
Seyn masih menatap tajam pada sosok laki laki yang sudah dijadikannya tersangka.
Sedangkan di rumah sakit masih sangat ganting, samua tengah cemas memikirkan hasilnya. Lunika, Jennyta, dan tuan Gantara masih dijaga sangat ketat.
Begitu juga dengan sang Dokter, penjagaan ya pun sangat ketat. Bahkan tidak ada satu orang pun yang dapat menyusupinya.
'Bagaimana ini? jika aku bukan anak Papa, dan perempuan itu ... semoga aja Mama sudah melakukan sesuatunya dengan baik, jika aku memang bukan anak dari Guntara.' Batin Jennyta dengan cemas.
Lunika hanya terdiam, ia terus berpikir. Bahkan ia terasa bermimpi, dan sedikitpun tidak ada yang terlihat nyata, pikirnya.
'Benarkah? laki laki itu adalah orang tuaku? duh! kenapa aku menghayal begitu tinggi. Ingat! Lunika, ingat! kamu ini palingan juga anaknya tukang sayur, tukang rongsok. Tidak mungkin dari keluarga yang kaya raya. Lunika, bangn lah dari mimpimu ini.' Batin Lunika yang masih belum percaya dengan apa yang tengah dihadapinya.
Karena terasa bermimpi, Lunika menepuk nepuk kedua pipinya. Berharap, ia terlalu lama dalam bermimpi.
Zicko yang melihat sang istri sedikit aneh, ia langsung menci*um pipi sebelah kiri milik istrinya.
Seketika, Lunika menoleh kearah suaminya sambil memegangi pipi kirinya bekas yang dicium suaminya sendiri.
"Kamu kenapa? ada masalah? ini nyata, bukan mimpi." Tanya Zicko membenarkan lamunan istrinya.
"Benarkah aku ini hanya melamun? aku kira ini mimpi." Jawab Lunika yang masih gelisah.
"Ini nyata adanya, semua tidak ada yang direkayasa. Berdoalah, semoga benar kenyataannya. Jika paman Guntara adalah orang tuamu, dan kamu tidak lagi sebatang kara." Ucap Zicko menyemangati.
"Aku tidak tahu harus jawab apa, aku sendiri masih terasa mimpi." Jawab Lunika dengan senyum tipisnya.
Sedangkan kakek Alfan dan kakek Tirta serta tuan Zayen kini tengah menunggunya diluar, sedangkan Zicko yang menemani istri serta tuan Guntara dan Jenny di dalam ruangan tertentu sambil menunggu giliran untuk diambil darahnya.
__ADS_1
Usai selesai diambil darahnya, semua kembali ke rumah tuan Zayen. Dalam perjalanan, suasana didalam mobil kembali sunyi.
Sedangkan tuan Zayen memilih untuk menyusul sang kakak bersama tuan Guntara untuk ikut andil dalam kasus yang sedang genting.
"Bagaimana ini? hasilnya masih besok, semoga saja tidak ada yang ikut campuri urusan di rumah sakit." Ucap tuan Guntara- yang masih gelisah akan hasil dari rumah sakit.
"Kamu tidak perlu khawatir, Tuan Guntara. Rumah sakit itu milik keluarga kami, pasti sudah dijaga ketat oleh anak buah yang sudah sangat handal." Jawab tuan Zayen meyakinkan.
"Aku hanya bisa berusaha dan berdoa, serta pasrah dengan nasib dan takdir yang sudah ditentukan. Semoga saja, hasilnya benar benar positif." Ucap tuan Guntara penuh harap, kemudian mengusap wajahnya kasar.
'Keira ... kini kamu telah kembali dalam ingatanku lagi, sekian lama aku telah mengabaikanmu. Aku hanya mengingatmu sebagai kenangan masa lalu kita yang pernah kita lewati bersama, dan sekarang aku merindukanmu kembali. Andai saja kamu masih ada, mungkin kita bahagia bersama. Namun tidak denganmu, kamu harus menerima kejahatan dari orang yang sudah aku jadikan istri sebagai penggantimu. Sungguh, aku begitu bodoh untuk mempercayai wanita lain.' Batin Tuan Guntara penuh penyesalan.
Kini, tidak bisa lagi untuk mengubahnya seperi dulu. Hanya penyesalan dan penyesalan, tidak dapat untuk diputarnya kembali masa lalunya, pikir tuan Guntara.
PUK!! tuan Zayen menepuk punggung tuan Guntara. "Jangan banyak melamun, tidak baik untuk daya pikir diusia kita yang sudah tua ini." Ucap tuan Zayen mengingatkan.
Setelah cukup untuk mengobrol, pak Yitno selaku supir kepercayaan tuan Zayen. Segera melanjutkan perjalanannya menuju tempat yang sudah diketahui oleh tuan Zayen sendiri.
Tidak memakan waktu yang lama, tuan Zayen dan tuan Guntara telah tiba ditempat yang dutuju.
"Tempat apa ini, Tuan Zayen?" tanyanya penasaran.
"Tempat ini dulunya tempat dimana aku dan kak Seyn melakukan pekerjaan yang illegal, disini lah tempat kami mencari kesuksesan yang sangat salah. Dan tempat ini juga, saksi dimana Papa, aku, dan kak Seyn, juga Viko ketika kami mendapat serangan dari banyak polisi. Naas, sesampainya di rumah sakit, Papa tidak bisa tergolong lagi." Jawab tuan Zayen teringat akan masa lalunya.
"Maaf, jika pertanyaanku telah mengingatkan masa lalu Tuan Zayen." Ucap tuan Guntara tidak enak hati.
"Tidak perlu meminta maaf, semua sudah berlalu. Kini, semuanya telah menjadi kenangan serta pelajaran yang sangat berharga." Jawab Tuan Zayen.
__ADS_1
"Kalau begitu, ayo kita masuk. Kak Seyn pasti sudah menunggu kita, mari." Ajak tuan Zayen, tuan Guntara sendiri mengangguk dan mengikutinya dari belakang.
Sedang tuan Seyn sedang duduk menunggu sang adik serta pamannya datang ke lokasi, yaitu Guntara Ganta. Yang tidak lain adalah adik dari ibunya Seyn sendiri.
"Seyn!" panggil tuan Guntara pada keponakannya, Seyn dan kakek Dana maupun kakek Ganan menoleh pada sumber suara.
"Paman, akhirnya datang juga. Bagaimana dengan tes DNA nya, Paman? semua berjalan dengan lancar 'kan? lalu, kapan hasilnya akan keluar?" tanya Seyn berbagai macam pertanyaan.
"Hasilnya besok siang, itupun belum bisa dipastikan." Jawab tuan Guntara.
"Akhirnya kamu sudah datang, Guntara. Aku sangat mengkhawatirkan kamu, aku takut jika terjadi sesuatu padamu." Ucap kakek Dana pada adik laki lakinya.
"Kak Dana tidak perlu mengkhawatirkan aku, ada Zayen dan anak buah dari keluarga Wilyam yang ikut andil melakukan penjagaan ketat kepadaku dan juga semuanya." Jawab tuan Guntara meyakinkan.
"Tetap saja, kamu harus hati hati. Karena musuh tidak mudah untuk dikenali, semua bisa terlihat lembut dimata kita. Namun pada hakikatnya, musuh lebih cerdik dari sangkaan kita sebelumnya." Ucap kakek Dana mengingatkan adiknya. Mau bagaimanapun, masa lalu kakek Dana begitu panjang akan perjalanannya selama menyimpan kebencian pada seseorang yang disalah artikan.
Tuan Guntara yang mendapat nasehat dari sang kakak pun tersenyum dan mengangguk.
"Seyn, apa yang harus aku lakukan? aku benar benar buntu untuk berpikir." Tanya tuan Guntara pada adik laki lakinya.
"Paman cukup menyaksikan, belum saatnya paman Guntara melakukan sesuatunya." Jawab tuan Seyn mengingatkan.
Usai menjawab pertanyaan dari tuan Guntara, tuan Seyn kembali mendekati bang Martha. Seorang Martha yang pernah menjadi suruhan tuan Seyn. Akibat dalam masa tahanannya, ada sebagian anak buahnya yang pindah haluan. Meski sebagian beberapa orang aja yang keluar dari geng tuan Seyn, tetapi masih banyak yang setia pada tuannya dan menunggunya sampai dibebaskan dari tahanan.
Dengan tatapannya yang sangat tajam, Seyn kembali menunjukkan kekesalannya.
"Cepat! katakan, dimana Bos kamu berada. Atau... sebutkan namanya. Kalau sampai kamu tidak mau juga menunjukkannya padaku, maka aku akan membuatmu semakin jera." Ancam tuan Seyn pada bang Martha.
__ADS_1
"Aku tidak akan memberitahu orangnya, aku hanya bisa menunjukkan dimana tempatnya." Jawabnya dengan gemetaran.