Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
147. Ultimatum Ranvier


__ADS_3

Ranvier tiba di rumah bertepatan dengan jam makan malam. Kakek Randu menyambut kedatangan Ranvier dengan antusias apalagi saat itu Ranvier tak datang sendiri. Ia membawa serta Erwin dan sekretaris baru yang bernama Riska untuk dikenalkan pada sang Kakek.


" Assalamualaikum...! " sapa Ranvier dan Erwin bersamaan.


" Wa alaikumsalam..., Alhamdulillah pas banget Kalian datang. Ayo Kita makan malam bareng. Mbok Rah masak rawon hari ini. Enak banget, sampe Kakek ga sabar mau makan lagi...," kata Kakek Randu sambil tersenyum.


" Sebentar Kek. Kenalin dulu ini Riska, sekretaris baru di kantor...," kata Ranvier.


" Sekretaris baru...?" tanya Kakek Randu sambil mengerutkan keningnya.


" Iya Kek. Aku paham kenapa Kakek bingung. Bukannya udah ada Erwin yang bantuin Aku ?. Itu betul. Begini Kek, selama ini Erwin emang selalu membantu Aku. Dia juga nemenin Aku nemuin klien kemana-mana. Tapi karena itu juga kerjaan kantor jadi keteteran. Makanya Aku pikir Aku perlu sekretaris yang stay di kantor untuk membantu menyelesaikan pekerjaan administrasi kantor...," sahut Ranvier.


" Oh begitu. Gapapa Nak, Kamu lebih tau apa yang Kamu butuhkan. Kakek sih setuju aja..." kata Kakek Randu bijak.


" Lagian kerjaan Riska selama ini juga lumayan Ok lho Kek. Riska membantu mempermudah Ranvier mengurus kerjaan di dalam kantor, nah Aku yang nemenin Ranvier keluar. Jadi Ranvier bisa menyelesaikan pekerjaannya sekaligus. Iya kan Vier...?" tanya Erwin.


" Iya...," sahut Ranvier cepat karena sedikit tak nyaman dengan cara Erwin memuji kinerja Riska.


" Begitu ya. Siapa namamu...? " tanya Kakek Randu.


" Riska Tuan...," sahut Riska dengan takzim.


" Ok, Saya Randu. Sebagai salam perkenalan, Kamu ikut makan malam di sini ya...," kata Kakek Randu.


Riska tak langsung menjawab melainkan menoleh kearah Ranvier seolah meminta persetujuannya. Ranvier pun mengangguk kecil pertanda Riska harus mengiyakan permintaan Kakek Randu.


" Baik Tuan...," sahut Riska sambil tersenyum.


" Bagus. Ayo Kita ke ruang makan...!" ajak Kakek Randu.


Kemudian Kakek Randu melangkah lebih dulu ke ruang makan, diikuti Riska. Saat Erwin hendak melangkah di samping Riska, Ranvier menarik kerah bajunya hingga langkah Erwin terhenti.


" Aduuhhh..., apaan sih Vier...?!" tanya Erwin tak mengerti.


" Sini Lo, ikut Gue sebentar...!" sahut Ranvier.


" Iya. Tapi lepasin dong, sakit nih...," pinta Erwin sambil berusaha melepaskan cekalan tangan Ranvier pada kerah bajunya.


Ranvier mendengus kesal lalu melepaskan cekalan tangannya. Setelahnya ia melangkah ke teras rumah. Erwin pun mengikuti langkah sang sahabat dengan benak penuh tanya.

__ADS_1


" Ada apaan sih Vier...?" tanya Erwin.


" Lo ngomong apaan tadi...?" tanya Ranvier.


" Ngomong apaan yang mana, kapan...?" tanya Erwin bingung hingga membuat Ranvier menggelengkan kepala.


" Yang tadi sama Kakek...," sahut Ranvier.


" Oh itu. Kenapa emangnya ?. Kan emang kerjaan Riska itu bagus ya, sesuai sama keinginan Lo...?" tanya Erwin.


" Gue tau. Tapi ga seharusnya Lo memuji Riska setinggi langit. Bisa ge-er dia nanti. Dan kalo udah ge-er, kerjaan dia ke depannya pasti sembrono. Kalo udah kaya gitu, siapa yang repot ?. Gue !. Makanya ga usah lebay kaya gitu lah. Gue malah curiga Lo muji Riska kaya gitu pasti punya maksud kan sama dia...!" kata Ranvier kesal.


" Kalo Iya emang kenapa Vier...?" tanya Erwin santai.


" Kali ini Gue serius ya Win. Soal Lo mau pedekate sama cewek mana pun itu terserah Lo !. Tapi Gue minta Lo ga nyampur adukin masalah kerjaan sama masalah pribadi. Jangan sampe karena Lo naksir sama Riska, kerja Lo semangat. Tapi pas tau Riska deket sama cowok lain atau bahkan udah punya pasangan, Lo malah patah hati. Imbasnya kerjaan jadi berantakan. Kalo sampe itu terjadi lagi, Gue ga bakal mentolerir Lo lagi Win. Walau pun Lo sahabat Gue, tapi sorry. Gue ga bisa mempekerjakan orang yang cuma bisa merongrong wibawa Gue sebagai atasan...!" kata Ranvier tegas.


Erwin terkejut mendengar ultimatum Ranvier. Baru kali ini Ranvier bicara setegas itu soal pekerjaan dan pasangan. Dan nampaknya Erwin sedikit gentar dengan 'ancaman' Ranvier kali ini. Karenanya ia memilih mengangguk cepat.


" I... iya Vier. Gue janji bakal serius kerja dan ga ngerepotin Lo. Apalagi bawa-bawa urusan pasangan di kerjaan...," janji Erwin sedikit gugup.


" Bagus. Gue pegang janji Lo...!" kata Ranvier sambil menepuk punggung Erwin.


Tiba di ruang makan Erwin pun hanya melihat Kakek Randu dan Riska. Keduanya masih berbincang santai sambil menunggu kehadiran Ranvier dan Erwin. Namun saat melihat Erwin masuk seorang diri ke ruang makan, Kakek Randu pun bertanya.


" Lho, mana Ranvier. Kok Kamu sendiri...? " tanya Kakek Randu.


" Sebentar lagi Ranvier ke sini Kek. Dia masih terima telephon tadi...," sahut Erwin berbohong karena yakin Ranvier masuk kamar untuk istirahat.


" Telephon dari siapa...?" tanya Kakek Randu.


" Ga tau Kek...," sahut Erwin sambil duduk di samping Riska.


" Kalo Kamu ga tau, artinya telephon itu dari seseorang yang rahasia juga. Ya udah kalo gitu Kita makan aja duluan. Biasanya Ranvier bakal lama kalo nerima telephon dari seseorang itu...," kata Kakek Randu sambil menoleh kearah Mbok Rah yang berdiri tak jauh darinya.


Mbok Rah yang mengerti isyarat dari tuannya itu pun mengangguk lalu mulai membantu menuangkan nasi dan lauk Pauk ke piring Kakek Randu.


" Ayo silakan dimakan, ga usah sungkan ya...," kata Kakek Randu dengan ramah.


" Iya Kek, iya Tuan...," sahut Erwin dan Riska bersamaan.

__ADS_1


Kemudian Erwin dan Riska pun mulai ikut makan malam bersama Kakek Randu. Sesekali kakek Randu tertawa mendengar cerita Erwin. Riska pun ikut tersenyum sambil sesekali menoleh kearah belakang. Dalam hati ia berharap Ranvier segera bergabung makan malam dengan mereka. Namun sayang, hingga makan malam selesai Ranvier tak juga menampakkan diri dan itu membuat Riska kecewa.


Setelah makan malam, Kakek Randu mengajak Erwin dan Riska duduk di ruang tengah sambil melanjutkan perbincangan mereka.


Namun saat sedang berbincang, tiba-tiba Tomi masuk ke dalam ruangan lalu membisikkan sesuatu ke telinga Kakek Randu. Sesaat kemudian wajah Kakek Randu nampak berbinar bahagia dan itu membuat Erwin dan Riska saling menatap bingung.


" Suruh dia ke sini sekarang...," pinta Kakek Randu antusias.


" Baik Tuan...," sahut Tomi sambil mengangguk lalu bergegas keluar ruangan.


" Siapa Kek ?, ssneng banget keliatannya...? " tanya Erwin penasaran.


" Kamu juga tau sebentar lagi...," sahut Kakek Randu sambil tersenyum.


Tak lama kemudian suara seorang wanita terdengar menyapa dari ambang pintu tengah hingga membuat Kakek Randu menoleh cepat sambil tersenyum bahagia.


" Assalamualaikum Kakek...!" sapa Nada.


" Wa alaikumsalam Nada. Kemari lah Nak...!" sahut Kakek Randu sambil merentangkan kedua tangannya.


Nada pun melangkah cepat menuju Kakek Randu lalu memeluknya dengan erat. Sesaat kemudian keduanya saling mengurai pelukan sambil tertawa. Keakraban Nada dan Kakek membuat Erwin dan Riska tersenyum.


" Kemana aja, kok baru keliatan...?" tanya Kakek Randu.


" Sibuk kuliah sama kerja part time Kek. Maklum anak kost kan harus pinter cari peluang biar bisa jajan dan makan...," sahut Nada malu-malu.


" Ya Allah. Kenapa ga minta aja sama Kakek...?!" tanya Kakek Randu gusar.


" Ish, apaan sih Kakek. Aku mau belajar mengeksplor kemampuan Aku Kek. Kan ga selamanya ada orang hebat kaya Kakek yang bakal bantuin Aku...," sahut Nada.


" Kamu betul. Bagus, lanjutkan apa yang menurutmu baik. Tapi jangan lupa jaga sholat dan kesehatan ya...," kata Kakek Randu sambil mengusak rambut Nada dengan sayang.


" Siap Kek. Maaf, Aku baru ngeh kalo ada Bang Erwin. Apa kabar Bang...," sapa Nada sambil mendekati Erwin lalu menjabat tangannya.


" Alhamdulillah baik Nad. Oh iya kenalin ini Riska, sekretaris di kantor...," kata Erwin.


Riska dan Nada pun saling menjabat tangan sambil tersenyum. Entah mengapa melihat Nada membuat Riska merasa posisinya sedikit terancam.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2