Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
78. Waktu Keramat


__ADS_3

Hari-hari berjalan sebagaimana mestinya. Semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Akmal memboyong Amelia tinggal di rumah orangtuanya. Erwin sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan Ranvier sibuk dengan pendidikannya.


Silaturrahim diantara mereka tetap terjalin dengan baik. Mereka kerap melakukan video call untuk meluapkan rasa rindu.


" Akmal udah mau punya anak Vier. Tapi Kita masih gini-gini aja...," kata Erwin.


" Maksud Lo gini-gini tuh apaan Win...?" tanya Ranvier.


" Ya jomblo, ga ada pasangan. Masa gitu aja harus dijelasin juga sih Vier...," sahut Erwin ketus.


" Oh itu. Kalo Gue sih emang belum mau ngejalin hubungan serius sama cewek Win. Kalo temen aja sih ada, tapi cuma temen ya bukan pacar...," kata Ranvier menegaskan.


" Kenapa Vier ?, Kakek kan ga ngelarang Lo pacaran...?" tanya Erwin.


" Mmm..., ga tau ya. Kaya ga minat aja sama cewek. Ga tau kenapa...," sahut Ranvier ragu.


" Serius Lo Vier ?, Lo ga berminat sama cewek ?. Wah jangan-jangan Lo punya kelainan Vier...," kata Erwin hingga membuat Akmal dan Ranvier terkejut.


" Kelainan apaan maksud Lo Win...?!" tanya Ranvier dengan nada suara tinggi.


" Jangan ngegas gitu lah Vier, santai aja...," sahut Erwin sambil tertawa.


" Ga bisa !. Kalo ngomong jangan setengah-setengah gitu Win. Bikin orang salah sangka aja...," kata Ranvier tak suka.


" Mmm..., gini Vier. Kan Kita bertiga tau kalo Lo punya kemampuan khusus berinteraksi sama makhluk halus. Menurut Gue sih itu mempengaruhi mental Lo di kehidupan nyata. Mungkin cewek-cewek secara ga sadar ngejauh dari Lo ya karena aura yang Lo punya itu ga enak Vier, ga friendly gitu. Mungkin friendly untuk makhluk halus tapi untuk manusia ga cocok. Bener ga sih guys...?" tanya Erwin dengan mimik wajah serius.


" Masuk akal sih Win...," sahut Akmal sambil mengangguk.


" Mungkin itu sebabnya kenapa sampe sekarang Lo masih jomblo Vier...," kata Erwin.

__ADS_1


" Ga usah ngatain Ranvier Win. Lo juga kan masih jomblo...," sela Akmal.


" Tapi sejak Lo married sama Amelia, Gue kan udah dua kali pacaran Mal. Yah, anggap aja jodoh Gue sama mereka ga panjang makanya ga ada satu pun yang bisa Gue jadiin istri. Beda sama Ranvier yang sekali pun belum pernah pacaran. Padahal di luar sana Gue yakin banyak cewek yang ngantri pengen jadi pacarnya Ranvier...," sahut Erwin.


Ucapan Erwin membuat Akmal dan Ranvier tersentak kemudian saling menatap sejenak.


" Bener juga kata si Erwin. Jangan-jangan jodoh Lo terhambat gara-gara Lo sering ngobrol sama makhluk halus Vier...," kata Akmal cemas.


" Kayanya sih bukan itu. Jujur saat ini fokus Gue emang ke pendidikan. Gue bersyukur belum ada satu pun yang nyangkut saat ini biar Gue ga merasa bersalah karena ga bisa ngasih perhatian penuh sama dia nanti. Gue emang mau buru-buru selesai kuliah. Setelah itu Gue bisa pulang ke tanah air, bantuin Kakek, baru mikirin pasangan...," sahut Ranvier.


" Oh kalo gitu sih Kita ga usah khawatir Win. Itu maunya Ranvier. Terserah dia kapan mau mulai pacaran...," kata Akmal.


" Iya...," sahut Erwin.


" Terus kapan acara tujuh bulanan kehamilannya Amelia Mal...?" tanya Ranvier mengalihkan pembicaraan.


" Insya Allah Minggu depan Vier. Gue tau Lo ga bakal bisa datang. Tapi Gue yakin Lo ga bakal lupa ngasih angpao buat calon keponakan Lo itu. Iya kan...," gurau Akmal.


" Boleh dong. Apaan sih yang ga buat Om Ranvier dan Om Erwin...," sahut Akmal dengan suara yang menyerupai anak kecil.


Ucapan Akmal membuat Ranvier dan Erwin pun tertawa. Kemudian ketiganya pun kembali ke kesibukan masing-masing setelah membuat janji bicara lagi nanti.


\=\=\=\=\=


Erwin nampak sedang mengamati pekerjaan para pekerja yang ada divisinya. Para pekerja yang sebagian besar laki-laki itu nampak serius menjalankan tugasnya dan itu membuat Erwin tersenyum bangga.


Erwin bergeser untuk mengamati para pekerja wanita. Diantara mereka ada beberapa karyawan baru. Erwin suka berada di sana karena selain bisa mengamati pekerjaan mereka, dia juga bisa 'cuci mata' diantara para pekerja yang muda dan cantik itu.


Diantara karyawan wanita ada satu orang yang menarik perhatian Erwin. Namanya Aini. Wanita cantik berperawakan mungil, berkulit putih dan bertubuh sedikit gempal.


Aini terkenal ramah dan lucu. Ia suka sekali membuat gurauan yang memancing tawa teman-temannya. Beberapa kali Erwin juga dibuat tertawa saat tak sengaja mendengar gurauannya itu.

__ADS_1


" Ayo jangan melamun ya !. Ingat, udah hampir tengah hari. Fokus, fokuuuss...!" kata Erwin lantang.


" Siap Pak...!" sahut para karyawan bersamaan hingga membuat Erwin tersenyum puas.


Bukan tanpa alasan Erwin mengingatkan rekan-rekannya itu.


Di pabrik kayu itu ada aturan baku yang harus dipatuhi semua orang. Di saat jam kerja menjelang tengah hari atau menjelang jam dua belas siang para karyawan diminta untuk fokus. Karena yang lengah akan mendapat celaka.


Selain waktu tengah hari ada waktu lainnya yang juga dianggap keramat oleh para karyawan pabrik. Waktu itu adalah setengah jam menjelang Maghrib.


Semua karyawan pabrik percaya saat menjelang tengah hari dan menjelang Maghrib adalah saat dimana para makhluk halus penghuni pabrik mulai berkeliaran mencari mangsa. Biasanya akan terjadi kecelakaan kerja atau sejenisnya yang korbannya mengalami luka hingga berdarah bahkan meninggal dunia.


Anehnya di saat itu lah para karyawan pabrik akan diserang rasa kantuk yang luar biasa. Tak heran jika hal itu bisa memicu terjadinya kecelakaan.


Beberapa karyawan pabrik yang lengah atau mengantuk akan mengalami luka akibat mesin beroperasi tak sebagaimana mestinya. Berbagai macam luka pun dialami para karyawan. Mulai dari luka ringan hingga luka berat.


Luka paling ringan adalah jari kelingking yang ikut terpotong saat mesin pemotong kayu beroperasi. Potongan jari masuk ke dalam mesin dan hancur, sedangkan pemilik jari mengalami kejang hingga tak sadarkan diri karena terlalu banyak mengeluarkan darah.


Luka terberat pernah dialami salah seorang karyawan hingga meninggal dunia. Saat itu sang karyawan bermaksud memperbaiki mesin yang macet. Semua teman termasuk atasannya meminta ia memperbaiki saat jam istirahat usai atau jam masuk kedua nanti. Tapi sang karyawan menolak. Ia khawatir macetnya mesin menyebabkan pekerjaan terhambat dan membuat teman-temannya merugi.


Saat itu matahari tepat berada di atas kepala. Panas siang yang terik dihiasi suara bel tanda istirahat membuat para pekerja sontak mematikan mesin. Tak lama kemudian terdengar suara para karyawan berbondong-bondong menuju pintu keluar.


Namun saat langkah para karyawan yang berjumlah ribuan itu hampir mencapai pintu pabrik, tiba-tiba terdengar suara jeritan yang mendirikan bulu kuduk.


Saat sumber suara dicari, ternyata berasal dari mesin yang sedang diperbaiki tadi.


Para karyawan bergegas mendekati mesin. Dan semua terkejut menyaksikan sebagian tubuh karyawan yang sedang memperbaiki mesin tadi berada di dalam mesin. Kepala hingga ke dada hancur dengan darah yang mengalir membasahi mesin hingga ke lantai.


Beberapa karyawan wanita menjerit histeris menyaksikan pemandangan tak lazim itu. Dan dalam waktu sekejap pabrik pun gaduh.


Bagaimana tidak. Selain para karyawan harus mengevakuasi jenasah karyawan yang terhimpit mesin itu, mereka juga harus menggotong rekan-rekan mereka yang pingsan karena tak kuat melihat kejadian itu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2