Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
119. Feeling Buruk


__ADS_3

Saat Ranvier tiba di anak tangga paling bawah, Erwin segera menyambutnya.


" Gue tepatin janji Gue sekarang Vier...," kata Erwin.


" Janji apaan...?" tanya Ranvier tak mengerti.


" Janji Gue buat ngenalin cewek yang istimewa di hati Gue. Nah, kenalin ini yang namanya Atika yang sering Gue ceritain sama Lo...," kata Erwin sambil melirik Atika.


" Oh hai, Atika. Salam kenal ya. Gue Ranvier...," sapa Ranvier dengan ramah.


" I... iya. Saya Atika...," sahut Atika gugup.


" Udah pada makan belum ?, makan aja dulu yuk...," ajak Ranvier.


" Ok. Ayo Yang, Kita makan dulu...," kata Erwin sambil menggamit tangan Atika.


Namun Atika menepis lembut tangan Erwin karena merasa sungkan dengan Ranvier dan kakeknya.


" Kok makan sih. Acara pengajiannya kan belum dimulai...," kata Atika.


" Gapapa. Itu masih dua jam lagi. Sambil nunggu orang rumah beres-beres, Kita bisa makan dulu...," sahut Ranvier.


" Betul yang Ranvier bilang. Kalo udah mulai acara nanti bisa-bisa Kita ga bisa makan. Bukan karena lupa tapi karena ga sempet. Kan acaranya nyambung terus sampe Maghrib. Makanya Kita makan sekarang aja. Ayo, ga usah malu-malu..., " kata Kakek Randu sambil melangkah mendahului mereka.


" Iya Kek...," sahut Atika sambil tersenyum.


Saat makan bersama Ranvier pun menceritakan pengalamannya saat berada di tanah suci. Kakek Randu dan Erwin tampak antusias mendengarkan. Sedangkan Atika sesekali nampak mencuri pandang kearah Ranvier.


Ranvier bukan tak tahu jika kekasih sahabatnya itu terus mencuri pandang kearahnya. Saat itu Ranvier melihat ada suatu yang aneh pada diri Atika. Dan dia berniat menyampaikan itu pada sahabatnya nanti. Mungkin itu berkaitan dengan sikap Bapak Atika yang belum juga memberi restu kepada Erwin untuk memacari anaknya.


Setelah mereka makan siang, mereka bersiap menyambut tamu yang hadir. Ranvier bersorak gembira saat ustadz Rahman dan Daeng Payau datang. Ia memeluk guru spiritualnya itu bergantian. Atika yang selalu mengamati gerak gerik Ranvier pun makin dibuat kagum melihat apa yang Ranvier lakukan.


Erwin ikut mencium punggung tangan kedua guru spiritual Ranvier dengan takzim. Setelahnya ia mengenalkan Atika kepada ustadz Rahman dan Daeng Payau.


" Apa kabar Ustadz, Om...?" sapa Erwin.

__ADS_1


" Alhamdulillah baik...," sahut ustadz Rahman dan Daeng Payau bersamaan.


" Oh iya, kenalin ini teman Saya...," kata Erwin sambil tersenyum bangga.


" Teman...?" tanya Daeng Payau sambil tersenyum penuh makna.


" Iya iya, temen deket Om...," sahut Erwin sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal hingga membuat semua orang tertawa.


Kemudian Atika pun mengikuti jejak Ranvier dan Erwin. Namun kepada ustadz Rahman ia hanya menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada karena mengerti bagaimana adab terhadap sang ustadz.


Dalam sekali lihat saja Daeng Payau dan ustadz Rahman bisa menemukan sesuatu yang aneh pada diri Atika. Namun keduanya memilih diam karena tak ingin merusak suasana.


" Sebentar lagi acaranya dimulai. Kita sambut tamu di depan yuk...," ajak Kakek Randu.


" Baik Pak...," sahut ustadz Rahman dan Daeng Payau bersamaan lalu mengikuti Kakek Randu ke ruang depan.


Satu per satu tamu mulai berdatangan. Akmal pun datang bersama keluarga kecilnya. Kakek Randu pun nampak antusias menyambut mereka. Ia berusaha meraih Andira dari gendongan Amelia. Meski awalnya menangis, toh akhirnya Andira bisa tertawa di pelukan Kakek Randu.


" Saya bawa Andira ke teras samping aja ya Kek. Kalo di sini khawatir ganggu nanti...," kata Amelia saat pengajian akan dimulai.


" Iya Nak. Bawa ke sana dan kasih apa pun yang dia mau. Jangan sungkan ya...," kata Kakek Randu sambil mengecup pipi gembul Andira.


Semua tamu laki-laki mulai duduk dan mengaji dipimpin ustadz Rahman. Sedangkan Atika duduk di ruang tengah sambil mengamati pergerakan semua orang. Ia tak mencoba bergabung dengan Amelia yang sibuk mengasuh putri kecilnya yang terlihat aktif itu. Nampaknya Atika tak terlalu suka dengan anak kecil.


Saat itu Atika berkesempatan mengamati dekorasi rumah Kakek Randu. Terlihat jelas jika Atika menyukai semua yang ada di rumah itu. Saat melihat bagaimana sikap semua orang terhadap Kakek Randu dan Ranvier, Atika makin tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya.


" Kenapa Gue harus kenal sama Erwin dulu sih. Harusnya Gue kenal sama Ranvier bukan Erwin. Kalo diliat-liat Erwin ga ada apa-apanya dibanding Ranvier...," batin Atika kesal.


Dan saat pengajian selesai mau tak mau Atika turun tangan membantu membagikan buah tangan untuk para tamu. Erwin nampak tersenyum bangga melihat kekasihnya berhasil membaur dengan Ranvier dan keluarganya.


Saat sedang sibuk membantu membagikan bingkisan untuk para tamu, tiba-tiba ponsel Atika berdering.


Atika bergegas keluar untuk menerima panggilan dan saat kembali wajahnya terlihat tegang.


" Kenapa, siapa yang telephon...?" tanya Erwin.

__ADS_1


" Bapak nyuruh Aku pulang sekarang...," sahut Atika.


" Sebentar lagi ya, tamunya biar pulang dulu. Nanti Aku antar Kamu pulang deh...," kata Erwin.


" Aku pulang sendiri aja gapapa ya Win...," sahut Atika.


" Eh jangan dong. Ok, kalo gitu Kita pamit sekarang..., " kata Erwin yang diangguki Atika.


Akhirnya Erwin terpaksa pamit lebih dulu karena harus mengantar Atika pulang. Semua mencoba maklum dan membiarkan Erwin pergi.


" Kenapa Aku ngerasa ceweknya Erwin itu aneh ya Pa...," kata Amelia.


" Masa sih Ma. Aku sih ga terlalu merhatiin jadi ga tau anehnya dimana...," sahut Akmal.


" Mungkin Aku salah. Tapi jujur Aku ga nyaman di dekat dia. Feeling Aku bilang dia bukan cewek yang tepat untuk Erwin...," kata Amelia setengah berbisik.


" Kalo ga nyaman simpen aja sendiri. Jangan kasih tau siapa-siapa. Mungkin ini karena Kita baru pertama kali bertemu sama dia, jadi ga akrab. Kalo soal tepat atau ga, Aku ga bisa ikut campur. Biar Kita bilang ga tepat tapi ternyata Erwin berjodoh sama dia, Kita mau bilang apa. Jadi untuk sementara Kita jadi penonton yang baik aja dulu...," kata Akmal bijak.


" Iya Pa...," sahut Amelia sambil tersenyum kecut.


Dan ternyata 'feeling buruk' Amelia dan semua orang terhadap Atika pun terbukti. Setelah hari itu Atika tak lagi bisa Erwin temui. Saat dihubungi melalui sambungan telephon pun Atika tak pernah merespon. Dan jika Erwin sengaja datang ke kafe untuk menemuinya, Atika pun memilih sembunyi. Tentu saja itu membuat Erwin galau.


Kegalauan Erwin berimbas pada kinerjanya yang memburuk di perusahaan Kakek Randu. Beberapa kali Ranvier harus melihat Erwin tak fokus saat diajak bicara. Dan itu membuat pekerjaannya terhambat. Apalagi status Erwin sebagai asisten pribadi Ranvier menjadikan Ranvier sangat bergantung padanya.


Sejujurnya ada sesuatu yang tak ingin Ranvier sampaikan pada sahabatnya itu. Karena tanpa sepengetahuan Erwin, Atika telah menghubungi Ranvier beberapa kali dan mengajaknya bertemu. Namun melihat Erwin yang setengah depresi itu mau tak mau Ranvier terpaksa menceritakan semuanya.


" Lo galau kaya gini gara-gara Atika ya Win...?" tanya Ranvier.


" Iya. Gue tuh cinta banget sama dia. Tapi Gue bingung kenapa Atika berubah. Tau-tau dia ngejauh dari Gue dan mendadak minta putus. Sekarang Gue lagi mikir apa salah Gue sampe dia minta putus segala..., " sahut Erwin gusar.


" Sebaiknya Lo lupain dia Win. Dia... ga baik untuk Lo...," kata Ranvier hati-hati.


" Kata siapa dia ga baik. Lo ga usah nambah-nambahin deh Vier...," sahut Erwin cepat.


" Kalo dia emang cewek baik-baik, ga mungkin dia nelephon dan chat Gue berkali-kali buat ngajak ketemuan. Gue yakin Lo ga tau soal ini kan...?" tanya Ranvier sambil memperlihatkan isi chat di ponselnya.

__ADS_1


Erwin terkejut hingga membelalakkan matanya saat membaca isi pesan mesra yang dikirim oleh seseorang. Meski pun Ranvier tak memberi nama pada nomor itu, Erwin tahu jika itu adalah nomor ponsel milik Atika.


bersambung


__ADS_2