
Kakek Randu menepati janjinya. Tiga hari menjelang pernikahan Akmal, Ranvier dikabari jika dia bisa pulang ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan sang sahabat.
" Serius Kek...?" tanya Ranvier tak percaya.
" Serius dong, sekarang Kamu bisa siap-siap untuk pulang ya. Ga usah bawa apa-apa, Kamu cuma harus membawa dokumen yang diperlukan. Krisna yang bakal jemput Kamu di bandara nanti...," sahut Kakek Randu.
" Tapi Aku belum ijin ke kampus Kek. Kan ada aturan ga boleh pulang pergi sesuka hati buat mahasiswa asing kaya Aku...," kata Ranvier gusar.
" Kamu tenang aja. Kakek udah urus dari dua bulan yang lalu kok. Sengaja Kakek ga kasih tau biar Kamu dan dua sahabatmu itu ga berharap banyak. Sekarang udah fix Kamu bisa pulang ya. Kakek tunggu di rumah...," kata Kakek Randu.
" Ok. Aku bakal siap-siap sekarang. Makasih ya Kek...," kata Ranvier antusias.
" Sama-sama..., " sahut kakek Randu di akhir kalimatnya.
\=\=\=\=\=
Ranvier tiba di bandara Soekarno Hatta saat malam hari. Saat itu tak ada siapa pun yang datang menjemput. Ranvier memilih menunggu daripada menghubungi kakek Randu atau Krisna.
Setengah jam menunggu Krisna pun datang. Ranvier tersenyum melihat Krisna melangkah cepat kearahnya.
" Maaf Mas, Saya terlambat. Ada kecelakaan di jalan tadi, makanya jalanan macet dan Saya terlambat datang...," kata Krisna dengan nafas terengah-engah.
" Santai aja Pak Kris. Aku juga lagi ga buru-buru kok. Apa kabar Pak Kris...," sapa Ranvier sambil memeluk Krisna erat.
Krisna terdiam gugup mendapat pelukan Ranvier. Ia mengira Ranvier marah karena ia terlambat menjemput, tapi yang dia peroleh justru pelukan hangat. Krisna pun membalas pelukan Ranvier.
" Ba... baik Mas. Alhamdulillah Saya baik dan sehat. Mas Ranvier keliatan lebih tinggi dan tambah cakep lho sekarang...," puji Krisna saat Ranvier mengurai pelukan.
" Bisa aja nih Pak Kris. Apa Kita bisa pulang sekarang Pak Kris ?. Aku udah kangen sama Kakek...," kata Ranvier.
" Tentu Mas. Ayo Kita pulang...," sahut Krisna sambil berusaha meraih tas ransel Ranvier.
" Ga perlu Pak Kris, Aku aja. Ini ga berat kok...," kata Ranvier sambil tersenyum.
" Ok...," sahut Krisna sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
Keduanya pun bergegas melangkah menuju mobil yang dikendarai Totok. Setelah menyapa Totok, Ranvier pun duduk di kursi belakang.
" Wah masih macet juga Tok...," kata Krisna saat mereka berada di atas jalan raya.
" Iya Pak. Karena kecelakaannya parah, makanya jalanan dibagi dua arah kaya gini...," sahut Totok cepat.
" Oh gitu. Bakal lama deh nyampe rumah. Sayangnya ga ada jalan alternatif lain yang bisa Kita lewatin supaya bisa cepet sampe ke rumah...," kata Krisna mirip sebuah gumaman.
" Ada sih Pak, tapi lebih jauh. Jalannya juga rusak. Baru sebagian jalan yang diaspal sisanya ya masih tanah yang becek kalo kena ujan...," sahut Totok.
" Emang masih ada jalan kaya gitu di ibukota Tok...?" tanya Krisna.
" Masih Pak. Buktinya ya jalan yang Saya bilang tadi...," sahut Totok sambil tertawa.
" Gimana Mas, mau nyoba jalan alternatif yang Totok bilang atau...," ucapan Krisna terputus saat Ranvier memotong cepat.
" Saran Saya sih ikutin alurnya aja Pak. Gapapa telat, yang penting selamat sampe rumah...," kata Ranvier.
" Baik Mas...," sahut Krisna dan Totok bersamaan.
Sosok makhluk itu berwujud nenek-nenek, bungkuk, berambut putih yang sebagian disanggul ke atas dan sisanya dibiarkan tergerai begitu saja menutupi wajahnya.Nenek itu juga membawa tongkat untuk membantunya berjalan. Sepintas memang mirip manusia biasa. Namun saat diamati dengan jelas wajahnya sangat aneh.
Jika manusia biasa memiliki mulut yang melintang ke samping, nenek itu jelas memiliki mulut yang membujur ke atas, dengan dua mata dan tanpa hidung.
Ranvier melihat nenek itu berdiri di pinggir sebuah jalan yang berbelok. Nenek itu akan menunjukkan arah pada pengendara mobil yang tak sabar dengan kemacetan yang mengular itu menuju sebuah jalan beraspal yang terang karena diterangi lampu jalan.
Nenek itu akan menganggukkan kepalanya sambil melambaikan tangan saat mendapat uang dari para pengendara mobil yang merasa terbantu.
" Ada jalan di sana ya Nek...?!" tanya para pengendara mobil.
Nenek itu mengangguk tanpa bersuara. Tangannya menunjuk jalan yang terang itu lalu memberi aba-aba berbelok. Setelahnya nenek itu mengacungkan ibu jarinya sebagai tanda jika mereka mengambil jalan itu maka akan 'tiba' cepat waktu.
Nampaknya para pengendara mobil paham apa yang dimaksud sang nenek. Setelah mendapat arahan sang nenek, mereka memberi uang sebagai imbalan.
Ranvier melihat senyum di wajah nenek itu tiap kali ia berhasil membuat kendaraan masuk ke jalan itu. Senyum yang terlihat sangat menyeramkan karena wajah sang nenek akan tampak merekah, seolah wajahnya terbagi dua bagian dengan lidah yang menjulur berwarna merah semerah darah.
__ADS_1
Seolah sadar dirinya sedang diamati, nenek itu pun menoleh kearah mobil yang dikendarai Totok. Saat itu Totok dan Krisna sedang fokus menatap jalan raya di depannya sambil berbincang banyak hal, sedangkan Ranvier menatap tajam kearahnya.
Nenek itu nampak melangkah tertatih-tatih menuju mobil yang dikendarai Totok. Ranvier pun menegakkan tubuhnya sambil membaca dzikir dalam hati. Nampaknya Ranvier bersiap menghadapi berbagai kemungkinan yang akan terjadi.
Tiba-tiba nenek bungkuk itu mengetuk kaca mobil dimana Krisna berada.
" Tok tok tok...,"
Krisna terkejut dan menoleh. Totok yang ada di sampingnya pun ikut menoleh.
" Nenek-nenek Tok, ada apaan ya...," kata Krisna sambl mencoba membuka kaca mobil melalui tombol di balik pintu.
" Jangan dibuka Pak !. Siapa tau itu cuma modus. Sering banget kan kejadian orang dirampok gara-gara mau bantuin orang di tengah jalan...," kata Totok mengingatkan.
" Terus gimana dong. Kasian banget Tok, udah tua gitu...," sahut Krisna.
" Emang gitu cara mereka menarik korbannya Pak. Ntar kalo Kita iba, terus buka jendela atau pintu, baru deh kawanannya nongol. Bukan satu atau dua tapi banyak Pak. Lebih parah lagi karena biasanya mereka bawa senjata tajam juga...," kata Totok.
" Iya sih, Saya emang sering denger cerita pembegalan di jalan kaya gitu. Tapi Saya yakin yang ini beda Tok. Ini Nenek-nenek lho, bukan cewek yang berpenampilan se*i yang sering kali dijadiin umpan...," sahut Krisna.
" Cuekin aja lah Pak...," kata Totok tegas sambil mulai melajukan mobil perlahan.
Nampaknya Krisna tak peduli dengan ucapan Totok. Seperti terhipnotis dengan tatapan sang nenek, Krisna pun membuka kaca mobil perlahan. Saat kaca mobil bergerak turun fan hampir terbuka, saat itu lah Ranvier berteriak lantang.
" Jangan buka Pak Kris !. Bang Totok, jalan...!" kata Ranvier lantang hingga mengejutkan Krisna dan Totok.
" Siap Mas...!" sahut Totok sambil menginjak pedal gas beberapa saat lalu mengeremnya mendadak.
Aksi Totok membuat Krisna terlonjak ke belakang lalu tersungkur dan kepalanya membentur dash board mobil.
" Ya Allah, pelan-pelan dong Tok...!" kata Krisna marah sambil memegangi kepalanya.
" Sorry Pak Kris, Saya kan nurutin apa kata Mas Ranvier tadi...," sahut Totok tak enak hati.
Kemudian Krisna dan Totok pun menoleh kearah Ranvier yang saat itu tengah menatap ke belakang dengan tatapan waspada.
__ADS_1
\=\=\=\=\=