Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
51. Api Di Kartu Undangan


__ADS_3

Ranvier pun bersiap berangkat menuju Australia untuk menempuh pendidikan. Rencananya ia akan kuliah di salah satu Universitas Swasta terkenal di sana.


Ranvier berniat belajar bisnis karena ingin membantu sang Kakek mengurus bisnisnya kelak. Niat Ranvier tentu saja mendapat dukungan penuh dari Kakek Randu.


Kakek Randu saat ini memang sedang mengembangkan sayap bisnisnya di negara kanguru itu. Mengetahui cucunya belajar di sana, ia pun berniat menjadikan cucunya sebagai pimpinan perusahaan cabang di Australia.


" Ga usah muluk-muluk Kek. Aku baru mau mulai kuliah lho, belum ngerti apa-apa juga. Masa Kakek udah mau nyerahin perusahaan sama Aku. Yang ada bukan untung tapi buntung Kek...," kata Ranvier sambil tertawa.


" Gapapa. Asal itu bisa jadi media Kamu belajar, Kakek ga keberatan. Semua juga kan harus dimulai dari nol sampe akhirnya Kita tau yang bisa dan ga bisa Kita lakukan...," sahut Kakek Randu.


" Tapi ini melibatkan banyak orang Kek. Apa Kakek ga kasian kalo para karyawan harus resign tanpa pesangon gara-gara perusahaan bangkrut. Kalo Aku sih lebih baik mikir berapa kali kalo mau nyerahin perusahaan sama seseorang. Biar itu anakku tapi Aku harus pastikan semua bakal berjalan sebagaimana mestinya karena banyak orang bergantung sama perusahaanku...," kata Ranvier hingga membuat Kakek Randu tersenyum puas.


" Baik lah. Untuk sementara ini Kakek bebaskan Kamu dari urusan perusahaan. Tugasmu belajar yang giat supaya bisa dapat nilai bagus dan bisa Kamu praktekkan di dunia kerja nanti...," kata Kakek Randu sambil menepuk bahu Ranvier lembut.


" Siaappp Kek...!" sahut Ranvier lantang.


Sementara itu Erwin dan Akmal nampak melepas kepergian Ranvier dengan mata berkaca-kaca. Keduanya merasa sedih karena harus berpisah dengan Ranvier.


" Hati-hati ya Vier. Jangan macam-macam di sana. Inget, Lo sendirian di sana. Ga ada Kakek yang bakal belain Lo...," kata Erwin.


" Iya Gue tau...," sahut Ranvier.


" Satu lagi. Jangan lupa kirim kabar. Jangan nunggu ditelephon baru Lo ngasih kabar...," kata Erwin lagi.


" Iya Win, iya...," sahut Ranvier sambil menahan tawa karena tak menyangka jika Erwin akan mengatakan kalimat seperti itu.


" Terus kalo Gue married Lo bisa datang ga Vier...?" tanya Akmal.


" Kayanya ga deh Mal. Perkiraan Gue, saat Lo married itu di sana juga pas lagi sibuk-sibuknya. Lagian Gue kan mahasiswa baru, mana bisa ijin pulang pergi seenaknya...," sahut Ranvier.


" Iya juga sih. Ya udah gapapa deh. Yang penting jangan lupa amplopnya Vier. Yang banyak ya jangan cuma sedikit. Kalo bisa isi amplop Lo paling banyak diantara semua tamu undangan...," kata Akmal penuh harap.


" Ish, modus banget sih Lo...!" sela Erwin sambil memukul punggung Akmal dengan telapak tangannya hingga membuat Akmal nyengir.

__ADS_1


" Gapapa Win, kapan lagi bisa modusin Ranvier yang masih jomblo ini. Siapa tau pas balik ke sini dia udah punya anak dua...," sahut Akmal sambil menaik turunkan alisnya.


Erwin tertawa mendengar ucapan Akmal, sedangkan Ranvier nampak mendelik kesal.


" Siapa yang mau nikah cepet sih Mal. Gue ke sana tuh mau belajar bukan married...," protes Ranvier.


" Yang bilang Lo mau married tuh siapa Vier...?" tanya Akmal sambil menahan tawa.


" Lah tadi Lo bilang Gue pulang bawa anak dua...," sahut Ranvier kesal.


" Pulang bawa anak dua kan belum tentu hasil pernikahan sah Vier. Bisa aja di sana Lo bunt*ngin cewek bule. Kan katanya pergaulan di luar negeri tuh bebas banget...," kata Akmal dengan santai.


" Anjriitt...!. Lo niat bunt*ngin cewek bule nanti Vier. Wah g*la Lo, bukannya belajar malah maksiat...!" kata Erwin lantang hingga membuat beberapa orang yang melintas menoleh kearah mereka.


Ranvier langsung membekap mulut Erwin hingga Erwin gelagapan. Sedangkan Kakek Randu, Krisna dan Tomi nampak tertawa terbahak-bahak menyaksikan tingkah Ranvier dan kedua sahabatnya itu.


" Kampret. Kalo ngomong pake filter dong. Ntar dikirain orang, Gue emang tukang maksiat...," kata Ranvier kesal sambil menjitaki kepala Erwin.


" Mana ada tukang maksiat. Yang bener tuh Lo tukang pehapein orang...," sela Akmal sambil tertawa.


" Biarin. Biar Lo ga betah dan pulang deh ke Indonesia. Kan Kita bisa kumpul lagi nanti...," sahut Akmal sambil tertawa puas.


" Oh gitu maksud Lo. Ok gapapa. Tapi Gue bakal gangguin Lo sama Istri Lo biar Kalian ga bisa malam pertama...," ancam Ranvier.


" Duh jangan dong Vieeerr...!" kata Akmal dengan wajah gusar.


" Makanya kalo ga mau rumah tangga Lo Gue gangguin ya ga usah macam-macam..., " kata Ranvier.


" Iya iya. Mimpi apa sih Kakek Randu punya Cucu kok sukanya mengganggu rumah tangga orang...," gerutu Akmal namun masih terdengar jelas dan itu membuat Ranvier kesal lalu mengejar Akmal.


Erwin pun mencoba melerai keduanya namun justru ia terkena pukulan Ranvier dan Akmal. Karena kesal ia pun memukuli Ranvier dan Akmal bergantian hingga berakhir saling mengejar.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Bulan-bulan berikutnya Ranvier, Erwin dan Akmal mulai menjalani kesibukan yang berbeda.


Ranvier mulai sibuk kuliah. Di Australia Ranvier belajar beradaptasi dengan lingkungan baru. Tak terlalu sulit karena Ranvier tipikal orang yang ramah dan menyenangkan. Hingga dalam waktu singkat ia telah memiliki teman akrab bahkan masuk grup khusus pelajar yang berasal dari Indonesia.


Erwin memilih bekerja di sebuah pabrik kayu atas rekomendasi sang Kakak. Meski harus memulai jadi karyawan dengan level terendah, namun Erwin tak keberatan. Ia menjalani statusnya sebagai karyawan pabrik dengan suka cita.


Di tempat lain Akmal nampak sibuk mempersiapkan pernikahannya. Rupanya Akmal tak sabar untuk menyunting gadis cantik bernama Amelia itu. Pesta pernikahan pun direncanakan digelar dengan meriah.


\=\=\=\=\=


Siang itu Ranvier dan dua temannya baru saja tiba di rumah yang mereka sewa. Ranvier memang memilih tinggal dengan beberapa teman satu jurusan di rumah itu untuk menghemat biaya.


Saat akan membuka pintu, sebuah kartu undangan berwarna abu-abu nampak tergeletak di bawah pintu.


" Apaan nih...?" tanya Decker sambil memungut kartu undangan itu.


" Keliatannya kartu...," sahut Joshua.


" Kartu, coba Gue liat. Mungkin itu kartu undangan dari temen Gue di Indonesia untuk Gue...," kata Ranvier.


Decker menyerahkan kartu undangan itu kepada Ranvier lalu masuk ke dalam rumah.


Saat menyentuh kartu undangan itu, entah mengapa Ranvier melihat bayangan api. Ranvier terkejut dan tak sengaja menjatuhkan kartu itu ke lantai


Sesaat kemudian Ranvier kembali meraih kartu berwarna abu-abu itu lalu membaca tulisan yang tertera di sana.


" Akmal dan Amelia. Jadi Lo beneran nikah muda ya Mal...," gumam Ranvier sambil tersenyum.


Kemudian Ranvier melangkah menuju kamar dan meletakkan kartu undangan itu di atas meja. Namun saat Ranvier hendak membalikkan tubuhnya, ia kembali melihat bayangan api di kartu itu. Ranvier mengerutkan keningnya lalu meraih kartu itu lagi.


" Api. Kenapa Gue liat api di kartu undangan pernikahan Akmal. Apa ini pertanda buruk...?" tanya Ranvier gusar.


Untuk sejenak Ranvier menatap kartu undangan pernikahan Akmal sambil mengusapnya perlahan. Entah mengapa jantung Ranvier berdetak cepat saat menyentuhnya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2