
Saat pertama kali melihat Wijaya masuk ke dalam kedai kopi, Daeng Payau telah melihat ada sesuatu yang tak wajar pada diri pria itu.
Dan saat Wijaya kebingungan mencari tempat duduk, Daeng Payau pun melambaikan tangannya sambil menepuk kursi kosong di sampingnya.
" Kosong ya Pak...?" tanya Wijaya.
" Iya. Mari silakan duduk..., " kata Daeng Payau menawarkan.
" Makasih Pak. Ga sangka kedai kopi kecil gini rame banget...," kata Wijaya sambil duduk.
" Ini mah lumayan sepi Pak. Biasanya malah sampe ngantri di luar dan gelar kursi tambahan...," sahut Daeng Payau sambil meneguk kopinya perlahan.
" Masa sih. Pasti ada sesuatu yang bikin kedai ini rame...," kata Wijaya sambil mengamati interior kedai kopi yang sederhana itu.
Ucapan Wijaya membuat Daeng Payau tersenyum. Ia maklum mengapa Wijaya berpikir seperti itu.
" Kopi di sini memang enak Pak. Kopi asli tanpa campuran, cocok buat penikmat kopi seperti Kita. Selain itu pelayanannya ok, semua ramah dan selalu tersenyum. Rasa lelah karena mengantri hilang seketika saat melihat mereka tersenyum. Jadi kedai rame bukan karena pake ilmu hitam atau pengasihan. Saya harap penjelasan Saya cukup untuk menjawab pertanyaan Bapak tadi...," kata Daeng Payau sambil tersenyum.
" Eh, i... iya Pak. Saya ga bermaksud nuduh kedai ini pake ilmu hitam Pak. Saya cuma lagi bingung aja...," sahut Wijaya tak enak hati.
" Kalo bingung gampang Pak. Bapak harus kembali kepada Sang Kholiq, Sang Pencipta hidup dan alam semesta...," kata Daeng Payau santai namun mampu membuat Wijaya mengerutkan keningnya.
" Maksud Bapak Saya harus mati...?" tanya Wijaya tak suka.
" Bukan Pak. Kembali kepada Sang Kholiq kan bukan berarti harus mati dulu. Maksud Saya kembali ke jalan Tuhan lebih tepatnya. Anda muslim...?" tanya Daeng Payau.
" Iya...," sahut Wijaya cepat.
" Kalo gitu kembali ke jalan Allah. Bertobat lah dan tunaikan kewajiban. Saya ga harus merinci apa kewajiban Kita sebagai hamba kepada Allah kan...?" tanya Daeng Payau.
Entah mengapa ucapan Daeng Payau mengena di hati Wijaya. Jantungnya berdetak cepat, keringat dingin pun membasahi tubuhnya. Wijaya nampak membisu sambil menundukkan kepala beberapa saat.
Setelahnya Wijaya mendongakkan kepala dan menatap Daeng Payau.
" Anda benar. Saya memang ingin kembali ke jalan Allah, tapi Saya bingung Pak. Saya ga tau caranya. Saya juga sedang mencari anak perempuan Saya satu-satunya yang pergi entah kemana. Saya ga ngerti, setelah sekian lama mengabaikannya baru hari ini Saya ingat dia lagi...," kata Wijaya dengan suara bergetar.
" Kalo Bapak percaya sama Saya, mari ikut Saya. Kita temui teman Saya yang kebetulan seorang ahli agama. Namanya Ustadz Rahman. Saya harap setelah bertemu Beliau Bapak bisa punya seseorang yang membimbing dan mengarahkan Bapak untuk kembali ke jalan Allah...," kata Daeng Payau.
" Saya mau Pak. Kapan Kita ketemu Beliau...?" tanya Wijaya antusias.
__ADS_1
" Setelah Kita habiskan kopi ini Pak. Sayang kalo ga dihabisin, mubazir...," sahut Daeng Payau dengan mimik lucu hingga membuat Wijaya mengangguk sambil tertawa kecil.
Untuk beberapa waktu Daeng Payau dan Wijaya masih berbincang beberapa hal. Mereka beranjak pergi setelah menandaskan kopi di gelas mereka masing-masing.
\=\=\=\=\=
Saat Wijaya bicara dengan Ustadz Rahman, Daeng Payau tetus mengamati. Saat itu Daeng Payau melihat jika sebagian tubuh Wijaya tengah dililit oleh sejenis jerami aneh. Ustadz Rahman yang tahu sahabatnya selalu mengamati Wijaya pun bertanya.
" Ada apa Daeng. Kenapa Kamu ngeliatin dia terus daritadi...?" tanya ustadz Rahman setengah berbisik.
" Dia lagi ada dalam pengaruh ilmu hitam Ustadz. Walau sudah mulai mengendur, tapi masih terikat dan sulit lepas. Keliatannya ini PR baru buat Kita...," sahut Daeng Payau.
" Iya, Aku juga ngerasa begitu. Dia... Nampaknya ada sesuatu yang mengarahkan dia menjauh dari jalan Allah dan membuatnya tersesat...," kata ustadz Rahman prihatin.
" Betul...," sahut Daeng Payau sambil kembali ke posisi semula setelah melihat Wijaya kembali dari berwudhu.
Ustadz Rahman tersenyum melihat wajah Wijaya yang basah. Kemudian ia bertanya.
" Bagaimana Pak, apa masih ingat cara berwudhu...?" tanya Ustadz Rahman.
" Susah payah Saya mengingatnya Ustadz. Makanya agak lama tadi...," sahut Wijaya malu-malu.
" Terus sekarang Saya harus apa Ustadz...?" tanya Wijaya.
" Kami akan meruqyah Anda Pak Wijaya. Apa Anda keberatan...?" tanya Ustadz Rahman.
" Ruqyah...?" ulang Wijaya.
" Iya...," sahut ustadz Rahman.
" Apa ada sesuatu dalam diri Saya Ustadz...?" tanya Wijaya khawatir.
" Sudah pasti. Buktinya Anda jadi malas ibadah dan seperti kehilangan jati diri. Bukannya Anda bilang begitu tadi...?" tanya ustadz Rahman.
" Iya. Saya...," ucapan Wijaya terputus saat Daeng Payau menyela.
" Jangan buang waktu lagi Ustadz. Kita harus cepat. Jerami yang melilit badannya udah mulai bergerak...," kata Daeng Payau mengingatkan.
Ucapan Daeng Payau mengejutkan Wijaya. Ia tak percaya jika Daeng Payau yang berpenampilan nyentrik itu bisa tahu ada jerami yang melilit tubuhnya. Padahal saat itu Wijaya tak melihat apa pun. Dan yang membuat Wijaya panik adalah karena Daeng Payau bilang jerami itu mulai bergerak.
__ADS_1
" Jerami ?, Saya emang nemu jerami di kamar tadi. Dan waktu Saya menggunting jerami itu, tiba-tiba Istri Saya sakit. Badannya kaku kaya kayu, ga bisa bergerak ga bisa ngomong juga. Waktu Saya mau bawa ke Rumah Sakit dia nolak. Istri Saya justru minta dipanggilin Guru spiritualnya ke rumah...," kata Wijaya gusar.
Ustadz Rahman dan Daeng Payau saling menatap lalu mengangguk mendengar cerita Wijaya.
" Lalu apa lagi Pak...?" tanya Daeng Payau.
" Karena curiga, Saya nguping pembicaraan mereka dari samping jendela kamar. Dan...," Wijaya tampak berusaha mengendalikan diri.
" Dan apa Pak...?" tanya Daeng Payau tak sabar.
" Ternyata Istri Saya sudah melakukan sesuatu pada Anak Saya sampe dia pergi dari rumah. Dia membuat Anak perempuan Saya pergi dan Saya ga tau itu...," sahut Wijaya sedih.
" Cukup dulu sedihnya Pak. Sekarang yang harus Pak Wijaya lakukan adalah melepaskan diri dulu dari jerat jerami ghaib yang mengikat tubuh Bapak. Harus segera sebelum terlambat. Gimana Pak, iya atau ga...?!" tanya Daeng Payau setengah memaksa.
" Apa efeknya kalo Saya ga mau diruqyah...?" tanya Wijaya.
" Mati...," sahut Daeng Payau cepat.
" Apa...?!" kata Wijaya tak percaya.
" Makanya ga usah banyak nanya dulu. Kita mulai sekarang sebelum ikatan jerami makin kuat. Kalo makin kuat, bakal butuh waktu lagi untuk melepasnya...," kata Daeng Payau tak sabar.
" Sabar Daeng...," sela Ustadz Rahman sambil menepuk lengan Daeng Payau.
" Iya Ustadz, maaf. Abis Pak Wijaya juga sih yang bikin gara-gara. Pake banyak nanya padahal kondisi mendesak untuk diselesaikan...," kata Daeng Payau.
" Maklum aja lah Daeng. Pak Wijaya ini kan pengusaha yang selalu bicara untung dan rugi dalam semua tindakan...," kata Ustadz Rahman menengahi.
" Iya sih. Tapi Saya ga ngerti kenapa hal mendesak dan menyangkut nyawa masih harus ditanyain untung ruginya Ustadz..., " sahut Daeng Payau membela diri.
Melihat bagaimana risaunya dua pria yang baru dikenalnya itu membuat Wijaya terharu. Meski dilakukan dengan cara berbeda, namun Wijaya tahu jika ustadz Rahman dan Daeng Payau peduli padanya.
" Saya setuju diruqyah...," kata Wijaya tiba-tiba.
" Bagus !. Ayo Kita mulai sekarang Ustadz...! " kata Daeng Payau antusias.
" Insya Allah siap Daeng...," sahut ustadz Rahman sambil tersenyum.
Kemudian ketiga pria itu mulai mengambil posisi untuk melakukan ruqyah.
__ADS_1
\=\=\=\=\=