Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
152. Diusir


__ADS_3

Saat Nada tengah menangis di dalam pelukan Wijaya, saat yang sama Ranvier dan Erwin juga tengah menatap Riska dengan tatapan tak bersahabat. Riska nampak salah tingkah. Sesekali ia mengusap wajahnya untuk menetralisir rasa gugupnya.


" Ma... maaf Pak. Sa... Saya ga tau kalo Nada itu...," ucapan Riska terputus karena Erwin memotong cepat.


" Masalahnya bukan karena Nada anak siapa. Tapi karena Lo yang suka meremehkan orang lain. Sikap Lo ke Nada tadi adalah bukti nyata kalo Lo menganggap derajat orang lain lebih rendah dari Lo. Apa Lo lupa kalo Lo juga bukan siapa-siapa di sini...?!" kata Erwin kesal.


" Saya minta màaf Pak. Saya salah...," sahut Riska lirih.


" Lo emang salah dan wajar kalo minta maaf !. Rasa iri dengki di hati Lo itu udah bikin Lo kaya orang tol*l. Apa Lo lupa kalo Gue udah wanti-wanti supaya jangan bikin kekacauan di sini ?. Tapi liat sekarang, Lo ga hanya bikin kekacauan tapi juga bikin malu diri Lo sendiri. Sayang banget ya, cashing cantik tapi hati busuk. Selama ini Lo selalu mengabaikan omongan Gue kan, sekarang bakal Gue buktiin siapa Gue...!" kata Erwin berapi-api.


Kalimat yang Erwin ucapkan telah membuat Riska malu. Selama ini ia memang mengabaikan posisi Erwin yang merupakan orang terdekat Ranvier karena sibuk mengejar perhatian Ranvier. Suara lantang Erwin tadi bahkan membuat Wijaya dan Nada menoleh kearahnya. Sedangkan Ranvier nampak berdiri sambil bersedekap dan bersandar santai di dinding seolah Riska bukan lah urusannya.


Nada pun mengurai pelukan sang ayah lalu berusaha menenangkan Erwin.


" Udah Bang Erwin, cukup. Kasian Riska, dia kan ga tau kalo Pak Wijaya ini Ayah Gue. Mungkin dia cuma khawatir Gue mempermalukan Bang Ranvier makanya dia bertindak kaya gitu tadi...," kata Nada.


" Tapi dia udah keterlaluan Nad. Gue ga bisa tolerir lagi. Ini bukan kali pertama dia bikin ulah dan kali ini dia bahkan berani nyakitin Lo...!" kata Erwin gusar.


" Tapi Gue gapapa Bang. Liat, Gue baik-baik aja kok...," sahut Nada.


" Tapi Aku yang ga baik-baik aja Sayang...!" kata Ranvier tiba-tiba hingga membuat semua orang di dalam ruangan menoleh kearahnya.


Erwin yang paham apa maksud kalimat Ranvier pun tersenyum kecut. Sedangkan Wijaya yang sejak tadi menonton perdebatan itu akhirnya paham apa hubungan Nada dan Ranvier. Apalagi kemudian Nada mendekati Ranvier sambil menggelayut manja di lengannya.


" Aku minta tolong maafin Riska ya Sayang...," pinta Nada penuh harap.

__ADS_1


Ranvier tersenyum lalu mengusap jemari Nada yang kini tengah berada di lengannya.


" Aku selalu berusaha mengabulkan semua keinginanmu. Tapi maaf, untuk yang satu ini Aku ga bisa. Erwin, Kamu tau kan gimana cara mengurus orang pilihanmu ini...?!" kata Ranvier sambil melirik tajam kearah Erwin.


" Siap Pak...!" sahut Erwin cepat.


Erwin pun mendekati Riska dan bersiap membawanya keluar dari ruangan itu. Sadar apa yang akan menimpanya, Riska pun mendongakkan wajahnya lalu berusaha mendekati Ranvier. Namun dengan sigap Ranvier mundur menjauh sambil merangkul Nada hingga membuat perasaan Riska kalut.


" Saya minta maaf Pak. Nada, tolong maafin Gue. Tolong bilang sama Pak Ranvier jangan pecat Gue...," kata Riska menghiba hingga membuat Nada bingung.


Sejujurnya Nada juga tak nyaman dengan sikap Riska padanya. Namun melihat air mata Riska membuat Nada luluh. Ia menoleh kearah Ranvier dan berharap sang kekasih mau merubah keputusannya. Namun sayang, Ranvier tampak tak peduli dan menyerahkan semuanya pada asisten pribadinya.


" Udah cukup Riska !. Lo ikut Gue sekarang atau Lo mau Gue lakuin sesuatu yang bisa bikin Lo lebih malu lagi dari ini...?!" ancam Erwin.


Mendengar ucapan Erwin nyali Riska pun menciut. Ia percaya Erwin sanggup mewujudkan ancamannya karena ia telah berani menyinggung Ranvier, atasan sekaligus sahabatnya itu.


" Maafkan Saya Pak Wijaya. Saya minta maaf karena Bapak harus menyaksikan ini. Nada, Gue juga minta maaf sama Lo. Maafin sikap buruk Gue selama ini. Dan Pak Ranvier, terima kasih telah memberi Saya kesempatan menjadi sekretaris Bapak. Maafkan Saya karena ga bisa memisahkan urusan pribadi dengan urusan kantor. Sekali lagi maafkan Saya...," kata Riska sambil menangkup kedua telapak tangannya di depan dada.


Ranvier hanya mendengus kesal melihat sikap Riska. Sedangkan Erwin yang berdiri di dekat pintu nampak tak sabar melihat sikap Riska yang bertele-tele itu. Ia pun memanggil Riska.


" Buruan Riska !. Ga usah pake drama Lo...!" kata Erwin lantang.


Riska pun berbalik lalu melangkah cepat menuju Erwin yang telah membuka daun pintu. Setelahnya Erwin mengawal Riska hingga keluar dari kafe XX karena khawatir gadis itu akan menerobos masuk ke dalam ruangan seperti tempo hari.


" Saya ga usah diantar Pak. Saya bisa pulang sendiri...," kata Riska saat mereka tiba di luar kafe XX.

__ADS_1


" Siapa yang mau nganterin Lo, ga usah geer Lo !. Gue cuma mau ngasih ini...," kata Erwin sambil menyodorkan sebuah paper bag.


" Apa ini Pak Erwin...?" tanya Riska dengan wajah berbinar karena mengira Erwin sedang mencoba menghiburnya.


" Buka aja...," sahut Erwin dengan enggan.


Riska pun mengeluarkan isi paper bag dan terkejut. Ada amplop berisi uang yang bisa dipastikan jumlahnya sangat banyak, juga selembar surat pemecatan yang ditanda tangani langsung oleh Ranvier.


" Jadi Kalian udah nyiapin ini sebelumnya...," kata Riska sedih.


" Iya. Melihat kinerja Lo yang buruk belakangan ini bikin Pak Ranvier muak dan ingin memecat Lo. Tapi Gue masih mencoba meminta kesempatan untuk Lo. Bahkan Gue udah meyakinkan Pak Ranvier dan bilang kalo Lo adalah karyawan yang bisa diandalkan. Makanya Lo bisa ada di sini sekarang dan ikutan meeting tadi. Tapi sayangnya Lo merusak semuanya. Dan Gue udah ga bisa bantu Lo lagi karena kesalahan yang Lo buat udah melampaui ambang batas...," kata Erwin.


" Saya mohon kasih Saya kesempatan sekali lagi Pak. Saya janji ga akan melakukan hal konyol kaya tadi lagi...," pinta Riska sambil meraih tangan Erwin dan menggenggamnya erat.


" Ga bisa. Kalo Gue nolong Lo, artinya masa depan Gue yang terancam. Dan Gue ga mau itu terjadi...," sahut Erwin sambil menarik tangannya dari genggaman Riska.


" Apa maksud Pak Erwin...?" tanya Riska tak mengerti.


" Apa Lo masih ga paham juga ?. Pak Ranvier cuma ngasih satu pilihan. Lo atau Gue yang bertahan di sini. Jelas aja Gue milih menyelamatkan diri Gue sendiri dong. Dan Gue ga bakal jadi orang bod*h yang mempertaruhkan masa depan Gue buat cewek sakit kaya Lo...!" sahut Erwin cepat.


Ucapan Erwin membuat Riska tersadar jika selama ini dia telah mengabaikan Erwin yang memiliki perhatian khusus padanya. Saat Riska memberanikan diri menatap Erwin, ia kecewa. Karena dia tak menemukan rasa itu lagi di kedua sorot mata Erwin.


" Maafkan Saya...," kata Riska sungguh-sungguh.


" Iya iya, Gue juga minta maaf karena udah ngomong kasar sama Lo. Gue cuma mau Lo ngerti kalo ada hal yang ga bisa ditentang. Tapi ya udah. Sekarang semuanya udah berakhir. Selamat jalan, semoga menemukan kebahagiaan di tempat lain...," kata Erwin.

__ADS_1


Setelah mengucapkan kalimat itu Erwin pun membalikkan tubuhnya lalu masuk ke dalam kafe. Riska nampak menatap punggung Erwin yang menjauh dan berharap pria itu mau berubah pikiran. Tapi hingga beberapa saat menunggu, Erwin tak juga kembali. Dan dengan terpaksa Riska pun meninggalkan kafe XX sambil sibuk menyesali diri.


\=\=\=\=\=


__ADS_2