo gitu Saya tunggu di sini ya Pak. Kalo ada apa-apa Bapak bisa teriak panggil Saya...," kata Galih.


" Saya ga bakal teriak Galih, Saya bukan penakut...," sahut Erwin sambil menggelengkan kepala.


" Iya Pak, maaf...," kata Galih tak enak hati.


Saat masuk ke dalam ruangan ber AC itu, hawa dingin datang menyergap seolah menyambut kehadiran Erwin. Hawa dingin yang tentu saja berbeda dengan hawa dingin AC yang menyambut kehadirannya.


" Ck, tumben merinding gini sih...," gumam Erwin sambil menggedikkan bahunya.


Kemudian Erwin bergegas keluar dari ruangan itu. Saat langkahnya hampir mencapai pintu, Erwin mendengar suara seorang wanita menyapanya.


" Mau pulang Pak...?" tanya wanita itu.


" Iya. Kamu...," ucapan Erwin terputus saat mengedarkan pandangannya namun tak menjumpai siapa pun di sana.


Erwin pun menghela nafas panjang karena sadar jika suara wanita yang menyapanya tadi mirip dengan suara Aini.


Erwin pun memutuskan melanjutkan langkahnya. Namun lagi-lagi ia terkejut karena mendengar suara seorang wanita menyapanya.

__ADS_1


" Mau pulang Pak...?" tanya wanita itu lagi.


Kali ini Erwin menoleh cepat tanpa menjawab. Dan Erwin melihat sosok Aini tengah berdiri di sela mesin foto kopi dan lemari dalam kondisi mengenaskan. Tubuhnya membungkuk, ada darah yang mengalir dari sela pakaiannya yang menunjukkan jika Aini terluka parah.


" Mau pulang Pak...?" tanya Aini dengan ramah.


Erwin menggelengkan kepalanya lalu mendengus kesal karena baru kali ini ia diganggu oleh 'sesuatu' yang tak kasat mata.


" Udah tiga taon lebih kerja di sini, baru sekarang Gue diganggu. Pergi Aini, tempatmu bukan di sini...!" kata Erwin lantang sambil mempercepat langkahnya.


Bukannya menuruti permintaan Erwin, sosok Aini yang diyakini Erwin sebagai hantu itu justru menangis.


" Hiks... hiks... hiks..., Saya harus pergi kemana Pak ?. Saya ga bisa kemana-mana. To... long ban... tu Sa... ya Paakkk...," kata sosok mirip Aini dengan terbata-bata.


Ucapan sosok mirip Aini itu membuat Erwin iba. Ia pun menoleh kearah sosok Aini berada namun sosok Aini tak ada lagi di sana, lenyap entah kemana. Erwin kembali mengedarkan pandangannya ke segala penjuru berharap bisa melihat sosok Aini lagi saat keluar nanti. Tapi sayang Erwin tak menjumpai siapa pun di sana. Padahal satu-satunya pintu keluar adalah pintu dimana ia berdiri.


" Pak Erwin, Pak Erwin...!" panggil Galih lantang sambil menghampiri Erwin.


" Eh, i... iya. Ada apa...?" tanya Erwin gugup.


" Pak Erwin gapapa kan...?" tanya Galih cemas.


" Saya gapapa kok. Kenapa Kamu nanya kaya gitu...?" tanya Erwin.


" Maaf Pak. Soalnya Saya liat Bapak malah berdiri melamun di sini. Saya kira Bapak lagi ngobrol sama seseorang. Tapi pas barusan Saya terima telephon dari Pak Amran, Saya tau kalo udah ga ada siapa-siapa di dalam kantor. Makanya Saya khawatir ngeliat Pak Erwin berdiri ga bergerak di sini...," sahut Galih cepat.


" Oh gitu. Emangnya Pak Amran bilang apa sama Kamu...?" tanya Erwin sambil menepi untuk memberi ruang pada Galih agar bisa mengunci pintu kantor.


" Pak Amran ngingetin Saya untuk ngunci pintu kantor. Soalnya gara-gara kejadian kecelakaan di pabrik tadi bikin semua karyawan kantor panik. Pak Amran yakin pintu kantor pasti belum dikunci karena yang pegang kunci keburu ketakutan denger kabar kecelakaan yang menyebabkan karyawan pabrik meninggal dunia tadi...," sahut Galih.


Erwin pun mengangguk tanda mengerti. Setelahnya ia dan Galih melangkah bersama meninggalkan area kantor menuju tempat parkir.


Erwin menghela nafas lega karena kehadiran Galih bisa sedikit mengurangi rasa takutnya akibat sapaan wanita yang mirip Aini tadi.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2