Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
76. Memaafkan...


__ADS_3

Ranvier dan Erwin pamit untuk menunaikan sholat Dzuhur di musholla dan meninggalkan Puspa seorang diri di depan kamar rawat inap Ami.


Saat kembali, Ranvier terkejut karena melihat dokter dan dua perawat keluar masuk ke kamar rawat inap Ami.


" Ada apa Bu, kenapa Ami...?" tanya Ranvier.


" Saya juga ga tau Mas. Waktu Saya tinggal ke toilet tadi gapapa kok. Tapi pas balik dari toilet udah ada dokter sama perawat. Kata perawat Ami mendadak kritis...," sahut Puspa tak enak hati.


" Oh gitu, ini bukan salah Ibu kok. Kondisi Ami kan emang udah parah waktu sampe Rumah Sakit tadi...," kata Ranvier mencoba menenangkan Puspa.


" Kita berdoa aja supaya Ami bisa melewati masa kritisnya Bu...," kata Erwin menambahkan.


" Iya Mas...," sahut Puspa sambil tersenyum tipis.


Kemudian Ranvier, Erwin dan Puspa duduk menunggu sambil berdoa dalam hati agar Ami segera pulih.


Sementara itu ketua RT telah tiba di rumah orangtua Ami bersama Polisi. Saat itu bapak Ami terlihat marah karena warga membawa pergi Ami. Warga yang masih bertahan di depan rumah Ami pun berusaha memberi penjelasan namun nampaknya sia-sia. Bapak Ami makin mengamuk dan berusaha mengejar warga dengan parang yang dibawanya.


" Kurang ajar !. Apa hak Kalian membawa pergi Ami...?!" kata bapak Ami lantang.


" Ami sakit Pak. Dia perlu diobati. Pak RT membawanya ke Rumah Sakit bukan tamasya...," sahut salah seorang warga dengan berani.


" Ga usah sok tau !. Dia anakku, tanggung jawabku. Mau dia sehat atau sakit itu urusanku. Kalian ga usah ikut campur...!" kata bapak Ami marah.


" Ami kan warga sini, jadi dia tanggung jawab Kami juga. Kami cuma ingin Ami sehat, itu aja kok...!" sahut warga lainnya.


" Aku ga butuh bantuan Kalian. Aku bisa mengurus Ami...!" kata bapak Ami sambil mengayunkan parangnya hingga membuat warga berlarian menjauh.


" Kalo Bapak mampu mengurus Ami kenapa Ami sakit dan keliatan ga waras...!" kata warga.


" Betul !. Harusnya Ami diobati, atau dibawa ke Rumah Sakit Jiwa biar ga berkeliaran kaya orang g*la. Gimana Bu. Ibu setuju kan warga membawa Ami berobat...?" tanya warga.


Ibu Ami nampak terdiam, entah takut dengan sang suami atau justru ia tak peduli pada Ami.


" Ami hamil dan melahirkan dimana juga ga ada yang tau. Apa persalinannya beresiko atau ga, Kita juga ga tau. Makanya Ami dibawa ke Rumah Sakit untuk diperiksa sama dokter. Kalo udah selesai ntar dibalikin ke Bapak dan Ibu...," kata warga berusaha menenangkan bapak Ami.

__ADS_1


" Tapi Aku ga suka cara Kalian membawa pergi Ami. Masa membobol rumah kaya gini. Ami itu manusia bukan binatang...!" kata bapak Ami tak suka.


" Justru karena Ami manusia makanya Kami menyelamatkannya dari cengkraman Bapak durjana berjiwa binatang macam Kamu...!" kata ketua RT lantang.


Semua orang termasuk kedua orangtua Ami terkejut lalu menoleh kearah sang ketua RT. Mereka nampak bingung karena melihat sang ketua RT didampingi dua orang polisi pria dan dua polisi wanita.


" Apa maksudmu ?. Dimana Ami ?, kemana Kamu membawanya...?!" tanya bapak Ami sambil berusaha menyerang ketua RT.


Namun usaha bapak Ami dihalangi polisi. Mereka merampas parang dari tangan bapak Ami lalu membuangnya ke tanah.


" Silakan tangkap dia Pak. Dia laki-laki yang Saya laporkan tadi. Laki-laki berjiwa binatang yang tega menghamili anak kandungnya sendiri...!" kata ketua RT dengan lantang.


Ucapan ketua RT mengejutkan semua orang. Dua polisi pria sigap meringkus bapak Ami. Pria itu nampak berusaha berontak namun usahanya gagal. Sedangkan ibu Ami dibawa menepi oleh kedua polwan.


" Apa...?!"


" Jadi Ami diperk*sa Bapaknya sendiri...?!"


" Dasar Bapak ed*n...!"


Polisi yang memegangi bapak Ami nampak kewalahan menghalau warga yang terlanjur kesal dengan ulah bapak Ami. Bahkan bapak Ami terlepas dari pegangan Polisi karena diserang warga. Dalam waktu sekejap bapak Ami babak belur dihajar warga. Sedangkan ibu Ami hanya bisa menangis menyaksikan suaminya terluka.


Karena sulit menghalau warga yang masih mencoba menyakiti bapak Ami, salah seorang polisi melepas tembakan ke udara. Warga yang terkejut segera menjauh dari bapak Ami.


" Dooorr...!"


" Berhenti sekarang atau Saya tembak...!" ancam polisi.


" Cukup Bapak-bapak, Ibu-ibu. Biar Polisi yang menangani. Minggir, geser, tolong kasih jalan yaa...!" kata ketua RT lantang.


Warga nampak menepi sambil berusaha menahan diri dan membiarkan kedua orangtua Ami dibawa oleh polisi. Setelahnya warga menyoraki dan memaki bapak Ami. Ibu ami pun ikut mendapat makian karena dianggap lalai menjaga anaknya.


" Kami bawa mereka ke kantor Polisi sekarang ya Pak. Kami mohon Bapak ke kantor lagi untuk melengkapi laporan nanti...," kata salah seorang polisi.


" Baik Pak, Saya menyusul nanti. Makasih Pak...," sahut ketua RT sambil menjabat tangan sang polisi.

__ADS_1


Diiringi tatapan marah warga, mobil polisi pun melaju meninggalkan tempat itu.


\=\=\=\=\=


Ranvier masih bertahan di depan kamar rawat inap Ami ditemani Erwin dan Puspa. Tiba-tiba pintu terbuka dan seorang perawat memanggil Ranvier.


" Apa ada yang namanya Ranvier...?" tanya sang perawat.


" Saya Sus. Ada apa...?" tanya Ranvier.


" Pasien ingin bicara dengan Anda sekarang. Berdua aja...," sahut sang perawat saat melihat Puspa dan Erwin ikut berdiri.


Ranvier mengangguk lalu bergegas masuk ke dalam ruangan. Ami nampak tersenyum menyambut kehadirannya. Wajahnya terlihat lebih pucat dan itu membuat Ranvier cemas.


" Amiii...," panggil Ranvier.


" Kakaaakk..., makasih ya udah membantu mempertemukan Aku dengan anakku...," kata Ami lirih.


Ranvier mengangguk karena ia melihat sosok anak kecil itu ada di samping Ami, tepat di samping kepalanya.


" Jujur Aku sempat membencinya dulu. Aku benci karena dia hadir akibat perk*saan. Saat hamil, Aku sering menyakitinya dengan sadar. Aku memukuli perutku, menyayat perutku dengan pisau, juga membenturkan perutku ke meja. Aku berharap dia mati. Tapi saat Aku melahirkannya dan melihat dia menangis, Aku ikut menangis. Aku sedih. Aku sadar bahwa Aku menyayanginya dan ga ingin dia mati. Tapi Bapak merampasnya dariku. Bapak mengambil anakku tanpa sempat Aku menyusuinya. Bapak yang memisahkan Aku dengannya. Aku mencarinya kemana-mana tapi ga ketemu. Sekarang Aku senang karena dia ada di sini bersamaku. Dan katanya dia memaafkan Aku Kak...," kata Ami sambil tersenyum dan nafas yang tersengal-sengal.


" Iya Ami. Dia anak baik, Kamu juga anak baik. Dua orang baik pasti akan berkumpul di tempat yang baik. Pergi lah Ami, semoga bahagia di sana...," sahut Ranvier sambil mengusap kepala Ami dengan lembut.


" I... ya Kak, ma... ka... sih...," kata Ami lalu perlahan menutup matanya.


Alat pendeteksi jantung Ami pun berbunyi nyaring pertanda Ami telah pergi. Ranvier pun menepi sekedar memberi kesempatan kepada dokter dan perawat yang memang bertahan di sana untuk memberi pertolongan.


Ranvier tahu jika usaha mereka sia-sia.


Karena saat itu Ranvier melihat sosok Ami yang sedang menggendong bayinya tampak berjalan menjauh menembus dinding. Sebelum pergi Ami dan bayinya menoleh kearah Ranvier lalu tersenyum sambil melambaikan tangan. Sedetik kemudian keduanya lenyap begitu saja.


Ranvier mengusap wajahnya sambil berdzikir untuk melepas kepergian Ami dan bayinya.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2