Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
102. Menempel Terus


__ADS_3

Sebelumnya Ranvier mencoba meminta alamat Mutiara kepada Amanda. Mendengar pria yang disukainya justru menanyakan alamat sang manager membuat Amanda kesal bukan kepalang.


" Maksudnya gimana ya Pak...?" tanya Amanda saat mereka masih bicara melalui sambungan telepon.


" Ini darurat Amanda. Tolong Saya supaya bisa segera menyelesaikan urusan ini sebelum terlambat.


" Maaf, kalo Saya boleh tau urusan apa yang ga boleh terlambat Pak...?" tanya Amanda masih berbelit-belit.


Erwin yang terlanjur kesal pun akhirnya menyela.


" Ga usah kepo Amanda !. Kamu kasih tau alamatnya atau Kamu ga usah jadi model untuk perusahaan Pak Ranvier lagi...!" kata Erwin lantang.


" Jangan Pak !. Iya iya maaf. Saya kasih tau sekarang. Mutia tinggal di kontrakan di jalan Abu-abu nomor 18...," sahut Amanda gusar.


" Bagus...!" kata Erwin lalu mengakhiri percakapan.


" Gimana Win...?" tanya Ranvier.


" Udah dapat Vier. Jalan abu-abu nomor 18. Kayanya Gue tau tempat itu. Sini, Gue aja yang bawa mobilnya biar cepet...," sahut Erwin.


Ranvier dan Erwin pun bertukar tempat. Lalu dengan kecepatan tinggi Erwin mengendarai mobil milik Ranvier menuju rumah kontrakan Mutia.


Dalam perjalanan keduanya masih sempat membicarakan apa yang Ranvier lihat tadi.


" Sedarurat apa sih urusannya Yara ini Vier. Kok Gue jadi ikutan panik kaya gini ya...?" tanya Erwin sambil terus memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi.


" Jangan panggil dia Yara, Win. Dia ga suka dipanggil pake nama itu. Panggil dia Mutia aja...," kata Ranvier mengingatkan.


" Haahh... ribet banget sih !. Iya lah Mutia. Urusan darurat apa yang bikin Lo cemas kaya gitu sama si Mutia...?!" tanya Erwin tak sabar.


" Karena makhluk yang membayangi Mutia udah mulai berani menunjukkan taringnya. Dia juga berhasil mempengaruhi Mutia sampe bersikap ga wajar kaya gitu...," sahut Ranvier.


" Makhluk, maksud Lo makhluk halus gitu Vier...?" tanya Erwin.


" Iya...," sahut Ranvier.


" Ya Allah..., apaan wujudnya Vier...?" tanya Erwin.


" Sundel bolong...," sahut Ranvier singkat.


Mendengar jawaban Ranvier membuat Erwin terkejut dan refleks menginjak pedal rem.

__ADS_1


" Hati-hati dong Win...!" kata Ranvier kesal.


" Sorry. Lo yang ngagetin Gue Vier...," sahut Erwin tak mau kalah.


" Udah, buruan jalan lagi...," pinta Ranvier yang diangguki Erwin.


Mobil pun kembali melaju dan tak lama kemudian mereka pun tiba di kompleks kontrakan yang dihuni Mutia. Saat tiba di sana, mereka masih bisa mendengar suara gaduh dari rumah yang dihuni Mutia karena suasana saat itu sedang sepi.


" Suara apaan tuh Vier...?" tanya Erwin sambil menutup pintu mobil.


" Ga tau. Tapi arahnya dari sana Win...," sahut Ranvier sambil menunjuk sebuah rumah yang pintunya tertutup rapat.


" Itu kan nomor 18. Artinya itu rumahnya Mutia, Vier...!" kata Erwin sambil bergegas menghampiri rumah tersebut.


Ranvier pun mengikuti Erwin sambil mencoba menghubungi nomor telepon Mutia. Berhasil. Mutia menerima panggilannya. Namun sayang Mutia terdengar marah dan tak suka saat Ranvier berniat membantunya.


" Gimana Vier...?" tanya Erwin.


" Dobrak aja Win. Ntar kalo ada apa-apa, Gue yang tanggung jawab sahut Ranvier.


Kemudian Ranvier dan Erwin pun mendobrak pintu kontrakan Mutia. Saat pintu didobrak, beberapa tetangga Mutia keluar dari rumah untuk melihat apa yang terjadi. Anehnya tak satu pun dari mereka keberatan dengan tindakan Ranvier dan Erwin.


Pintu pun terbuka dan memperlihatkan isi rumah kontrakan Mutia. Di lantai nampak dipenuhi barang yang berserakan sedangkan Mutia tak terlihat sama sekali. Ranvier dan Erwin saling menatap bingung karena tak tahu harus merespon bagaimana melihat pemandangan yang tersaji di depan mereka.


" Ada apa ini, kenapa rumah Mutia kaya gini...?!" tanya Amanda lantang.


" Kami juga ga tau Amanda. Waktu Kami datang udah kaya gini kok. Kalo ga percaya tanya aja sama tetangganya Mutia...," sahut Erwin cepat.


Kemudian Amanda pun bergegas masuk ke dalam rumah Mutia sambil memanggil nama gadis itu.


" Mutia...!. Mutiara...!" panggil Amanda lantang.


Langkah Amanda terhenti tepat di depan kamar yang hanya di ditutupi selembar kain gorden itu. Dari sela kain gorden yang terbuka setengah itu Amanda bisa melihat tubuh Mutia yang duduk di atas tempat tidur tengah mengejang dengan mata mendelik ke atas.


" Mutia !. Tolong..., tolong Mutia Pak Erwin...!" panggil Amanda panik.


Erwin dan Ranvier pun bergegas masuk dan melihat Mutia yang mengejang di kamar. Keduanya segera membawa tubuh Mutia keluar dari kamar.


Untuk sejenak mereka bingung harus meletakkan tubuh Mutia dimana karena lantai rumah dipenuhi perabotan yang berserakan.


Seolah mengerti kebingungan Ranvier dan Erwin, salah satu tetangga Mutia pun menawarkan rumahnya untuk tempat membaringkan tubuh Mutia.

__ADS_1


" Dibaringin di rumah Saya aja Mas...!" kata wanita berkulit gelap itu dengan ramah sambil membuka pintu rumahnya lebar-lebar.


" Iya Bu, makasih...," sahut Ranvier dan Erwin bersamaan.


" Sama-sama...," sahut wanita itu sambil tersenyum.


Setelah berhasil membaringkan tubuh Mutia Ranvier pun pamit untuk kembali ke rumah Mutia.


" Mau ngapain ke sana Vier...?" tanya Erwin.


" Mau membereskan kekacauan...," sahut Ranvier cepat.


" Gue ikut..., " kata Erwin sambil bangkit dari duduknya.


" Ga usah Win. Lo jaga di sini aja. Gue khawatir Mutia berulah dan membahayakan yang lain nanti...," sahut Ranvier.


" Ok, Gue jaga di sini. Tapi Lo hati-hati yaa...," pesan Erwin yang diangguki Ranvier.


Entah mengapa Amanda yang melihat ada kesempatan untuk lebih dekat dengan Ranvier pun diam-diam mengikuti Ranvier. Ia ikut masuk ke dalam rumah Mutia tepat setelah Ranvier menutup pintu.


Ranvier yang tengah bersiap menghadapi sesuatu itu pun terkejut saat melihat Amanda ada di belakangnya.


" Ngapain Kamu di sini Amanda...?!" tanya Ranvier gusar.


" Ya nemenin Pak Ranvier lah, apalagi emangnya...," sahut Amanda sambil tersenyum.


" Saya ga perlu ditemani. Sekarang sebaiknya Kamu keluar Amanda. Ini terlalu berbahaya untuk Kamu...," kata Ranvier.


" Gapapa. Berbahaya asal itu sama Pak Ranvier Saya suka kok...," sahut Amanda sambil berusaha menggapai lengan Ranvier lalu memeluknya erat.


Kesal dengan sikap genit Amanda, Ranvier hanya bisa berdecak sebal sambil terus berusaha menepis tangan Amanda.


Tiba-tiba pintu dibanting dengan keras hingga menimbulkan suara berdebum. Bersamaan dengan itu gorden di depan pintu kamar Mutia tersibak dengan sendirinya. Ranvier dan Amanda yang terkejut pun menoleh ke sumber suara.


" Kok gordennya tersibak sendiri, jangan-jangan...," ucapan Amanda terputus karena Ranvier memotong cepat.


" Saya udah bilang supaya Kamu keluar Amanda. Sekarang terlambat dan Saya ga akan bertanggung jawab untuk apa yang bakal Kamu liat nanti...," kata Ranvier dingin hingga membuat Amanda panik.


Lagi-lagi Amanda berusaha terus menempel di samping Ranvier, namun Ranvier bergegas menjauh. Tujuan Ranvier adalah kamar Mutia. Ranvier menduga makhluk yang mengganggu Mutia selama ini sedang sembunyi di kamar itu.


Amanda yang terus mengikuti Ranvier pun berhenti di drpan kamar. Sesaat kemudian ia menjerit tertahan saat melihat sesuatu yang ada di dalam kamar Mutia.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2