
Ranvier yang terkejut sekaligus bingung hanya bisa mengikuti Daeng Payau. Ia berlari cepat seperti yang diperintahkan sang guru spiritual.
" Sedikit lagi Vier. Setelah lewat gerbang itu Aku bisa leluasa membantumu tanpa khawatir Kamu diapa-apain lagi...," kata Daeng Payau.
" Iya Paman...," sahut Ranvier sambil mengangguk.
Daeng Payau dan Ranvier pun berhasil melewati ambang pintu gerbang yang entah sejak kapan terbuka. Setelah tiba di luar gerbang, Daeng Payau melepaskan tangan Ranvier kemudian ia pun membalikkan tubuhnya seolah siap menyambut kedatangan pasukan makhluk ghaib itu.
" Hati-hati Paman...!" kata Ranvier.
" Sebaiknya Kamu minggir dan menjauh dari sini Ranvier...!" kata Daeng Payau lantang sambil kembali merentangkan kedua tangannya.
Ranvier pun bergeser menjauh. Dari tempatnya berdiri ia bisa menyaksikan Daeng Payau yang dengan gagah berani menghadapi pasukan makhluk ghaib itu seorang diri. Ranvier nampak berdecak kagum melihat kehebatan sang guru spiritual.
" Andai Aku bisa membantu sedikit aja, pasti Paman Daeng ga akan kewalahan kaya gitu...," keluh Ranvier dalam hati.
Kondisi Ranvier yang lengah dimanfaatkan oleh salah seorang anggota pasukan makhluk ghaib itu. Ia mencari jalan memutar lalu menyerang Ranvier secara diam-diam dengan menyabetkan senjatanya tepat kearah belakang kepala Ranvier.
Daeng Payau yang melihat Ranvier dibayangi serangan lawan pun tak kuasa bertindak karena saat yang sama ia juga tengah berjibaku menghadapi serangan lawan.
" Ranvieeerr...!" panggil Daeng Payau lantang sambil melipat gandakan serangannya kearah lawan.
Sayang upaya Daeng Payau tak membuahkan hasil. Karena dilakukan dalam keadaan tak fokus menyebabkan serangan Daeng Payau hanya mengenai tempat kosong. Sementara itu serangan sembunyi-sembunyi yang dilakukan salah seorang anggota pasukan ghaib itu berhasil mengenai belakang kepala Ranvier.
Namun suatu keanehan terjadi. Saat ujung senjata lawan menyentuh belakang kepala Ranvier, selarik sinar berwarna keperakan nampak melintas lalu memotong serangan itu dengan cepat. Si pemilik senjata terhempas jatuh ke tanah dengan senjata yang terlempar entah kemana.
Merasa ada suara bising di belakangnya Ranvier pun menoleh. Ia terkejut melihat salah seorang anggota pasukan ghaib terkapar di tanah dengan luka di sekujur tubuhnya. Ranvier bingung dan tak mengerti darimana luka-luka itu berasal. Namun Ranvier bersyukur karena ia selamat dari bahaya.
" Alhamdulillah..., siapa yang udah menolong Gue tadi. Padahal Paman Daeng aja lagi sibuk bertarung di sana...," gumam Ranvier sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
Ranvier pun menoleh saat Daeng Payau memanggil namanya dengan lantang.
" Lari Vier, lariii...!" perintah Daeng Payau.
" Lari kemana Paman ?, Aku ga tau jalan pulang...!" sahut Ranvier gusar.
__ADS_1
" Sebelah sini, lari ke sebelah sini Vier. Ga usah liat kemana-mana. Fokus aja ke depan, cepetan...!" kata Daeng Payau.
" Iya Paman...!" sahut Ranvier sambil bergegas mendekati Daeng Payau.
Ranvier berhasil mendekati Daeng Payau dan kini berdiri di sampingnya. Tiba-tiba pria berwibawa yang diyakini sebagai pimpinan pasukan ghaib itu datang mendekat, saat itu lah pertarungan pun terhenti.
" Aku hanya minta kesediaanmu menyerahkan anak itu. Tapi kenapa Kau justru membuat kekacauan di sini...?!" kata pria itu marah.
" Kekacauan apa maksudmu. Aku hanya menyelamatkan muridku yang sudah Kuanggap anak sendiri. Apa itu salah...?" tanya Daeng Payau sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
" Tapi Aku membutuhkan dia...!" kata pria itu gusar.
" Cari orang lain saja. Karena jika Kau berani menyentuhnya, Aku jamin Kau akan menyesal selamanya...," sahut Daeng Payau sambil tersenyum penuh makna.
" Apa Kau pikir Aku takut dengan ancaman recehmu itu...?" tanya pria itu sambil tertawa.
" Terserah. Coba saja Kau sentuh dia kalo berani...," tantang Daeng Payau sambil mendorong tubuh Ranvier ke depan hingga membuat remaja itu terkejut.
" Apa-apaan ini Paman...?!" protes Ranvier.
Melihat kepasrahan Daeng Payau yang dianggap tak sanggup melindungi Ranvier, pria berwibawa pun tersenyum lalu perlahan merangsek maju mendekati Ranvier. Telapak tangan kanannya terbuka lebar seolah siap merenggut Ranvier kearahnya. Sementara itu Ranvier nampak memejamkan mata karena tak kuasa membayangkan apa yang akan terjadi.
Tepat sesuai dugaan Daeng Payau. Sedikit lagi ujung jemari pria itu akan menyentuh Ranvier, sebuah cahaya keperakan kembali melesat cepat lalu memotong tepat di depan Ranvier.
Ranvier membuka mata saat jeritan pria di depannya terdengar menyeruak di tengah keheningan malam. Ranvier nampak menganga tak percaya menyaksikan pria di depannya jatuh tersungkur di tanah sambil memegangi tangannya yang terpotong hingga ke siku.
" Aku sudah mengingatkanmu tadi. Karena Kau tak mau dengar, sekarang terima saja akibatnya. Ayo Ranvier...," ajak Daeng Payau sambil menggamit tangan Ranvier dan membawanya pergi.
Semua anggota pasukan ghaib terdiam di tempat sambil menatap kepergian Ranvier dan Daeng Payau. Mereka tak berani mengejar karena tak ada perintah dari pimpinan mereka. Sesaat kemudian mereka pun mendekati pimpinan mereka itu lalu membawanya masuk melewati gerbang besi. Setelah semua pasukan melintas, gerbang itu mendadak lenyap tanpa bekas.
" Apa yang terjadi Paman...?" tanya Ranvier.
" Sssttt..., Kita bahas itu nanti ya Vier. Sekarang pejamkan matamu supaya Kita bisa pulang...," sahut Daeng Payau.
Ranvier pun mengangguk lalu mengikuti saran Daeng Payau. Dua menit setelahnya Daeng Payau memintanya membuka mata.
__ADS_1
Ranvier terkejut karena saat itu ia berada di pinggir jalan tepat dimana ia menghilang.Kemudian Ranvier mengikuti Daeng Payau yang melangkah mendekati sebuah motor butut yang terparkir di bawah pohon.
" Naik...," kata Daeng Payau.
" Apa motor ini kuat dinaikin Kita berdua Paman...?" tanya Ranvier ragu.
" Insya Allah kuat. Ayo naik, Aku antar Kamu pulang ke rumah Kakekmu...," kata Daeng Payau.
" Baik Paman...," sahut Ranvier lalu duduk di belakang Daeng Payau.
Tak lama kemudian motor melaju cepat meninggalkan tempat itu. Ranvier bernafas lega karena telah lolos dari kejaran pasukan ghaib yang menginginkan nyawanya.
\=\=\=\=\=
Kedatangan Ranvier dan Daeng Payau disambut dengan suka cita. Tomi dan Totok adalah orang pertama yang menyambut Ranvier di depan pintu.
" Ya Allah, Ranvieeerrr... Kemana aja sih Lo. Kok demen banget ngilang kaya demit...," sapa Tomi sambil memeluk Ranvier dengan erat.
" Apaan sih Bang. Gue bukan ngilang ya Bang, Gue ini diculik. Tau ga sih Lo...," kata Ranvier sambil cemberut.
" Tapi Mas Ranvier gapapa kan...?" tanya Totok sambil mengamati Ranvier dari atas kepala hingga ujung kaki.
" Alhamdulillah gapapa Bang. Oh iya, Kakek dimana...?" tanya Ranvier.
" Ada di dalam...," sahut Tomi dan Totok bersamaan.
Ranvier pun bergegas masuk ke dalam rumah untuk menemui sang kakek dan meninggalkan Daeng Payau bersama Tomi dan Totok.
" Assalamualaikum Kakeeeekkk...!" panggil Ranvier lantang hingga membuat kakek Randu yang sedang makan malam itu terkejut.
" Wa alaikumsalam, Ranvieerr...," sahut sang kakek sambil merentangkan kedua tangannya untuk menyambut sang cucu.
Ranvier dan kakeknya nampak saling memeluk dengan erat untuk melepas rindu setelah beberapa hari tak bertemu.
\=\=\=\=\=
__ADS_1