
Ranvier sedang duduk di atas sofa di dalam ruang rawat inap kelas satu. Saat itu ia sedang menemani wanita yang tadi ditolongnya.
Ranvier tersenyum mengingat bagaimana keukeuhnya wanita itu menyembunyikan jati dirinya. Namun setelah sedikit pemaksaan oleh Ranvier, akhirnya wanita itu mau memberi kartu identitasnya pada perawat yang akan mencatat data pribadinya. Dan setelahnya dengan mudah Ranvier meminta kamar rawat inap kelas satu untuk tempat wanita bernama Nada itu dirawat.
Suara dering ponsel Ranvier membahana di ruangan hingga membuat Nada terbangun dari tidurnya. Ia terkejut saat melihat Ranvier ada bersamanya. Diam-diam Nada mengamati Ranvier yang sedang menelepon itu.
" Iya Kek. Wa alaikumsalam..., " kata Ranvier di akhir kalimatnya.
Kemudian Ranvier menoleh kearah Nada dan tersenyum melihat Nada terjaga. Ranvier pun bangkit lalu melangkah mendekati Nada yang tampak tak nyaman dengan kehadirannya.
" Udah bangun rupanya. Gimana, apa masih ada yang sakit...?" tanya Ranvier.
" Mmm..., sedikit. Makasih ya...," kata Nada lirih sambil menundukkan kepala.
" Sama-sama...," sahut Ranvier.
Untuk sejenak keheningan menyapa keduanya. Ranvier pun duduk di kursi di samping tempat tidur hingga membuat Nada salah tingkah.
" Kenapa duduk di sini...?" tanya Nada tak suka.
" Lho kenapa emangnya...?" tanya Ranvier tak mengerti.
" Aku ga suka diliatin. Maaf ssbelumnya kalo terdengar lancang, tapi sebaiknya Kamu pulang aja dan tinggalin Aku sendirian...," sahut Nada.
" Aku ga bisa tinggalin Kamu di sini sendirian tanpa tau apa-apa..., " kata Ranvier sambil bersedekap.
" Apa yang mau Kamu tau...?" tanya Nada setelah terdiam sejenak.
" Siapa orang-orang itu dan kenapa mereka mengejar Kamu...?" tanya Ranvier sambil menatap Nada lekat.
" Mereka debt colector..., " sahut Nada sambil membuang pandangannya kearah lain.
" Kamu punya hutang ?, berapa banyak dan untuk apaan...?!" tanya Ranvier penasaran.
" Ga usah kepo deh. Aku udah jelasin apa yang bisa dan layak Kamu tau. Sisanya biar jadi urusan Aku...," sahut Nada ketus.
" Ga bisa !. Aku yakin para preman itu pasti ngejar Aku juga nanti karena mereka kan udah ngeliat nomor plat mobil Aku. Dan Aku ga mau terseret dalam urusan yang ga jelas ujung pangkalnya. Kasih tau Aku sekarang atau Aku bakal lakukan sesuatu...!" kata Ranvier setengah mengancam.
" Kamu mau lakukan apa...?" tanya Nada sambil meringkuk di atas tempat tidur dan menutupi dadanya dengan kedua lengannya.
" Ck, Aku bukan orang mes*m...!" kata Ranvier lantang sambil melotot.
Entah mengapa melihat reaksi Ranvier membuat Nada tertawa. Ia jadi punya kesenangan tersendiri saat menggoda Ranvier.
" Terus kalo bukan mau melakukan sesuatu yang mes*m, Kamu mau apa...?" tanya Nada.
__ADS_1
" Aku bakal hubungin orangtua Kamu Nona Nada Kiara Wijaya...," sahut Ranvier sambil tersenyum penuh makna.
Nada terkejut saat mendengar Ranvier menyebut nama lengkapnya berikut nama Ayahnya. Sebab seingatnya tak ada nama sang ayah tertera di kartu identitasnya tadi.
" Ka... Kamu tau darimana kalo Aku...," ucapan Nada terputus saat Ranvier memperlihatkan layar ponselnya.
Nada terkejut saat melihat berita tentang dirinya ada di ponsel Ranvier. Dengan sigap Nada berusaha meraih ponsel Ranvier namun usahanya gagal. Ranvier nampak menghindar sambil memegang ponselnya tinggi-tinggi jauh dari jangkauan Nada.
Tak kehilangan akal, Nada pun menendang perut Ranvier hingga pria itu terkejut dan tubuhnya menekuk ke depan. Dan saat itu lah Nada langsung meraih ponsel Ranvier untuk melihat berita apa yang tertera di sana.
" Ini..., ga mungkin...! " kata Nada usai membaca berita di ponsel Ranvier.
Saking kesalnya Nada hampir melempar ponselnya ke lantai namun segera dicegah oleh Ranvier.
" Jangaaann...!" kata Ranvier sambil merampas ponselnya dari tangan Nada.
Nada nampak mendelik kesal melihat Ranvier. Ia pun membalikkan tubuhnya lalu mulai menangis hingga membuat Ranvier terkejut.
Ranvier menoleh ke layar ponselnya dan terkejut membaca berita tentang pernikahan ayah Nada yang bernama Wijaya dengan seorang wanita.
Wijaya menikah hari itu meski pun tanpa persetujuan Putri tunggalnya Nada Kiara Wijaya. Publik gempar saat tak menlihat kehadiran Nada di pesta pernikahan ayahnya. Berbagai dugaan miring pun berkembang dan itu membuat Nada sakit hati. Padahal di hari yang sama sesungguhnya Nada sedang berjuang dan sembunyi dari kejaran preman bayaran yang diakui Nada sebagai debt colector tadi.
Ranvier pun menghela nafas panjang lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku. Setelahnya ia menghampiri Nada.
" Nada...," panggil Ranvier hati-hati.
" Kenapa Papa ga mau dengerin Aku. Wanita itu jahat. Dia yang udah bikin Mama sakit dan meninggal. Sekarang Papa justru menikahi wanita itu tanpa menunggu Aku. Apa di hati Papa Aku udah ga berarti lagi...," kata Nada sambil terisak.
" Mmm..., Nada. Jangan kaya gini. Aku ga enak kalo diliat sama orang nanti...," kata Ranvier setengah berbisik.
Bukannya mengurai pelukan, Nada justru menangis lebih kencang hingga membuat Ranvier refleks memeluknya sambil mengusap kepala gadis itu dengan lembut.
Hampir setengah jam Ranvier melakukan itu. Ia baru menghentikan aksinya saat mendengar Nada mendengkur. Rupanya gadis itu tertidur karena lelah menangis.
Dengan hati-hati Ranvier membaringkan Nada di atas tempat tidur. Setelahnya Ranvier menutupi tubuh Nada dengan selimut.
" Kasian banget sih nih cewek...," gumam Ranvier sambil menatap Nada lekat.
Ranvier pun kembali melangkah menuju sofa dan berbaring di sana. Lalu ia meraih ponselnya dan kembali mencari informasi mengenai Nada dan keluarga Wijaya.
Setelah membaca dengan detail informasi tentang Nada, Ranvier pun tersenyum. Dengan sigap ia menghubungi sang Kakek.
" Assalamualaikum Mas Ranvier...," kata Krisna dari seberang telephon.
" Wa alaikumsalam Pak Kris. Kakek lagi ngapain sekarang...?" tanya Ranvier.
__ADS_1
" Lagi santai sambil nonton tivi di ruang keluarga Mas. Ada apa ?, Mas Ranvier mau ngobrol sama Bapak...?" tanya Krisna.
" Iya Pak. Tolong kasih teleponnya sama Kakek...," pinta Ranvier.
" Baik Mas, sebentar ya...," sahut Krisna.
Krisna pun menghampiri Kakek Randu lalu menyerahkan ponselnya kepada Kakek Randu.
" Iya, ada apa Vier...?" tanya Kakek Randu.
" Kakek belum tidur...?" tanya Ranvier.
" Belum. Emang mau ngomong apa Vier...?" tanya Kakek Randu.
" Insya Allah Aku siap Kek...," sahut Ranvier.
" Siap apa Vier...?" tanya Kakek Randu tak mengerti.
" Siap menikah Kek...," sahut Ranvier cepat.
" Oh ya, sama siapa, kapan Kamu mau kenalin dia ke Kakek...?" tanya Kakek Randu antusias.
" Setelah keluar dari Rumah Sakit Kek...," sahut Ranvier sambil melirik kearah Nada yang masih terlelap.
" Siapa yang sakit...?" tanya Kakek Randu.
" Dia yang sakit, sekarang Aku lagi nemenin dia di Rumah Sakit Kek...," sahut Ranvier sambil mengusap wajahnya.
" Sakit apa...?" tanya Kakek Randu.
" Aku ga bisa cerita sekarang Kek. Ceritanya panjang dan lumayan berliku. Tapi Kakek tenang aja, semua masih sesuai jalur kok. Aman...," sahut Ranvier sambil tersenyum.
" Baik lah. Kakek percaya sama Kamu...," kata Kakek Randu sambil tersenyum.
" Makasih Kek. Kalo gitu Aku tutup dulu ya Kek. Aku ga mau suaraku mengganggu tidur Calon Istriku...," gurau Ranvier namun membuat Kakek Randu tertawa bahagia.
Setelah mengakhiri percakapan dengan sang Kakek, Ranvier pun memperbaiki posisi berbaringnya lalu memejamkan mata.
Ranvier terbangun saat mendengar suara Kakek Randu dan Krisna di dekatnya.
" Kakek...!" panggil Ranvier sambil mengucek matanya.
" Hai Nak. Maaf kalo bikin Kamu kaget. Kakek cuma ga sabar pengen ngeliat calon Istrimu...," kata Kakek Randu sambil tersenyum.
" Itu...," ucapan Ranvier terputus saat ia melihat Nada menggeliat.
__ADS_1
Kakek Randu pun mengikuti arah tatapan Ranvier dan tersenyum saat melihat Nada. Sedangkan Nada nampak terkejut melihat ada orang lain selain dia dan Ranvier di ruangan itu.
bersambung