Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
40. Ternyata Ranvier...


__ADS_3

Hari kelulusan pun tiba. Saat itu diadakan acara pelepasan siswa kelas tiga yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan di sekolah. Semua orangtua dan wali murid diundang untuk menyaksikan penyerahan ijasah kepada para siswa. Kakek Randu pun hadir sebagai wali Ranvier.


Saat tiba di sekolah, para wali murid diarahkan ke aula dimana acara akan digelar.


Ranvier tersenyum lebar saat melihat kedatangan kakeknya. Ia tak menyangka jika kakeknya yang super sibuk dan dalam kondisi kurang fit itu bersedia hadir dalam acara kelulusannya.


" Kakek...!" panggil Ranvier sambil menghampiri kakek Randu.


" Ranvier. Gimana, apa surprise Kakek berhasil...?" tanya kakek Randu sambil tersenyum dan merentangkan tangannya.


" Banget Kek. Makasih udah mau datang...," sahut Ranvier sambil menghambur ke pelukan sang kakek.


Untuk sejenak keduanya nampak saling memeluk erat. Krisna yang ikut serta mendampingi sang kakek pun nampak tersenyum.


" Bukannya Kakek bilang lagi ga enak badan tadi...?" tanya Ranvier sambil mengurai pelukan.


" Alhamdulillah Kakek sehat Vier. Tadi pagi Kakek sengaja bohong biar Kamu kecewa. Eh, ternyata Kamu biasa aja dan malah berangkat juga ke sekolah...," sahut kakek Randu.


" Aku harus berangkat karena Aku dan teman-temanku bakal jadi salah satu yang tampil di panggung Kek...," kata Ranvier sambil mengajak sang kakek melangkah.


" Oh ya. Emangnya Kamu mau nampilin apaan...?" tanya kakek Randu.


" Rahasia dong. Ntar Kakek liat aja ya...," sahut Ranvier hingga membuat sang kakek tertawa.


Saat sedang melangkah menuju aula, Erwin dan Akmal pun menghampiri mereka. Keduanya nampak terkejut melihat penampilan kakek Randu yang terlihat berkelas itu. Apalagi seorang pria berpakaian serba hitam nampak mengawal di belakangnya.


" Ini siapa Vier...?" tanya Akmal.


" Kakek Gue. Oh iya Kek, kenalin ini temenku Erwin dan Akmal...," kata Ranvier.


" Assalamualaikum Kakek...," sapa Erwin dan Akmal bersamaan lalu mencium punggung tangan Kakek Randu bergantian.


" Wa alaikumsalam. Kalian pasti temen deketnya Ranvier ya...," kata Kakek Randu sambil tersenyum.


" Ga juga sih Kek. Abisnya Ranvier pelit, jail, mulutnya usil. Jadi Aku males temenan sama dia...," sahut Akmal sambil melengos.


" Iya Kek. Apalagi kalo nyanyi suaranya tuh fals banget. Bikin sakit kuping aja...," kata Erwin kesal.


Ucapan Akmal dan Erwin membuat Kakek Randu dan Krisna tertawa sedangkan Ranvier nampak melotot kearah dua sahabatnya itu.

__ADS_1


" Ooohh.... Jadi menurut Kalian, Gue yang sering nraktir Kalian di kantin itu pelit yaaa. Terus apa tadi, suara fals. Kalo fals ngapain Lo tunjuk Gue buat nyanyi lagu ciptaan Lo yang ga jelas itu...!" kata Ranvier kesal.


Gantian Akmal dan Erwin yang tertawa hingga membuat Ranvier bertambah kesal. Kemudian Erwin berbisik di telinga Ranvier.


" Kalo yang kaya body guard itu siapa Vier...?" tanya Erwin sambil melirik kearah Krisna.


Ranvier pun tersenyum lalu menggamit tangan Krisna.


" Ini namanya Pak Krisna. Pak Kris kenalin ini temen Aku Erwin dan itu Akmal...," kata Ranvier.


" Hai anak-anak, Saya Krisna. Senang bertemu Kalian...," kata Krisna dengan ramah sambil mengulurkan tangannya.


" Hallo Om...," sahut Erwin dan Akmal bersamaan sambil menjabat tangan Krisna.


" Udah, ga usah lama-lama. Sekarang sebaiknya Kakek sama Pak Kris masuk dulu ke aula. Aku sama temen-temen mau siap-siap di belakang panggung...," kata Ranvier.


Kakek Randu dan Krisna pun mengangguk lalu masuk ke dalam aula setelah mengisi buku tamu. Sedangkan Ranvier dan kedua temannya nampak melangkah ke samping aula.


" G*la..., penampilan Kakek Lo keren banget Vier...!" kata Akmal antusias.


" Iya, pake body guard segala kaya di film-film mavia gitu...," kata Erwin sambil berdecak kagum.


" Ngomong apaan sih Lo, biasa aja kali. Ga usah lebay deh...," sahut Ranvier sambil berlalu.


" Tapi sebentar deh. Sebenernya Lo siapa sih Vier ?. Kok bisa Kita ga tau apa-apa tentang Lo. Dan Kakek Lo itu kayanya Gue pernah liat dimana gitu. Jangan-jangan Lo anak orang terkenal ya Vier...?!" tanya Erwin.


" Jadi Lo anak orang kaya Vier ?. Pantesan uang Lo banyak banget sampe bisa sering nraktir Kita makan...," sela Akmal.


" Gue bukan siapa-siapa. Kan Gue udah cerita kalo Gue ini anak yatim piatu yang tinggal dan dirawat sama Kakek Gue...," sahut Ranvier.


" Tapi Lo ga pernah bilang kalo punya Kakek hebat kaya gitu Vier...," kata Akmal kesal.


" Emang apa hubungannya ?. Kan ga ngaruh juga sama pertemanan Kita. Yang hebat itu kan Kakek Gue bukan Gue. Kalo Gue mah biasa aja sama kaya yang laen. Jadi Lo berdua ga usah ngerasa bersalah gitu. Gue seneng karena Kalian temenan sama Gue dengan tulus kaya gini...," sahut Ranvier sambil tersenyum hingga membuat Akmal dan Erwin terharu.


" So sweeett..., jadi pengen nangis nih. Boleh ga sih peluk Lo sebentar Vier...," kata Akmal lalu memeluk Ranvier erat diikuti Erwin.


Untuk sejenak ketiga sahabat itu saling memeluk. Mereka baru mengurai pelukan saat suara MC memanggil para peserta wisuda agar masuk ke dalam aula. Semua peserta wisuda diarahkan duduk di barisan belakang, jauh dari para wali murid dan tamu undangan.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ternyata kejutan pertama untuk Akmal dan Erwin tentang latar belakang Ranvier masih dilanjut dengan kejutan berikutnya.


Saat MC menyebut nama kakek Ranvier sebagai donatur terbesar di sekolah mereka, semua orang pun terkejut.


" Saat ini bersama Kita telah hadir Bapak Randu yang merupakan donatur terbesar sekolah Kita. Kepada Bapak Randu, Kami mohon kesediaanya naik ke atas panggung untuk memberi kata sambutan...," kata MC dengan santun.


Tepuk tangan menggema di dalam aula saat kakek Randu didampingi Kris melangkah menuju panggung.


" Sekedar info, selain sebagai donatur terbesar di sekolah Kita, Bapak Randu juga adalah seorang pengusaha terkenal. Beliau hadir di sini khusus untuk menyaksikan wisuda cucu kesayangannya yaitu Ananda Ranvier dari kelas Teknik Mesin...!" kata MC lantang.


Semua mata membelalak lalu menatap kearah Ranvier dengan tatapan tak terbaca. Bahkan Akmal dan Erwin sampai ternganga menatap Ranvier yang duduk di sampingnya.


" Tuh kan, Gue bilang juga apa tadi. Ternyata Kakeknya Ranvier emang terkenal...," kata Erwin sambil menepuk punggung Akmal.


" Iya Win. Ga nyangka Kita temenan sama Cucunya Pak Randu yang pengusaha terkenal itu...," sahut Akmal sambil tertawa.


Semua makin terpana saat Ranvier bangkit berdiri lalu melangkah menghampiri sang kakek di atas panggung. Di atas panggung Ranvier mencium punggung tangan sang Kakek yang menyambutnya dengan pelukan hangat.


Tiba-tiba Akmal dan Erwin berdiri sambil bertepuk tangan untuk memberi suport kepada Ranvier. Semua orang yang menatap takjub pemandangan di depannya itu pun terkejut lalu tersadar dan ikut bertepuk tangan.


Di sela tepuk tangan yang menggema, kasak kusuk pun terdengar memenuhi ruang aula. Semua siswa tak menyangka jika Ranvier yang sederhana dan ramah itu adalah cucu dari seorang pengusaha terkenal yang juga donatur terbesar di sekolah mereka.


" Ga nyangka si Ranvier ternyata cucunya Pak Randu, pebisnis yang terkenal itu...!"


" Betul. Kalo tau dari dulu pasti udah Gue pepet dia...,"


" Salut Gue. Selama ini Ranvier ga pernah ngomong siapa dia sebenernya apalagi nyombongin kekayaan Kakeknya...,"


" Iya. Ga kaya si Sandy yang sering banget pamer mobil mahal tapi ga tau darimana sumbernya. Katanya Bapaknya pengusaha, tapi kok namanya ga pernah masuk majalah dan berita bisnis...,"


" Eh, Gue denger katanya si Sandy juga pernah nantangin Ranvier buat nunjukin kekayaannya ya...,"


" Iya. Tapi Ranviernya sih cuek aja...,"


" Duh kalo Gue jadi Sandy, mending ngumpet aja deh daripada malu...,"


Seperti itu lah kalimat yang didengar Ranvier dan sang kakek dari atas panggung. Keduanya nampak saling menatap sambil melempar senyum. Dalam hati kakek Randu merasa bangga atas apa yang telah Ranvier lakukan.


Kebanggaan kakek Randu bertambah saat Ranvier dinyatakan sebagai salah satu siswa dengan nilai terbaik. Meski pun bukan yang pertama, setidaknya Ranvier menduduki urutan ke sembilan dari sepuluh besar siswa dengan nilai ujian dan ijasah tertinggi.

__ADS_1


Akmal dan Erwin nampak menghambur memeluk Ranvier saat ia turun dari panggung usai menerima piagam penghargaan dari sekolah. Ketiganya nampak melompat bersama seperti anak kecil hingga membuat semua orang tertawa.


\=\=\=\=\=


__ADS_2