Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
75. Bayi Ami


__ADS_3

Dalam waktu singkat warga telah berkumpul di halaman rumah Ami. Ketua RT dan ketua keamanan lingkungan bahkan telah hadir untuk membantu 'menyelamatkan' Ami dari sekapan orangtuanya.


" Jadi gimana nih Bapak-bapak, Aminya ga mau pergi...!" kata seorang wanita bernama Puspa.


" Coba dibujuk sekali lagi Bu...," kata beberapa warga.


" Ga bisa Pak. Ami kayanya takut banget sama ancaman Bapaknya. Waktu diajak pergi dia malah geleng-geleng aja...," sahut Puspa.


" Kok aneh. Emangnya Ami diancam apa sama Bapaknya...?" tanya ketua RT.


" Mungkin takut ga dikasih makan...," sela seorang warga.


" Kalo soal makanan Ami mah ga kekurangan Pak. Warga tiap hari ngasih makanan walau ngumpet-ngumpet dari orangtuanya...," sahut Puspa.


" Terus gimana dong. Sebentar lagi pasti mereka pulang dari pasar. Kalo udah kaya gitu Kita ga punya kesempatan buat nolongin Ami...," kata warga saling bersahutan.


Tiba-tiba Ranvier maju mendekati jendela lalu bicara dengan Ami yang saat itu berdiri di dekat jendela. Ia menyapa Ami dengan lembut lalu bicara dengan hati-hati.


" Apa kabar Ami. Kenalin Saya Ranvier. Mmm..., Saya punya sebuah rahasia Ami. Dan Saya mau membaginya hanya dengan Kamu...," kata Ranvier setengah berbisik.


" Rahasia apa...?" tanya Ami lirih.


" Tentang bayi Kamu...," sahut Ranvier hati-hati namun mampu membuat Ami tersentak kaget.


" Ba... yi... ku...?" tanya Ami sambil menatap Ranvier lekat.


" Iya...," sahut Ranvier.


" Kamu tau dimana bayiku...?" tanya Ami tak sabar.


" Saya akan kasih tau Kamu tapi ada syaratnya...," sahut Ranvier.


" Apa syaratnya...?" tanya Ami.


" Ikut Kami pergi dari sini Ami. Kami akan membawamu ke suatu tempat yang aman. Insya Allah di sana Kamu akan hidup lebih baik. Bisa makan enak, tidur nyenyak, dan melakukan sesuatu yang Kamu sukai...," sahut Ranvier.


" Apa hanya ada Aku di sana...?" tanya Ami.


" Ada orang lain juga di sana tapi bukan Bapak atau Ibumu...," sahut Ranvier asal.


Ajaib. Mendengar ucapan Ranvier Ami berdiri dari duduknya lalu mengulurkan tangannya.


" Aku mau ikut. Tolong bawa Aku pergi dari sini. Aku takut, Aku takut mereka memukuli Aku lagi. Tolong...," kata Ami panik sambil memukul teralis jendela berulang kali.


Reaksi Ami membuat warga senang. Mereka dengan sigap membantu Ami keluar dengan cara membobol jendela. Sangat mudah karena ternyata kusen jendela sudah mulai rapuh.

__ADS_1


Setelah Ami berhasil keluar, Ami langsung menghambur kearah Ranvier. Ami terus berdiri di samping Ranvier, menempel erat seperti prangko hingga warga yang melihatnya pun tertawa.


" Ami... Ami. Walau ga waras tapi tau aja cowok ganteng. Dasar Ami...," celetuk seorang wanita disambut tawa warga termasuk Erwin dan Ranvier.


" Wajar lah Bu. Kan cuma Mas Ranvier yang berhasil membujuk Ami keluar di saat ga seorang pun berhasil membujuknya. Rupanya pesona Mas Ranvier mampu meluluhkan keras kepalanya Ami...," kata Puspa.


" Sebaiknya Kita bawa Ami ke Rumah Sakit sekarang untuk mengecek kesehatan Ami. Mudah-mudahan Ami ga mengalami infeksi usai melahirkan. Mas Ranvier bisa tolong ikut mendampingi ya biar Ami ga kabur...," pinta ketua RT.


" Baik Pak, temen Saya juga boleh ikut kan...?" tanya Ranvier.


" Tentu saja. Silakan Mas...," sahut ketua RT sambil tersenyum.


Kemudian dengan mobil pribadi milik ketua RT, Ami pun dibawa ke Rumah Sakit terdekat. Ranvier, Erwin dan Puspa ikut menemani ketua RT mengurus Ami.


Tiba di Rumah Sakit Ami disambut oleh dua perawat dan satu dokter. Rupanya ketua RT telah menghubungi pihak Rumah Sakit sebelumnya hingga Ami segera mendapat pertolongan saat tiba di sana.


Ami yang lemah kali ini tak meronta. Nampaknya ia sadar jika ia memerlukan bantuan medis untuk memulihkan kesehatannya.


Ranvier terus mendampingi Ami karena Ami tak mau melepaskan genggaman tangannya. Setelah Ami selesai ditangani oleh dokter, Ami pun dipindahkan ke kamar rawat inap.


" Jadi gimana kondisi Ami dok...?" tanya Puspa.


" Kondisinya sangat lemah Bu. Pasien juga mengalami dehidrasi dan pendarahan. Keliatannya...," ucapan sang dokter terputus.


" Kenapa dok, apa ada sesuatu yang buruk...?" tanya Puspa.


" Ya Allah. Parah ga dok, bisa sembuh atau...," kali ini ucapan Puspa yang terputus.


" Kita berdoa aja ya Bu. Semoga luka di tubuh pasien bisa segera sembuh...," kata sang dokter bijak.


" Iya dok. Tolong dibantu ya dok...," pinta Puspa sungguh-sungguh.


" Insya Allah Bu. Kalo gitu Saya permisi dulu ya. Tolong biarkan pasien istirahat dan jangan diajak bicara dulu ya...," pesan sang dokter sebelum berlalu.


Untuk sejenak suasana di dalam kamar terasa hening. Semua orang nampak membisu dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


Tiba-tiba Ami membuka mata dan menoleh kearah Ranvier.


" Kamu bilang mau cerita tentang bayiku. Dimana dia sekarang...?" tanya Ami dengan suara parau.


Ranvier nampak bingung. Ia tak mungkin memperlihatkan kemampuannya di depan orang lain. Paham dengan gelagat yang Ranvier berikan, Erwin pun menyela bicara.


" Bukannya dokter nyuruh Ami istirahat tadi ?. Kayanya itu sulit selama Kita masih berkumpul di sini dan mengawasi dia. Lebih baik Kita keluar supaya Ami bisa tidur...," kata Erwin.


" Iya Win Lo betul...," sahut Ranvier cepat.

__ADS_1


" Ya udah, ayo Kita keluar...," ajak ketua RT yang diangguki Puspa dan Erwin.


Saat Ranvier akan keluar, Ami kembali menahan tangannya. Hal itu membuat semua orang maklum.


" Gapapa Mas. Temenin Ami sebentar lagi. Kami tunggu di luar ya...," kata ketua RT.


" Iya Vier. Kasian Ami. Kayanya dia butuh temen. Kali aja dia mau curhat sesuatu sama Lo...," sela Erwin.


Dengan enggan Ranvier menemani Ami di kamar. Dan saat itu Ami kembali minta Ranvier menceritakan kondisi bayinya.


" Jadi begini Ami. Bayi yang Kamu lahirkan itu sudah meninggal dunia...," kata Ranvier hati-hati.


Mendengar ucapan Ranvier tak membuat Ami mengamuk, ia justru nampak tenang meski pun kedua matanya berkaca-kaca. Hal itu membuat Ranvier bingung karena reaksi Ami sungguh di luar dugaan.


" Kamu..., Kamu udah tau kalo bayimu meninggal Ami...?" tanya Ranvier hati-hati.


" Iya. Bukan kah itu lebih baik...?" tanya Ami sambil tersenyum penuh makna.


Cara bicara Ami yang 'bijak' membuat Ranvier tambah bingung. Ia yakin jika Ami tak g*la karena Ami saat itu terlihat sangat tenang dan bisa diajak bicara baik-baik.


" Apa maksudmu lebih baik...?" tanya Ranvier.


" Andai dia hidup pun Aku ga bakal sanggup mengurusnya dengan baik. Dia hanya akan membuatku tambah sakit dan sulit lari. Aku hanya ingin tau dimana dia dikubur agar Aku bisa mendoakannya...," sahut Ami sambil mengusap matanya yang basah.


" Jadi sejak lama Kamu ingin lari Ami. Kemana ?, menemui pacarmu...?" tanya Ranvier.


" Aku ga punya pacar Kak...," sahut Ami cepat.


" Lalu bayi itu...?" tanya Ranvier penasaran.


" Itu anak Bapakku. Aku diperk*sa Bapak berkali-kali. Ibu ga percaya kalo Bapak melecehkan Aku. Aku ga bisa nolak karena tiap kali Bapak melakukan itu, Bapak juga mengancam akan membunuh Ibu. Saat Aku hamil Bapak sering mengunci Aku di dalam rumah. Tujuannya cuma supaya Aku ga cerita sama siapa-siapa tentang kehamilanku...," kata Ami terbata-bata.


Ucapan Ami mengejutkan Ranvier. Ia tak menyangka jika Ami dihamili oleh ayahnya sendiri.


" Kita harus lapor Polisi Ami...," kata Ranvier.


" Terserah Kakak. Aku cuma ingin pergi dari rumah itu...," sahut Ami cepat.


Ranvier mengangguk lalu bergegas keluar menemui ketua RT dan menceritakan apa yang Ami katakan tadi. Bisa ditebak bagaimana reaksi Erwin, Puspa dan ketua RT mendengar cerita Ranvier.


" Baik Mas Ranvier. Terima kasih infonya. Kalo boleh Saya titip Ami sebentar ya, karena cuma Mas Ranvier yang bisa bikin Ami tenang dan jujur menceritakan semuanya. Saya akan buat laporan ke Polisi supaya Bapak Ami segera ditangkap...," kata ketua RT.


" Sama Bu Puspa juga ya Pak. Saya ga nyaman menemani Ami sendirian karena Kami kan bukan muhrim...," sahut Ranvier yang diangguki ketua RT.


Sesaat kemudian ketua RT pergi meninggalkan Rumah Sakit. Ia bergegas pergi ke kantor Polisi untuk melaporkan tindakan pemerk*saan yang dilakukan Bapak Ami kepada putri kandungnya itu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2