Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
55. Anastasya...?


__ADS_3

Setelah berjanji akan membantu Nyonya Maureen, Ranvier pun kembali ke kamarnya. Ia membaringkan tubuhnya karena merasa sangat lelah. Tak lama kemudian Ranvier pun tertidur.


Ranvier terbangun keesokan harinya dengan tubuh yang lebih segar. Setelah menyelesaikan sarapan, Ranvier bersama Decker dan Joshua pergi meninggalkan rumah menuju kampus.


Di perjalanan Ranvier teringat jika salah satu buku yang ia pinjam dari perpustakaan tertinggal.


" Terus gimana Vier, ini udah jauh banget lho dari rumah...," kata Joshua gusar.


" Gue balik sendirian aja, Lo berdua lanjut ke kampus...," sahut Ranvier.


" Gapapa nih...?" tanya Decker.


" Gapapa, santai aja kali. Daripada Kita bertiga terlambat, lebih baik Gue aja yang ambil buku dan Lo berdua langsung ke kampus. Ga perlu nungguin Gue...," sahut Ranvier sambil tersenyum.


" Kenapa ga besok aja sih ngembaliin bukunya...?" tanya Decker.


" Ga enak, Gue udah janji mulangin buku hari ini sama Miss Cherry. Katanya buku ini lagi banyak yang nyari. Sampe antriannya panjang lho di daftar tunggu...," sahut Ranvier.


" Oh gitu. Ya udah terserah Lo aja lah...," sahut Joshua pasrah.


" Kalo gitu Kami duluan ya Vier...," kata Decker.


" Ok...," sahut Ranvier sambil membalikkan tubuh untuk berjalan menuju ke rumah.


Saat sedang menyusuri trotoar, Ranvier melihat seorang wanita berpakaian lusuh tengah dikejar beberapa orang pria dan wanita. Wanita berpakaian lusuh itu nampak panik dan ketakutan.


Ranvier berusaha menepi saat wanita berpakaian lusuh itu berlari kearahnya. Namun sayangnya wanita berpakaian lusuh itu justru jatuh tersungkur tepat di hadapan Ranvier.


Karena merasa iba, Ranvier pun membantu wanita itu berdiri.


" Apa Anda baik-baik aja Nona...?" tanya Ranvier hati-hati.


" A... Aku baik-baik saja. To... tolong cari Al... Albert. Bi... bilang sama dia, A... Aku ada di rumah Tanteku...," kata wanita berpakaian lusuh itu dengan terbata-bata.


Ranvier mengerutkan keningnya karena merasa jika wanita di hadapannya memiliki hubungan dengan Albert yang merupakan anak laki-laki Nyonya Mauren yang telah meninggal dunia itu.

__ADS_1


" Memangnya Nona ini siapa dan apa hubungan Nona dengan Albert...? " tanya Ranvier.


Wanita itu membuka mulut dan siap menjawab pertanyaan Ranvier. Namun suara lantang orang-orang di belakang sana membuatnya takut. Ia lari meninggalkan Ranvier begitu saja.


" Anastasya tunggu !. Jangan lari Kamu...!" kata seorang pria bertampang sangar yang melintas di depan Ranvier.


Ranvier membulatkan matanya saat mendengar nama Anastasya. Ia yakin jika wanita itu adalah Anastasya si calon pengantin wanita yang akan dinikahi Albert.


" Anastasya masih hidup. Jadi kebakaran gereja waktu itu...," gumaman Ranvier terputus saat seorang wanita menepuk lengannya.


" Apa pun yang Anastasya ucapkan tadi, abaikan saja. Wanita itu g*la dan dia baru saja kabur dari Rumah Sakit Jiwa...," kata wanita bergincu tebal itu.


" Iya Nyonya. Saya juga ga ngerti dia bicara apa karena terdengar samar dan putus-putus...," sahut Ranvier berusaha meyakinkan.


" Bagus. Terima kasih anak muda...," kata wanita bergincu tebal itu sambil menepuk pipi Ranvier dengan lembut.


Setelah menepuk pipi Ranvier, wanita bergincu tebal nampak mengedipkan sebelah matanya lalu lari kearah kaburnya Anastasya.


Ranvier mendengus kesal lalu mengusap pipinya yang tadi disentuh wanita bergincu tebal itu dengan punggung tangannya. Nampaknya Ranvier tak suka disentuh oleh wanita genit itu.


" Selamat pagi Ranvier. Apa ada yang tertinggal ?, keliatannya Kamu tergesa-gesa sekali...," sapa Nyonya Maureen dengan ramah.


" Selamat pagi Nyonya Maureen. Nyonya betul, buku perpustakaan yang Saya pinjam tertinggal di kamar. Padahal Saya janji mengembalikan buku itu hari ini...," sahut Ranvier sambil bergegas masuk ke dalam rumah.


" Dasar anak muda. Apa saja sih yang ada dalam pikiran mereka. Masa buku yang jadi pegangan mereka sehari-hari aja bisa ketinggalan...," gumam Nyonya Maureen sambil tersenyum.


Tak lama kemudian Ranvier kembali sambil memasukkan buku ke dalam tas. Saat itu ia kembali teringat dengan sosok Anastasya yang tadi ia temui di jalan.


" Nyonya Maureen...!" panggil Ranvier.


" Iya, ada apa ?. Apa Kamu juga ingin memesan menu khusus untuk makan malam seperti Joshua...? " tanya Nyonya Maureen sambil melangkah mendekati Ranvier.


" Bukan itu Nyonya. Mmm..., tadi Saya bertemu wanita cantik berpakaian lusuh. Namanya Anastasya..., " kata Ranvier hati-hati namun mampu membuat Nyonya Maureen terkejut.


" Anastasya, banyak yang pakai nama itu Ranvier. Dua atau tiga blok dari sini juga ada perempuan bernama Anastasya. Nama itu kan memang pasaran di sini...," sahut Nyonya Maureen sambil tersenyum.

__ADS_1


Walau bibirnya tersenyum, namun Ranvier tahu jika wanita di hadapannya sedang bersedih karena kembali mengingat anak dan menantunya.


" Nyonya betul. Saya lupa kalo banyak nama Anastasya di sini. Apalagi Anastasya yang Saya temui tadi seperti orang ga waras. Pakaiannya acak-acakan, rambut keritingnya juga kusut, berkulit pucat dan ada tahi lalat sebesar bulir jagung di bawah mata kirinya...," kata Ranvier santai.


Ucapan Ranvier kali ini membuat mata Nyonya Maureen membelalak. Ia mendongakkan kepalanya untuk menatap Ranvier.


" Kamu liat dia ?. Darimana Kamu tau kalo namanya Anastasya...? " tanya Nyonya Maureen sambil mencekal kedua lengan Ranvier.


" Wanita genit bergincu tebal dan berambut kribo itu yang bilang. Ada laki-laki bertubuh besar dan berwajah sangar yang juga mengejar Anastasya tadi...," sahut Ranvier sambil mengerutkan keningnya.


" Wanita bergincu tebal dan berambut kribo. Itu Nyonya Blair. Dia Tantenya Anastasya. Apa Kamu yakin wanita yang Kamu temui tadi namanya Anastasya. Ceritakan apa yang mereka lakukan pada Anastasya...!" kata Nyonya Maureen tak sabar.


" Sabar Nyonya. Lebih baik Kita duduk dulu di sana ya...," ajak Ranvier sambil membawa Nyonya Maureen ke kursi di teras rumah.


" Tolong ceritakan sekarang Vier...," pinta Nyonya Maureen hampir menangis.


Kemudian Ranvier menceritakan apa yang dilihat dan didengarnya termasuk ucapan Anastasya dan Tante Anastasya padanya.


" Anastasya dirawat di Rumah Sakit Jiwa...?" tanya Nyonya Maureen tak percaya.


" Iya, itu kata wanita bergincu tebal itu Nyonya...," sahut Ranvier cepat.


" Mereka jahat sekali. Pasti mereka telah melakukan sesuatu pada Anastasya hingga membuat gadis itu g*la dan dirawat di Rumah Sakit Jiwa...," kata Nyonya Maureen sambil menitikkan air mata.


" Jadi apa sekarang Nyonya yakin jika gadis berpakaian lusuh itu Anastasya, wanita yang jadi pengantinnya Albert...?" tanya Ranvier hati-hati.


" Iya Vier. Saya yakin itu dia. Keluarga Anastasya itu sombong. Mereka ga setuju Anastasya menikah dengan Albert karena Kami bukan orang kaya. Padahal Anastasya dan Albert saling mencintai. Itu sebabnya Saya juga ga merestui pernikahan mereka. Saya tau bakal seperti apa endingnya kalo Albert tetap menikahi Anastasya...," sahut Nyonya Maureen sedih.


" Masalah klasik tapi kenapa harus berakhir tragis Nyonya...," kata Ranvier.


" Saya juga ga mengerti Vier. Saya curiga ada yang ganjil di laporan kematian Albert. Dan Saya harus bisa mengungkap kebenarannya lalu memenjarakan orang-orang yang telah membuat Albert meninggal...," sahut Nyonya Maureen.


Ranvier pun menganggukkan kepala tanda mengerti. Dalam hati ia berniat membantu Nyonya Maureen nanti.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2