Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
91. Mencari Eugene


__ADS_3

Ranvier dan Erwin sedang berada di atas motor. Saat itu Erwin sengaja memacu motornya dengan cepat untuk mengantar Ranvier pulang usai menghadiri aqiqah Andira.


" Kita sampe Vier...," kata Erwin saat motor memasuki halaman rumah kakek Randu.


" Iya. Thanks ya Bro...," kata Ranvier saat motor berhenti.


" Sama-sama..., " sahut Erwin sambil tersenyum.


" Mampir dulu Win...," tawar Ranvier.


" Ga usah Vier. Hari ini Gue lumayan capek karena pergi ke tiga tempat sekaligus. Lo juga pasti capek dan pengen istirahat kan. Lain kali aja Gue ke sini lagi...," sahut Erwin sambil memasukkan helm yang dipinjam Ranvier tadi ke dalam bagasi.


" Tiga tempat tuh kemana aja...?" tanya Ranvier.


" Pagi sampe siang Gue interview di dua perusahaan berbeda. Kan Gue ngirim lamaran kerja ke sana. Setelah dua bulan baru hari ini direspon dan dipanggil buat interview, langsung ketemu sama Direkturnya tadi. Nah jam tiga an Gue langsung meluncur ke rumah Akmal. Tapi sayang, acara pengajiannya udah selesai...," sahut Erwin .


" Oh gitu. Terus hasil interviewnya gimana...?" tanya Ranvier.


" Seperti biasa. Masih harus menunggu lagi sesuai prosedur kerja yang berlaku di tiap perusahaan...," sahut Erwin sambil mencibir.


" Tapi menurut Lo peluangnya gimana...?" tanya Ranvier.


" Fifty fifty lah...," sahut Erwin cepat.


" Ok, semoga Lo segera dapat kabar baik ya Win...," kata Ranvier sambil menepuk punggung Erwin dengan lembut.


" Aamiin. Gue balik ya Vier. Salam buat Kakek. Assalamualaikum..., " kata Erwin sambil menstarter motornya.


" Wa alaikumsalam..., hati-hati Win...," sahut Ranvier sambil menepi.


Erwin mengangguk lalu melajukan motornya perlahan meninggalkan rumah kakek Randu. Ranvier nampak melepas kepergian sahabatnya itu dengan senyum terkembang.


\=\=\=\=\=


Kakek Randu bergerak cepat. Setelah Ranvier dinyatakan lulus dari kampusnya, mendapat ijasah lalu pulang ke Indonesia, kakek Randu langsung mengajak Ranvier bergabung di perusahaan miliknya.


" Terserah Kamu mau pilih perusahaan yang mana Vier. Tapi Kakek mau Kamu pegang salah satunya. Kakek akan serahkan tanggung jawab perusahaan itu sepenuhnya di tangan Kamu. Maju atau bahkan bangkrut itu urusan Kamu. Rugi atau untung juga itu urusan Kamu...," kata kakek Randu saat keduanya bertemu di meja makan.

__ADS_1


" Wah, Kakek serius nih...?" tanya Ranvier.


" Iya...," sahut kakek Randu cepat.


" Mmm..., apa ga terlalu cepat Kek. Aku baru aja pulang lho. Padahal rencananya Aku mau istirahat sebentar sebelum mulai kerja...," kata Ranvier.


" Istirahat, berapa lama...?" tanya kakek Randu.


" Ga lama Kek. Cuma seminggu atau dua minggu aja kok...," sahut Ranvier.


" Ok deal. Kamu bisa berlibur dulu selama dua minggu. Setelah itu Kamu ga bisa menolak saat Kakek ajak meninjau perusahaan...," kata kakek Randu sambil menatap Ranvier lekat.


" Alhamdulillah..., makasih Kek. Insya Allah Aku bakal tepati janji Aku...," sahut Ranvier mantap hingga membuat sang kakek tersenyum.


\=\=\=\=\=


Dan kini Ranvier sedang berada di perjalanan menuju desa kelahiran Tomi. Ada sesuatu yang membuatnya penasaran. Jika dulu ia pergi didampingi Tomi, maka saat ini Ranvier pergi seorang diri.


Ranvier menggunakan mobil sewaan untuk mencapai desa Tomi. Ditemani supir yang juga ia sewa, Ranvier nampak menikmati perjalanannya kali ini.


Ranvier tersenyum saat melintas di jalan tempat ia bertemu dengan hantu Eugene dulu.


" Kayanya Mas pernah ke sini ya dulu. Kok keliatan nyantai dan ga bingung saat Kita ngelewatin hutan kaya gini...," kata supir bernama Halim itu dengan ramah.


" Iya Pak. Dulu Saya ke sini sama Abang angkat Saya. Kalo ga salah masih baru lulus SMP. Saya belum puas di sini karena keburu ada pengumuman dari sekolah yang mewajibkan semua siswa hadir di sekolah...," sahut Ranvier berbohong.


" Pantesan. Wajah dan postur tubuh Mas ga seperti warga sini. Pas Mas bilang mau mudik tadi, Saya ga percaya. Masa blasteran mudik ke sini. Ternyata dugaan Saya benar. Mas hanya saudara angkat dari salah satu penduduk di wilayah sini...," kata Halim sambil tersenyum.


" Emangnya Saya keliatan blasteran Pak ?, padahal Saya ga ngerasa begitu lho...," sahut Ranvier sambil mengamati dirinya sendiri.


" Orang baik emang kaya gitu...," gumam Halim sambil tersenyum.


" Maaf, maksudnya gimana ya Pak...?" tanya Ranvier tak mengerti.


" Orang yang punya kelebihan, entah itu fisik atau harta, tapi punya hati yang besar alias rendah hati biasanya emang ga mau mengakui kelebihannya Mas. Yah seperti Mas Ranvier ini. Ganteng tapi ga merasa ganteng. Keren tapi ga merasa keren. Ga kaya orang yang punya tampang pas-pasan tapi berusaha memoles diri dan bangga dengan hasil polesannya itu. Ada juga orang yang kaya raya tapi tetap sederhana dan membumi. Beda sama orang yang setengah kaya tapi udah merasa dunia miliknya. Dan menurut Saya, orang yang rendah hati itu artinya orang baik Mas...," sahut Halim panjang lebar.


" Oh gitu...," kata Ranvier sambil tersenyum.

__ADS_1


" Maaf ya Mas kalo cara bicara Saya agak ketus. Abis Saya pernah ketemu langsung sama orang model begitu...," kata Halim tak enak hati.


" Gapapa Pak Halim. Pengalaman buruk bisa dijadiin pelajaran tapi ga bisa dijadiin patokan untuk menilai orang sama rata kan Pak...," sahut Ranvier.


" Iya Mas. Saya hampir lupa kalo Mas Ranvier bukan orang ngeselin yang pernah Saya temui dulu...," kata Halim sambil tertawa diikuti Ranvier.


Tiba-tiba mobil pun berhenti. Halim menunjukkan sesuatu di depan sana.


" Ada rombongan kuda liar lagi lewat. Sabar ya Mas, perjalanan Kita terpaksa tertunda sebentar...," kata Halim.


" Gapapa Pak. Boleh ga Saya turun ?. Saya mau motret rombongan kuda itu...," tanya Ranvier.


" Boleh Mas, silakan...," sahut Halim.


Ranvier pun bergegas turun untuk mengabadikan rombongan kuda liar yang melintas. Bahkan Halim ikut membantunya mengambil gambar saat Ranvier berdiri di tengah jalan berlatar belakang barisan kuda yang melintas.


" Bagus banget Pak, keren...," kata Ranvier saat melihat hasil jepretan Halim.


" Iya Mas...," sahut Halim sambil tersenyum bangga.


Tiba-tiba Ranvier teringat dengan sosok yang tengah dicarinya. Ia pun mengedarkan pandangan ke segala penjuru untuk mencari sosok itu.


" Cari siapa Mas...?" tanya Halim.


" Mmm..., cari seseorang Pak...," sahut Ranvier cepat.


" Teman...?" tanya Halim.


" Bukan, cuma kenalan yang ga sengaja ketemu. Tapi kalo boleh jujur, Saya datang ke sini ya gara-gara dia...," sahut Ranvier.


" Wah, pasti kenalannya istimewa ya Mas. Buktinya Mas Ranvier bela-belain dari Jakarta datang ke sini sendirian hanya untuk menemui dia...," kata Halim hingga membuat Ranvier tersenyum.


Usai mengatakan itu Halim meminta Ranvier masuk ke dalam mobil karena mereka akan melanjutkan perjalanan.


Sepanjang perjalanan Ranvier terus menatap keluar jendela. Ingatan Ranvier kembali ke masa beberapa tahun lalu saat ia dan Tomi berlibur ke desa kelahiran Tomi.


Kala itu Tomi mengatakan ia tertidur saat mobil berhenti karena ada rombongan sapi liar melintas di depan mereka. Padahal saat itu Ranvier sedang berkomunikasi dengan hantu Eugene.

__ADS_1


Dan kini Ranvier kembali ke provinsi itu untuk menemui Eugene dan membantunya pergi ke tempat yang seharusnya.


\=\=\=\=\=


__ADS_2