
Setelah perdebatan yang panjang dengan sang kakek, akhirnya Ranvier memilih sekolah di sebuah SMK swasta yang letaknya lumayan jauh dari rumah.
Bukan tanpa alasan Ranvier memilih sekolah swasta itu. Ranvier sadar nilainya tak akan mampu bersaing dengan siswa lain jika memaksa masuk ke SMA Negeri. Apalagi ia mendapatkan ijazah kelulusan berkat bantuan sang kakek.
" Aku akan belajar giat dan berusaha meraih nilai yang tinggi. Walau bukan nilai sempurna, paling ga kan bisa membuat Kakek sedikit bangga. Selama ini nilai-nilai yang kuperoleh bukan hasil jerih payahku, tapi ada campur tangan Kakek di sana. Jadi please, kali ini biarkan Aku berusaha sendiri. Kakek ga usah membantu dan duduk manis aja. Liat apa yang bakal Aku persembahkan untuk Kakek nanti...," kata Ranvier dengan wajah berbinar.
" Ok, Kakek tunggu. Janji ga akan bikin Kakek kecewa lagi yaa...," kata kakek Randu sambil tersenyum.
" Siap Kek...!" sahut Ranvier cepat.
Dan hari itu untuk pertama kalinya kakek Randu percaya jika Ranvier akan membuktikan ucapannya kelak.
\=\=\=\=\=
Ranvier memang belajar dengan giat. Ia juga mengikuti berbagai jenis kegiatan ekstra kurikuler yang diadakan pihak sekolah. Yang paling disukai Ranvier adalah berlatih taekwondo tiap Selasa dan Sabtu sore, juga ikut kegiatan ROHIS tiap hari Jum'at di sekolah.
Seperti sebelumnya, Ranvier menjadi sosok 'famous' di sekolah. Penampilan ragawinya yang memikat lawan jenis, membuat Ranvier menjadi salah satu cowok idola di sekolah.
Kegiatan Ranvier tak hanya berkutat dengan urusan sekolah. Empat hari dalam seminggu Ranvier punya jadwal bertemu dengan ustadz Rahman dan Daeng Payau.
Pertemuan dilakukan terpisah karena Ranvier 'belajar' hal yang berbeda dari Ustadz Rahman dan Daeng Payau. Kadang pertemuan dilakukan dirumah kakek Randu, atau kadang mereka membuat janji di luar rumah untuk menghilangkan kejenuhan.
Dalam waktu empat bulan Ranvier mengalami kemajuan yang signifikan. Dan itu membuag kakek Randu bahagia.
Kini Ranvier mulai bisa mendeteksi keberadaan makhluk halus di sekitarnya berkat bimbingan Daeng Payau. Kadang Daeng Payau sengaja membawa Ranvier ke suatu tempat untuk sekedar memperlihatkan sosok makhluk halus yang menghuni tempat itu.
Seperti kali ini. Daeng Payau membawa Ranvier berjalan kaki menyusuri sebuah jembatan yang membentang di atas sungai Ciliwung. Hanya sebuah jembatan penyebrangan kecil yang menjadi jalan penghubung antar dua wilayah di ibukota.
Daeng Payau berhenti melangkah tepat di tengah jembatan lalu menatap ke bawah. Ranvier mengikuti arah tatapan Daeng Payau karena yakin jika sang guru spiritual akan menunjukkan sesuatu.
" Gimana Vier, apa Kamu melihat sesuatu di sana...?" tanya Daeng Payau.
" Iya Paman...," sahut Ranvier sambil menatap kearah bebatuan besar yang tersebar di pinggir sungai.
" Apa yang Kamu liat...?" tanya Daeng Payau.
__ADS_1
" Bayi, eh bukan. Sosok itu bertubuh seperti bayi, tapi kenapa mukanya jelek banget kaya Kakek-kakek ya Paman...," sahut Ranvier sambil menoleh kearah Daeng Payau.
Daeng Payau mengangguk sambil menepuk punggung Ranvier dengan lembut.
" Sekarang Kamu kenali dulu sosoknya. Suatu saat akan Aku ajarkan cara berkomunikasi dengan mereka...," kata Daeng Payau sambil tersenyum.
Ranvier pun mengangguk. Ia senang karena sudah bisa mengendalikan rasa takutnya saat melihat penampakan makhluk halus di sekitarnya.
Setelah menjelaskan beberapa hal, Daeng Payau kembali melangkah. Ranvier nampak mengikuti dari belakang. Sesekali ia menoleh ke bawah dimana puluhan bayi berwajah seram itu berada.
Di hari lain Ranvier akan bertemu dengan ustadz Rahman. Bersama sang ustadz Ranvier belajar mendalami agama. Saat ustadz Rahman membawanya melihat kegiatan anak-anak di TPQ, Ranvier berkali-kali menggelengkan kepala karena merasa begitu bod*h.
" Berapa usia anak itu Ustadz...?" tanya Ranvier.
" Tujuh tahun...," sahut ustadz Rahman.
" Baru tujuh tahun tapi udah bisa menghapal surah dalam Al Qur'an sebanyak itu...?" tanya Ranvier tak percaya.
" Betul...," sahut ustadz Rahman sambil tersenyum.
" Kamu masih punya banyak kesempatan untik belajar Vier. Jangan menyerah ya. Jika Kamu mau, suatu saat Kamu juga akan sepandai mereka. Anak-anak itu juga berlatih lama hingga bisa seperti ini. Mereka berlatih menghapal ayat per ayat tiap hari sampe akhirnya bisa menghapal banyak surah seperti sekarang...," kata ustadz Rahman.
" Aku mau kaya mereka Ustadz. Tolong ajarin Aku gimana cara menghapal surah di luar kepala dengan mudah ya...," pinta Ranvier sungguh-sungguh.
" Insya Allah. Kamu masih harus berlatih memperbaiki makhrojmu dengan baik. Setelah itu baru Kita belajar menghapal ayat...," kata ustadz Rahman.
" Baik Ustadz...," sahut Ranvier.
Melihat semangat Ranvier membuat ustadz Rahman tersenyum. Dalam hati ia bangga melihat kesungguhan Ranvier. Entah mengapa itu membuat kedua matanya memanas. Karena di saat yang sama ustadz Rahman teringat dengan almarhum Raka, ayah Ranvier. Yang juga memiliki semangat yang sama jika sedang menginginkan sesuatu.
" Ustadz kenapa...?" tanya Ranvier tiba-tiba.
" Gapapa. Cuma keinget sama Ayahmu...," sahut ustadz Rahman.
" Hubungan Kalian pasti deket banget ya sampe seringkali Ustadz hampir menangis pas ngeliat Aku...," kata Ranvier dengan suara parau.
__ADS_1
" Yah begitu lah. Tapi Ayahmu sudah bahagia di sana. Sebaiknya Kita ga usah mengusiknya lagi dengan hal remeh kaya gini. Sekarang tugasmu Kamu hanya fokus belajar supaya bisa membahagiakan Kakekmu...," kata ustadz Rahman bijak.
Ranvier pun mengangguk mengiyakan ucapan sang ustadz.
\=\=\=\=\=
Suatu hari ustadz Rahman sengaja mengajak Daeng Payau bertemu. Ia ingin membicarakan sesuatu yeng penting.
" Kenapa ngajak ketemu di sini Ustadz ?. Letaknya kan ga jauh sama rumahku...," kata Daeng Payau saat ia telah duduk di hadapan ustadz Rahman.
Saat itu mereka tengah berada di kedai kopi pinggir jalan yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah Daeng Payau.
" Maaf Daeng, tapi ini darurat. Aku cari gampangnya aja. Karena setelah ini Aku harus pergi mengajar..., " kata ustadz Rahman.
" Oh gitu. Emangnya apaan yang darurat Ustadz...?" tanya Daeng Payau.
" Mmm..., belakangan ini tiap kali Aku lagi ngajarin Ranvier, Aku ngeliat sekelebatan sinar berwarna keperakan di sekitar Ranvier. Sampe saat ini sih emang ga mengganggu. Tapi Aku khawatir itu akan membahayakan Ranvier...," kata ustadz Rahman hati-hati.
Ucapan ustadz Rahman nampak tak mengejutkan Daeng Payau. Pria itu terlihat biasa saja bahkan tersenyum tipis menanggapinya.
" Jadi Ustadz udah ngeliat juga...," kata Daeng Payau santai.
" Maksudmu, cahaya itu memang mengikuti Ranvier. Tapi sejak kapan, bahaya ga...?" tanya ustadz Rahman cemas.
" Insya Allah ga akan membahayakan Ranvier. Tapi bisa jadi membahayakan orang di sskitar Ranvier...," sahut Daeng Payau.
" Orang di sekitar Ranvier, apa Aku termasuk di dalamnya...?" tanya ustadz Rahman gusar tapi disambut gelengan kepala Daeng Payau.
" Bukan Kamu, Aku, atau orang yang biasa ada di sekeliling Ranvier. Karena cahaya keperakan itu hanya akan menyerang orang asing yang punya niat buruk sama Ranvier...," sahut Daeng Payau.
" Itu artinya Ranvier punya khodam penjaga yang bakal melindunginya dari orang jahat...?" tanya ustadz Rahman.
" Aku ga yakin itu khodam penjaga Ranvier karena sampe saat ini Aku belum bisa mendeteksi siapa dia dan apa maunya. Aku memang pernah melihatnya menyelamatkan Ranvier saat hampir dijadikan pengganti remaja di dunia ghaib waktu itu. Mudah-mudahan makhluk penghuni cahaya perak itu bukan lah makhluk jahat...," kata Daeng Payau penuh harap.
bersambung
__ADS_1