Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
150. Perhatian


__ADS_3

Setelah pernyataan cintanya mendapat sambutan baik dari Nada, Ranvier nampak selalu tersenyum. Sikapnya pada semua orang termasuk para karyawannya pun kembali menghangat seperti dulu. Dan itu membuat suasana kerja di perusahaan makin kondusif. Namun hal itu tak berlaku pada Erwin dan Riska.


Erwin dan Riska justru mendapat 'tekanan' dari Ranvier. Jika Erwin menyadari sikap Ranvier berubah padanya karena ulahnya, tapi Riska tidak. Sang sekretaris justru memperlihatkan sikap yang berbeda. Merasa cintanya tak bersambut, Riska justru melakukan aksi tak terpuji.


Semua berawal saat Nada datang ke perusahaan atas permintaan Ranvier. Nada yang saat itu mengenakan seragam kafe XX tempatnya bekerja, nampak mendatangi meja receptionist.


" Selamat siang Mbak, ada yang bisa Kami bantu...?" tanya karyawati receptionist.


" Selamat siang. Saya dari kafe XX mau mengantar pesanan Bapak Ranvier...," sahut Nada sambil tersenyum.


" Maaf, pesanan apa ya Mbak...?" tanya sang receptionist.


" Pesanan makan siang dan dua kopi latte. Kalo ga bisa Saya antar langsung, mungkin Saya bisa titip di sini aja...?" tanya Nada yang sadar jika dirinya sulit masuk ke ruangan Ranvier karena saat itu ia tampil tak layak.


Saat Ranvier menghubunginya via telephon tadi, saat itu Nada baru saja selesai mengantar pesanan pelanggan kafe. Nada panik saat mendengar Ranvier sakit karena telat makan siang. Karenanya ia pun bergegas datang ke perusahaan Ranvier dengan membawa makan siang dan kopi kegemaran Ranvier tanpa sempat berganti kostum. Dan kini ia ragu menemui Ranvier karena seragam yang ia kenakan itu.


" Oh sebentar Mbak. Biar Kami hubungi asisten Pak Ranvier dulu ya...," kata sang receptionist karena tak ingin disalahkan nanti.


Bukan tanpa alasan jika sang receptionist melakukan itu. Sebelumnya juga pernah ada tamu dengan penampilan tak layak datang dan memaksa untuk menemui Ranvier. Atas nama kesopanan, receptionist yang bertugas saat itu pun menolak memberi ijin masuk hingga berakibat fatal. Ranvier marah besar dan memecat sang receptionist hari itu juga. Usut punya usut, ternyata tamu dengan penampilan tak layak itu adalah Daeng Payau yang merupakan guru spiritual Ranvier.


" Kamu ga berhak menolak semua tamu yang datang berdasar penampilan mereka yang menurut Kamu ga layak. Kenapa Kamu lebih fokus sama penampilan luar daripada niat mereka...?!" tanya Ranvier kala itu.


" Maaf Pak. Tapi bukannya kalo masuk kantor atau instansi pemerintah ada tata tertib tersendiri. Bapak itu pake kemeja, rompi, topi dan sepatu belel. Menurut Saya itu ga sopan, makanya Saya ga ngijinin dia masuk. Saya ga bermaksud merendahkan Bapak itu, karena Saya hanya mau menegakkan peraturan aja Pak...," sahut receptionist membela diri.


" Peraturan mana yang Kamu maksud ?. Di perusahaan ini sejak awal ga ada peraturan semacam itu. Selagi tamu yang datang bersikap sopan, ga ada salahnya dilayani dengan baik. Toh sebelum masuk ke loby, para tamu juga melewati security. Kalo security sudah memastikan mereka aman dan ga bawa senjata tajam, artinya tamu bisa menuntaskan keperluannya. Kamu ga berhak mengatur siapa yang boleh dan ga boleh datang ke perusahaan ini karena Kamu cuma karyawan...!" kata Ranvier lantang.


Sang receptionist nampak gemetar ketakutan. Rupanya selama ini ia kerap menolak tamu yang datang dengan berbagai keperluan hanya dengan melihat penampilan luarnya saja. Meski pun kadang sang tamu memohon menemui orang yang dimaksud di loby saja, namun dia tetap menolak. Hal itu sering kali menimbulkan pertentangan dengan security yang bertugas di luar.


" Sa... Saya mohon maafkan Saya Pak. Saya janji ke depannya Saya akan bekerja lebih baik lagi...," kata sang receptionist penuh harap.


" Ini bukan kali pertama Saya dengar tentang kinerja Kamu. Dan Saya ga bisa mentolerir sikap semena-mena Kamu itu. Sebaiknya Kamu temui pihak HRD sekarang biar Beliau yang akan menjelaskan nanti...," kata Ranvier sambil berjalan cepat mengejar Daeng Payau yang menghubunginya dari tempat parkir.


Dan sang receptionist hanya bisa pasrah saat menerima surat pemecatan dari perusahaan Ranvier. Meski ia memohon tapi keputusan tak bisa diganggu gugat.

__ADS_1


" Sebelum Kamu menjalankan tugas, bukannya udah Saya ingetin supaya berhati-hati bertindak ?. Saya juga udah negur sikap Kamu beberapa kali kan ?. Kita ini satu team, yang bekerja saling mendukung satu dengan lainnya. Tindakan Kamu jelas meremehkan pekerjaan security di depan sana, itu artinya Kamu ga bisa lagi jadi anggota team Kami. Apalagi kali ini Kamu sudah melakukan kesalahan fatal. Ini surat pemecatan Kamu, tanda tangani ini lalu pergi ke bagian Keuangan. Kamu akan menerima uang pesangon yang jumlahnya sesuai dengan masa baktimu di perusahaan ini. Terima kasih telah menjadi bagian team dan selamat jalan...," kata pria itu sambil menunjuk pintu.


Dengan langkah gontai sang mantan receptionist pun keluar dari ruangan HRD. Ia tak mampu menegakkan kepalanya karena malu. Apalagi saat itu para karyawan yang pernah menjadi korbannya tengah menatapnya, termasuk wanita yang sekarang duduk menjadi receptionist itu.


Nada nampak mengerutkan keningnya saat melihat receptionist yang sedang menghubungi Erwin itu menganggukkan kepalanya.


" Baik Pak Erwin, makasih...," kata sang receptionist.


Setelahnya sang receptionist mempersilakan Nada naik ke lantai atas.


" Silakan Mbak, udah ditunggu sama Pak Erwin di lantai empat...," kata sang receptionist sambil tersenyum hingga membuat Nada menghela nafas lega.


" Baik Mbak, makasih...," sahut Nada lalu bergegas melangkah menuju lift.


Di dalam lift Nada nampak berusaha memperbaiki penampilannya. Kecemasan pun membayang di wajahnya. Namun saat ia melihat Erwin menyambutnya di luar lift, Nada pun menghela nafas lega.


" Assalamualaikum Bang Erwin...," sapa Nada dengan ramah.


" Jadi Bang Ranvier beneran sakit...?" tanya Nada cemas.


" Liat aja sendiri...," sahut Erwin sambil melangkah cepat.


Nada pun mengikuti langkah Erwin yang membawanya menuju ke sebuah ruangan. Di depan ruangan mereka berpapasan dengan Riska.


" Lho, Nada. Ngapain Kamu di sini...?!" tanya Riska sambil menatap Nada dari atas kepala hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan.


" Mau...," namun ucapan Nada terputus karena Erwin memotong cepat.


" Nanti aja ngobrolnya. Buruan masuk Nad, ntar keburu pingsan deh orangnya...," kata Erwin sambil menggamit lengan Nada lalu sedikit mendorongnya masuk ke ruangan Ranvier.


Saat menyadari Nada masuk ke ruangan Ranvier, Riska mencoba mengejar. Namun langkahnya terhenti saat Erwin menghadang.


" Mau ngapain...?" tanya Erwin.

__ADS_1


" Bukannya tadi Pak Erwin bilang Pak Ranvier pingsan ?, Saya cuma mau bantu aja kok...," sahut Riska gusar.


" Ga usah. Udah ada Nada yang bantuin. Kamu di luar aja, ga usah ganggu...!" kata Erwin tegas.


" Tapi...," ucapan Riska menggantung saat Erwin mengucapkan sesuatu yang membuat Riska kesal.


" Ranvier cuma mau berduaan sama calon Istrinya karena cuma Nada yang bisa mengobati dia. Apa Kamu ga paham juga kenapa Saya justru minta bantuan Nada dan bukan Kamu...?!" tanya Erwin sambil menatap Riska lekat.


Riska terdiam. Ia tak percaya jika Ranvier lebih memilih Nada yang dekil dibandingkan dirinya yang berkelas.


Erwin pun menyingkir karena mengira Riska mengerti apa yang ia ucapkan tadi. Tapi ternyata Riska justru menerobos masuk ke dalam ruangan Ranvier hingga mengejutkan Ranvier dan Nada. Riska nampak kesal melihat Nada duduk sangat dekat dengan Ranvier sambil menyuapinya makan siang. Apalagi saat itu Ranvier juga menatap Nada dengan mesra sambil merapikan anak rambut Nada yang menjuntai di kening gadis itu.


" Ada apa Riska...?" tanya Ranvier tak suka karena merasa kebersamaannya dengan Nada terganggu.


" Ma... af Pak. Saya... mmm... kata Pak Erwin Bapak sakit. Saya cuma mau bantu aja, tapi...," sahut Riska gugup.


" Kamu liat kan Saya sedang diobati ?. Kamu bisa tunggu di luar aja. Ga usah masuk kalo ga Saya panggil...," kata Ranvier datar.


" Sorry Vier, Gue kecolongan. Padahal Gue udah kasih tau Riska supaya ga masuk ke sini...!" kata Erwin tiba-tiba dari ambang pintu.


" Iya iya. Udah sana...," sahut Ranvier sambil melambaikan tangannya.


" Ok. Ayo Ris...," ajak Erwin sambil menarik lengan Riska dan membawanya keluar dari ruangan Ranvier.


Ranvier nampak menghela nafas panjang setelah pintu kembali tertutup.


" Dia sekretaris yang baik. Harusnya Kamu bangga punya sekretaris yang perhatian sama Kamu...," kata Nada.


" Aku ga butuh perhatian dia karena yang Aku mau cuma perhatian Kamu...," sahut Ranvier cepat sambil menggenggam jemari Nada erat.


Nada pun tersenyum bahagia melihat bagaimana Ranvier berusaha memenangkan hatinya.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2