
Tak lama kemudian Ranvier dan Erwin pun tiba di ruangan. Ranvier nampak melangkah menuju sofa lalu berbaring di sana. Erwin mengerutkan keningnya melihat kondisi Ranvier yang sedikit berbeda dari biasanya.
" Lo sakit Vier...?" tanya Erwin.
" Ga, cuma capek aja...," sahut Ranvier cepat.
" Terus gimana urusan Lo tadi...?" tanya Erwin.
" Insya Allah lagi dicariin solusinya..., " sahut Ranvier.
" Gue emang ga tau apa yang jadi urusan Lo itu Vier. Tapi please, jangan sakit ya. Gue ga kebayang gimana perusahaan ini kalo Lo sakit...," kata Erwin dengan mimik wajah serius.
" Gue kan bukan robot Win. Ada kalanya Gue juga lemah dan sakit. Manusiawi kali...," sahut Ranvier sambil mencibir.
Erwin tertawa mendengar jawaban Ranvier. Karena tak ingin mengganggu istirahat sang sahabat, Erwin pun berniat keluar dari ruangan Ranvier.
" Sebentar Win...!" panggil Ranvier.
" Iya. Kenapa Vier...?" tanya Erwin.
" Tadi Amanda bilang ada model cewek yang bakal gantiin dia. Emang beneran ada, terus orangnya kemana sekarang...?" tanya Ranvier.
" Itu yang Gue ga paham Vier. Amanda itu halu atau ngaco, Gue juga ga ngerti ya. Waktu marah tuh dia nunjuk- nunjuk kearah belakang Gue. Bilang kalo cewek di belakang Gue itu ngaku sebagai model pengganti yang udah dipilih sama perusahaan ini buat gantiin Amanda. Tapi pas Gue nengok ke belakang, ga ada siapa-siapa di sana. Maksud Gue, cewek yang potongannya kaya model seperti yang dibilang Amanda tuh ga ada. Yang ada ya karyawan sama security. Makanya Gue nyengir aja daritadi...," sahut Erwin.
" Mungkin itu yang bikin dia emosi Win. Bukannya jawab, eh Lo malah nyengir-nyengir ga jelas...," kata Ranvier sambil tertawa.
" Iya kali. Makanya sampe meledak-ledak gitu marahnya...," sahut Erwin ikut tertawa.
" Tapi untuk saat ini Kita ga perlu cari model pengganti Win. Stock foto Amanda kan masih banyak. Mungkin Kita masih bisa manfaatin yang ada aja dulu...," kata Ranvier.
" Iya Vier, Gue setuju. Itu juga bagus buat menghemat pengeluaran. Yah walau Gue yakin Kakek Lo ga bakal setuju sama jalan pikiran Lo...," sahut Erwin.
" Mau ga mau Kakek harus setuju Win. Kakek sendiri bilang, Gue yang menentukan jalannya perusahaan ini. Mau maju atau mundur, mau untung atau rugi, kan Gue juga yang bakal kena imbasnya...," kata Ranvier sambil kembali berbaring di sofa.
Erwin pun mengangguk lalu perlahan menutup pintu saat dilihatnya Ranvier memejamkan mata.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Sementara itu Amanda masih tak bisa menerima keputusan Ranvier yang memecatnya secara sepihak. Amanda pun mengamuk di rumah.
" Udah dong Man. Sampe kapan Lo mau ngamuk terus kaya gini. Capek Gue ngeliatinnya...," kata Mutia menghiba.
" Apaan sih Lo Ti !. Lo itu kan Manager Gue. Harusnya Lo bisa membela kepentingan Gue, bukan malah pasrah aja kaya tadi. Ga guna banget sih Lo jadi orang...!" sahut Amanda sambil mendengus kesal.
Ucapan Amanda telah membangkitkan kemarahan Mutia. Kesabaran yang dipupuknya sejak beberapa jam yang lalu akhirnya sia-sia karena ia lelah menghadapi sikap arogan Amanda.
" Gue emang ga guna. Dan Lo lebih ga guna lagi Man...!" kata Mutia lantang.
" Apa maksud Lo...?!" tanya Amanda.
" Menjaga diri aja ga bisa apalagi menjaga orang lain. Buat apa Lo datang ke tempat itu padahal Lo tau di sana tempat yang ga baik untuk karir Lo saat ini. Denger, buat karir Lo ya !. Gue ga peduli sama hidup Lo yang bar-bar itu. Tapi bisa kan Lo sedikit ngerem kelakuan minus Lo supaya ga merugikan orang lain. Di sini bukan cuma Lo yang rugi, Gue juga rugi. Apalagi gara-gara ulah Lo, Gue juga harus kehilangan uang yang jumlahnya sangat besar...!" kata Mutia lantang.
" Oh, jadi menurut Lo ini semua salah Gue ?. Andai Lo sedikit peka dan mau membantu Gue mendekati Ranvier, ga akan kaya gini jadinya Ti. Gue tau, Lo sama dia temenan kan dulu. Terus kenapa Lo ga mau bantuin Gue Ti, kenapa...?!" sahut Amanda.
" Mendekati Ranvier, untuk apa Man...?!" tanya Mutia tak mengerti.
" Gue ngelakuin hal itu karena Gue ga punya cara lain untuk menarik simpatinya Ranvier. Gue cinta mati sama dia Mutia. Masa Lo ga paham juga...," sahut Amanda mulai menangis.
" Jadi Lo beneran jatuh cinta sama Ranvier Man...?" tanya Mutia dengan suara bergetar.
" Iya...," sahut Amanda.
" Lupain Man. Ranvier ga layak untuk Lo...," kata Mutia.
" Kalo ga dia layak buat Gue, artinya dia hanya pantas sama Lo...?!" tanya Amanda sambil mencibir.
" Bukan. Gue juga ga layak bersanding sama dia. Ranvier itu orang baik. Dia hanya pantas bersanding dengan wanita baik-baik, bukan wanita seperti Kita...," sahut Mutia dengan mata berkaca-kaca.
Untuk sesaat ruangan itu menjadi hening. Hanya deru nafas Mutia yang memburu dan isak tangis Amanda yang terdengar.
" Lo... pernah suka juga sama dia Ti...?" tanya Amanda setelah terdiam beberapa saat.
" Iya. Siapa sih yang ga suka sama cowok kaya dia. Sayangnya Gue cuma bisa jadi temennya, ga lebih...," sahut Mutia sambil menerawang jauh.
Seolah merasa senasib dengan Mutia, Amanda pun mendekati sang manager lalu memeluknya erat. Untuk sejenak mereka berpelukan sambil menangisi orang yang sama.
__ADS_1
" Ini konyol banget sih Ti. Bisa-bisanya Kita jatuh cinta sama orang yang sama. Dan sialnya lagi Kita ditolak...!" kata Amanda sambil tersenyum kecut.
" Iya Man. Patah hati sama orang yang sama ternyata seru juga ya...," sahut Mutia sambil menghapus air matanya.
Mutia dan Amanda saling menatap kemudian tertawa.
" Jadi Kita harus gimana sekarang Ti ?. Gue bingung, Gue ngerasa ga punya tujuan setelah kontrak kerja Kita diputus sepihak sama Ranvier...," kata Amanda gusar.
" Kalo Lo mau, Kita hijrah Man. Kita pergi ke kota lain dan mulai buka usaha yang lain. Gue rasa Lo juga sulit balik ke dunia modelling karena nama Lo udah terlanjur diblack list gara-gara foto vulgar Lo itu...," sahut Mutia.
" Lo bener. Gara-gara cowok breng*ek itu Gue kehilangan segalanya...," kata amanda sambil menggertakkan giginya.
" Segalanya ?. Apa Lo...," ucapan Mutia terputus karena Amanda memotong cepat.
" Iya Ti. Gue pernah ngelakuin itu sama dia dulu. Dia ngancam bakal nyebarin video hubungan int*m Gue sama dia kalo Gue ga nurutin kemauannya. Kemarin dia ngajak berdamai. Tapi nyatanya Gue malah dijebak dan hampir diperk*sa sama empat temannya itu. Untung orang suruhan Ranvier datang dan nolongin Gue. Kalo ga, mungkin Gue udah bun*h diri karena ga kuat menanggung malu Ti...," sahut Amanda.
" Astaghfirullah aladziim..., " gumam Mutia.
" Lo istighfar Ti. Sejak kapan...?" tanya Amanda hampir tertawa.
" Sejak Ranvier nolongin Gue hari itu...," sahut Mutia.
" Ups, sorry. Gue ga bermaksud ngetawain Lo Ti. Gue cuma heran aja denger Lo ngucap istighfar setelah sekian lama ga pernah inget Tuhan...," kata Amanda.
" Gue sadar Kita udah terlalu jauh dari Allah Man. Makanya Kita selalu sial dan hidup pun ga tenang...," sahut Mutia.
" Lo bener Ti...," kata Amanda cepat.
" Jadi gimana, Lo mau kan ikut Gue hijrah ke kota lain. Kita mulai semuanya dari nol. Pake identitas baru dan mulai usaha baru...," kata Mutia.
" Iya Ti, Gue setuju. Gue ikut kemana pun Lo pergi karena cuma Lo yang Gue punya dan yang peduli sama Gue...!" sahut Amanda antusias.
" Bagus. Kita siap-siap sekarang yuk...," ajak Mutia yang diangguki Amanda.
Setelah berhasil meredam sakit akibat patah hati, kini Amanda dan Mutia bersiap untuk menyongsong kehidupan yang baru di kota lain.
\=\=\=\=\=
__ADS_1