
Erwin dan Galih tiba di parkiran pabrik. Hanya ada mereka berdua di sana. Suasana parkiran yang gelap dan sepi mau tak mau membuat Erwin bergidik.
" Hawanya terasa beda ya Pak. Atau ini cuma perasaan Saya aja...," kata Galih.
" Emang beda kok Gal. Tapi ngomong-ngomong Gue udah bilang berkali-kali supaya ga usah panggil Pak kalo Kita di luar jam kerja atau lagi berdua kaya gini. Kenapa susah banget sih dibilanginnya...," protes Erwin namun membuat Galih tertawa.
Usia Galih dan Erwin memang tak terpaut jauh. Beberapa kali Erwin membantu Galih dengan meminjamkan sejumlah uang. Galih pun tak segan melindungi Erwin dari gangguan para preman di sekitar pabrik. Itu sebabnya mereka menjadi lebih dekat. Erwin pun sering meminta Galih menganggapnya teman dan menghilangkan embel-embel Pak saat bersamanya.
" Tapi jujur Gue kaget banget pas tau Aini yang jadi korban tadi Win...," kata Galih setelah tawanya reda.
" Gue juga Gal. Hampir pingsan Gue pas ngeliat badan Aini ketekuk kaya gitu. Gue ga bisa bayangin gimana rasa sakit yang harus ditanggung Aini pas mesin itu meremukkan tulang-tulangnya. Hiiiyyyy..., " sahut Erwin sambil bergidik.
" Gue denger katanya dia mau nikah ya, emang bener Win...?" tanya Galih.
" Iya Gal. Tadi sebenernya dia minta ijin sama Gue mau pulang cepet. Dia ga bisa lembur karena di rumahnya ada acara lamaran...," sahut Erwin.
" Lamaran buat siapa...?" tanya Galih.
" Ya lamaran buat dia dari keluarga pacarnya lah. Kan dia harus bersiap juga buat menyambut tamu, jadi harus dandan di salon mungkin. Makanya dia ijin pulang jam empat sore. Gue udah bantu ijinin ke Bos segala tadi tapi kok ga nongol-nongol. Pas Gue tanyain sama yang lain katanya Aini udah pulang. Nah saat itu ada suara gaduh di dekat mesin. Gue sama beberapa karyawan cowok ngecek ke belakang mesin, ga taunya tubuh Aini ada di situ dengan posisi yang kaya Lo liat tadi...," sahut Erwin sedih sambil mengusap wajahnya.
" Iya Gue inget...," kata Galih sambil mengangguk.
Kemudian Erwin meraih helm lalu mengenakannya di atas kepala. Saat itu ia mendengar Galih bergumam lirih.
" Harusnya Aini ga perlu cerita kalo dia mau dilamar...," gumam Galih.
" Maksud Lo apaan Gal...?" tanya Erwin tak mengerti.
" Oh bukan apa-apa. Udah malam nih, pulang gih. Hati-hati, ga usah ngebut ya...," kata Galih sambil membukakan pintu gerbang untuk Erwin.
" Iya, cerewet banget sih Lo. Gue duluan ya, Assalamualaikum..., " pamit Erwin sambil melajukan motornya perlahan meninggalkan area pabrik.
" Wa alaikumsalam. Hati-hati Pak...!" gurau Galih yang disambut kepalan tangan Erwin.
__ADS_1
Erwin pun memacu motornya dengan kecepatan sedang. Ia tak ingin tergesa-gesa karena bisa membahayakan jiwanya nanti. Saat ini Erwin harus waspada dan berusaha tetap waras meski baru saja mengalami gangguan astral.
\=\=\=\=\=
Malam itu Erwin sulit memejamkan mata karena terus teringat dengan Aini. Erwin terbayang-bayang saat Aini bicara dengannya sore sebelum kejadian naas itu. Dan Erwin makin gelisah saat teringat ucapan sosok wanita yang mirip Aini yang dilihatnya di ruang kantor tadi.
" Apa maksud Aini ga bisa kemana-mana ?. Apa mungkin jiwanya terperangkap di dalam pabrik. Tapi kenapa dan siapa yang tega menyandera jiwanya?. Jangan-jangan Aini meninggal karena ada sesuatu yang ga wajar di pabrik itu...," batin Erwin sambil menatap langit-langit kamarnya.
Erwin pun bangkit dari posisi berbaringnya. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil mengusak rambutnya beberapa kali.
Tiba-tiba Erwin teringat dengan ucapan salah satu karyawan wanita bernama Tuti. Wanita yang juga rekan sedivisi Aini itu bilang jika ia sempat curiga dengan cara berjalan Aini tadi.
" Emang apanya yang aneh...?" tanya Erwin saat Tuti menceritakan kecurigaannya.
" Cara jalannya Pak...," sahut Tuti.
" Ada apa sama cara jalannya Aini...?" tanya Erwin tak mengerti.
" Jangan-jangan Aini sedang menstruasi, makanya ada darah yang ga sengaja ngalir di balik cela*a panjangnya...," tebak Erwin asal namun membuat Tuti tertawa kecil.
" Pak Erwin ngomongnya kaya ngerti aja. Tapi masuk akal juga sih. Siapa tau Aini emang lagi menstruasi tadi, makanya ada darah mengalir di sela cela*a panjangnya itu...," sahut Tuti sambil mengulum senyum.
" Terus selain itu apalagi yang aneh...?" tanya Erwin.
" Saya ga ngelanjutin pengamatan Saya karena kaget denger suara Bapak yang bertanya dimana Aini tadi. Tapi dua detik kemudian Kita semua tau kan kalo Aini ada di balik mesin dalam kondisi tubuh terlipat dan bersimbah darah...," sahut Tuti cemas.
" Maksud Kamu, yang menampakkan diri dan sempet pamit sama Kalian tadi adalah arwahnya Aini...?" tanya Erwin dengan suara tercekat.
" Iya Pak. Kayanya arwah Aini ga sadar kalo dia udah meninggal. Makanya dia bertingkah kaya masih hidup dan ngobrol sama Kami tadi...," sahut Tuti dengan suarĂ bergetar.
" Teruuss...?" tanya Erwin lagi.
" Itu artinya arwah Aini bakal gentayangan di sekitar pabrik Pak. Masa gitu aja ga ngerti sih Pak. Serius dikit lah, Saya beneran takut nih...," kata Tuti hampir menangis.
__ADS_1
Erwin pun menghela nafas panjang saat menyadari lawan bicaranya saat itu terlihat sangat tak nyaman dengan pembicaraan mereka.
" Kalo arwahnya Aini gentayangan, terus Saya harus ngapain...?" tanya Erwin bingung.
" Bapak kan pimpinan divisi ini, jadi Bapak yang bertanggung jawab sama semua yang ada di sini. Kalo semua karyawan ga nyaman gara-gara diganggu arwahnya Aini, berarti itu tanggung jawab Pak Erwin juga kan...?" tanya Tuti.
" Iya...," sahut Erwin cepat.
" Makanya tolong lakukan sesuatu Pak. Saya ga mau jadi korban berikutnya...," kata Tuti setengah berbisik.
Erwin tersentak mendengar ucapan Tuti. Saat ia hendak membuka mulut, tiba-tiba beberapa polisi datang dan meminta semua karyawan yang tak berkepentingan untuk menepi.
" Kalo gitu Saya pulang ya Pak. Tolong dipikirin apa yang Saya bilang tadi ya. Tolong lakukan sesuatu sebelum ada korban lain Pak...," kata Tuti lagi penuh harap.
Di saat yang sama beberapa rekan Tuti memanggil namanya.
" Tutiii...!, ayo pulang...!" ajak beberapa karyawan wanita dari kejauhan.
" Temen-temen Saya udah manggil. Saya duluan ya Pak. Assalamualaikum...! " kata Tuti lalu berlari kecil meninggalkan Erwin.
" Wa alaikumsalam...," sahut Erwin lirih sambil melepas kepergian Tuti dan teman-temannya dengan tatapan bingung.
Selama polisi melakukan penyelidikan, Erwin tetap bertahan di sana sambil terus berpikir.
" Arwah Aini gentayangan. Masa sih...?" gumam Erwin dengan nada tak percaya saat itu.
Namun setelah Erwin bertemu dengan penampakan Aini di ruang kantor, disapa dan dimintai tolong oleh penampakan yang mirip Aini itu, kini ia mulai serius memikirkan ucapan Tuti.
" Tuti bener. Arwah Aini ternyata masih berkeliaran di sekitar pabrik. Kayanya Gue harus melakukan sesuatu nih...," gumam Erwin.
Kemudian Erwin segera mendial nomor Ranvier. Ia yakin sang sahabat bisa membantunya mencari solusi dari masalah yang tengah ia hadapi.
\=\=\=\=\=
__ADS_1