Perjalanan Ke Alam Ghaib

Perjalanan Ke Alam Ghaib
169. Honey Moon


__ADS_3

Ketika Ranvier masuk kamar, ia terpana sesaat. Bagaimana tidak. Saat itu Nada sedang berdiri di depan lemari pakaian yang terbuka dengan tubuh setengah telan**ng dan hanya dibalut selembar handuk. Nampaknya Nada baru saja selesai mandi dan sedang mencari pakaian ganti.


Dengan santai Nada menarik selembar gaun lalu memakainya begitu saja. Ranvier hanya bisa menelan saliva menikmati 'pemandangan' indah di hadapannya. Ranvier berusaha mengatur detak jantungnya yang mengg*la lalu memanggil Nada.


" Sayang...!" panggil Ranvier.


" Ya Allah, Abang ngagetin aja. Ada apa sih Bang...?" tanya Nada sambil menoleh kearah Ranvier.


" Kakek nunggu Kita di ruang makan buat makan malam bersama...," kata Ranvier sambil melangkah mendekati Nada.


" Ok, sebentar lagi Aku selesai. Abang... sejak kapan berdiri di situ...?" tanya Nada hati-hati.


" Baru aja. Kenapa...?" tanya Ranvier.


" Mmm... gapapa...," sahut Nada sambil tersenyum lalu melangkah menuju meja rias.


Ranvier pun mengikuti Nada lalu meraih sisir dari atas meja dan mulai menyisir rambut Nada. Sesekali Ranvier mengecup kepala Nada dengan sayang hingga membuat Nada tersenyum.


" Abang bilang Kakek nunggu Kita di ruang makan. Tapi cara Abang nyisir rambut Aku bisa bikin Kakek marah lho...," kata Nada mengingatkan hingga membuat Ranvier tersadar.


" Astaghfirullah aladziim..., iya Aku lupa. Ayo, Kita turun sekarang...," ajak Ranvier sambil menggamit lengan Nada dengan lembut.


Nada pun mengangguk lalu mengikuti langkah Ranvier.


Tiba di ruang makan mereka disambut tatapan penuh tanda tanya milik Erwin.


" Kenapa ngeliatin kaya gitu sih. Kangen Lo sama Gue...?" tanya Ranvier sambil menarik kursi untuk Nada.


" Ck, ga usah ge-er. Gue cuma mau nanya, ngapain aja Lo berdua di atas. Kok lama banget...?" tanya Erwin hingga membuat Ranvier dan Nada saling menatap lalu tersenyum.


" Kepooo...!" sahut Ranvier dan Nada bersamaan hingga membuat semua orang tertawa.


" Yang pasti sesuatu yang dilakukan oleh pasangan Suami Istri yang halal. Iya kan Sayang...," ledek Ranvier sambil memperlihatkan genggaman jemarinya pada jemari Nada.


" Sia*an...," gumam Erwin sambil melengos kesal.


" Udah ga usah ribut !. Kakek pikir setelah ga ketemu selama lima bulan Kalian bakal akur. Ternyata sama aja...," kata Kakek Randu sambil menggelengkan kepala.


" Gapapa Pak. Sejujurnya Saya justru kangen suasana kaya gini lho...," sela Daeng Payau disusul tawa semua orang.


" Jadi apa rencanamu setelah ini Nak...?" tanya ustadz Rahman.


" Aku belum tau Ustadz. Aku cuma pengen nemenin Istriku kemana pun dia pergi. Ya, anggap aja sebagai ganti waktu kebersamaan Kami yang hilang...," sahut Ranvier sambil menatap Nada dengan lembut.


Ucapan Ranvier membuat Nada tersenyum. Nampaknya ia bahagia karena Ranvier ingin meluangkan waktu untuknya.


" Kalo gitu kenapa Kalian ga pergi honey moon aja...," kata Kakek Randu tiba-tiba.


" Honey moon...?" tanya Nada dan Ranvier bersamaan.


" Iya. Kan Kalian belum sempat honey moon sama sekali. Waktu itu batal karena kondisi Nada yang emang lagi ga sehat. Tapi sekarang, Kalian justru punya kesempatan kalo mau. Sayang kan kalo ga diambil...," sahut Kakek Randu.


" Tapi Aku masih harus ngawasin perbaikan kafe Kek...," kata Nada.

__ADS_1


" Kamu ga usah pikirin itu Nada. Pergi lah. Biar Krisna yang ngurus itu nanti...!" kata Kakek Randu tegas.


" Apa yang Kakek bilang tadi ada benarnya juga Nada. Kalian kan udah lama ga ketemu. Pasti banyak hal yang mau dibahas. Kalian butuh privacy untuk melakukan itu karena ga mungkin dilakukan di sini. Apalagi ada Erwin. Pasti Kalian ga bakal bisa tenang...," sela Wijaya sambil melirik Erwin.


" Eh, kok bawa-bawa Aku sih Om...," kata Erwin bingung.


" Ya Kamu. Emang siapa lagi yang suka mengganggu moment romantis Ranvier dan Nada...," sahut Wijaya cepat hingga membuat semua orang kembali tertawa.


Erwin hanya mengerucutkan bibirnya karena merasa dijadikan kambing hitam.


" Kalo gitu Aku setuju Yah. Aku bakal ajak Nada honey moon besok...," kata Ranvier tiba-tiba.


" Besok Sayang...?" tanya Nada tak percaya.


" Iya. Bukannya lebih cepat lebih baik ya...," sahut Ranvier sambil tersenyum penuh makna hingga membuat wajah Nada merona.


" Honey moon kemana Vier...?" tanya Erwin penasaran.


" Rahasia. Ntar jadi ga seru kalo Lo nyusul...," sahut Ranvier cuek hingga membuat Erwin gemas lalu menoyor kepalanya.


" Dasar pelit...," kata Erwin.


" Biarin...," sahut Ranvier sambil mengunyah makanan dan menggenggam jemari Nada lebih erat.


Makan malam perdana untuk menyambut kepulangan Ranvier pun berlanjut. Rumah Kakek Randu kembali dipenuhi tawa setelah sekian lama terasa sepi.


\=\=\=\=\=


" Aku hampir ga punya harapan Bang. Dan bulan ini Aku berniat menutup kisah Kita andai Kamu ga kembali...," kata Nada lirih.


" Kenapa Kamu berpikir Aku ga akan kembali Sayang...?" tanya Ranvier gusar.


" Itu karena... Aku kira Kamu...," Nada menggantung ucapannya.


" Kamu kira Aku kenapa...?" tanya Ranvier tak sabar.


" Aku kira Kamu punya Istri lain di sana. Dan Kamu ga bisa pulang karena Istrimu menahanmu dengan berbagai alasan. Entah karena hamil atau karena... cinta mungkin...," sahut Nada kesal.


Ranvier terdiam. Ia menatap Nada yang saat itu juga tengah menatap kearahnya. Kemudian Ranvier menyentuh wajah Nada dengan lembut.


" Aku ga punya Istri selain Kamu Sayang. Di dunia ini atau pun dimensi lain hanya Kamu satu-satunya Istriku...," kata Ranvier.


" Kamu ga bohong Bang...?" tanya Nada.


" Ga dong. Lagian gimana Aku bisa jatuh cinta dan menikahi wanita lain sedangkan hati dan pikiranku selalu tertuju sama Kamu...," sahut Ranvier sambil mencubit hidung Nada.


Nada tersenyum mendengar ucapan Ranvier. Ia percaya ucapan suaminya lalu masuk ke dalam pelukan Ranvier.


" Jangan pergi lagi ya Bang. Atau kalo terpaksa pergi juga, tolong kasih tau Aku biar Aku ga bingung. Bisa kan...?" tanya Nada penuh harap sambil mendongakkan wajahnya untuk menatap Ranvier.


" Aku ga akan pergi lagi Sayang. Yang kemarin adalah kepergianku yang terakhir...," sahut Ranvier hingga membuat Nada terkejut sekaligus senang.


" Kamu serius Sayang...?" tanya Nada.

__ADS_1


" Iya...," sahut Ranvier cepat.


" Apa Kamu yakin ?. Kalo suatu saat mereka datang dan memaksa Kamu pergi ke dimensi lain lagi gimana...?" tanya Nada penasaran.


" Mereka ga akan melakukan itu karena Aku udah bikin perjanjian sama pimpinan mereka. Kalo mereka yang datang berkunjung ke sini itu mungkin saja. Tapi kalo Aku yang pergi ke sana, insya Allah itu ga akan terjadi lagi...," sahut Ranvier mantap hingga membuat wajah Nada berbinar bahagia.


" Kamu tau ga Sayang. Ucapan Kamu barusan adalah hal terbaik yang Aku dengar malam ini...!" kata Nada sambil memeluk Ranvier erat.


" Masih ada yang lain yang Aku harap juga jadi hal terbaik yang Kamu dengar malam ini Sayang...," kata Ranvier.


" Oh ya, apa itu...?" tanya Nada sambil mengurai pelukannya.


" Mereka titip salam untukmu. Mereka bilang Kamu adalah wanita yang hebat yang pernah mereka kenal...," sahut Ranvier.


" Aku ga hebat. Aku tetap wanita biasa yang bisa marah dan kecewa juga saat tau Suaminya pergi tanpa pamit...," sahut Nada sambil cemberut.


" Justru itu. Mereka juga pesen supaya Aku bersabar menghadapi kemarahanmu saat Aku pulang...," kata Ranvier sambil merapikan anak rambut di kening Nada.


" Masa sih...?" tanya Nada tak percaya.


" Iya. Aku bilang ini bukan untuk menghiburmu dan membenarkan kesalahanku. Tapi itu yang sesungguhnya terjadi...," sahut Ranvier hingga membuat Nada terdiam sesaat.


" Kenapa Aku merasa mereka menyayangiku dengan tulus ya Bang...," kata Nada gusar.


" Kamu betul Sayang. Mereka memang menyayangi Kita dengan tulus. Bahkan mereka titip ini untukmu...," kata Ranvier sambil meletakkan kotak kayu berukir di atas telapak tangan Nada.


" Apa ini Bang...?" tanya Nada.


" Aku ga tau karena Aku ga boleh membukanya tadi. Kata Nyai Ranggana itu untuk Istriku. Jadi buka lah...," sahut Ranvier.


Perlahan Nada membuka kotak dan terkejut melihat satu set perhiasan di sana. Dengan antusias Nada mengenakan semua perhiasan itu dibantu Ranvier.


" Cantik ya Bang...," kata Nada sambil mematut diri di depan cermin.


" Iya. Pas banget sama karakter Kamu...," sahut Ranvier sambil tersenyum puas.


" Mmm... kira-kira apa bahan baku perhiasan ini Bang...?" tanya Nada sambil mengamati perhiasan itu dengan seksama.


" Kapan-kapan Kita cek ke toko perhiasan biar tau apa bahan bakunya Sayang. Sekarang apa Kamu ga ingin melakukan sesuatu...? " tanya Ranvier sambil mulai mencumbu Nada.


" Jangan sekarang Bang...," kata Nada sambil menggeliat.


" Kenapa...?" tanya Ranvier.


" Kan Kita mau pergi besok. Apa Kamu tega ngeliat Aku ga nyaman saat berjalan...?" tanya Nada malu-malu.


Ucapan Nada mau tak mau membuat Ranvier tertawa. Dengan sigap Ranvier menggendong Nada lalu meletakkannya perlahan di atas tempat tidur.


" Ok. Kamu lolos malam ini. Tapi besok ga lagi ya Sayang. Sekarang Kita tidur, karena besok Kita harus ke bandara pagi-pagi...," kata Ranvier sambil mengecup kening Nada.


" Siap Bang...," sahut Nada sambil tersenyum lalu balas memeluk Ranvier.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2