
Ranvier keluar dari musholla usai menunaikan sholat Dzuhur berjamaah. Saat ia melangkah menuju kamar, ia berpapasan dengan pria sepuh keturunan Tionghoa yang dipanggil Akong tadi.
" Selesaikan segera agar tak berlarut-larut...! " kata Akong saat Ranvier tepat berada di sampingnya.
Ranvier berhenti melangkah lalu menoleh kearah Akong.
" Maaf, apa Kakek bicara sama Aku...?" tanya Ranvier.
Akong menoleh lalu tersenyum. Ia mengulurkan tangannya lalu menyentuh pundak Ranvier.
" Aku tau ada sesuatu yang mengikutimu. Selesaikan misimu dan segera tinggalkan tempat ini. Secepatnya...," kata Akong dengan mimik wajah serius.
" Iya Kek. Tapi sebelum itu, bisa kah Kita bicara sebentar saja...?" tanya Ranvier penuh harap.
" Tentu. Ikuti Aku sekarang...," ajak Akong sambil melangkah.
Ranvier pun dengan senang hati mengikuti langkah Akong.
Ternyata Akong membawa Ranvier ke samping penginapan dimana terdapat sebuah gazebo terbuat dari kayu jati. Tempat itu terlihat asri karena dikelilingi tanaman bunga yang ditanam secara apik.
" Maaf Kek. Kenalkan dulu namaku Ranvier...," kata Ranvier membuka pembicaraan dengan santun.
" Salam kenal Ranvier. Senang bisa mengenalmu. Panggil saja Aku Akong, sama seperti semua Cucuku memanggilku...," sahut Akong sambil tersenyum.
" Baik Akong...," kata Ranvier balas tersenyum.
" Jadi, bisa Kamu ceritakan apa alasanmu ingin membantu dia...?" tanya Akong sambil melirik ke samping kiri Ranvier dimana hantu Eugene berdiri.
" Namanya Eugene. Aku..., pertama kali bertemu dengannya beberapa tahun yang lalu. Saat itu Aku baru saja bisa melihat sesuatu yang tak kasat mata dan sedang dalam proses belajar mengendalikan kemampuanku...," sahut Ranvier.
" Lalu...?" tanya Akong saat dilihatnya Ranvier terdiam.
" Maaf Kong, tapi Eugene ga suka Aku ceritakan tentang dia sama Akong...," sahut Ranvier tak enak hati.
__ADS_1
" Aku mengerti. Biar Aku yang cerita dan Kalian mendengarkan. Gimana...?" tanya Akong.
" Cerita apa Akong...?" tanya Ranvier.
" Tentang asal usul temanmu itu mungkin...," sahut Akong sambil tersenyum penuh makna.
Ranvier nampak melirik kearah hantu Eugene dan Akong bergantian. Dan tanpa menunggu persetujuan Ranvier, Akong pun memulai ceritanya.
" Dulu, di jaman penjajahan kolonial Belanda dan Jepang, segalanya serba sulit. Ribuan bahkan jutaan warga Indonesia menjadi korban kekejaman penjajah. Mulai dari kelaparan dan tak memiliki tempat tinggal. Bahkan ada juga yang dijadikan budak untuk melayani mereka, tanpa dibayar sepeser pun, hingga mereka mati dalam kondisi mengenaskan. Warga Indonesia di daerah sini juga banyak yang menjadi korban kekejaman penjajah...," kata Akong sambil melirik kearah hantu Eugene.
Saat Akong mengatakan itu hantu Eugene nampak mengerutkan keningnya. Ia seperti diajak mengingat kembali kejadian puluhan tahun lalu atau mungkin ratusan tahun lalu saat dirinya masih hidup. Ranvier yang paham jika Akong sedang menyindir hantu Eugene pun tak bisa berbuat apa-apa selain ikut mendengarkan cerita Akong.
" Tapi keadaan berbalik. Perlawanan terhadap kekejaman penjajah terjadi dimana-mana. Bahkan para pejuang rela mengorbankan nyawa hanya untuk meraih kemerdekaan. Leluhurku adalah warga keturunan Tionghoa yang lama bermukim di Indonesia. Mereka juga ikut berjuang walau fisik Kami sering disalah artikan karena Kami dianggap penghianat...," kata Akong menghentikan ceritanya sambil menatap jauh ke depan.
Ranvier tahu, ada luka di hati Akong saat mengingat beratnya perjuangan keluarganya saat itu. Bukan salah mereka jika terlahir dengan mata sipit dan kulit kuning langsat. Tapi saat itu penjajah memang gencar melakukan provokasi untuk mengadu domba rakyat Indonesia, termasuk dalam hal ras.
Penjajah memprovokasi warga dan mengatakan bahwa orang berkulit kuning dan bermata sipit adalah antek mereka. Hingga akhirnya keluarga Akong pun dimusuhi dan dituduh penghianat. Ranvier menoleh kearah Akong saat pria sepuh itu melanjutkan ceritanya.
" Ternyata kesengsaraan warga Indonesia juga membuat perasaan para tentara Belanda yang baik hati tersentuh. Banyak diantara mereka membelot dari pasukannya dan justru memihak pada warga jajahan, termasuk dia...," kata Akong sambil melirik kearah hantu Eugene.
" Maksud Akong ada beberapa tentara Belanda yang justru ikut berjuang bersama Kita...?" tanya Ranvier.
" Betul. Aku pernah dengar beberapa orang tentara Belanda yang terbukti membelot dihabisi teman mereka sendiri saat tertangkap. Mereka dibiarkan menanggung rasa sakit akibat luka yang mereka derita hingga akhir hayatnya...," sahut Akong.
" Dia benar Ranvier. Saya ingat sekarang bagaimana akhirnya Saya tewas mengenaskan di kebun karena ditinggalkan saat luka parah. Mereka marah karena Saya membantu warga Indonesia. Saya dijuluki penghianat karena telah membocorkan kekuatan pasukan juga persediaan senjata yang Kami miliki kepada pejuang Indonesia...," kata hantu Eugene dengan suara tercekat.
Saat itu Ranvier pun diperlihatkan masa lalu Eugene. Pria Belanda itu diarak dalam keadaan tangan terikat. Selama dalam perjalanan Eugene tak hentimya menerima siksaan. Ia didorong, ditendang, dipukul dengan popor senapan hingga luka dan berdarah.
Eugene dipaksa mengakui keterlibatannya dengan kematian beberapa tentara Belanda yang sedang patroli di jalan desa.
" Kamu yang memberitau mereka kalo bakal ada patroli di sana, iya kan...?" tanya salah satu tentara Belanda.
Eugene hanya membisu. Setelah diarak sekian lama, Eugene dan temannya yang tertangkap pun dibawa ke tengah hutan. Disana ia kembali diinterogasi.
__ADS_1
" Jika Kamu mau mengatakan dimana mereka sembunyi dan menyimpan senjata rampasan itu, maka Kami akan membebaskan Kamu...!" kata seorang tentara.
" Dan Kami jamin Kamu bakal tetap hidup...," sela tentara lain berusaha meyakin kan Eugene.
" Aku tak percaya. Aku bicara atau tidak, Kalian tetap akan membunuhku...!" kata Eugene setelah lama terdiam.
Semua tentara nampak sumringah. Mereka bahagia karena akhirnya Eugene mau bicara.
" Akhirnya Kamu mau bicara juga Eugene. Ayo, katakan dimana orang-orang pribumi itu menyembunyikan senjata yang mereka rampas dari pasukan Kita...," kata salah seorang tentara Belanda.
" Tunjukkan juga dimana tentara mereka sembunyi...," sela tentara yang lain sambil mengepalkan tangannya.
" Termasuk dimana mereka menyimpan para wanita cantik Eugene. Aku senang melihat wanita itu menjerit karena itu bisa memuaskan hasratku...," kata salah seorang tentara Belanda sambil menjilat bibirnya.
Tawa pun menggema usai tentara itu mengucapkan kalimat mes*mnya. Namun ucapan terakhir salah seorang tentara Belanda itu lah yang justru memancing kemarahan Eugene.
Ia menatap penuh dendam pada tentara yang notabene adalah kaum sebangsanya itu dengan tatapan penuh kebencian.
Eugene ingat bagaimana bangsanya itu menyakiti para wanita pribumi termasuk remaja dan anak-anak hanya untuk memuaskan hasrat liar mereka.
" Terkutuk Kalian !. Ingat, Tuhan itu tidak tidur !. Jangan lupa Kalian juga punya Ibu dan saudari perempuan. Bagaimana perasaan Kalian jika itu terjadi pada mereka...?! " kata Eugene marah.
Sebuah tendangan dari seorang tentara mendarat di wajah Eugene hingga membuat rahangnya patah. Setelah itu tentara lainnya maju dan mengeluarkan belati. Ia memegangi wajah Eugene dengan telapak tangannya.
" Bangs*t !. Kau berani menyumpahi keluargaku hanya demi orang-orang bod*h itu Eugene !. Setelah ini mulut kotormu tak akan lagi bisa bicara. Membusuk lah di sini dan mati lah Kau...!" kata tentara itu sambil mulai menyayat pipi Eugene.
Eugene pun menjerit saat belati itu mulai menyayat dari ujung bibir terus ke atas dan berhenti tepat di bawah telinga. Hal itu terjadi pada kedua sisi wajahnya. Darah mengalir deras dari luka di wajahnya itu. Luka itu juga berhasil memperlihatkan rongga mulut Eugene yang berupa gigi geraham dan lidah yang semuanya kini berwarna merah darah.
Semua tentara bertepuk tangan menyaksikan Eugene terluka. Setelah puas menyiksa Eugene, mereka beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Eugene menatap nanar pada sosok pria yang telah melukai wajahnya itu. Ia ingat betul pria itu adalah teman kecilnya yang bernama Kheil.
Setelah puas menyakiti Eugene, Kheil pun menyingkir. Ia sempat meludahi tubuh Eugene yang sekarat itu lalu beranjak pergi menyusul pasukannya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=