
Sementara itu di kamarnya Ayu nampak tergeletak di atas tempat tidur dengan kondisi tak baik-baik saja. Ayu sedang memegangi dadanya, nafasnya tersengal-sengal, wajahnya pucat, mulutnya nampak berwarna merah akibat darah yang baru saja ia muntahkan.
Ayu berusaha bangkit lalu duduk. Ia menatap nanar kedua boneka jerami bertuliskan Wijaya dan Nada yang tergolek tak jauh darinya.
Rupanya sesaat tadi Ayu baru saja mengalami serangan tak kasat mata. Itu terjadi saat Ayu tengah tertawa sambil menyayat perut boneka bertuliskan nama Nada.
Namun mendadak tawanya terhenti karena saat ia kembali hendak menyayat perut boneka bertuliskan nama Nada, silet yang ia pegang terpental entah kemana.
Tak hanya terpental, silet berkarat itu seperti ditarik oleh sebuah kekuatan tak kasat mata. Saking cepatnya bahkan mampu melukai jemari Ayu yang memegang silet itu hingga berdarah. Ayu meringis merasakan pedih di jemari tangannya.
Belum sempat Ayu menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba Ayu melihat boneka bertuliskan nama Nada itu bergerak liar. Dan entah bagaimana caranya, boneka yang tengah bergerak liar itu langsung menabrak tubuh Ayu tepat di bagian ulu hatinya dengan sangat keras.
Akibatnya Ayu terjengkang ke belakang. Ada rasa sakit yang amat sangat di ulu hatinya. Setelahnya Ayu merasa rasa sakit itu menyebar ke semua perut lalu merambat naik ke dada dan berdiam di tenggorokan. Karena ada sesuatu yang mendesak untuk keluar, Ayu pun bangkit. Sesaat kemudian ia memuntahkan darah merah kehitaman dari mulutnya. Hanya sekali tapi menyisakan rasa nyeri di tenggorokan seolah ada duri yang tertinggal di sana dan melukai tenggorokannya.
Ayu pun mengerutkan keningnya sambil menatap tak percaya kearah boneka bertuliskan nama Nada itu.
" Boneka sia*an !. Meski cuma boneka tapi sama kurang ajarnya dengan pemilik namanya !. Dasar jal*ng. Tunggu pembalasanku Nada...!" maki Ayu sambil menendang boneka bertuliskan nama Nada itu hingga terhempas jatuh ke lantai.
Kemudian Ayu turun dari tempat tidur. Ia meraih gelas berisi air putih yang ada di atas meja. Dengan hati-hati ia meneguknya perlahan. Namun Ayu menggeram saat merasakan air putih itu terasa berbeda dari biasanya. Saat air putih melewati tenggorokannya, air putih itu seolah berubah menjadi butiran pasir yang melukai tenggorokannya. Sangat sakit dan membuatnya mendelik kesakitan.
" Aaakkhhh...!, apa lagi ini...?!" batin Ayu sambil menatap gelas berisi air putih itu dengan tatapan tak terbaca.
Ayu pun meletakkan gelas dengan kasar lalu menatap kesal kearah boneka yang tergolek di lantai itu. Ayu tak mengerti. Meski hanya terbuat dari jerami, tapi mengapa boneka itu memiliki kekuatan yang besar hingga mampu melukainya.
Ayu pun bergerak mengulurkan tangannya. Rupanya ia berniat menghancurkan boneka bertuliskan nama Nada itu. Namun gerakan tangannya terhenti saat ia melihat boneka itu bergerak lagi dengan sendirinya. Tak ingin menanggung resiko kedua kali, Ayu pun bergegas menjauh lalu lari keluar kamar.
Saat keluar kamar, Ayu tak sengaja menabrak asisten rumah tangga Wijaya bernama Siti. Wanita paruh baya itu pun jatuh bersama barang bawaannya yaitu ember berisi air kotor sisa mengepel lantai. Air kotor itu tak hanya membasahi tubuhnya tapi juga tubuh Ayu, sang nyonya istri baru tuannya.
" Sitiii...!. Dasar tol*l, apa yang Kamu lakukan. Liat bajuku jadi basah...?!" bentak Ayu marah.
" Ma... maaf Nyonya. Saya ga sengaja. Saya juga kaget ngeliat Nyonya mendadak keluar kamar sambil lari kaya gitu tadi...," kata Siti membela diri.
" Mendadak Kamu bilang ?!. Ini rumah Suamiku, dan itu artinya rumahku. Apa Aku harus ijin sama babu kaya Kamu untuk berjalan atau berlari di rumah ini...?!" kata Ayu marah.
__ADS_1
" I... iya maaf Nyonya. Sa... Saya yang salah...," sahut Siti dengan wajah sedih.
Seumur hidup baru kali ini Siti disebut babu, dan itu melukai hatinya. Sebab selama mengabdi pada keluarga Wijaya, ia selalu diperlakukan dengan baik oleh Wijaya, istri dan anaknya dulu. Bahkan meski pun istri pertama Wijaya yaitu ibu kandung Nada meninggal dunia, Siti tetap diperlakukan dengan layak.
Namun entah mengapa sejak istri baru Wijaya masuk ke rumah itu, Siti merasa bak di neraka. Selain Ayu sering merendahkan harga dirinya, Ayu juga bertingkah semena-mena padanya.
" Heh, malah bengong. Bangun tol*l...!" teriak Ayu lantang.
Siti pun bangkit lalu bergegas membersihkan air yang menggenangi lantai. Sedangkan Ayu nampak menggerutu sambil berlalu.
" Dasar wanita jahat. Sebentar lagi kesombonganmu akan runtuh tak bersisa saat Tuan Wijaya tau seperti apa busuknya Kamu...," batin Siti sambil menatap punggung Ayu dengan kesal.
\=\=\=\=\=
Wijaya kembali ke rumah usai Maghrib. Ia disambut dengan senyum dan pelukan hangat istri barunya itu.
Namun saat menginjakkan kakinya di kamar Wijaya merasa tak nyaman. Ia mengedarkan pandangan seolah sedang mencari sesuatu.
" Cari apa Sayang...?" tanya Ayu sambil ikut menatap ke sekelilingnya.
" Bau ?, ga ada bau apa-apa kok. Kamu jangan aneh-aneh ya...," sahut Ayu panik.
" Kaya bau anyir darah. Apa Kamu ga nyium bau ini Sayang...?" tanya Wijaya sambil terus mengendus.
Ucapan Wijaya membuat Ayu gusar. Ia khawatir Wijaya mencurigainya. Ia pun teringat jika ia sempat melakukan ritual di kamar itu tadi. Tapi Ayu yakin telah membersihkan darah yang ia muntahkan tadi.
" Aku emang ganti pewangi ruangan Sayang. Kalo Kamu ga suka, Aku bakal ganti yang lain lagi nanti...," kata Ayu dengan suara tercekat.
" Oh gitu. Gapapa Sayang, Kamu berhak mengganti pewangi ruangan dan melakukan apa pun di rumah ini karena ini rumahmu juga. Sekarang Aku mau mandi, tolong siapin bajuku ya...," pinta Wijaya sambil melangkah ke kamar mandi.
" Iya...," sahut Ayu lirih.
Setelah menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya, Ayu pergi ke ruang makan untuk menyiapkan makan malam.
__ADS_1
Wijaya yang baru saja keluar dari kamar mandi nampak tersenyum puas melihat pakaian yang disiapkan istrinya. Ia pun bergegas memakai pakaian itu sambil bersiul riang.
Saat sedang sibuk mengenakan pakaian, Wijaya tersentak kaget karena ada sesuatu yang mencekal pergelangan kakinya. Wijaya berhenti bersiul lalu menoleh ke bawah. Ia nampak mengerutkan keningnya saat melihat seutas jerami mengikat pergelangan kakinya.
" Jerami, kok bisa ada jerami di sini. Duh, mana susah banget lepasnya padahal seingetku ga ada apa-apa waktu mandi tadi...," gumam Wijaya sambil berusaha memutus tali jerami yang melingkari kakinya.
Saat sedang berusaha melepaskan ikatan tali jerami itu suara Ayu terdengar memanggilnya.
" Udah selesai mandinya ?, Kita makan yuk...," ajak Ayu dari ambang pintu kamar.
" Iya, Kamu duluan aja...," sahut Wijaya.
" Kamu ngapain lagi sih Sayang...?" tanya Ayu tak sabar karena melihat Wijaya yang masih merunduk di lantai.
" Gapapa, cuma ngelepasin tali aja nih. Pake gunting kayanya biar lebih gampang. Tolong ambilin gunting dulu Sayang...," pinta Wijaya tanpa menoleh kearah Ayu.
Ayu pun bergegas masuk ke kamar lalu meraih gunting dari atas meja rias. Setelahnya ia memberikan gunting itu kepada Wijaya.
" Kalo gitu Aku tunggu di ruang makan ya...," kata Ayu sambil berlalu.
" Ok...," sahut Wijaya cepat.
Setelah gunting ada di tangannya, perlahan Wijaya mulai menggunting tali jerami yang mengikat kakinya. Ternyata sulit dan itu membuat Wijaya sedikit berpikir. Namun detik berikutnya Wijaya mengangguk dan kembali berusaha menggunting tali jerami itu sambil mengucap basmalah.
" Bismillahirrohmaanirrohiim..., " gumam Wijaya sambil menggunting tali jerami.
Tess...
Tali jerami berhasil digunting.
" Alhamdulillah..., " gumam Wijaya sambil tersenyum lebar.
Entah mengapa setelah mengucap dua kata sakral itu tanpa sadar, membuat perasaan Wijaya lebih damai. Dua kata yang telah lama Wijaya lupakan, tepatnya sejak kematian istrinya setahun yang lalu.
__ADS_1
Dan saat tali jerami itu terputus, saat itu lah sesuatu terjadi pada Ayu di ruang makan.
\=\=\=\=\=