
Ibu Tomi pun setuju membantu dan tak keberatan sama sekali. Sesungguhnya ia juga merasa tak nyaman dengan beredarnya kabar yang mengatakan Tissa gentayangan karena meninggal tak wajar.
Rupanya beberapa warga memang pernah melihat penampakan Tissa. Namun warga memilih tutup mulut karena tak ingin membuat resah. Selain itu sikap keluarga Tissa yang arogan lah yang membuat warga enggan membahasnya.
" Apa gapapa kalo Ibu yang ngomong nanti...?" tanya Tomi sambil menatap sang ibu.
" Insya Allah Ibu gapapa. Kan Ibu bukan orang yang suka nongkrong di pinggir jalan sambil gosip berjam-jam. Ibunya Tissa juga tau itu. Jadi dia ga akan menolak kedatangan Ibu nanti...," sahut ibu Tomi mantap.
" Perlu ditemenin ga Bu...?" tanya Ranvier.
.
" Emangnya Kamu mau nemenin Ibu...?" tanya ibu Tomi sambil menatap Ranvier.
" Mau dong...," sahut Ranvier cepat hingga membuat Tomi dan kedua orangtuanya tersenyum.
" Kalo gitu Kita berangkat sekarang aja yuk...," ajak ibu Tomi sambil menggamit tangan Ranvier.
Ranvier pun mengangguk lalu mengikuti ibu Tomi.
Sepanjang perjalanan Ibu Tomi menyapa warga. Berkali-kali juga ia mengakui Ranvier sebagai keponakannya dari Jakarta dan Ranvier pun mengiyakan sambil tersenyum. Entah mengapa Ranvier sangat menyukai pengakuan kedua orangtua Tomi tersebut.
Setelah lima belas menit, Ranvier dan ibu Tomi pun tiba di kediaman orangtua Tissa. Suasana di rumah itu tampak sepi hingga membuat Ranvier ragu.
" Kayanya ga ada orang Bu...," kata Ranvier sambil menatap ke sekelilingnya.
" Rumah orangtua Tissa emang selalu sepi kaya gini Nak. Karena penghuninya ga suka bergaul. Apalagi sejak Tissa meninggal, mereka lebih menutup diri...," sahut ibu Tomi sambil mengetuk pintu.
Tak lama kemudian pintu terbuka dan menampakkan wajah seorang wanita seusia ibu Tomi.
" Mari silakan masuk...," kata ibu Tissa dengan ramah.
" Makasih Bu. Kok sepi...?" tanya ibu Tomi basa-basi.
" Bapak Tissa ke ladang untuk menyemai bibit. Adik Tissa pergi ke rumah kerabat. Jadi Saya sendirian di rumah sekarang...," sahut ibu Tissa.
__ADS_1
" Oh iya, kenalin ini keponakan Saya dari Jakarta. Namanya Ranvier...," kata ibu Tomi memperkenalkan Ranvier dengan bangga.
" Oh ini orangnya. Saya udah denger kalo Tomi ngajak sepupunya untuk berlibur. Wah, anak yang tampan ya Bu. Pasti pacarnya banyak nih...," gurau ibu Tissa.
" Ga lah Bu, Aku ga suka pacaran. Lagian juga ga boleh sama Kakek. Aku lebih suka berteman karena masih harus belajar biar bisa meraih cita-cita dan bikin Kakek bangga sama Aku nanti...," sahut Ranvier sambil tersenyum.
Ibu Tomi dan ibu Tissa pun tertawa mendengar jawaban Tomi. Setelah agak relaks, ibu Tomi pun menyampaikan niatnya datang berkunjung ke sana.
" Begini Bu. Maaf sebelumnya, kedatangan Saya dan Ranvier ke sini untuk membahas almarhumah Tissa...," kata ibu Tomi hati-hati.
" Tissa. Ada apa sama Tissa...?" tanya ibu Tissa.
" Mmm..., apa Ibu tau kalo beberapa warga pernah melihat penampakan Tissa...?" tanya ibu Tomi sambil menyentuh punggung tangan ibu Tissa.
" Iya, Saya tau. Saya juga sering kok didatangin arwahnya Tissa...," sahut Ibu Tissa dengan suara parau.
Jawaban ibu Tissa pun membuat Ranvier dan ibu Tomi terkejut. Keduanya saling menatap sejenak kemudian mengangguk.
" Oh ya. Kalo boleh tau, almarhumah Tissa ngomong sesuatu ga Bu...?" tanya ibu Tomi.
Ranvier melihat Tissa berdiri di depan pintu kamar yang tertutup gorden. Penampakan Tissa saat itu masih sama seperti kemarin malam. Kusut, lusuh dan menyeramkan. Tissa nampak mengangkat tangannya perlahan lalu menunjuk ke dalam kamar seolah ingin memberitahu sesuatu. Ranvier pun mengangguk seolah mengiyakan permintaan Tissa.
Ajaib. Setelah Ranvier mengangguk, penampakan Tissa pun lenyap begitu saja. Dalam hati Ranvier bersorak gembira karena bisa 'mengusir' hantu Tissa dengan mudah.
" Ternyata begitu cara ngusirnya, gampang juga ya...," batin Ranvier sambil tersenyum.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Ranvier bisa mendengar ibu Tissa bicara.
" Saya ga tau kenapa Tissa masih gentayangan mengganggu warga Bu...," kata ibu Tissa sambil mengusap wajahnya yang basah dengan ujung blouse yang dipakainya.
" Maaf kalo lancang. Emangnya Ibu sering ngeliat penampakan Kak Tissa dimana...?" tanya Ranvier.
" Di sekitar rumah. Paling sering di kamar itu. Itu kamar Saya dan Bapaknya. Mungkin Tissa ga sadar kalo udah meninggal. Atau mungkin kangen sama orangtuanya makanya Tissa sering berdiri di sana...," sahut ibu Tissa sambil menunjuk kearah pintu kamar dimana arwah Tissa berdiri tadi.
" Terus Kak Tissa ga ngomong sesuatu saat menampakkan diri di depan Ibu...?" tanya Ranvier lagi.
__ADS_1
Pertanyaan Ranvier membuat ibu Tissa merasa tak nyaman. Sikap Ranvier dinilai lancang karena berani mendesak dia bicara sesuatu tentang almarhumah anak kesayangannya itu.
Ibu Tomi pun menengahi dan menjelaskan mengapa Ranvier bersikap seperti itu.
" Maafin Ranvier ya Bu. Dia ngomong kaya gitu karena dia juga ditemuin arwahnya Tissa beberapa kali sejak pertama kali datang ke kampung Kita ini. Dia udah nanya sama gurunya di Jakarta, dan gurunya minta untuk ngomongin ini langsung sama orangtua Tissa. Saya berani ngomong kaya gini ya sama Ibu aja. Karena Kita semua kan tau gimana Bapaknya Tissa. Saya ga mungkin ngomong sama dia karena khawatir ribut...," kata ibu Tomi dengan lembut.
Di luar dugaan, setelah mendengar penjelasan ibu Tomi, wanita itu justru nampak antusias.
" Jadi guru Kamu ngomong apa Nak...?" tanya ibu Tissa penasaran.
" Paman Daeng bilang supaya jangan meratapi kepergian Kak Tissa. Keluarga Ibu juga diminta mengembalikan barang milik Kak Tissa segera Bu...," sahut Ranvier.
Ibu Tissa nampak menghela nafas panjang sambil bersandar di sandaran kursi.
" Gimana Kami ga meratap Nak. Tissa itu anak perempuan Kami satu-satunya. Dia meninggal saat hampir menikah dan semua persiapan pernikahan sudah rampung. Yang menyakitkan adalah karena Tissa ga pernah cerita kalo dia sakit. Kami merasa gagal jadi orangtua karena ga tau apa-apa soal kondisi kesehatannya itu. Padahal kalo Kami tau Tissa sakit, Kami ga akan maksa dia untuk menikah. Kami pasti lebih fokus mengobati penyakitnya dulu daripada maksa dia menikah tapi kemudian Kami kehilangan dia...," kata ibu Tissa sambil menitikkan air mata.
" Tapi penyesalan Ibu membuat langkah Kak Tissa tersendat Bu...," kata Ranvier.
" Tapi Kami melakukan itu karena Kami sayang sama Tissa dan belum rela kehilangan dia...," sahut ibu Tissa membela diri.
" Kalo Ibu sayang sama Tissa sebaiknya Ibu dan keluarga mendoakan dia aja. Karena hanya doa yang dibutuhkan Tissa sekarang. Begitu kan Ranvier...?" tanya ibu Tomi.
" Iya Bu...," sahut Ranvier cepat.
" Hanya doa...?" ulang ibu Tissa seolah tersadar.
" Iya Bu...," sahut Ranvier dan ibu Tomi bersamaan.
Untuk sejenak ruangan itu menjadi hening. Beberapa saat kemudian ibu Tissa kembali bertanya.
" Apa hanya doa yang bisa bikin Tissa tenang dan ga gentayangan lagi...?" tanya ibu Tissa sambil menatap Ranvier lekat.
" Ada lagi yang harus dilakukan Bu...," sahut Ranvier.
Jawaban Ranvier membuat ibu Tissa mengerutkan keningnya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=